Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 199 ( Malik Mematung Tidak Percaya )


__ADS_3

Pak Dodo yang melihat wajah Ayu sangat pucat masih terbayang-bayang, apa jadinya kalau Ayu benar-benar sakit. Dia seorang diri, Malik bahkan di kabarkan pulang malam hari ini karena rapat di Bandung masih belum dapat kesepakatan. Pak Dodo segera menemui Nyonya besar untuk mengabarkan kondisi Ayu.


“Pak Dodo mencari saya, ada apa Pak.” Mamih turun dari lantai dua setelah dikabari Bibi perihal Pak Dodo yang ingin bicara.


“Begini Nyonya, tadi Non Ayu saya lihat seperti sedang tidak enak badan.” Mamih langsung meraih telpon di dekatnya.


“Saya coba hubungi Ayu, terimakasih Pak.” Pak Dodo segera keluar setelah menyampaikan kegundahannya, lega rasanya. Panggilan pertama tidak ada jawaban, Mamih sedikit khawatir. Untungnya panggilan kedua Ayu angkat.


Suaranya memang sedikit lemas, Tapi Ayu menyatakan jika dirinya baik-baik saja dan tidak ada yang perlu di khawatirkan. Mamih menutup telponnya dengan perasaan lega, paling tidak sudah mendengar Ayu yang hanya perlu istirahat.


Malik yang ada di Bandung tidak berhenti memikirkan Ayu, setelah sekian lama Malik meninggalkannya cukup lama karena sebelumnya Malik dan Ayu tidak terpisahkan. Meski belum seharian, rasa rindu tidak bisa Malik tahan. Malik meraih ponselnya dan segera menghubungi sang pujaan hati.


Wajahnya berubah berkerut-kerut karena panggilannya tidak kunjung ada jawaban. Tidak tau apa, saat ini Malik sangat ingin mendengar suara Ayu. Aldo yang melihat perubahan wajah Malik menghampirinya, mencoba mencari tau apa yang sedang Malik khawatirkan.


“Tuan baik-baik saja?” Malik melempar ponselnya. Wajahnya merah merona seperti kepiting rebus, Aldo sudah tau ini pasti ada kaitanya dengan Ayu. “Apa Nona tidak menjawab panggilan Tuan?” Malik masih membisu.


“Al! Apa Ayu baik-baik saja? Aku takut dia kenapa-napa sampai tidak mengangkat ponselnya.” Sekarang marahnya berubah jadi rasa khawatir. “Al….Sudah larut malam, apa dia hanya tertidur?” Aldo ingin menjawab tapi takut semakin memperburuk keadaan. “Al!!!!” Aldo terjingkat.


“Iya Tuan, apa yang harus saya lakukan Tuan?” Malik bolak balik membuat Aldo mengikutinya di belakang Malik.


Brukkk….


Malik berhenti tiba-tiba, Aldo berusaha menghindari Malik dan tubuhnya menabrak meja sampai isi di atasnya tumpah berserakan. Malik melirik sejenak dan fokus lagi tanpa perduli dengan barang-barang yang berserakan di lantai.


“Al, cepat bereskan barang-barang. Kita pulang sekarang. Tenang saja ku yang akan menyetir Al.” Aldo bukannya senang, wajahnya berubah pucat mendengar Malik yang akan menyetir ke Jakarta. Semoga nyawa kami selamat sampai tujuan.


Kantuk Aldo yang menggantung di ujung mata lenyap, dadanya berdegup kencang, tangannya menggengam erat pegangan tangan yang ada di atas kepalanya. Malik membawa mobil dengan kecepatan penuh, matanya bahkan tidak melirik sedikit pun Aldo yang gemetaran duduk di sebelahnya.


“Tuan, aku saja yang bawa mobil Tuan.” Aldo mencoba menyelamatkan nyawanya.


“Tenang Al. Aku akan menjaga mu dengan aman.”


Aman gundul mu Tuan, ini jantungku terasa mau lepas. Apa jangan-jangan sudah geser ke belakang. Amit-amit jangan sampai terjadi. Aldo mengutuk dirinya yang berpikir macam-macam menambah suasana hatinya bertambah buruk.

__ADS_1


Tiga jam lebih Aldo berjuang menahan ketakutannya. Sesampainya di apartemen Malik langsung turun dan lari ke lift menuju lantai lima. Sepanjang jalan Aldo menghubungi Ayu dan tidak ada jawaban, sekarang ponselnya malah tidak aktif, sepertinya kehabisan baterai.


