
Pagi ini di sambut dengan hujan lebat yang membuat siapa saja enggan beranjak dari selimut tebal dan kasur nya yang nyaman. Rasanya ingin berlama-lama memanjakan diri dan menghangatkan diri di bawah selimut nyaman. Malik masih memejamkan matanya karena semalaman tidak bisa tidur dengan nyenyak. Ayu merasa kasihan, pasti dia sangat sedih dengan permintaan dirinya untuk tinggal sementara waktu bersama dengan Jofan dan Ayah kandungnya.
Ayu berjinjit berjalan perlahan agar langkah kakinya tidak mengganggu tidur Kak Malik. Hari ini ada ulangan dan Ayu harus bangun lebih pagi agar tidak terlambat datang. Ayu sering belajar setelah selesai shalat subuh. Biasanya mudah di ingat karena otaknya dalam keadaan segar. Menurut Ayu yah.
Sembari membaca buku pelajarannya Ayu menghangatkan sisa makanan semalam yang masih cukup banyak. Masih bisa untuk sarapan dan lebihnya akan dia bawa ke sekolah. Pasti Melani dan Sandra akan berebut jika tau ini masakan Malik.
Hujan masih belum reda, Ayu menatap sedih ke arah jendela yang buram karena kabut yang menyelimuti permukaan kaca. Ayu merasa rindu dengan kedua orang tuanya dan Riyan, adik laki-laki yang sangat baik dan perhatian padanya selama ini.
Sejak dirinya tau siapa Ayah kandung yang sebenarnya, kedua orang tua Ayu jarang sekali memberi kabar. Bahkan Ayu juga sedikit sulit menghubungi mereka. Jika menelpon Bibi pun alasannya mereka sibuk dengan ladangnya yang sedang panen. Mereka seperti menghindar, padahal Ayu tidak mau ada perubahan. Pasti mereka sedang memberikan waktu pada diriku agar lebih dekat dengan Papah.
Ayu menghela nafasnya, mengingat kasih sayang kedua orangtuanya selama ini membuat Ayu merasa bersalah harus hadir di tengah-tengah mereka. Tapi semua terjadi bukan atas kemauannya, ini bagian takdir Tuhan yang harus Ayu dan keluarganya jalani dan terima dengan lapang dada.
Tenggelam dengan perasaan sedihnya sampai tidak sadar ada yang mendekat. Ayu terkejut ada tangan yang menelusup melingkar di perutnya. Hembusan nafas dapat Ayu rasakan dengan jelas sampai membuat bulu kuduknya merinding.
“Aku rindu wangi tubuhmu.” Malik menciumi tengkuk Ayu yang terlihat jelas karena Ayu mengikat rambut panjangnya ke atas. Ayu mulai terbiasa dengan sikap Malik yang selalu menempel pada dirinya. Bahkan sudah merasa nyaman. “Aku boleh memakanmu sekarang?” Malik mulai menghujani Ayu dengan ciumannya.
Ayu menundukkan kepalanya, Malik langsung membulatkan matanya mendapat penolakkan dari Ayu. Ayu tersenyum menatap wajah Malik yang sangat tampan pagi ini. “Aku ada ulangan, lihat! Aku sedang belajar.” Ayu menunjuk bukunya yang ada di meja dapur. Wajah Malik kembali seperti bayi besar tampan. Menempelkan dirinya dengan tubuh Ayu tidak mau terpisahkan.
Ayu membiarkan Malik memeluknya beberapa saat sampai dirinya puas. Pelukannya mengendur, itu artinya Ayu sudah bisa bicara dengannya. “Ayo kita sarapan, setelah ini kita siap-siap supaya aku tidak terlambat.” Ayu mendorong tubuh suaminya perlahan.
Malik memperhatiakan dengan seksama makanan yang terhidang di atas meja.
Malik tidak mau sarapan dengan makanan buatanya semalam. Selama ini dia tidak pernah menyimpan makanan sisa. Terlihat menjijikan baginya. Makanan yang dia makan biasanya selalu higienis dan fresh.
Meskipun tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Kak Malik, Ayu bisa menebak dari ekspresi wajahnya yang terlihat tidak nyaman.
