Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 17 ( Bingung )


__ADS_3

Jam sekolah sudah berakhir. Jofan, Melani dan Sandra memutuskan untuk pergi ke Rumah Sakit. Mereka sudah diberitahukan oleh Pak Agus agar segera ke Rumah Sakit. Tentu saja itu perintah Malik.


Malik merasa Ayu pasti lebih senang dengan keberadaan sahabat-sahabatnya ketimbang dirinya. Ditambah lagi Ayu dan Malik memang belum pernah bertemu secara resmi.


Sesampainya di rumah sakit, ketiga sahabatnya langsung saja menuju kekamar perawatan yang di infokan Pak Agus. Disana mereka mendapati Malik yang sedang duduk dengan elegannya.


Melani dan Sandra sangat menaggumi ketampanan Malik. Jofan pun tampan, tapi karena dilihat setiap saat, jadi biasa saja.


“Kak, apa Ayu baik-baik saja?” Jofan mencoba membuka pembicaraan karena kedua sahabatnya hanya senyum-senyum keganjenan. Malik tidak tau caranya berbasa basi. Maklum saja, dia tidak pernah kenal pergaulan bebas. Orang tuanya memberikan kebebasan setelah merasa Malik menjadi anak yang kurang bergaul. Bahkan di usianya yang sangat mapan, dia belum juga memiliki kekasih.


“Tentu saja, dia hanya sedang istirahat. Silahkan kalian berbincang, aku mau keluar sebentar”. Malik melangkahkan kakinya karena merasa canggung meghadapi anak-anak remaja yang ada dihadapannya.


“San, aku gak mimpi kan? Kenapa ada manusia setampan itu di muka bumi ini?” Melani meremas remas pipinya. Sandra pun tak kalah hebohnya, mereka berdua memang sangatlah cocok jika berbicara masalah laki-laki.


Jofan sudah biasa melihat tingkah sahabat-sahabatnya. Dia hanya menggeleng gelengkan kepalanya karena kekonyolan teman-temannya.


Ketiga sahabatnya hanya memandangi Ayu yang terbujur lemas di atas kasur pasien. Sekitar 10 menit Melani dan Sandra asik sendiri bercerita kesana kemari. Jofan hanya menjadi pendengar saja. Malik pun kembali masuk keruang perawatan. Kakinya langsung saja dilangkahkan menuju sofa yang disediakan diruang tunggu.


Suasana jadi hening dan canggung. Tidak ada yang membuka suara satupun. Mereka hanya asik dengan pikiran mereka masing-masing.


“Aku ada dimana? Kasur nya empuk sekali?” Ayu pun akhirnya bangun dari tidur nya, pandangan nya di edarkan ke seluruh isi ruangan. Dia bingung, karena ruangan yang di tempatinya sangat mewah.


Malik yang duduk di kursi tunggu hanya tersenyum mendengar kata-kata Ayu. Senyumnya merekah melihat gadisnya sudah siuman.


“Apa masih sakit? Kenapa gak bilang kalo kamu gak enak badan?, jangan membuat orang lain kerepotan dengan kebodohan kamu Yu.” Jofan sangat marah pada Ayu. Tak segan-segan Jofan langsung saja memarahi Ayu yang baru saja sadar.


“Jofan, Ayu kan baru sadar. Sayangku, kamu baik-baik saja kan?” Seru Melani.


Melani dan Sandra langsung saja memeluk Ayu dengan hati-hati. Karena di tangannya masih ada selang infus.

__ADS_1


Ayu semakin bingung saat melihat sosok laki-laki yang duduk di sofa. Pandangan Ayu langsung saja di tujukan pada manusia tampan yang duduk di sofa.


Krek.........(Bunyi pintu terbuka)


“Maaf yah, saya mau memeriksa pasien sebentar”. Suara Adam memecahkan kebingungan Ayu.


“Yu, kita pamit juga yah. Sudah malam, sampai bertemu besok di sekolah ya Yu (sandra berpamitan)”. Mereka pun saling berpelukan, terkecuali Jofan, dia masih sangat marah pada Ayu yang ceroboh.


Jofan langsung saja keluar tanpa pamit pada Ayu. Pada Malik dan Adam pun sama, Dia langsung saja pergi tanpa pamit.


