
“Sudah sampai, Kak Malik antar sampai sini saja” Ayu menghentikan langkahnya di pintu masuk gang. Malik menyipitkan matanya dan kemudian jarinya dengan lihai menyentil jidat Ayu.
“Aww....” Ayu mengekor dibelakang Malik sambil memegang jidatnya. “Laki-laki ini memang tidak bisa dilarang kalo sudah maunya”. Gumam Ayu pelan namun masih terdengar oleh Malik.
“Apa...” Malik berbalik. “Kau mengatakan sesuatu?” Ayu buru-buru menutup mulutnya. Ternyata telinganya setajam jarum suntik. Kali ini Ayu bicara dalam hati.
“Kaka ini, aku tidak mengatakan apapun” Ayu mengangkat tangannya berusaha meyakinkan agar Malik tidak semakin penasaran. Malik hanya tertawa kecil, gadis kecilnya selalu mampu membuat suasana hati Malik berbunga-bunga.
“Masuklah” Mereka sampai di depan pintu gerbang kos. Malik memasukan kedua tangannya kesaku celananya. Matanya masih memandang Ayu lekat, bibirnya tak henti menorehkan senyum.
“Apa aku boleh bertanya sesuatu?” Ayu tampak ragu, tapi sepertinya hari ini suasana hati Kak Malik sedang baik. Biasanya suasana hati yang bahagia akan memudahkan orang berkata jujur.
“Akan aku jawab jika memang bisa, tanyakan apapun” Masih tetap memandang Ayu. Dan Ayu jadi salah tingkah karena Malik tidak berhenti menatapnya.
“Apa Kak Malik menyukaiku?” Muka Ayu menjadi pucat pasi. Jika melakukan kesalahan, ini pasti pertemuan terakhirnya dengan malaikat tampan didepanku.
“Hahahahaha....” Malik tertawa seakan Ayu sedang melakukan komedi. Ayu yang melihat Malik tertawa terbahak-bahak ikut tertawa getir.
“Masuklah, jangan membuatku tertawa dengan pertanyaan mu” Malik mendorong Ayu lembut agar Ayu segera hilang dari pandangan matanya.
Ayu pun menuruti perkataan Malik, kakinya melangkah secepat mungkin. Pipinya merona menahan malu karena pertanyaannya sendiri.
“Belajar yang benar, jangan berpikir yang tidak-tidak” Malik berteriak. Suaranya memenuhi pendengaran Ayu dan membuat Ayu semakin mempercepat langkahnya.
***
Bruggg...
Terdengar suara pintu tertutup dengan kencang, Sarah dan Adam yang sedang menyiapkan makanan didapur terjingkat kaget.
“Malik...” Adam menghampiri Malik yang terlihat lesu dan lemas. Entah apa yang sedang terjadi.
Malik memejamkan matanya, dia tidak merespon pertanyaan-pertanyaan Adam yang membuatnya semakin tidak bergairah.
__ADS_1
Sarah datang menghampiri Malik yang sedang tiduran diatas sofa. Melihat itu Sarah paham saat ini Malik tidak ingin di ganggu. Sarah menarik tangan Adam, menuntunnya agar meninggalkan Malik sendiri.
“Dia kenapa?” Adam penasaran setengah mati, padahal tadi dia baik-baik saja. sebelum pergi mukanya sumringah seperti dapat hadiah istimewa, sekarang mukanya murung seperti anak bebek terpisah dari induknya. Pikir Adam
“Biarkan saja, kita bangunkan saat masakanku matang” Sarah kembali melanjutkan kegiatan memasaknya setelah menuntun Adam agar duduk dan diam.
Kali ini Sarah memasakkan menu spesial, sup rumput laut kesukaan Malik. Bihun goreng seafood dan Ayam goreng kremes.
Pengalaman hidup Sarah getir sedari kecil, dia memiliki banyak pengalaman kerja untuk menghidupi dirinya dan membiayai sekolahnya sendiri.
Kini Adam sangat beruntung memailiki istri yang sangat cekatan dalam segala hal. Malik saja kadang merasa iri dengan Adam. Tapi jodoh sudah ada yang mengatur, sekarang Malik bahkan jauh lebih pintar memasak dibandingkan Sarah.
Dia mengasah bakat memasaknya sedari kecil, karena kedua orang tuanya sibuk mengurus bisnis, Malik banyak menghabiskan waktu sendiri dan belajar banyak hal sendiri.
Setelah 20 menit berlalu, semua menu makanan sudah tertata rapi diatas meja makan. Adam sudah tidak sabar ingin mencicipi makanan yang membuat air liurnya bergetar.
Adam sudah menyendokkan ayam dan nasi kedalam piringnya. Sarah membantu Adam mengambil beberapa lauk pelangkap yang lain.
“Tunggu sebentar, aku bangunkan Malik” Sarah berlalu meninggalkan Adam yang sedang menikmati makanan yang tersaji diatas piringnya.
