
Ditengah makan malam keluarga Rama dikejutkan dengan kehadiran seorang wanita cantik yang mengaku kekasih Malik yang baru saja pulang dari Luar negeri.
Dia gadis cantik yang memiliki perawakan tinggi bak model terkenal dengan wajah blasteran yang sangat cantik.
Namanya Nikita, dia memasang wajah cantik dan manisnya di depan semua orang.
Pernikahan Malik dan Ayu memang belum di publikasi kan, sulit menangani keadaan saat ini yang pasti akan mengganggu keluarga Rama.
Mamih menggenggam erat tangan Ayu, tersenyum hangat menguatkan Ayu bahwa semua Akan baik-baik saja.
"Jadi namamu Nikita?" Suara Rama memecah ketegangan di ruang makan. Banyak mata memperhatikan dan tidak percaya saat Nikita memperkenalkan dirinya sebagai kekasih Malik.
"Benar Ayah" Semua mata memandang Nikita yang memanggil Rama begitu akrab, seolah mereka pernah bertemu sebelumnya.
Melihat banyak yang tidak suka, Nikita mengulas senyum nya.
"Aku hanya bercanda, kenapa kalian semua sangat serius. Hehehehe...." Semua orag ikut tertawa meski di paksakan.
Malik tidak melepaskan pandangannya dari Ayu yang menunduk entah apa yang dia pikirkan. Pasti dia sangat kecewa pada dirinya.
Dahulu memang dia hanya bermain-main dengan Nikita, tidak pernah berpikir kalau Nikita akan mencarinya sampai sejauh ini.
Ini semua diluar prediksi Malik, seingatnya dia dan Adam hanya bermain-main dan tidak pernah serius dengan gadis ini.
Malik benar-benar bingung, dia tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Hanya perasaan. takut yang menyelimuti dirinya.
"Malam ini Ayu akan tidur di kamar Mamih." Mamih menarik tangan Ayu tanpa mendengar persetujuan Malik.
Rama mengikuti langkah Mamih dan Ayu. Kini hanya ada Nikita dan Malik di meja makan. Semua bingung harus bagaiman.
"Kak, kenapa kamu diam saja. Bukankan kamu bilang akan menungguku dengan segenap hatimu?" Malik tersenyum, dia benar-benar ingat dengan apa yang Malik ucapkan malam itu sebelum dia pergi.
"Bagaiman kau bisa sampai di sini?" Pertanyaan bodoh, tentu saja mudah menemukan dimana Malik berada.
"Dulu aku memintanya dari teman Kaka yang lucu itu." Menyodorkan sebuah kartu nama lama milik nya.
Adam brengsek, kenapa dia memberikan gadis ini kartu namaku. Berteriak dalam hati.
Malik mengatur nafasnya yang mulai berat, kepalanya sedikit berdenyut memikirkan apa yang akan dan harus dia lakukan. Kedua orang tuanya bahkan tidak ada di pihaknya. Mereka semua pasti sangat kecewa.
"Nikita, aku sebenarnya tidak ingin menyakiti perasaanmu...." Nikita tidak menyimak, dia menguap dan pura-pura tidak mendengar apapun.
"Kak, aku sangat lelah. Apa aku boleh menginap di sini? Aku benar-benar tidak tau harus tinggal dimana selama di Jakarta. Aku sebatang kara di sini Kak." Muka polos nya membuat Malik iba, bagaimanapun dia tidak bersalah. Adam dan Malik lah yang telah mempermainkannya di masa lalu.
"Kalau begitu istirahat di kamar tamu saja, kamu bisa pulang besok." Malik beranjak, Nikita dengan berani meraih tangan Malik.
Malik spontan menepis nya dengan cukup keras, tangan Nikita membentur meja makan yang terbuat dari kaca.
Awww.....
"Sakit Kak." Malik merasa terkejut, dia menyakiti Nikita secara tidak sengaja.
"Maaf, apa sangat sakit?" Malik lari mengambil air hangat dan handuk kecil untuk mengompres tangan Nikita yang merah seketika.
Malik benar-benar bingung, pasti saat ini semua orang sedang membenci dirinya.