“Makanan ini masih sangat enak, rasanya tidak berubah.” Ayu meyakinkan Malik kalau makanannya masih layak di konsumsi.
“Aku tidak mau. Aku makan roti saja.” Menolak dengan sopan. Malik mengambil selembar roti dan mengolesinya dengan selai coklat. Ayu pasrah, dia mungkin tidak akan pernah tau rasanya menahan lapar karena tidak punya makanan.
__ADS_1
Ayu punya ide untuk menempatkan makanan-makanan itu ke dalam wadah dan membagikannya pada anak-anak yang ada di lampu merah. Malik heran melihat Ayu yang terburu-buru lari kesana kemari membuka setiap pintu lemari.
“Apa yang kau cari?” Malik berdiri di belakang Ayu yang kesulitan meraih pintu lemari paling atas. Ayu mendongak, Malik gemas dan tidak tahan mencium bibir Ayu yang merona.
Buggg….
“Kau kenapa memukulku.” Pura-pura terkejut karena mendapat pukulan. Ayu terlihat kesal dan mengusap bibirnya. Matanya tajam menatap Malik. “ Iya…Iya….maafkan aku." Malik tidak bisa menahan tawanya. "Katakana apa yang kau cari!” Malik mengalihkan pandangannya mencari apa yang dia sendiri belum tau.
“Apa ada wadah yang bisa aku gunakan untuk membungkus makanan?” Ayu lupa dengan rasa kesalnya. Malik terlihat berpikir. “Aku ingin membaginya dengan orang lain, makanan yang Kakak tidak mau makan lagi.” Kembali cemberut. Malik sedikit tersentil hatinya. Membagikan makanan sisa agak aneh menurutnya.
“Sepertinya Aldo pernah membawanya.” Malik membuka satu persatu pintu lemari yang berjejer di bagian paling atas. Dan benar, dia menemukan setumpuk wadah makanan yang Ayu inginkan. Malik menariknya tapi tidak langung memberikannya pada Ayu.
“Berikan Kak, jangan menggodaku.” Malik menggeleng, tidak semudah itu Ayuna.
“Berikan aku ciumanmu.” Malik memejamkan matanya tapi masih bisa melihat. Ayu mendengus kesal. “Cepat, atau aku akan membawanya kembali ke atas sana.” Mengancam.
“Baiklah, tapi tutup mata Kak Malik. Jangan mengintip.” Ayu mengecup bibir Malik dengan dua jari tangannya yang di tempelkan. Ayu tersenyum karena Malik tidak merespon apapun.
“Sekarang berikan, cepat kak. Nanti aku terlambat.” Kali ini benar-benar kesal. Malik tidak tega melihat wajah Ayu yang sudah berkerut-kerut menahan amarahnya.
Dengan cepat Ayu menata makanan ke dalam wadah. Untung saja Ayu memasak nasi pagi-pagi jadi bisa dibagikan dengan rata ke dalam wadah makanan yang cukup besar. Pasti mereka sangat senang bisa makan makanan enak hari ini.
“Apa mereka mau makan makanan sisa seperti ini?” Malik tidak pernah mengira makanan yang dia tidak hargai sangat berarti bagi orang lain. “Aku akan lebih bersyukur. Kamu memang gadisku yang sangat baik hatinya.” Malik tidak berhenti memeluk Ayu dan bergelayut tanpa rasa bersalah padahal Ayu sedang sangat sibuk. Ayu hanya pasrah selama tidak mengganggu pergerakan tangannya.
Selesai dengan makanan yang begitu berharga, Ayu menarik Malik agar segera mandi karena dia akan mampir sebentar untuk memberikan makanan pada anak-anak di lampu merah. Malik segera mandi agar Ayu tidak marah lagi padanya.
“Kak tolong cepat sedikit." Ayu meminta Malik bergegas, Malik masih saja belum keluar dari ruang kerjanya sampai Ayu menyusulnya. "Kak, cepat." Ternyata Malik sedang menelpon. Pantas saja tidak mendengar Ayu yang berteriak.
