Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 165 ( Murni Kritis )


__ADS_3

Brakkkk…..


Suara benturan keras terdengar dari rumah Murni yang masih tertutup pagarnya. Seorang mata-mata yang mengawasi lokasi rumah Murni dari dekat bersiaga mengambil gambar dan merekam kejadian untuk membuktikan kejahatan Ali selama ini yang sulit di ungkap karena bukti yang tidak kuat.


Murni terlihat membuka paksa pintu rumahnya yang ditahan oleh Ali. Ali mendorong tubuh Murni cukup keras sampai tersungkur di teras rumah, dengan tega Ali memukul wajah Murni yang sudah babak belur. Murni hanya sedikit berteriak karena rasa sakit, tapi tidak ada air mata. Dia terlihat pasrah dengan apa yang Ali lakukan.


Ali membiarkan Murni yang sudah tidak berdaya tergeletak di teras rumah begitu saja. Ali mengendarai motor Ninja nya yang berwarna merah dengan kecepatan di atas rata-rata. Setelah Ali cukup jauh, seorang tetangga yang rumahnya tepat berada di sebelah rumah Murni lari menghampiri Murni yang tergeletak.


“Mbak….Ya Allah…kamu kok gak kapok di suruh pergi yang jauh.” Meracau sambil membantu Murni untuk segera berdiri. Meski wajahnya babak belur, Murni masih tersenyum mengisyaratkan dirinya baik-baik saja. “Ayo pelan-pelan, Kasian kamu Mbak. Kenapa suami mu jadi seperti ini Mbak.” Perempuan yang memapah tubuh Murni kesulitan karena tidak tersisa tenaga di tubuh Murni.


Bruggg….


Tolong…..Tolong……


Mata-mata yang Aldo tempatkan segera membantu Murni setelah mendapat perintah untuk segera membawa Murni ke rumah sakit terdekat. Ambulance tidak lala datang, perempuan yang menolong Murni merasa bingung dengan kedatangan laki-laki tidak di kenal yang dengan sigap menggendong tubuh Murni masuk ke ambulance yang datangnya juga seperti keajaiban.


“Ibu, kami akan mengurus sisanya. Tolong jangan katakana pada suami perempuan ini kalau kami membawanya ke rumah sakit.” Perempuan yang seperti sedang melihat malaikat penolong hanya mengangguk. Merasa bingung tapi juga senang karena ada yang perduli dengan Murni setelah sekian lama dia menderita.


“Tolong ya Pak, dia wanita yang sangat baik. Tolong jaga ya Pak.” Merasa tenang setelah mendengar pria yang membawa Murni adalah orang baik.


Tidak lama setelah Murni ditangani dokter ahli, Malik dan Aldo sampai di rumah sakit. Mereka segera menemui dokter yang menangani Murni. Tubuh Murni penuh dengan luka lebam. Tubuhnya membiru bekas pukulan tangan dan pukulan benda-benda keras. Malik menghela nafasnya panjang.


Tidak habis pikir ada laki-laki sejahat Ali di dunia ini. Ayu pasti akan sangat terpukul jika tau saat ini Murni terbaring tidak berdaya akibat perbuatan suaminya. “Al, sepertinya akan memakan waktu lama. Beri tau Hans agar tidak meninggalkan Ayu seorang diri sampai kita kembali.” Aldo segera meraih ponselnya.


“Bos, apa kita bisa melaporkan kejadian ini? Ini sedikit berisiko. Kita bisa saja di tuduh sebagai penguntit. Tapi itu bisa saya bereskan.” Aldo juga merasa geram. Tidak bisa perbuatan seperti ini di biarkan dan pelakunya bebas berkeliaran tanpa rasa bersalah.


“Kita pikirkan nanti. Kita harus pastikan Murni bisa melewati masa kritisnya.” Aldo mengangguk. Ini tugasnya menyelesaikan masalah Hukum. Malik tidak akan bisa berpikir jernih dalam keadaan genting seperti ini.