Setelah beberapa kali menggeliat, akhirnya Malik terbangun. Cukup lama mengumpulkan nyawa sebelum benar-benar membuka matanya. Sarah dengan sabar menunggu Malik sampai benar-benar tersadar dari mimipinya.
“Sudah sadar?” Sarah menyodorkan air putih. Malik meneguknya sampai tandas tidak tersisa. Setelah nya Sarah mengulurkan tangan dan mengajak Malik bergabung bersama Adam. Malik menyambut tangan Sarah. Mereka berjalan bergandengan menuju meja makan.
“Aku masak makanan kesukaan mu” Sarah menuangkan Sup kedalam mangkuk Malik. Tidak ada perubahan, wajahnya tetap masam dan tidak ada semangat hidup. Tidak terdengar sedikitpun kata-kata yang keluar dari mulutnya. Dan itu membuat Sarah dan Adam penasaran.
Sarah dan Adam membiarkan Malik menghabiskan makanannya sebelum interogasi dimulai. Kedua sejoli ini sudah saling memberikan kode. Dan anehnya mereka saling memahami.
Selesai makan Malik berdiri dan membawa piring kotor nya kedalam bak cuci piring. Tetap membisu dan tidak bergairah.
“Sayang, Malik sepertinya sangat tertekan” Sarah tertawa melihat mimik muka suaminya yang dibuat-buat seolah dialah orang yang sangat sedih saat ini.
“Temani Malik sebentar” Sarah segera membereskan sisa-sisa makanan dan mengembalikan kerapihan seperti semula. Jika tidak bersih seperti sedia kala, sudah pasti Malik akan marah. Malik paling tidak suka melihat rumah nya berantakan dan kotor.
__ADS_1
***
Sarah berjalan menghampiri Malik dan Adam yang sedang berbincang. Lebih tepatnya Adam yang bercerita dan Malik hanya mendengarkan.
“Kau tau, tadi dijalan kita bertemu dengan siapa?” Muka Adam sudah dibuat sedemikian rupa agar Malik tertarik, tapi tetap saja tidak berhasil.
“Kita bertemu dengan Klara” Sarah menimpali dan duduk bersama Adam dan Malik. Mata Malik beralih memandang Sarah.
Seperti biasa Malik bergelayut dipundak Sarah seperti anak kecil. Adam sudah biasa melihat tingkah Malik yang kekanak-kanakan dan tidak keberatan dengan tingkah laku Malik. Sarah menyayangi Malik seperti adiknya.
“Gadis itu yang dijodohkan Ayah kan? Kita pernah bertemu beberapa kali dipesta ulang tahun perusahaan”. Sarah mengingat pertemuannya beberapa kali dengan Klara.
Klara gadis yang baik dan sopan, tapi tetap saja tidak menggetarkan hati Malik Saputra. Dia tidak tertarik dengan gadis-gadis cantik yang tergila-gila padanya.
“Ayu membuatku jantungan Kak” Malik menenggelamkan wajahnya dibahu Sarah. Sarah melirik ke arah Adam, mereka berdua sama-sama terkejut. Akhirnya Malik membuka suara.
“Coba ceritakan dengan benar, sesama perempuan biasanya tau dan saling memahami!!” Bujuk Sarah. Adam mendekat duduk disebelah Malik.
Malik memandang kedua sahabat nya bergantian. Matanya sendu dan seolah penuh dengan penderitaan. “Ayu tadi bertanya” Kembali terdiam. Adam tidak sabaran dan kembali mendekatkan duduknya.
“Jangan setengah-setengah, cerita dengan benar!” Adam mencengkeram tangan Malik. Rasa penasaran yang bergejolak membuat Adam bersikap berlebihan.
Sarah yang melihat tingkah Adam menggelengkan kepalanya. Dan Adam pun mengendurkan cengkeraman tangannya.
“Dia bilang, Apa Kak Malik suka padaku?” Sarah dan Adam saling memandang. Mereka berdua tertawa karena ternyata hanya pertanyaan sederhana yang mampu membuat Malik mati rasa.
“Apa jawabanmu?” Di sela-sela tawa, Sarah mencoba menanyakan jawaban Malik.
Malik pun menceritakan kejadian yang sebenarnya dan membuat kedua sahabatnya semakin menertawakan kebodohannya.
Malik yang melihat kedua sahabatnya tertawa hanya pasrah. Malik sudah hilang akal saat Ayu menanyakan isi hatinya.
Saat ini Malik ingin fokus membantu Ayu agar mampu meraih cita-citanya. Karena itu Malik memilih menghindari pertanyaan Ayu.
__ADS_1
Dia tidak mau terburu-buru dan merugikan Ayu. Masih panjang waktu remaja yang harus Ayu nikmati, bahkan Malik merasa berdosa mencintai gadis yang masih kecil dan jauh sekali usia nya dari dirinya.