
"Sayang, pagi-pagi begini sudah mau berangkat?" Sarah kaget terbangun karena suara Gaduh yang Adam lakukan.
Dia pagi-pagi sudah rapih dan sudah membawakan Sarah sarapan. Adam sangat memperhatikan asupan yang Sarah makan agar selalu sehat Istri dan Anak yang ada dalam kandungannya.
Adam tersenyum, istrinya yang sedikit malas sejak hamil terbangun karena dirinya. Merasa bersalah karena tidak seharusnya Sarah bangun sepagi ini.
"Maaf aku mengganggu tidur mu. Malik menghubungi ku semalam. Tapi handphone ku tidak aktif, aku khawatir." Adam mengecup kedua tangan Sarah.
"Apa mau aku temani?" Sarah jadi ikut khawatir. Biasanya Malik menghubungi Adam jika dalam keadaan darurat.
"Tidak sayang, kamu harus banyak istirahat. Aku bisa atasi kemarahan Malik." Mengangkat kedua tangannya, menunjukkan ototnya yang perkasa.
"Jangan bertengkar dengannya." Adam tersenyum, mencium kening Sarah kemudian berlalu.
Tidak butuh waktu lama Adam sudah berada di kediaman Rama Saputra yang masih sunyi.
Sepertinya Tuan rumah masih terlelap, membuat semua pekerja bekerja tanpa menimbulkan suara yang bisa mengganggu istirahat Tuan rumah.
"Pagi Bi, kenapa sepi sekali? Apa Malik masih tidur?" Sapa Adam pada Bibi pekerja yang sudah bekerja puluhan tahun di sana yang sedang sibuk menyiapkan sarapan.
"Dokter, semua orang bergadang semalam karena Nona demam. Jadi masih istirahat Dokter." Balasnya penuh rasa hormat.
"Aku naik ya Bi, aku mau cek keadaan Nona." Adam merasa bersalah semalam tidak datang.
Jika Sarah tau Ayu demam dan Adam tidak bisa dihubungi. Pasti dirinya juga akan kena Omelan. Apalagi Sarah sekarang ini suka sekali memarahi dirinya.
Pintu kamar Malik tidak di kunci, dibiarkan terbuka lebar.
Adam melihat Malik yang masih terlelap memeluk tubuh Ayu. Mamih juga ada di sana, tidur di ranjang yang sama dengan Malik dan Ayu menggenggam erat tangan Ayu.
Mereka sangat saling menyayangi satu sama lain. Adam semakin terkejut melihat Tuan Rama yang memejamkan mata di atas sofa.
Pemandangan yang akan membuat siapapun yang melihatnya iri. Betapa beruntung Ayu di kelilingi orang-orang yang sangat mencintainya.
Malik mengerjap, dia tidak bisa tidur dengan tenang setelah melihat rekaman CCTV semalam. Perasaan was-was menghantuinya semalaman.
"Oh Tuhan, aku pikir kamu ini....." Malik tidak melanjutkan kalimatnya, menekan kepalanya karena terasa pening.
"Maaf karena tidak mengangkat panggilan semalam." Adam memeriksa suhu tubuh Ayu.
Mereka semua terbangun kecuali Ayu. Merasa lega karena suhu tubuh nya sudah kembali normal. Malik mengembuskan nafasnya kasar.
"Mamih, tolong jaga Ayu. Aku mau membuatkan bubur supaya Ayu bisa makan." Malik menciumi kening Ayu.
Merasa sangat bersyukur Ayu sekarang sudah baik-baik saja.
Adam mengikuti langkah Malik, meninggalkan Mamih dan Ayah yang setia menjaga Ayu seperti putri kandungnya.
Buggggg.....
Malik memukul dada Adam cukup keras. Adam tidak berani bersuara karena telah melakukan kesalahan fatal. Dia menahan rasa sakit di dadanya.
__ADS_1
Untung saja Ayu baik-baik saja, jika terjadi hal yang tidak inginkan akan berbeda cerita. Malik pasti tidak akan memberinya ampun.