Dokter Adam langsung memulai aksinya


“Apa sudah enakan? Bagaimana rasanya?” Adam mulai memeriksa Ayu.


“Sudah enakan dok, seperti baru bangun tidur”. Ayu tersenyum dengan ramah.


Tapi apalah daya, saat ini Ayu bukanlah siapa-siapa Malik. Malik mencoba mengatur nafasnya yang tak beraturan karena menahan emosi.


“Lik, Ayu sudah boleh pulang, Demam dan alerginya sudah membaik, Jadi tidak perlu rawat inap”. Adam melepaskan selang infus yang masih menempel di tangan Ayu dengan hati-hati.


Kalo sampe Ayu mengeluarkan suara kesakitan, bisa habis aku nanti. (suara hati Adam ).


“Dok, apa biaya nya mahal? Aku tidak punya banyak uang Dok”. Muka Ayu tiba-tiba saja menjadi sendu.


“Kau tak lihat ada malaikat yang sedang menunggumu?” Tiba-tiba Ayu terjingkat kaget dari posisi tidurannya mejadi duduk dan memegang tangan dokter dengan sangat kuat.


“Apa kalian bukan manusia? Apa aku sudah di alam lain?”. Seketika saja Adam tertawa mendengar perkataan Ayu yang sangat polos menurutnya.


Ada senyum lucu di balik bibir Malik yang mendengar perkataan Ayu. Tapi dia tidak terima saat pujaan hatinya ditertawakan oleh Adam.

__ADS_1


“Ehem...Ehem...hem...”. Malik berdehem berkali-kali. Dan Adam tau betul apa maksud dan tujuannya. Adam langsung menghentikan aksi tertawanya dengan terpaksa.


“Ayu, kamu itu hanya salah minum obat, bukan nya minum racun. Bagaimana mungkin bisa mati begitu saja. Ada-ada saja kau ini”. Adam masih mengulas senyum dari bibirnya karena kekonyolan pasiennya.


“Syukurlah dok, terimakasih banyak ya dok”. Adam meningalkan pasiennya dengan masih tertawa di dalam hatinya. Tinggallah hanya mereka berdua, tidak ada yang mengeluarkan kata-kata. Ayu sedikit-sedikit melirik ke arah Malik, begitu pula sebaliknya.


Seletah 5 menit berlalau dengan kecanggungan, Ayu pun akhirnya mencoba untuk turun dari tempat tidur, tapi memang Ayu sangat ceroboh, kaki kanan nya tersangkut diselimut dan dia terjatuh dari kasur.


Malik spontan saja berlari ke arah Ayu, Malik sangat khawatir saat melihat Ayu terjatuh. Malik pikir Ayu pingsan lagi.


“Kau tidak apa-apa? Apa masih lemas? Aku panggilkan dokter dulu”. Ayu menarik lengan baju Malik dan tersenyum.


“Kakiku tersangkut selimut Kak, hehehehe” wajah Ayu memerah karena menahan malu. Malik menghembuskan nafasnya dengan kasar.


“kau membuatku khawatir saja”. Malik merangkul lengan Ayu dan mencoba membantunya berdiri.


“Aku bisa sendiri Kak”. Ayu menyingkirkan tangan Malik yang masih memeganginya. Malik tak merasa keberatan, toh Ayu memang belum mengenalnya.


Ayu mencoba berjalan ke bagian administrasi dan menanyakan biaya rumah sakitnya. Malik hanya mengikutinya dari belakang. Dia penasaran dengan apa yang akan di lakukan oleh Ayu.


“Mbak, aku mau bayar tagihan rumah sakit Mbak”. Berbicara dengan bagian kasir dari balik kaca.


“Maaf nama Mbak siapa yah?” tanya petugas admin.


“Nama saya Ayuna”


“Mbak tagihannya Rp.15.200.000,-“. Ayu melotot mendengar ucapan petugas administrasi.


“Mbak, gak salah mbak? Kenapa mahal banget Mbak”. Ayu bingung dengan apa yang harus dia lakukan. Di tabungan ayam nya bahkan dia menghitung kira-kira hanya ada Rp.98.000.

__ADS_1


__ADS_2