
Jofan ada di Restaurant milik Rey saat mendengar Ayu sudah ditemukan. Dia, Rey dan Ana segera menuju rumah sakit dimana Malik membawa Ayu. Mereka sempat medengar kabar Ayu yang saat ini dalam keadaan kritis, dia pingsan dan tidak merespon, tubuhnya seperti tidak bernyawa padahal jantungnya masih berdetak.
Ada Rama dan Oji di luar ruang perawatan, pemandangan yang sudah Rey duga akan dilihatnya saat sampai di sana. Tapi kali ini Rey harus berterima kasih karena Oji menyelamatkan Ayu.
Entah apa yang akan terjadi jika Oji tidak mencoba kabur hingga Hans melihat keberadaan Ayu di rumah Kala. Tapi tetap saja tidak membuat Rey berhenti membencinya.
Semua menunggu dengan penuh ketegangan, terdengar suara Malik yang berteriak memaki Dokter dan Suster yang saat ini ada di dalam ruangan. Entah apa yang membuatnya begitu marah.
Rama memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan, menarik Malik agar Dokter bisa lebih leluasa menangani Ayu. Putranya saat ini diliputi kecemasan yang membuatnya tidak banyak berfikir, hanya ada rasa marah dan sedih.
“Kenapa kau berteriak Nak?” Rama mencoba menghadapi kekanakan Malik dengan sikapnya yang berwibawa.
“Mereka bilang Ayu membutuhkan darah, dan tidak bisa memakai darahku karena golongannya berbeda.” Rama menatap sedih putranya yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan wanita yang paling dia cintai.
“Maaf Tuan, saat ini golongan darah yang Nona butuhkan sangat langka dan kami harus segera menemukan pendonor yang cocok.” Rama menyesal tidak memberi kabar pada kedua orang tua Ayu. Jika mereka ada di sini, pasti Ayu lebih cepat ditangani.
“Dokter tolong segera temukan pendonor yang cocok, aku akan berikan imbalan berapa pun yang dia minta.” Rama memohon dengan penuh agar Dokter segera menemukan orang yang cocok.
“Ada apa Tuan?” Rey melihat wajah Rama yang begitu tersiksa saat keluar dari ruangan.
“Rey, Ayu harus segera mendapat donor darah. Dia harus segera mendapatkannya, kita harus menyelamatkanya.” Rey menatap Jofan. Saat ini hanya Jofan harapan Ayuna.
“Apa rumah sakit tidak punya persediaan?” Rey merasa heran. Rumah sakit sebesar ini tidak ada stok darah saat keadaan genting.
“Mereka bilang golongan darahnya sangat langka, golongan darahnya AB-, kita harus segera menemukan pendonornya Rey.” Rama merasa dadanya sesak. Dia duduk bersandar memejamkan matanya yang sedikit gelap.
“Golongan darahku sama dengan Ayu.” Ucap Jofan ditengah kegalauan yang Rama rasakan. Seakan mendapat kekuatan saat dirinya sedang dalam keadaan buntu.
Rama membuka mata saat mendengar ucapan Jofan, jiwa raga nya kembali pulih seketika mendengar harapan putrinya sudah di temukan. Dia bisa segera menyelamatkan Ayu tanpa butuh waktu lama.
“Jofan, tolong putriku. Aku mohon Nak.” Rama baru ingat jika Jofan adalah saudara Ayu yang masih belum terungkap. Jofan mengangguk, Rama tidak berhenti memeluk dan mencium tangan Jofan.
Jofan sangat mencintai Ayuna dengan segenap jiwa, dia bahkan rela mengorbankan apa saja sekalipun nyawanya sendiri. Rasa cintanya terlampau besar pada gadis desa yang Jofan anggap seperti Arumi kecilnya.
Dengan segera Dokter melakukan pengecekan untuk memastikan Jofan dalam keadaan sehat. Pendonor harus dalam keadaan prima agar tidak membahayakan nyawa orang lain untuk menyelamatkan pasien.
