
Selesai makan Malik membawa Ayu menemui teman-temannya yang menunggu Ayu di kampus yang ingin mereka datangi. Malik membiarkan Ayu, Sandra dan Melani menjelajah dengan puas dalam pengawasannya. Ayu terlihat sangat antusias. Dia pasti akan masuk kampus dengan mudah mengingat nilai-nilai nya tinggi dan sangat memuaskan.
Selesai berkeliling Malik mengajak ketiga gadis menuju ruang administrasi untuk meminta formular pendaftaran. Mereka harus tau syarat apa saja yang harus dipersiapkan untuk pendaftaran kuliah mereka.
“Apa masih ada tempat lain yang ingin kalian datangi?” Ketiganya kompak menggeleng, rasanya syarat dan ketentuan masuk kampus tidak ada kesulitan. Kampus ideal.
“Kak, apa Ayu boleh ikut kita makan malam di tempat Kak Rey?” Malik masih berjalan menggandeng Ayu tanpa menjawab permintaan Sandra yang berjalan di sampingnya. “Malam ini Jofan akan mengadakan perpisahan, dia harus segera pergi mengurus keperluan kuliahnya.” Suara Sandra terdengar sendu. Malik tau hubungan percintaan Sandra dan Jofan meski tidak ada yang cerita, Malik hanya tersenyum membuat ketiganya menunggu jawaban Malik.
“Boleh.” Jawab Malik singkat membuat ketiga gadis bersorak gembira.
Malik menuruti permintaan Ayu dan teman-temannya mampir sejenak ke Restaurat Rey, disana sudah ramai sanak saudara yang merayakan kelulusan sekaligus keberangkatan Jofan ke Swiss untuk menimba ilmu. Jofan akan jadi arsitek terkenal pastinya, bakatnya sudah melekat dan mendarah daging sejak dia kecil.
Darah seni dari sang Ibu turun pada Jofan, dia suka sekali kesenian terutama merancang bangunan-bangunan rumit yang membuatnya jatuh cinta. Semua sedih karena Jofan akan jauh, tapi tidak ada yang menghalangi karena tujuan Jofan untuk mewujudkan cita-citanya.
Malik memperhatikan Ayu yang tidak menyentuh apapun yang ada di depan mejanya. Dia hanya bersenda gurau dengan teman-temannya. Malik berinisiatif mengambilkan Ayu pudding coklat kesukaannya.
Ayu menengadah menatap laki-laki yang menyodorkan pudding di depan wajahnya. Ayu menerima saja dan meletakkannya di atas meja. Tidak tertarik.
“Kenapa tidak di makan?” Malik duduk menatap tajam mata Ayu.
“Aku tidak selera Kak. Nanti saja kalau aku sudah lapar.” Ayu tidak mengindahkan permintaan Malik yang memintanya makan dan melanjutkan kesibukannya dengan Sandra dan Melan.
“Tidak bisa, kamu bisa sakit kalau tidak makan apapun. Mau makan apa!” Nadanya sedikit tinggi membuat Ayu ciut. Wajah bahagianya hilang, Ayu jadi sedih.
Ayu benar-benar tidak bisa mengunyah makanan yang ada di depannya. Membayangkan rasanya saja perutnya sudah mual. “Aku benar-benar tidak lapar Kak.” Suaranya hampir tidak terdengar.
“Katakan Ayu ingin makan apa?” Malik bicara dengan lembut, dia sadar nada bicaranya membuat Ayu takut. “Katakan sayang, aku hanya takut Ayu sakit karena tidak makan apapun.” Malik menggenggam tangan Ayu dengan erat.
“Kak Malik tidak akan mengijinkan aku memakannya.” Suaranya masih pelan menandakan dia sedang marah pada Malik. Malik menggeleng tidak percaya, dia masih menaruh hati pada seblak yang Malik buang.
“Kau sangat ingin makan seblak?” Ayu mengangguk meski ragu. “Makanan itu tidak baik untuk kesehatan, kau mau saja di bodohi Aldo.” Ayu diam saja, menentang Malik akan memperkeruh keadaan. Malik beranjak dari duduknya, menghampiri Rey yang ada di dapur.
“Rey, kau sibuk?” Rey terlihat bersinar saat sedang memasak. “Kau tau, aku sedang pusing.” Rey menyipitkan matanya masih menunggu kalimat selanjutnya.
“Ayu hanya mau makan seblak, dia tidak mau makan apapun sejak pagi Rey.” Rey mencuci tangannya, Malik terlihat serius.
__ADS_1
“Apa kau melarangnya makan seblak?” Mata Malik membulat.
“Tentu saja, kau ini. Aneh sekali bertanya seperti itu.” Menggerutu tidak jelas.
“Kalau aku yang buatkan apakah boleh.” Manik mata Rey seolah sedang menggoda Malik. Malik masih menggeleng tidak rela memberikan makanan tidak higienis untuk perut Ayu yang berharga. “Aku jamin seblak buatan ku sehat.”
