Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 124 ( Sebesar Itu Dia Menyayangiku )


__ADS_3

Malik dan team berusaha mencari keberadaan Ayu disegala titik rumah Kala. Rumah yang cukup besar dengan banyak ruangan rahasia.


Oji masih berdiri mematung mengingat apa yang dia rasakan ketika di sekap oleh Kala. Rasanya dia benar-benar memasuki ruangan tepat di tempatnya berdiri saat ini. Membingungkan saat dihadapkan dalam situasi yang benar-benar membuatnya merasa bodoh.


“Nak, apa kau merasa ada sesuatu di sini.” Oji membuka matanya yang terpejam. Rama memperhatikan nya sejak sampai.


“Apa kau tidak aneh dengan bangunan rumah ini?” Rama juga curiga ada ruangan lain yang Kala sembunyikan.


Oji memang dekat dengan Kala, tapi baru pernah menginjakkan kaki beberapa kali di rumah besar nya. Oji lebih sering mampir ke bar Kala yang ada di pusat kota dekat tempat tinggalnya.


Rama menghubungi seseorang yang bisa membantunya menemukan ruangan rahasia dengan alat pelacak yang canggih.


Malik ada di lantai dua, memperhatikan setiap detail bangunan rumah Kala yang membuat kepalanya berdenyut. Malik berdiri di balkon mencari petunjuk, balkon yang cukup tinggi bisa melihat keadaan di sekitar rumahnya.


“Ayah, kami tidak menemukan apapun di atas.” Malik merasa frustasi. Nafasnya sudah terasa berat.


Rama hanya mempu mendekap tubuh putranya yang ada di hadapannya. Sungguh tidak semua yang terjadi atas kesalahannya. Rama tau Malik sangat terpukul dan menyalahkan dirinya sendiri.


Rama merasa lebih bersalah karena Adam lebih tau kondisi putranya daripada dirinya.


Tapi itu hal yang wajar, Malik pasti lebih nyaman karena Adam seperti kakak lelaki baginya. Mereka selalu berbagi dalam suka dan duka.


Rama selama ini tenggelem dalam bisnisnya yang menguras waktu dan tenaga. Malik seorang putra yang kehilangan kasih sayang dari seorang Ayah. Sikap egois dan keras kepalanya hasil dari didikannya semasa Malik kecil.


“Tuan, petugas dari konstruksi sudah sampai.” Rama tersenyum melihat Malik dan Oji menatapnya dengan aneh.


Untuk apa petugas konstruksi bangunan datang kemari. Apa mereka bisa membantu? Malik sedikit bingung.


Rama sudah menjelaskan panjang lebar saat di telpon, tidak banyak membuang waktu tiga orang petugas langung memasang alat pendeteksi di sekitar Oji berdiri. Mencari keberadaan ruang bawah tanah dengan alat canggih yang mereka miliki.


Terkadang orang-orang seperti ini lebih tau dan lebih mahir daripada petugas kepolisian yang ada. Mereka bisa membaca fungsi bangunan dari bentuknya.


“Bagaimana? Apa dugaanku benar?” Rama sudah tidak sabar.


“Benar tuan, ada ruang bawah tanah. Tapi kami tidak berhasil menemukan pintu masuk ruangannya.”Senyum Malik yang sempat mengembang pudar kembali. Bangunan yang benar-benar tidak biasa.


“Apa tidak bisa kita bongkar saja rumah ini!” Oji memberikan ide gila. Dia tidak mau menunggu terlalu lama.


“Kita bisa masuk tindak pidana membongkar fasilitas orang lain. Cari cara yang lebih masuk akal.”Malik sedikit berpikir waras kali ini.


“Apa ada cara lain menemukan pintu masuknya?” Rama sedih jika benar apa yang menimpa Ayu dan dia terkurung di dalam sendirian.


Ayu pasti sangat ketakutan tidak menemukan siapa pun di sana. Semua orang mencoba berfikir cara terbaik untuk menemukan jalan keluarnya.


***


Hans dan Pras sudah berdiri di pintu masuk sebuah kapal pesiar besar yang akan berlayar. Petugas polisi sedang meminta pada kru kapal yang bertugas untuk melakukan penyisiran. Tidak butuh waktu lama merekapun mendapatkan ijin untuk melakukan pemeriksaan.


Semua mencoba mencari informasi. Menanyakan pada siapa saja yang ada di dalam dengan memperlihatkan foto Sarah. Tidak ada yang melihatnya. Semua menggeleng dan tidak tau keberadaan orang yang mereka cari.


