Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 149 ( Aku Ingin Bahagia )


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Malik tidak melepaskan tangan Ayu. Dia terlihat tidak tenang, Malik merasa tidak yakin semua akan baik-baik saja. Pasti Ayu memaksakan diri menerima semua demi kebaikan orang-orang yang sangat dia sayangi. Dia jarang memikirkan kepentingannya sendiri, selalu kepetingan banyak orang yang jadi prioritas Ayu.


“Apa kau yakin? Jika tidak aku akan membawamu kembali.” Ayu tersenyum. “Jangan khawatir, semua akan baik-bik saja.” Ayu hanya tersenyum, lidahnya kelu tidak bisa dan tidak tau harus bicara apa. Jantungnya berdegup cukup kencang.


Ayu menahan Malik agar tidak mengantarnya sampai ke kelas. Ayu tidak mau Malik terus-terusan terbebani dengan masalah keluarga Ayu. Dia sudah cukup menderita dengan beban berat yang ada di pudaknya selama ini. Dia hanya tidak bicara, tapi Ayu paham bagaimana kerja keras Malik selama ini untuk mempertahankan dan membesarkan perusahaannya. Tanggung jawabnya sangat besar, saat ini waktunya banyak tersita karena mengurus dirinya.


“Masuklah.” Malik tidak pergi sampai Ayu hilang dari pandangannya. Gadisnya sudah besar. Dia sudah bisa menyelesaikan masalahnya seorang diri. Tapi tetap saja ada yang mengganjal di hati Malik. Rasanya tidak bisa meninggalkan Ayu begitu saja seorang diri.


Senyum hangat menyambut kedatangan Ayu. Banyak teman-teman satu kelas yang merindukan kehadiran Ayu. Mereka semua menyalami Ayu satu persatu, Ayu sudah cukup lama tidak datang setelah kabar penculikkannya. Semua orang khawatir karena Ayu gadis yang cukup di kenal karena sifatnya yang baik pada semua orang.


Teman-teman nya bahkan mendekor ruang kelas menyambut kedatangan Ayu hari ini. Ayu merasa terharu karena ternyata dirinya sangat dihargai. Mereka semua tulus menyayangi Ayu.


“Terimakasih teman-tamen.” Semua ikut terharu melihat Ayu sangat bahagia.


Jofan memeluk erat Ayu di depan teman-temannya. Semua sahabat dan teman satu kelas sudah tidak asing dengan kedekatan mereka berdua. Ada kemiripan sampai semua anak mengira Jofan dan Ayu adalah kerabat. Tidak ada yang mempertanyakan tentang jati diri Ayu.


Kelas dimulai normal, tidak ada yang mencurigakan atau bahkan membuat Ayu tidak nyaman. Semua orang membantu dirinya beradaptasi dengan mudah di lingkungan sekolah yang cukup lama Ayu tinggalkan.


Senyum ketiga sahabatnya tidak luntur, mereka terlihat sangat bahagia Ayu kembali di tengah-tengah kelas. Sudah cukup lama mereka tidak berhubungan, Ayu menutup diri sampai lupa bagaimana mereka semua sangat mencintai dirinya apa adanya.


Siang ini Ayu dan ketiga sahabatnya ingin makan di kantin sekolah, sudah lama tidak makan makanan enak milik kantin sekolah. Awalnya biasa saja, mereka berempat berjalan kekantin sambil bersenda gurau sampai Jofan memperhatian semua anak yang melihat ke arahnya seolah berbisik. Mereka membicarakan Ayu. Ayu, Sandra dan Melani masih tidak sadar dengan apa yang terjadi. Mereka masih asyik bercanda tawa tanpa memperhatikan sekeliling.


“Kalian duluan. Aku akan menyusul.” Ketiganya mengangguk tidak menaruh curiga sedikitpun. Jofan memang sering tiba-tiba menghilang dan kembali dalam waktu yang singkat.


Jofan menghampiri salah satu siswa dari kerumunan yang membicarakan Ayu di belakang mereka. Jofan menarik kerah bajunya sampai siswa itu tidak berkutik. Mendorong tubuhnya masuk ke ruang kelas agar ketiga sahabatnya tidak tau Jofan melabrak seorang siswa.


“Apa yang kau katakan. Jangan bicara macam-macam tentang sahabatku.” Jofan geram anak laki-laki berbisik dan bergosip di belakang orang lain seperti anak perempuan.


“Aku tidak bicara sembarangan. Aku bicara tentang kisah hidup Ayu yang ada di mading sekolah.” Jofan melepaskan cengkeramannya. Dengan sekuat tenaga dia lari memastikan apa yang semua siswa bicarkan tidak sampai ke telinga Ayu.