“Apa bisa di buat jadi makanan sehat?” Malik masih tidak percaya.
“Tentu saja, kau mau dia sakit karena tidak makan apapun?” Malik menggeleng, tentu saja kesehatan Ayu sangat penting. “Percaya saja padaku, aku ahlinya dalam mengolah makanan.” Malik memperhatikan dengan telaten usaha Rey membuatkan Ayu seblak sehat.
Bumbu yang cukup menyengat saat di masak membuat Malik terbatuk-batuk, Rey seperti sedang mengerjai Malik padahal itu reaksi wajar orang-orang yang jarang menggunakan rempah-rempah tajam seperti kencur saat memasak. Rey hanya memasukkan macaroni yang sudah dia rebus sebelumnya, kwetiau sebagai pengganti mie, sayur mayur dan berbagai seafood segar yang sangat menggoda.
“Cukup mudah, aku akan buatkan jika Ayu memintanya lagi.” Malik yakin dengan kemampuan memasaknya, dia juga ternyata mencatat bumbu-bumbu yang Rey gunakan. Meski sekilas, Malik bisa memahami dengan cepat.
“Sekarang antarkan supaya Ayu segera makan.” Malik segera meraih mangkuk berisi seblak keinginan Ayu.
“Makanlah!” Mata Ayu berbinar melihat makanan yang sangat tidak sabar ingin dia makan sejak pagi tadi. Cacing-cacing di perutnya menari bahagia, mereka kelaparan tapi sang pemilik tubuh tidak merespon.
Ayu melahap seblak sehat buatan Kak Rey, Malik senang Ayu mau makan setelah seharian menolak semua makanan yang dia sodorkan. “Seenak itu!” Ayu mengangguk dengan wajah berbinar menampakkan kebahagiannya. “Habiskan, aku sudah belajar juga. Nanti aku buatkan jika Ayu mau lagi.” Mendengarnya Ayu merasa semakin bahagia.
Hari ini Ayu mengikuti Ospek mahasiswa baru, awalnya Malik tidak mengijinkan Ayu ikut. Tapi dia tidak bisa bertahan jika Ayu sudah merajuk dengan jurus andalannya, Malik khawatir Kakak kelasnya akan menyakiti Ayu. Tapi menurut Ayu itu pengalaman seru yang ingin dia lewati bersama teman-temannya.
Ayu bahkan tidak keberatan jika dirinya harus berjuang melawan kejamnya Kakak kelas seperti yang sering muncul di drama-drama anak sekolah jaman sekarang. Tidak ada salahnya, mungkin mereka hanya ingin kelak kita jadi orang dewasa yang selalu bertanggung jawab dan disiplin.
“Apa semua sudah Ayu bawa?” Ayu mengangguk sambil mengangkat rangselnya yang cukup berat. “Kalau ada yang menyakitimu, ah...tidak. Aku tidak boleh punya pikiran jahat seperti itu.” Malik masih mondar mandir di depan Ayu seperti setrika panas. “Aku akan menemani.” Mata Ayu membulat tidak percaya, sudah berulang kali diskusi ini terjadi. Ayu sampai ingin berteriak rasanya, untung saja dia masih sabar.
“Kak Malik masih tidak percaya padaku?” Malik menggeleng dengan mata sendu. “Tolong biarkan aku hidup normal seperti gadis-gadis lain.” Malik tidak bisa memaksakan kehendaknya. Ayu layak mendapat kesempatan.
“Baiklah, aku tidak akan ikut campur dalam hal ini. Tapi jika aku tau ada yang menyakiti mu. Lihat saja, aku bisa membuat kampus ini rata dengan tanah dalam sekejap.” Ngeri Kak Malik kalau sudah marah. Ayu memasang senyum slebar mungkin, berharap bisa menghapus sedikit kegundahan dalam hati Malik.
“Apa aku sudah boleh masuk? Teman-teman ku menunggu.” Malik memeluk erat sebelum melepas Ayu. Tidak perduli dengan siswa yang wara wiri di sekitarnya. Malik menghela nafasnya panjang.
“Masuklah!” Malik melepas pelukkannya. Untung saja dia tidak ikut masuk ke dalam, apa kata dunia jika Ospek di awasi seorang Malik. Yang ada dia akan membuat suasana canggung layaknya meja bundar rapat dewan direksi.
Ayu tidak dalam satu kelompok yang sama dengan Sandra dan Melani. Kakak kelas tidak membiarkan mahasiswa satu SMA bersatu, mereka di pisahkan agar bisa bersosialisasi dengan teman baru dari SMA lain. Tidak seburuk yang Malik bicarakan, mereka cukup ramah dan baik hati. Hanya beberapa yang Ayu rasa sedikit menyebalkan.
__ADS_1
“Melan....Sandra...” Teriak Ayu saat menghampiri kedua sahabatnya di jam istirahat. “Aku rindu.” Mereka saling berpelukkan.