“Tidak kami temukan, apa mereka benar-benar naik kalpal ini!” Hans menggerutu. Pras meras ada yang aneh. Ada satu rungan yang semua orng di dalamnya tampak ketakutan.

__ADS_1


“Pak....Pak....ada yang mengganggu pikiranmu?”Hans melambaikan tangan di depan wajah Pras yang mematung. Pras terlihat berat meninggalkan kapal begitu saja. Pasti ada yang mengganggu pikirannya saat ini.


“Aku harus memastikannya sekali lagi.” Hans mengikutinya dari belakang. Semua petugas kepolisian sudah turun dari kapal. Menunggu Pras yang masih ingin melakukan pencarian sekali lagi.


“Pak, ada apa sebenarnya?” Hans berbisik karena pergerakkan tubuh Pras yang mengendap-ngendap agar tidak ketahuan.


Pras mengintip dari kaca ruangan yang di tutup gorden dengan rapat. Hal yang aneh bila di kapal pesiar. Mereka yang ada di dalam ruangan pasti ingin melihat pemandangan luar dan biasanya akan membuka seluruh jendela Kapal.


Semua orang terlihat berdiri gemetar di pojok ruangan. Pras kesulitan melihat apa yang sedang terjadi saat ini karena ruangan cukup gelap dilihat dari luar.


Pras dapat ide untuk menyamar menjadi seorang pelayan. Hans garuk-garuk kepala melihat dan mengikuti kemanapun Pras melangkah. Dia bahkan mengikuti Pras bertukar peran menjadi pelayan kapal yang akan mengantarkan makanan ke ruangan yang Pras anggap mencurigakan.


Tok...tok....tok...


“Pelayanan ruangan, kami mengantar makanan.” Pras membuka pintu. Semua orang tampak bahagia melihatnya masuk.


Brugggg.....


Pintu ruangan tertutup kencang membuat jantung Hans berdegub. Pras melihat laki-laki dengan postur tubuh tinggi tegap ada di balik pintu menodongkan pinstol dikepala dokter Sarah. Tidak salah lagi, ini pasti Kala yang mereka cari.


Pras lega karena mengikuti kata hatinya. Jika dia pergi pasti Kala dengan mudah bisa melarikan diri dari kejarannya.


Kala mengisyaratkan agar Pras dan Hans berkumpul dengan barisan yang ada di ruangan tersebut. Dari kejauhan Pras melihat Sarah yang begitu ketakutan. Tangannya tidak beralih dari perutnya, dia tampak mencemaskan anak yang ada di dalam kandungannya.


“Tuan.” Suara Hans memecah keheningan. Semua mata menatapnya. Dia terlalu berani dengan laki-laki gila yang membawa senjata mematikan.


“Jangan bicara, diam saja di sana.” Kala tidak mau mendengar siapa pun.


“Kala aku kesakitan.” Sarah berusaha melepaskan cengkeraman tangan Kala yang menyakitinya.


Ahhhhhh.....awwwwww......ahhhhh......


Sarah mengaduh memegangi perutnya. Kala kehilangan keseimbangan dan jatuh bersama Sarah yang ada di dekapannya. Tubuhnya gemetar melihat Sarah ambruk di pelukannya.


“Kau kenapa?” Kala panik.


“Kala, perutku sangat sakit. Tolong carikan bantuan. Aku tidak mau anakku kenapa-kenapa!” Sarah menahan rasa sakitnya.


Tiba-tiba saja air ketuban nya pecah. Sarah kaget karena belum saat nya dia melahirkan. Air mata menetes dan banjir semakin membuat Kala panik.


"Bagaimana ini!" Kala tidak mau Sarah kesakitan, tapi dia juga tidak mungkin meninggalkan nya dan mencari bantuan.


Semua orang yang ada di dalam ruangan berebut ingin keluar dan menyelamatkan diri. Keributan yang terjadi semakin membuat Kala emosi.


Duarrrr......


Suara tembakkan menghentikan keributan yang terjadi. Semua orang saling memeluk ketakutan. Kala tampak kalut dan sudah tidak bisa berpikir jernih.


Sarah terlihat kesakitan, Hans maju dari barisak begitu saja. “Tuan, aku bisa membantu dokter Sarah.” Kala menyuruh Hans maju mendekat.


“Apa kau dokter?” Hans menggeleng.

__ADS_1


“Apa gunanaya jika kau bukan tenaga medis!.” Kala menendang Hans sampai tersungkur.


“Jangan bergerak, kami sudah mengepung anda. Cepat serahkan diri.” Suara peringatan dari petugas kepolisian yang ada di luar ruangan.