Tapi Nikita benar-benar gadis yang baik. Dia tidak pantas diperlakukan secara tidak baik olehnya. Malik bahkan menyesali perbuatanya di masa lalu.
"Istirahat lah, bibi akan membantumu." Malik berlalu setelah mengantar Nikita ke kamar.
__ADS_1
Nikita hanya tersenyum bahagia, akhirnya setelah perjalanan nya yang cukup panjang, dia menemukan dimana Malik tinggal.
Tok....tok....tok....
"Apa aku boleh masuk?" Kepala Malik muncul dari balik pintu.
Hanya ada Ayah nya di sofa kamar tidur, Ayu dan Mamih tidak ada di sana.
"Masuklah, kita harus bicara sebagai laki-laki" Rama menepuk sofa agar Malik duduk di sebelahnya.
"Ayah, apa Ayu sangat marah padaku? Ini semua karena Adam. Aku tidak mencintainya. Kami dulu hanya main-main." Merasa menyesal.
"Ckckckckc....." Mulut Rama bedecak tidak percaya. "Kau benar-benar tidak bisa di percaya. Lalu apa yang akan kamu lakukan?" Mempertanyakan tindakan Malik.
"Aku akan menjelaskannya besok, dia butuh istirahat dan aku menyuruhnya tidur di kamar tamu." Merasa lebih bersalah tidak memintanya pergi.
Tapi Rama membenarkan tindakan putranya, dia terlihat seperti gadis yang baik. Dan tidak baik membiarkan nya pulang tengah malam begini.
"Ayah harap masalah ini segera di selesaikan. Masih banyak urusan kita yang lebih penting." Rama memejamkan matanya bersandar di sofa.
"Aku akan melihat Ayu. Aku harus jelaskan padanya." Rama tidak menggubris. Dia masih memejamkan mata karena merasa sangat lelah.
Malik masuk ke kamar utama kedua orang tuanya yang sangat besar. Disana ada gadis cantik yang sangat Malik cintai. Wajahnya yang sedang terlelap selalu membuat Malik jatuh cinta.
Mamih masih terjaga, tangannya sibuk menyulam kain dengan motif bunga-bunga.
Malik mendekat memeluk Mamih. Dia tau Mamih kecewa dengan apa yang baru saja terjadi. Terlebih dia tau Mamih sangat mencintai Ayu seperti putrinya.
"Kamu sangat jahat. Mamih kecewa." Berkata tanpa menoleh ke arah Malik.
"Aku menyesal, ini karena ulah Adam. Dia kesal aku tidak pernah punya pacar dan mengenalkannya padaku." Malik frustasi.
"Mamih, percayalah padaku. Aku tidak punya perasaan apapun padanya." Malik mencoba meyakinkan Mamih dengan segenap jiwanya.
"Buktikan dan cepat selesaikan semua ini. Mamih tidak mau Ayu harus menanggung kesedihan karena perbuatan mu." Mamih masih sangat kecewa dan marah.
"Apa aku boleh membawanya, aku tidak bisa tidur tanpanya." Memohon agar Mamih luluh.
"Tidak, jangan menyentuhnya sebelum gadis itu benar-benar pergi dari hidupmu." Mamih mencoba bertahan.
Malik merasa kecewa, malam ini dia tidak bisa memeluk Ayu seperti biasanya.
Malik berjalan perlahan setelah mengecup kening Ayu dan membiarkannya tidur di sana malam ini.
Tapi bagaimana jika gadis kegatelan tadi datang ke kamar Malik. Lalu dia merayu Malik agar tidur bersamanya.
Malik berbalik, berharap Mamih mau berubah pikiran. Mamih melotot ke Arah Malik membuat Malik mengangkat bahunya bingung.
"Bawa Ayu ke kamarmu. Jangan biarkan dia tidur di sini." Malik tersenyum, dia buru-buru mengangkat tubuh Ayu dalam gendongannya dan membawanya pergi sebelum Mamih berubah pikiran.
"I love u Mih." Malik sumringah dan sangat bahagia.
Malam ini harus mengisi energi untuk peperangan esok hari yang pasti akan menyita waktu dan tenaga nya.
Malik berjalan ke balkon, dia harus menghubungi Adam dan meminta bantuan. Bagaimanapun Adam lebih mengenal Nikita daripada dirinya.