Jofan terlambat, Ayu, Sandra dan Melani saat ini berdiri di depan mading. Sandra berusaha menarik Ayu agar tidak membaca seluruh isi cerita yang ada di dalamnya. Melani hanya menangis tidak kuat melihat Ayu yang ditimpa berbagai macam batu besar dalam hidupnya.

__ADS_1


Ayu tidak bergeming, air matanya lolos begitu saja. Anak-anak yang tadinya bergunjing mereda seketika. Melihat Ayu yang berdiri mematung di depan mading membuat semua siswa memutuskan membubarkan diri dengan sendirinya. Mereka tidak tega melihat air mata Ayu, gadis mungil yang cantik dan baik hati.


Jofan memeluk Ayu dalam dekapannya. Jofan bahkan tidk bisa menahan air matanya. Jofan merobek isi cerpen yang menjelaskan kisah hidup Ayu menjadi butiran-butiran kecil. Pasti Ayu sangat terkejut ada orang yang tau sedetail dan serinci itu tentang siapa dirinya.


Kali ini Ayu terlihat sangat tegar, dia bahkan bisa menguasai emosinya dengan baik. Hanya sebentar Ayu tenggelam dalam air mata, dia tidak mau berlarut-larut memikirkan masalah yang sudah membuatnya menderita beberapa bulan terakhir.


Tapi Jofan sama seperti Malik. Wajah Ayu yang tersenyum jelas tidak terlihat bahagia, dia tau saat ini Ayu sedang berpura-pura. Jofan mengikuti saja apa yang menjadi keputusan Ayu, mencoba tidak bertanya bagaimana perasaannya saat ini. Yang jelas Jofan tau saat ini kesedihan meliputi jiwa Ayuna.


Melani dan Sandra yang biasanya sangat berisik jadi tidak berani membuat keributan. Mereka ingin sekali Ayu menangis bersama mereka seperti dulu, tidak menyembunyikan kesedihannya dan berpura-pura baik-baik saja. Semua itu lebih menyakitkan karena harus menutupi perasaannya yang sesungguhnya.


“Kalian kenapa jadi sangat pendiam?” Ayu menarik tangan kedua sahabatnya dalam genggamannya. “Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja.” Ayu mengusap air mata yang lolos dari mata Sandra. “Aku sudah berdamai dengan semua ini. Aku lebih memilih cinta kalian daripada harus terus membenci diriku sendiri.” Keduanya terisak mendengar ucapan Ayu.


Dasar gadis-gadis bodoh, seharusnya Ayu yang menangis. Mereka malah membuat suasana jadi terbalik. Jofan hanya bisa memandangi ketiga sahabatnya yang masih berpelukkan di tengah taman sekolah yang ada di belakang.


Setelah memesan beberapa makanan, mereka menikmati semua hidangan yang sangat enak. Semua masalah yang menimpa Ayu hari ini seolah sirna menguap bersama udara panas siang ini. Ayu selalu terhibur saat berada di tengah sahabat-sahabatnya yang tau harus bagaimana saat dirinya tengah bersedih.


“Aku harap apa yang terjadi hari ini jangan sampai Kak Malik tau yah. Dia sudah sangat kesulitan.” Ayu harap tidak ada yang membicarakannya. Pasti Malik akan lebih sedih dan tidak bisa fokus karena memikirkan dirinya.


Ayu menangis di pelukkan Jofan. Kedua sahabatnya bersyukur Ayu melampiaskan air matanya. Semua akan terasa ringan jika perasaannya bisa dibagi dengan orang lain. Jangan menderita sendiri, luapkan semua apa yang membuatmu menderita.


“Tidak apa, menangis lah. Jangan menahan semuanya sendiri. Kau punya aku, aku akan selalu menjagamu.” Melani dan Sandra ikut terbawa emosi. Mereka berdua berpelukkan dengan berlinnag air mata.


Kelas seketika hening, Jofan tidak membawa Ayu kembali ke kalas. Jofan takut Ayu akan kembali terpukul. Melani dan Sandra jadi pendiam membuat teman-temannya turut prihatin. Mereka biasanya selalu ramai layaknya musik untuk kesunyian.


“Jangan bersedih, kita semua mendukung kalian.” Melani dan Sandra kembali meneteskan air mata melihat teman-teman kelasnya berdiri di depannya memberikan dukungan.


“Aku tau kalian semua anak-anak yang pandai. Tidak mungkin suasana seperti ini akan merubah persahabatan kita.” Jofan berjalan membelah kerumunan yang sedang berdiri.