“Pak Malik, bisa ikut saya sebentar?” Malik mengikuti Dokter ke ruangannya. Sebagian hasil tes sudah keluar, Dokter sampai menghela panjang nafasnya sebelum menjelaskan isi dari dokumen-dokumen hasil pemeriksaan yang ada di tangannya.

__ADS_1


“Saya sangat menyesal harus menyampaikan ini. Tapi hasil pemeriksaan tidak bisa berbohong Pak.” Malik hanya mengangguk, dia sangat khawatir. Dokter menjelaskan dengan detail isi dari setiap laporan kesehanatan satu demi satu.


Malik sampai berkeringat mendengarkan isi laporan yang dokter buat. “Luka lain bisa saja pulih Pak Malik, tapi hantaman benda tajam di kepala mengakibatkan pendarahan di otaknya. Kami berusaha keras menyelamatkan pasien, tapi kami juga harus memberitahukan kemungkinan pasien untuk selamat cukup kecil.” Malik tidak lagi bisa berkata-kata.


“Lakukan yang terbaik. Jangan menyerah.” Malik sangat ingin mencekik leher Ali saat ini. Dia bisa begitu kejam menyakiti Murni tanpa belas kasihan. “Dia wanita yang berharga bagi Ayuna, jangan sampai kita kehilangan nyawanya.” Dokter merasa tertekan dengan permintaan Malik, tidak bisa memastikan keselamatan nyawa paseinnya karena kondisi Murni cukup mengenaskan.


Malik merasakan sakit di kepalanya karena menahan emosi. Rasanya ingin melampiaskan segala amarahnya agar kepalanya sedikit ringan. Tapi keberadaan Murni bahkan dia rahasiakan agar Ali tidak bisa menemukannya dengan mudah.


“Bos, pulanglah. Biar masalah ini aku dan Pak Dodo yang bereskan dibantu Pak Iman.” Malik menggeleng. Apa yang akan dia katakana pada Ayu dengan keadaan ini. Belum lama Malik meminta Ayu agar sabar tidak bertindak gegabah. Tapi sekarang Murni terbaring tidak berdaya di depan matanya.


“Nona bisa khawatir Tuan Muda, kami akan mengabari segera jika ada perkembangan lebih lanjut Tuan.” Pak Dodo merasakan kesedihan, masalah tidak juga kunjung selesai silih berganti menerpa Malik dan Ayu.


Benar juga apa yang Pak Dodo katakana. Tapi saat ini banyak yang ingin Malik selesaikan. Malik meraih ponselnya, dengan ragu Malik menghubungi Rey.


“Rey, apa kau sibuk?” Bertanya dengan canggung.


“Tidak, ada apa? Tumben sekali kau bertanya kesibukanku.” Rey sedang sibuk mengepak bahan makanan ke dalam lemari.


“Apa masalahnya sangat serius?” Rey sedikit khawatir. “Apa aku perlu menjempunya?”


“Tidak, aku akan antarkan besok pagi.” Malik tau mereka tidak akan menolak membantunya menjaga Ayu.


“Baiklah, terimakasih sudah mau memberikan kami kesempatan menjaganya.” Rey senang tidak ada lagi jarak yang memisahkan mereka sebagai keluarga.


***


Keadaan apartemen Ayu sangat sepi meski saat ini banyak penghuninya. Semua tidak ada yang bicara karena merasa canggung setelah kepergian Malik dan Aldo. Semua berpura-pura fokus degan film laga yang saat ini sedang di putar di layar. Berlangung cukup lama kesunyian yang tercipta karena kecanggungan yang dirasakan satu sama lain.


“Aku menyerah…..”Sandra mengangkat kedua tangannya. Semuanya terkejut dengan sikap Sandra. “Aku ingin tau maksud dan tujuan kedatangan mu. Untuk apa datang setelah kamu mencoba membuat kekacauan!” Oji hanya tersenyum. Baginya wajar jika teman-teman Ayu marah padanya.

__ADS_1


Melani takut sampai menarik tangan Sandra agar segera diam. “Jangan mengangguku.” Meminta Melani agar tidak melarangnya bicara. “Apa kau benar-benar bisa berubah? Apa kau hanya berpura-pura?” Merasa aneh dan kesal karena Oji hanya tersenyum.