“Ayuna….sayang, kamu tidur?” Malik menghembuskan nafasnya. Lega melihat Ayu yang saat ini berbaring dengan selimut tebal. “Sayang.” Malik memeluk Ayu melepaskan rindunya yang menggunung. “Sayang….” Malik semakin memeluk erat Ayu. Tidak ada jawaban sama sekali, dia bahkan tidak merespon. “Jangan bercanda. Ayuna!” Malik mengangkat tubuh Ayu dalam dekapannya. Tanpa pikir panjang Malik mengangkat tubuh Ayu.


Aldo yang baru saja akan membuka pintu apartemen kaget melihat Malik yang wajahnya sepucat kapas dengan mata melotot penuh dengan aura ketakutan. “Tuan Nona kenapa?” Matanya semakin membulat saat melihat Ayu digendongan Malik. Aldo mengikuti Malik yang lari menuju lift. Kali ini Aldo tidak membiarkan Malik menyetir, bisa benar-benar melayang nyawa mereka jika Malik yang membawa mobil.


Dalam perjalanan Aldo menghubungi Mamih atas permintaan Malik yang saat ini sedang kalut agar segera datang ke rumah sakit. Malik tidak bicara apapun, mulutnya terkunci dan wajahnya terlihat sangat tertekan, begitu yang Aldo tangkap dari kaca spion depan.


Aldo berulang kali melihat Malik memeriksa denyut nadi Ayu, sesekali tangannya menyeka air mata yang lolos tidak tertahankan. Malik menangis dalam diam, hatinya pasti hancur berkeping-keping melihat Ayu lemas tidak sadarkan diri.


Sesampainya di rumah sakit dokter jaga yang memeriksa Ayu meminta Malik menunggunya di luar ruangan. Tidak mudah tentunya, tapi Aldo berhasil meyakinkan Malik demi kebaikan Ayu agar segera di tangani dengan tepat.


Mamih dan Ayah Rama tidak lama sampai. Rey, Ana dan Ferdinan juga turut datang setelah mendengar kabar dari Mamih, Ayu tidak sadarkan diri. Pak Dodo yang merasa bersalah ikut naik ingin melihat keadaan Ayu yang dia tinggal seorang diri atas permintaan Ayu.


Malik duduk termenung dengan pandangan matanya yang kosong, tidak ada yang berani bertanya. Mamih hanya memeluk putra semata wayangnya menguatkan, baru saja suasana terasa damai, mereka ditimpa ujian lagi. Cukup lama dokter belum juga keluar dari ruang pemeriksaan, Malik sampai mengusap wajahnya berulang kali dengan kasar.


Suara hendel pintu memecah keheningan, seorang suster keluar dan meminta Malik seorang diri untuk masuk ke dalam ruang perawatan.


“Aku akan pecat Pak Dodo kalau sampai terjadi sesuatu pada Ayu.” Mata Malik seolah menyala melucurkan cahaya kemarahan pada Pak Dodo yang hanya bisa menunduk penuh penyesalan.


“Dok, bagaimana keadaan istri saya?” Wajahnya sangat tegang.


“Duduk dulu Tuan, biar saya jelaskan.” Dokter mengulas senyum, rasanya Malik ingin memakinya. Tapi Malik duduk menuruti permintaan Dokter.


“Tolong jangan bertele-tele Dok, katakana bagaimana keadaan istri saya.” Penuh penekanan meski nadanya lembut.


“Tenang saja Tuan, istri Tuan Malik baik-baik saja. Dia hanya perlu banyak istirahat kedepannya.” Dokter menyodorkan foto USG yang malik tidak tau artinya.


Malik membolak balikkan foto penuh tanya. Mata Malik yang penuh tanda Tanya bertemu dengan mata Dokter yang saat ini wajahnya terlihat sangat bahagia. Dokter mengangguk. Malik menelan saliva nya berulang kali.


“Apa dia Hamil?” Meski ragu, hanya pertanyaan itu yang ada di kepala Malik. Sekali lagi Dokter mengangguk dengan senyum tiga jarinya.


Malik sangat terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar. Dokter meminta Malik menyampaikan berita bahagia pada keluarga besarnya yang saat ini ada di luar ruangan. Wajahnya masih tidak bersahabat saat keluar ruangan membuat semua orang bertanya-tanya dengan apa yang sebenarnya terjadi. Malik terduduk, semua menunggu Malik membuka mulutnya dengan sabar. Malik tiba-tiba menatap wajah Mamih dalam.