“Kalian tidak pantas dikucilkan karena itu bukan salah kalian. Ini bagian dari masa lalu yang membuat kalian akan semakin kuat.” Seorang guru yang baru saja masuk ikut merasakan atmosfir kelas yang sangat suram tapi penuh cinta kasih. Mereka saling menguatkan satu sama lain layaknya sebuah keluarga.


Jofan sangat berterimakasih karena tidak ada yang membenci dirinya dan Ayu. Ini awal yang baik dirinya dan Ayu bisa diterima ditengah-tengah orang-orang yang punya jiwa putih, tidak menghakimi orang lain atas apa yang meninma mereka. Semua mendukung agar Ayu dan Jofan bisa kuat menghadapi maslahnya bersama.

__ADS_1


Mungkin mudah menerima kenyataan mereka benar-benar bersaudra, selama ini mereka sangat dekat. Tapi butuh toleransi yang sangat besar menerima mereka adalah saudara satu ayah dimana kelahiran Ayu merupakan kesalahan. Mereka menutup mata dan tidak menghakimi Ayu dan Jofan dengan sindiran-sindiran seperti yang siswa lain lakukan. Ternyata selama ini kebaikan yang Ayu perlihatkan membuat orang lain sadar dan berbesar hati untuk tidak bersikap egois pada orang lain.


Ayu terharu mendengar teman-temannya sangat perduli pada dirinya. Mereka membuat Ayu yakin harus kuat dan menata hatinya menerima semua takdir ini yang merupakan bagian dari hidupnya.


“Bagaimana kelas hari ini?” Ayu sudah duduk di mobil bersama Malik. Malik sengaja pulang lebih awal agar bisa menemani Ayu. Pasti banyak yang ingin dia ceritakan di hari pertamanya kembali ke sekolah.


“Kak, apa masalaluku bisa menyakiti orang lain? Apa bisa menimbulkan masalah?” Malik tersentak. Perasaannya tidak enak memang.


Malik menepi, dia ingin menatap wajah Ayu saat mereka bicara. “Apa ada yang ingin Ayu ceritakan?” Ayu menggeleng. “Jangan menutupi apapun dariku. Kau sudah berjanji.” Ayu tersenyum. Wajahnya jadi sangat ceria membuat Malik heran.


“Ah..... Kak, jangan terlalu serius, nanti Kaka cepat menua. Aku hanya ingin tau saja!” Ayu mendorong tubuh Malik yang menghadap ke arahnya agar kembali melajukan mobilnya. Malik tidak bisa memaksa kalau Ayu sudah bersikap manis seperti ini.


“Benar tidak ada yang kau tutupi.” Ayu mengedipkan matanya berulang kali mengusir khawatir yang melanda laki-laki yang sangat mencintainya.


“Aku akan mengajakmu makan di tempat Rey. Dia memintamu jadi pendamping Ana saat menikah nanti.” Wajah Ayu seketika merona. Dia sangat bahagia mendengar kabar pernikahan yang dia lupakan karena masalah hidupnya yang pelik.


“Aku tidak sabar.” Malik menautkan jemarinya dengan jari-jari Ayu yang kecil.


Melajukan kendaraan yang dipenuhi kebahagiaan. Melihat senyum di wajah Ayu, Malik bisa mengatasi segala masalahnya seketika. Tidak ada lagi beban di kepalanya saat melihat wajah Ayu yang berseri sore ini.


Tidak lama Malik dan Ayu sampai di depan restaurant. Sudah sangat lama, dulu Ayu sangat bergantung pada Kak Rey. Ayu berhutang budi dan tidak bisa membayarnya sampai kapan pun. Kak Rey sangat tulus, dia terlihat cuek namun sangat perhatian. Rey bahkan mengurus semua keuangan Ayu bersama Malik.


Tring......tring....tringgg....


Suara gemerincing lonceng yang terpasang di pintu masuk restaurant. Seorang pegawai yang sangat mengenal Ayu berlari menghampirinya, memberikan pelukkan hangat dan perasaan bahagia melihat Ayu dalam keadaan baik-baik saja.


“Nai, kita sudah lama sekali tidak bertemu.” Naila mundur saat melihat laki-laki yang menjadi pelanggan VIP di restaurant berdiri di belakang Ayu sambil tsersenyum.


“Jangan takut, dia orang yang baik.” Naila mengukir senyum sopan pada Malik. Terlihat jelas bagaimana Naila perduli pada Ayu.


Entah kenapa hari ini membuat Ayu menjadi wanita yang dibanjiri perasaan bahagia. Semua kesedihan dan kebahagiaan datang bersamaan. Air mata yang selama ini sudah menguras energinya seolah tidak sia-sia, Aku ingin bahagia, aku akan lepaskan semua bebanku sebagai masa lalu.

__ADS_1


__ADS_2