Jofan sangat bahagia saat dokter bilang dirinya sehat dan siap menjadi pendonor bagi Ayu. Baru kali ini Jofan merasa begitu berarti bagi Ayu. Perasaan yang seharusnya dia rasakan dahulu jika tidak terlambat menolong Arumi.
Ayu selalu punya malaikat-malaikat penolong yang menjaganya. Bahkan Tuhan selalu mengirimkan penolong saat Ayu dalam kesulitan. Ayu wanita baik yang dicintai banyak orang.
__ADS_1
Sekarang Malik dan Rama bisa bernafas lega, Ayu sudah berhasil melewati masa kritis nya. Dokter menyarankan agar semua orang tidak mengganggu Ayu agar bisa istirahat dengan baik.
Malik mendekap Ayu dalam pelukannya, berulang kali mencium kening Ayu memperhatikan wajahnya yang penuh luka. Tidak terbendung lagi air mata penyesalan Malik. Dia berjanji akan menjaga dan mencintai Ayu selama sisa hidupnya. Malik ingin menebus kesalahan yang membuat Ayu menderita.
***
Kala tidak bersedia pergi ke rumah sakit besar di tengah kota. Dia menyuruh Hans berhenti di sebuah klinik persalinan yang ada di pinggiran jalan saat mereka melintas. Kinik yang cukup besar di pinggiran jalan.
Suasana klinik sepi, sang pemilik terlihat baru saja membuka rolling door tempat praktek nya. Dia mematung melihat mobil yang berhenti di depan nya dengan suara rem yang cukup keras.
Pemilik Klinik terkejut saat melihat laki-laki keluar dari mobil menggendong wanita hamil yang sudah berdarah-darah dengan pistol di tangannya. Seperti sedang menonton film action yang ada di bioskop.
"Cepat selamatkan Sarah!" Sang pemilik masih tertegun dengan apa yang ada di hadapannya.
"Pak tolong selamatkan teman kami!" Ucap Pras membuyarkan lamunan sang pemilik klinik.
"Ada apa ini sebenarnya?" Merasa takut dan penasaran. Ternyata bukan mimpi, semua ini nyata.
"Tolong selamatkan teman kami, dia pendarahan." Ucap Pras membuat sang pemilik bergegas melihat kondisi Sarah yang sudah Kala letakkan di kasur pasien.
"Kenapa dia menodongkan senjata, kau akan mengganggu konsentrasi." Merasa tidak nyaman.
"Aku harus melakukan operasi caesar, tapi tidak bisa di sini. Peralatan klinik tidak memadai." Merasa khawatir melihat kondisi Sarah saat ini.
"Lakukan di sini atau aku akan menembaknya mati bersamaku!" Ancaman Kala membuat Dokter semakin kalut, dia benar-benar tidak boleh bertindak gegabah.
Pras tidak bisa melawan Kala kali ini, dia bukan orang suka mengancam dengan kata-kata. Dia akan mengeksekusi saat keinginannya tidak di ikuti.
"Dokter apa ada cara lain supaya operasi bisa dilakukan di sini?" Mencoba berkepala dingin. Pasti ada yang bisa dia lakukan.
"Tapi bagaimana jika gagal, peralatan tidak memadai!" Dokter tidak mau mengambil resiko yang membahayakan nyawanya melihat Kala membawa pistol.
"Tolong bawa saja peralatan nya kemari. Aku akan bantu memindahkannya." Kala tersenyum melihat Pras menuruti semua keinginannya.
Dengan segera sang Dokter menelpon rumah sakit besar yang dekat dengan kliniknya. Tidak butuh waktu lama petugas kesehatan lain sudah datang siap membantu persalinan Sarah.
Dokter dan team medis lain menyiapkan ruangan dan peralatan agar semua steril untuk persalinan. Tidak pernah terfikir sekalipun dokter melakukan operasi dalam keadaan yang begitu mencekam.