Mereka hanya bisa bertegur sapa di jam istirahat, tiba-tiba saja Melani menyodorkan selembar kertas pada Ayu. Kata Melan, titipan dari kakak kelas bernama Alif yang jadi panitia Ospek untuk temannya yang berhijab.
“Apa ini Mel?” Melani mengangkat bahunya.
“Sepertinya surat cinta, baca saja supaya tau apa isinya.” Mendengar ucapan Melan membuat Ayu ragu, dia mengurungkan niatnya membuka surat yang Ayu terima dan menyimpannya dalam saku bajunya. “Kenapa tidak di baca?” Ayu hanya tersenyum.
“Aku tidak mau tau, aku sudah jadi milik Malik Saputra seutuhnya.” Mereka melanjutkan obrolan dengan tema lain. Ini waktu-waktu yang menyenangkan membahas kejadian-kejadian lucu yang terjadi ketimbang membahas asmara.
Tidak terasa Ospek hari terakhir sekarang, Malik tidak lagi ragu membiarkan Ayu pergi. Dia bisa membuktikan beberapa hari ini dirinya dalam keadaan baik-baik saja tanpa pengawasan Malik. Malik bahkan memutuskan menghadiri rapat di Bandung setelah mengantar Ayu ke kampus. Dia harus berhenti khawatir, Ayu bukan lagi gadis kecil yang harus selalu ada dalam pengawasannya.
“Malam nanti Pak Dodo yang jemput.” Ayu mengangguk dengan senyum manisnya. Segera menghilang dibalik pintu masuk setelah Malik memintanya segera pergi.
Aldo sudah kebal melihat adegan romantis bos nya yang bucin pada gadis desa yang sekarang jadi belahan jiwanya. Dia bahkan akan uring-uringan seperti bocah kecil saat perasaannya tidak enak atau rindu melanda. Mereka bahkan hanya terpisah beberapa jam saja, tapi Malik sering membuatnya pusing.
“Tuan sudah menyimpan foto Nona.” Malik mengernyit heran. “Siapa tau saja Tuan baru sampai Bandung minta pulang karena rindu pada Nona.” Malik tersipu malu mendengar Aldo meledeknya. Ternyata Aldo merekam setiap kekonyolan yang Malik timbulkan.
“Sudah.” Malik memperlihatkan layar ponselnya yang terpampang foto Ayuna di sana. Tidak lupa semyum tiga jari menyertai kebahagiaannya.
Terik matahari tidak menyurutkan semangat para calon mahasiswa baru yang siang ini setia mengikuti setiap kegiata yang sudah disusun rapih oleh kaka kelasnya. Tidak ada tindak kekerasan atau perundungan yang dilakukan selama Ospek, semua kegiatan diawasi dengan baik demi keselamatan setiap mahasiswa yang mengikuti kegiatan.
Upacara penutupan merupakan kegiatan terakhir Ospek siang ini. Para mahasiswa bisa pulang dengan cepat dan mempersiapkan esok hari sebagai mahasiswa sungguhan. Sandra, Ayu dan Melan berbaris dalam satu barisan dalam upacara, tidak ada peraturan, mereka bebas memilih tempat yang mereka inginkan.
“Kau sangat pucat Yu, apa kau baik-baik saja?” Sandra merasa Ayu sedang tidak sehat. “Minta istirahat saja kalau memang tidak kuat.”
“Tidak, aku baik-baik saja.” Ayu menggenggam lengan Sandra dengan erat, kepalanya memang sedikit pusing.
Kini semua rangkaian acara sudah selesai dilewati, Ayu sudah duduk manis bersama Pak Dodo yang menjemputnya sore ini.
“Nona sedang kurang sehat yah?” Ayu menggeleng. Pertanyaan yang sama. “Apa mau Pak Dodo antar ke rumah besar saja Nona?” Ayu menggeleng sambil memejamkan matanya. Kini bukan hanya kepalanya yang sakit. Pinggangnya terasa nyeri dan perutnya mual. Sepertinya asam lambungnya kumat, begitu menurut Ayu.
“Aku hanya butuh kasur Pak. Aku sangat capek, badanku sakit semua Pak.” Ayu bicara tanpa membuka matanya. “Jangan laporan sama Kak Malik ya Pak, nanti semua orang jadi panik Pak. Aku Cuma capek aja Pak, tenang saja.” Mendengar itu Pak Dodo mengurungkan niatnya melapor pada Tuan Mudanya.
“Baik Nona.” Pak Dodo menurut saja apa yang Ayu minta.
__ADS_1
Sesampainya di apartemen, Ayu masuk seorang diri dan meminta Pak Dodo langsung kembali ke rumah besar. Dia ingin segera istirahat sesampainya di rumah. Tubuhnya tidak punya tenaga sedikitpun. Ayu sampai gontai saat berjalan, rasanya hampir mirip dengan asam lambungnya yang naik, tapi ada yang sedikit berbeda.