__ADS_1


“Mih, coba cubit tangan ku.” Malik menjulurkan tangannya. Mamih menurut saja karena pikirannya juga sedang kalut. “Aku tidak bermimpi.” Malik memeluk Mamih sangat erat, menangis tersedu-sedu tapi wajahnya terlihat sangat bahagia.


“Nak, apa yang sedang terjadi? Kau membuat kami semua bingung.” Rama tidak tahan dan masuk ke dalam ruang perawatan. Menunggu Malik yang tak kunjung bicara membuat kepalanya berdenyut.


“Aku akan segera punya anak Mih. Ayu hamil.” Semua menangis haru mendengar kabar yang sangat menggembirakan meski ada rasa khawatir. Ayu masih sangat muda, masih banyak cita-cita yang ingin dia gapai.


Ayu sadar, mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya lampu yang menyilaukan mata. Ayu terkejut berada di rumah sakit, terakhir dia ingat sedang tertidur karena tubuhnya sangat lemas. “Ada apa? Kenapa kalian semua menangis?” Ayu takut terjadi hal buruk pada dirinya.


Malik memeluk erat calon ibu dari anaknya. Menyalurkan kebahagiaan yang saat ini dia rasakan. Malik mengusap mata Ayu yang basah, dia tidak tau apa-apa tapi ikut menangis. Malik memegang perut Ayu yang masih rata, tersenyum dengan lembut membuat Ayu tau apa yang Malik maksud.


“Benarkah?” Malik mengangguk. Ayu menangis haru, ternyata karunianya begitu cepat Ayu dapatkan.


“Apa kau kesakitan.” Ayu menggeleng. Tangis Ayu membuat Malik bingung. “Apa Ayu tidak mau punya anak?” Jawabannya masih dengan gelengan kepala. Ayu menarik nafas panjang, mencoba menenagkan diri karena tubuhnya masih sangat lemas. Menangis membuatnya semakin merasa lelah. “Katakan apapun yang Ayu mau. Kak Malik akan ikuti semua kemauan Ayu.”


“Aku san….gat bersyu….kur.” Ucapannya terbata-bata. Setelahnya ruangan dipenuhi isak tangis bahagia.


Dokter menyarankan Ayu di rawat satu malam agar kondisnya stabil. Tubuhnya lemah, dia terlalu banyak beraktifitas sampai tidak sadarkan diri.


Semua orang sudah kembali pulang. Tingal Malik yang saat ini ditemani Adam yang kebetulan sedang sif malam. Adam tertidur di sofa, dia pasti lelah semalaman keliling menjaga pasien-pasiennya.


“Ada yang Ayu khawatirkan?” Malik mengangkat dagu Ayu agar pandangan mereka bertemu. “Katakan sayang, jangan menyimpannya sendiri.”


“Apa setelah ini aku…..” Ayu ragu. Takut menyakiti hati Malik.


“Teruskan, Kak Malik tidak suka kalau Ayu tidak jujur tentang kekhawatiran Ayu.”


“Aku masih bisa kuliah Kak?” Malik tersenyum. “Apa orang hamil boleh kuliah?” Ayu menatap perutnya yang masih rata.


“Tentu saja boleh sayang, Kak Malik akan bereskan semua masalah kuliah Ayu, tidak ada yang perlu Ayu takutkan. Sekarang tugas kamu adalah bahagia, supaya saat dia lahir, dia tau bagaimana semua orang sangat mencintai dia.” Ayu sangat terharu mendengar kata-kata Malik yang sangat menenangkan jiwa.


“Terimakasih Kak.” Ayu tenggelam di pelukkan Malik.


“Oh iya, aku sampai lupa. Aldo sedang menjemput Bapak dan Ibu. Mereka akan ada di sini menemani kita.” Ayu semakin bahagia. Malik selalu bisa menebarkan kebahagiaan, dia tau betul apa yang menjadi keinginan Ayuna.

__ADS_1


Dua insan yang sudah saling memahami pasti akan dengan mudah mewujudkan apa yang menjadi keinginan pasangannya. Meski tidak dengan kejutan-kejutan romantis, Malik bisa memberikan kebahagiaan dengan tindakan-tindakannya yang mampu menyentuh perasaan Ayu. Begitu pula sebaliknya, meski Ayu masih remaja, sikap dewasanya yang penuh kasih sayang selalu mampu membuat Malik jatuh hati.


__ADS_2