“Mereka belum pergi. Sial!” Kala berteriak kesal.


Dia baru ingat dan mencerna ucapan Hans. Hans menyebut Dokter Sarah terakhir kali. Kala mendekat mengangkat tubuh Hans dengan cengkeraman kuat. Memperhatikan Hans dengan seksama dari ujung kaki hingga ujung kepala.


“Kala, aku tidak bisa menahan lagi. Aku bisa mati jika kau tidak segera mengeluarkan anak yang ada di dalam perutku!” Teriak Sarah menahan skait. Kala sangat perduli padanya, Kala tidak akan membiarkan dirinya dalam bahaya.


Kala tersadar dan melepaskan cengkeramannya. Sarah harus selamat, dia harus hidup bahagia bersamanya. Tidak boleh ada orang lain yang merebutnya lagi darinya.


Kal mengangkat tubuhSarah, membaringkannya di atas kursi panjang yang ada di ruangan tersebut agar bisa mengurangi rasa sakitnya sedikit saja.


“Kau” Tunjuknya pada Hans yang masih berdiri tidak bergeming. “ Cari siapa saja yang bisa membantuku. Jangan kembali jika tidak kau temukan.” Kala mendorong tubuh Hans. Baginya keselamatan Sarah adalah yang utama.


***


“Tuan, kami menemukan pintu lain yang berada jauh. Tapi kita bisa masuk dari sana.” Malik terisak mendengar berita bahagia ini, masih ada harapan.


“Tenang, kita semua harus tenang.” Rama menuntun putranya. Dia tau bagaimana Malik memperjuangkan cintanya. Dia bahkan menentang perjodohannya beberapa kali.


Semua menuju pintu yang petugas temukkan, jarak lumayan jauh dari lokasi mereka saat ini. Pintu yang Hans lihat lewat alat pelacak yang membawa mereka menemukan pergerakan Kala melarikan diri dari pengejaran.


Pintu besi yang terlihat kokoh di balik rumput yang menutupinya. Petugas memangkas rumput yang menjulang sampai ke tanah untuk mempermudah mereka masuk. Aksesnya sulit ditembus dan Rama tidak punya banyak pilihan selain mendobraknya dengan paksa.


Terlihat jejak mobil di sekitar nya yang merusak rerumputan. Rama sedang berhadapan dengan penjahat kelas berat. Dia punya berbagai fasilitas untu melancarkan aksinya.


“Kita gunakan alat berat. Ayu bisa saja celaka jika menunggu kita terlalu lama.” Oji masih bersikeras dengan idenya.


“Benar Ayah, kita harus membongkar paksa bangunan ini.” Kali ini Malik menyetujui ide Oji.


Petugas menyiapkan segala peralatan yang dibutuhkan. Meminta semua menjauh menghindari kemungkinan terjadinya hal-hal yang tidak di inginkan. Butuh waktu cukup lama membongkar pintu besar yang sangat kokoh.


Ayu masih pingsan tidak sadarkan diri, kepalanya berdarah terbentur lantai saat dia jatuh. Ditambah pukulan keras tangan Kala yang mendarat di pipinya sampai lebam.


Ayu tidak sekuat kelihatannya, dia hanya gadis kecil yang sangat dicintai. Selama ini dia bersikap berani agar semua orang tidak terlalu


mencemaskannya. Dia ingin dicintai apa adanya, bukan di kasihani karena keadaannya.


Brugggg......


Pintu besar terjatuh dari tiang penyangganya. Malik dan Oji segera menyalakkan mobil memasuki terowongan yang cukup panjang. Masih ada pintu kecil di ujung ruangan, Oji merasa ini adalah ruangan yang mengunci Ayu di dalamnya.


“Apa kau tau kodennya?” Malik bingung harus memasukkan angka apa di sana.


Oji mencoba memasukkan tanggal lahir Dokter Sarah namun tidak berhasil, tanggal lahir Kala pun tidak berhasil. Tanggal lahir kedua orang tua Kala juga sama, pintu masih tidak bisa di buka.


“Apa kau ada ide lain!” Malik mencoba menjernihkan isi kepala Oji. Padahal membuat Oji semakin tertekan.


Oji memasukkan tanggal lahirnya kali ini, itu mustahil, tapi apa salahnya mencoba sesuatu yang tidak mungkin.

__ADS_1


Ceklek.....


Pintu terbuka membuat Oji mematung dan merasa bingung. Dia sangat benci pamannya karena menyekap dan menyakiti Ayu. Tapi di saat yang bersamaan dia juga tau begitu besar cinta yang Pamannya miliki untuk dirinya.


__ADS_2