Malik terseyum, meraih jas yang tergantung di kursi kerjanya dan segera keluar tanpa mengakhiri percakapannya. Malik membantu Ayu membawa tengengan di plastik besar yang berisi makanan dan snack. Ayu menambahkan sedikit cemilan untuk anak-anak yang akan dia temui.
__ADS_1
Aldo sudah ada di lobby dengan mobil berwarna hitam. Segera turun membukakan pintu untuk Ayu dan Malik. Aldo memperlakukan Ayu sebagaimana Malik selalu menjaga Ayu selama ini. Dia selalu menempatkan telapak tangannya di atas kepala Ayu agar tidak terbentur pintu mobil saat masuk.
Aldo segera melaju menuju sekolah Ayu. Tidak lama mereka sudah sampai dan Ayu baru ingat dengan misinya tadi pagi.
"Ya Tuhan...." Aldo menghentikan mobilnya mendadak karena ikut terkejut. Malik dan Aldo menatap wajah Ayu dengan serius. "Ada yang aku lupakan. Ini salah Kaka karena tidak berhenti bicara sampai kita tiba-tiba sudah sampai." Malik mengernyit tidak percaya.
"Apa yang lupa? Apa itu benar-benar salahku?" Merasa ada benarnya perkataan Ayu. Tangan Ayu menunjuk plastik besar yang ada di kursi depan. Aldo segera memeriksa isi di dalam plastik.
"Apa ini makanan?" Ayu mengangguk. Malik tersenyum mencoba menyingkirkan kekecewaan pada dirinya sendiri. "Apa yang salah dengan ini." Aldo masih bingung.
"Aku yang akan membagikannya. Katakan aku harus berikan pada siapa?" Ayu tersenyum, akhirnya punya kesempatan membalas perbuatannya tadi pagi.
"Kaka harus memberikannya pada anak-anak yang ada di gang dekat lampu merah pertigaan" Malik menggangguk. Hal yang mudah di lakukan pikirnya. "Satu lagi, aku tidak mau orang lain yang menyerahkannya pad mereka. Harus Kak Malik sendiri." Kini menjadi sulit. Malik tidak pernah melakukannya. Dia biasanya berdonasi pada yayasan tanpa terjun langung dalam pelaksanaan.
"Nona, kamu sangat keren. " Aldo mengacungkan dua jempolnya merasa puas.
"Dan Kak Al, kau harus mengabadikannya dan mengirim fotonya padaku." Ayu mengedipkan matanya. Malik semakin tidak bisa memanipulasi keadaan. Dia harus benar-benar melakukannya sendiri.
"Siap Nona." Aldo dan Ayu saling tersenyum bahagia. Malik menggangguk demi kebahagiaan Ayu.
Kini keduanya sudah ada di gang dekat lampu merah, Malik menatap wajah anak-anak yang masih sangat kecil sedang bersenda gurau terlihat bahagia meski keadaan mereka sangat memprihatinkan. Perlahan melangkah mendekati mereka yang nampak curiga dengan kedatangan Malik dan Aldo.
"Jangan takut, aku hanya ingin memberikan makanan." Malik tersenyum ramah. Salah seorang yang sepertinya paling besar diantara yang lainnya berjalan mendekati Malik. Mengambil plastik besar dari tangan Malik dan membagikannya pada teman-temannya.
Terdengar suara yang sangat antusias saat berebut makanan. Malik tidak langsung pergi meninggalkan mereka, ada kebahagiaan yang tidak bisa dia gambarkan saat melihat mereka makan dengan lahap.
"Kak, apa kau teman Kak Ayuna?" Tanya seorang anak perempuan yang wajahnya tidak asing. Malik mengangguk. "Apa aku boleh menitipkan ini untuk Kak Ayuna?" Malik memeriksa bungkusan yang sangat usang dan masih tertutup rapat.
"Aku akan memberikannya pada Ayuna. Kami pamit yah. Lain kali kami akan datang lagi." Tanpa sadar Malik terpikat dengan anak-anak yang dia lihat. Mereka membuat Malik iri.
__ADS_1
Ternyata benar, kebahagiaan tidak bisa di ukur dengan materi. Mereka masih bisa bercanda tawa meski hidup dalam keadaan sulit. Harus ada yang menolong mereka agar keluar dari keadaan menyakitkan ini.