“Apa aku bisa dapat kesempatan menjadi sahabat kalian?” Terlihat tulus saat bicara. “Apa aku terlihat menakutkan?” Oji mencoba menjadi lebih bersahabat.


Ayu bingung harus menanggapi permintaan Oji bagaimana. Dia masih merasa takut dan tidak bisa percaya begitu saja. Dia sering berubah sikap dan emosinya tidak bisa di tebak. Dia bisa berubah dalam sekejap.


“Ayu, apa kau mau memaafkanku?” Oji berlutut di depan Ayu. “Aku ingin dapat kesempatan memperbaiki semua kesalahanku padamu di masa lalu. Aku ingin jadi sosok yang baik yang bisa kamu andalkan.” Mulai bingung apa maksud pembicaraannya saat ini.


“Untuk apa Ayu mengandalkanmu. Dia punya Kak Malik yang akan selalu menjaganya.” Sandra bicara ketus merasa risih. Melani hanya diam seribu bahasa.


“Bukan sebagai pasangan San, sebagai sahabatnya. Aku benar-benar ingin dekat dengan kalian sebagai teman. Apa aku diterima?” Semua diam tidak ada yang bicara. Ayu sendiri bingung karena sering tertipu dengan kepolosan wajah Kak Oji.


“Kali ini dia tidak sedang membual. Dia benar-benar ingin berubah.” Hans tau keraguan yang Ayu rasakan. Tidak mudah berubah begitu saja.


“Mungkin aku akan mencoba untuk percaya. Tapi aku tetap tidak bisa secepat itu percaya.” Oji berdiri menyilangkan kedua tangannya dengan gaya maskulin. Dia sangat tampan kali ini, Melani sampai bingung karena mudah sekali mengagumi laki-laki tampan.


“Kau takut aku akan membuat hatimu bimbang memilih siapa?” Oji tersenyum penuh kemenangan.


“Tidak, aku sudah benar-benar jatuh cinta pada Kak Malik.” Padahal tidak tau pasti maksud dan tujuan ucapak Kak Oji.


“Tentu saja kau mencintainya. Ada apa dengan ucapanmu? Apa aku masih punya harapan?” Oji bercanda agar suasana tidak lagi canggung.


“Aku juga tidak akan tertarik. Hehehhehee.” Suara tawa Ayu mengundang semua orang ikut tertawa. Semua merasa senang Ayu bisa memberi Oji kesempatan.


“Jangan bermimpi. Apa kita benar-benar jadi sahabat sekarang?” Sandra tidak percaya bisa berteman dengan laki-laki yang selama ini dia kagumi kecerdasannya diluar sikapnya yang menyimpang. Melani tidak kalah senang mendengarnya.


Oji cukup popular di sekolah, selain pintar dia memiliki wajah yang ketampanannya di atas rata-rata. Banyak yang tidak tau dia punya sifat yang kurang baik selama ini. Dia jarang bergaul membuat banyak siswa yang menjadi pengagum rahasianya.


Akhirnya Oji pelan-pelan bisa membaur menjadi seorang remaja pada umumnya. Selama ini lingkungan tempat tinggalnya memaksa Oji tumbuh menjadi laki-laki dengan kepribadian seperti berandalan. Hidupnya tidak tentu arah karena tidak punya tujuan hidup yang jelas. Kerjanya hanya bersenang-senang menghamburkan uang yang Ayahnya hasilkan dari pekerjaannya yang illegal.

__ADS_1


Ditengah keseruan yang terjadi, Ayu tiba-tiba saja teringat Mbak Murni yang bayangannya melintas dibenaknya. Wajahnya tersenyum manis tanpa kata-kata. Dia seperti orang yang ingin berpamitan pergi. Ayu sampai mengucek kedua matanya untuk menyadarkan dirinya. Bayangan Mbak Murni sudah tidak ada, tapi Ayu masih tidak bisa melupakkan senyum yang melekat di wajahnya yang sangat anggun.


__ADS_2