"Iya, ada apa malam-malam begini mengganggu ku!" Adam menggaruk kepalanya merasa kesal.
Adam baru saja terlelap saat ponselnya berdering. Sarah semakin manja sejak hamil, Adam harus meladeni segala sikap aneh nya beberapa bulan terakhir ini.
__ADS_1
Seperti malam ini, Sarah tiba-tiba saja ingin Adam membacakan cerita dongeng sebelum dirinya tidur. Adam sampai harus membaca 5 cerita dongeng legenda sampai Sarah terlelap.
"Adam, Nikita datang!" Bicara lirih agar Ayu tidak terganggu.
Uhuk...uhukkk...uhukkkk....
Adam tersedak ludahnya sendiri mendengar ucapan Malik. Masih tidak percaya dengan apa yang dia baru saja dengar.
"Bagaimana bisa dia muncul saat ini? Itu sudah sangat lama." Adam mengucek matanya, takut dirinya sedang bermimpi.
"Kau heran kan, apalagi aku. Semua orang marah padaku." Malik merasa kesal.
"Apa yang harus aku lakukan?" Pasti Malik akan melempar masalah ini padanya.
"Besok aku akan bawa dia, kau urus sampai selesai aku tidak mau tahu." Malik sampai menggenggam ponselnya begitu keras karena menahan emosi.
"Kau kan yang memacarinya, kenapa aku yang harus tanggung jawab." Adam ikut kesal, padahal ide pacaran datang dari dirinya.
"Kau kan yang menyuruhku pacaran dengannya, aku tidak menyukainya." Malik berkelit.
"Enak saja, kau bahkan bilang pernah menciumnya. Bagaimana bisa kamu tidak suka padanya." Adam ikut terpancing suasana.
"Diam.....kau malah membahas masa lalu." Mengakui kalau dirinya juga melakukan kesalahan.
"Jangan membawa masalah padaku, Sarah akhir-akhir ini sangat sensitif sejak hamil." Adam takut akan berpengaruh buruk.
Malik sedikit berpikir, benar juga apa yang Adam katakan, dia tidak bisa mengorbankan Sarah untuk kepentingannya.
"Kita bertemu di luar, kita harus segera bereskan agar tidak bertambah rumit. Aku benar-benar tidak bisa menghadapinya sendiri, kau harus membantuku!." Malik merasa frustasi.
"Kak, kenapa Kak Malik belum tidur?" Terlihat Ayu berdiri di belakangnya.
Apa dia mendengar percakapanku. Apa dia tau aku pernah mencium Nikita. Menatap dengan lekat wajah sayu khas bangun tidur.
"Apa yang kau dengar?" Ayu menyipitkan matanya. Heran dengan pertanyaan yang Malik lontarkan padanya.
Hening.....
"Aku lupa." Malik menghembuskan nafasnya kasar. Lega karena Ayu tidak mendengar percakapannya.
"Ayo tidur, ini sudah sangat malam. Kau kan harus sekolah besok." Malik merangkul Ayu, membawanya kembali ke kamar.
"Kak, apa Nikita pacar Kak Malik?" Ayu sedikit sedih, saingannya sangat cantik.
"Dulu sekali, dan itu tidak serius." Malik takut salah bicara.
"Bagaimana bisa, kau mempermainkan perasaan nya?" Ayu tidak percaya Kak Malik begitu.
"Bukan....aku tidak mempermainkannya." Malik semakin bingung.
"Jadi Kak Malik mencintainya?" Ayu terlihat sedih.
Bagaimana ini, kenapa bicara apapun salah dengannya. Malik berteriak dalam hati.
"Sudah jangan pikirkan, hanya ada Ayu di hati Kak Malik saat ini." Memeluk Ayu. Membawanya kepelukannya agar tidak ada pertanyaan-pertanyaan aneh lainnya.
"Tapi Kak. Dia sangat cantik, Kak Malik pasti dulu pasangan populer yah?" Halu kebanyakan nonton Drakor.
"Hehehehe...." Benar ucapan Ayu.
__ADS_1
Mereka banyak yang menyukai karena sangat serasi, meskipun hanya beberapa hari mereka jadi pasangan karena Malik lulus dan kembali ke tanah air.