"Tuan, anda tidak bisa masuk ke dalam. Kami butuh ketenangan." Mata Kala seakan menyala mendengar ada orang yang berani melarangnya. Kala mencengkeram seorang suster yang melarang nya masuk.
__ADS_1
"Tuan tolong, dia akan membantu menyelamatkan Dokter Sarah." Hans menahan tangan Kala yang siap menampar wajah suster yang ada di hadapannya.
"Jangan mengatur ku, atau peluru dalam pistol ini akan menembus kepalamu." Semua bergidik ngeri dan membiarkan Kala melakukan apa saja yang dia inginkan.
Operasi berjalan begitu tegang, Sarah sudah kehilangan banyak darah dan kondisi kandungan nya yang cukup menghawatirkan. Dokter merasa terancam karena Kala tidak berhenti mengelilingi mereka mengawasi dengan pistol yang tidak terlepas dari tangannya.
Bayi berhasil diangkat dari rahim Sarah, tapi suara tangisnnya tidak ada. Dokter memeriksa detak jantung dan masih merasakan gerakannya. Bayinya harus di selamatkan karena sepertinya menelan terlalu banyak cairan.
Dokter fokus menggerakkan tubuh bayi untuk mengeluarkan cairan dalam tubuhnya agar bisa bernafas kembali. Sementara Dokter lain meneruskan operasi .
"Hey!!!!!" Seluruh orang yang ada di dalam ruangan tersentak kaget. "Kenapa kau mengurusnya, cepat selamatkan Sarah!!!." Kala kembali mengacungkan pinstolnya. Merasa tidak senang karena dokter utama sibuk dengan bayi yang tidak berarti baginya.
"Tuan, ibunya pasti selamat. Aku harus memastikan anak ini juga selamat." Teriak nya memaki Kala yang terus membuat keributan.
Tangan Dokter gemetar tapi tidak ada pilihan lain, tangannya tidak berhenti mengayunkan dan membolak balikkan tubuh putra Sarah yang masih belum bersuara. Berusaha sekuat tenaga dan dengan segala cara agar bayi bisa selamat.
"Aku tidak mau tau. Cepat selamatkan Sarah!!!!!" Kala berteriak seperti orang kerusakan, Hans dan Pras yang mendengar teriakan Kala dari luar sangat takut. Tapi ruang operasi di kunci dari dalam sehingga mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
Duarrrrrrrrrrr.....
Oooaaa.....oooaaa....
Suara tembakan dari pistol kala berbarengan dengan suara tangis bayi kecil yang ada di tangan dokter muda yang membantu operasi Sarah. Peluhnya bercucuran membasahi sekujur tubuhnya yang merasa tegang.
Dokter tidak kuasa menahan tangis, dia meneteskan air mata dengan perasaan bercampur aduk. Dia berhasil menyelamatkan bayi kecil dalam keadaan nyawa nya sendiri terancam.
"Tolong bawa dia ke ruangan bayi, dia harus di taruh di inkubator." Perintahnya pada seorang suster yang ada di sebelahnya.
Kala tidak menghiraukan kemanapun mereka membawa Putra Sarah. Hanya Sarah yang dia perdulikan. Bahkan nyawa putra Sarah tidak berarti baginya.
Pintu ruang persalinan terbuka, nampak seorang suster yang menggendong Bayi mungil di tangannya. Pras dan Hans menyambutnya dengan perasaan haru.
"Suster, bayinya selamat?" Pras merasa bahagia mendengar tangis bayi kecil yang ada di depannya, keputusannya tidak salah.
Suster mengangguk, masih tersisa ketegangan yang begitu menyayat. Sepanjang dia menjadi petugas kesehatan, baru kali ini dia bekerja dengan taruhan nyawa.
"Aku harus segera membawanya." Pras melepaskan tangannya yang menahan suster. Membiarkan suster melakukan tugasnya.
Pras dan Hans merasa bahagia. Meskipun operasi di bawah tekanan tapi Sarah dan putranya berhasil bertahan dan selamat.
__ADS_1