"Aku benar-benar minta maaf. Aku benar-benar tidak tau karena akhir-akhir ini aku sangat sibuk." Mencari alasan. Tapi memang begitu lah adanya. Banyak pekerjaan yang harus Adam selesain.
"Bilang saja kalau kau sudah bosan, aku bisa cari pengganti." Malik mengancam seperti biasa nya. Membuat nyali Adam ciut.
"Kau ini, Ayu kan sudah baik-baik saja." Adam melemah mendengar ancaman Malik. Nada bicaranya dibuat selembut mungkin.
"Jangan mengulanginya, atau aku tidak akan mengampuni mu." Malik benar-benar kesal.
Adam membantu Malik menyiapkan sarapan untuk Ayu. Mereka sudah terbiasa masak bersama saat tinggal bersama di luar negeri.
Mereka berdua sibuk sambil membicarakan kejadian semalam yang membuat keluarga Malik tidak bisa tidur dengan tenang.
Ada orang yang dengan sengaja masuk ke rumah untuk membuat Ayu ketakutan. Tapi yang membuat Malik bingung adalah sikap Ayu yang terkesan menutupi siapa pelaku sebenarnya.
"Kau tau, semalam komplek kami juga ada orang gila yang menyalakan petasan tengah malam." Malik menyipitkan matanya. Sedikit tidak percaya.
"Aku tidak berbohong, kamu boleh tanya Sarah. Atau tanya tetanggaku." Mencoba meyakinkan.
Malik dan Adam kembali fokus membuat bubur dengan penuh rasa cinta. Ayu tidak boleh telat makan karena pencernaannya bermasalah.
Cukup lama mereka membuat adonan bubur yang lembut, mengaduknya secara bergantian agar bubur tidak menggumpal.
Terdengar langkah kaki menuruni tangga, Malik dan Adam menunggu siapa yang muncul karena suara langkahnya lebih dari satu orang.
Malik melemparkan kain lap yang ada di tangannya saat melihat Ayu turun dengan seragam sekolahnya.
Malik hanya menatapnya dalam diam, tidak ada yang bersuara. Kedua orang tua Malik juga sama bingungnya.
Rama dan Mamih sudah mencoba membujuk Ayu agar istirahat hari ini. Tapi Ayu menolak karena ada ujian penting. Mereka mengerti alasan Ayu yang ingin tetap sekolah, tapi bagaimana dengan Malik.
Dia selalu memperlakukan Ayu offer protektif. Dia menjaga Ayu dengan sangat baik melebihi menjaga dirinya sendiri. Malik pasti akan sangat marah.
"Tolong ijinkan aku pergi Kak. Aku tidak bisa bolos karena hari ini ada ujian penting." Ayu merasa bersalah tapi tidak ada pilihan lain.
Malik tidak menjawab, tangannya sibuk menyendok bubur ke dalam wadah.
Meletakkannya di hadapan Ayu cukup keras membuat Ayu tersentak.
"Lakukan sesuka hatimu." Malik meninggalkan Ayu dengan kemarahan yang memenuhi dirinya.
Ayu berusaha keras tetap tersenyum, Kak Malik tidak pernah bertindak kasar seperti ini sebelumnya. Tapi Ayu memahami perasaan Kak Malik karena kecewa dengan perbuatan Ayu kali ini.
Ayu menyuapkan bubur yang sudah ada di depan nya. Rasanya enak, pasti Kak Malik membuatnya dengan penuh perjuangan sampai menghasilkan bubur seenak ini.
"Apa Ayu yakin akan baik-baik saja?" Mamih memeluk Ayu, dia tau hati Ayu sangat lembut. Dia pasti sedih melihat kemarahan Malik.
"Iya Mih, aku minta maaf." Ayu menahan air matanya. Tersenyum dalam getir.
Adam menyusul Malik ke atas, mencoba membujuknya agar mampu memahami keadaan Ayu yang tidak bisa bolos sekolah karena ada ujian.
__ADS_1
"Malik, jangan seperti ini. Kamu menyakitinya." Adam menarik baju Malik.
"Aku menyakitinya? Dia tidak memikirkan bagaimana perasaanku. Dia sakit, aku hanya tidak mau...ahhhhhh" Malik berteriak frustasi.
"Tapi jangan membuatnya sedih, dia seperti apa yang kamu katakan. Dia sangat rapuh." Adam melihat bagaiman raut wajah Ayu menjadi sendu.
Malik menarik nafasnya panjang. Mencoba mengumpulkan kesadaran dirinya. Bagaimanapun yang di katakan Adam ada benarnya.
"Katakan padanya aku akan mengantarnya hari ini." Malik masuk ke kamar mandi.
Adam senang melihat Malik mampu menguasai emosinya dan tidak bersikap egois. Adam langsung berlari menuju meja makan di lantai bawah.
"Ayu, tunggulah. Malik yang akan mengantar kamu hari ini." Adam mencoba menghibur.
Wajah Ayu tidak sedang baik-baik saja, perasannya pasti sangat sedih karena Malik membentaknya di depan kami semua. Tapi Malik juga tidak bisa di salahkan begitu saja.
Dia hanya sedang mengkhawatirkan wanita yang sangat berharga dalam hidupnya. Jika jadi Malik, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama.
Tidak lama Malik turun dengan pakaian rapih, tapi bukan pakaian kantor. Dia memutuskan untuk menemani Ayu seharian, tidak bisa meninggalkannya sendirian setelah kejadia-kejadian mengerikan belakangan ini.
Tidak ada pembicaraan, Malik masih marah karena Ayu tidak memikirkan perasaanya kali ini. Dia bahkan tidak menceritakan apapun padanya.
Malik punya keyakinan bahwa saat ini Ayu belum bisa menerima dirinya seutuhnya. Dia tidak membuka diri dan lebih memilih menyembunyikan semua darinya.
Ayu sendiri ketakutan karena Kak Malik terlihat sangat marah padanya. Semarah itu kan Kak Malik padaku? Aku hanya ingin bisa masuk universitas impianku dengan beasiswa.
"Aku masuk Kak, terimaksih sudah mengantar aku." Ayu turun dari mobil setelah mencium tangan Kak Malik.
Malik tidak mengatakan sepatah katapun, dia masih membisu membuat Ayu merasa semakin bersalah.
Ayu tidak mau melewatkan hari ini, ujian hari ini sangat penting. Ayu begitu menginginkan nilai yang sempurna agar bisa mendapat beasiswa masuk ke universitas impiannya.
Terlihat Jofan, Sandra dan Melani sedang bercanda di depan kelas. Ayu tersenyum melihat ketiga sahabatnya.
Pelukan hangat Ayu dapatkan dari dua sahabat wanitanya. Johan hanya mengulas senyum dari bibir nya yang seksi.
"Kamu sakit? Wajahmu sangat pucat Yu." Sandra merasa khawatir.
"Benar, kamu sangat pucat! Kamu sakit?" Jofan bereaksi melebihi Sandra. Suaranya melengking menggema di lorong sekolah.
"Kenapa memaksakan diri Yu, kan bisa ikut ujian susulan kalau memang gak enak badan." Melani memeluk tangan Ayu.
"Tidak, aku baik-baik saja." Ayu selalu takut membuat orang lain mengkhawatirkan dirinya.
Teng... teng...teng....
Bel sekolah menyelamatkan dirinya, pertanyaan ketiga sahabatnya bisa Ayu abaikan sesaat. Meskipun tidak mudah lolos dari mereka bertiga.
"Bekerja keraslah, jika tidak kuat jangan paksakan diri." Pesan Sandra sebelum masuk ke kelasnya di angguki Melani yang mengepalkan kedua tangannya.
Jofan meraih tas yang ada pundak Ayu. Menuntunnya agar tidak jalan sendirian.
__ADS_1
Malik merasa aman meninggalkan Ayu bersama Jofan. Ada hal penting yang harus dia selidiki lebih lanjut.