
Malam yang panjang dan begitu menguras energy Ayu. Mendengar Martha menceritakan detail kejadian yang sebenarnya membuat kepalanya terasa berdenyut. Pandangannya sedikit kabur tapi Ayu berusaha menahan agar tidak terlihat jelas dirinya yang selalu lemah dlam keadaan seperti sekarang ini.
Ayu sudah bertekad ingin jadi wanita yang kuat di depan semua orang agar tidak diremehkan lagi. Rasanya ingin sekali berteriak dan menarik rambut panjang Martha, tapi air matanya terlihat tulus saat meminta maaf pada dirinya. Ada kesedihan yang dalam, lagi-lagi hati Ayu lemah dan tidak bisa menghukum orang yang sudah menyesali perbuatannya.
Malik memutuskan agar Martha di bawa ke kantor polisi untuk di proses lebih lanjut terkait kejahatan yang sudah dia lakukan. Tapi tidak akan mudah karena Martha masih di bawah umur, ada perasaan tidak tega terbersit di hati Malik. Tapi dirinya harus menunjukkan pada semua orang betapa besar rasa cinta dan rasa sayang Malik pada Ayu. Dia harus menjaga dan melindunginya dari siapapun yang punya niat jahat.
Nikita tidak membantah sedikitpun keputusan Malik malam itu, dia bahkan malu membela diri karena semua terjadi Karena kecerobohannya membawa adiknya dalam emosi yang tidak terbendung sampai menimbulkan dendam dalam dirinya. Dirinya yang patut di salahkan atas apa yang terjadi saat ini.
Malik tidak mengijinkan Ayu turun mengantar mereka keluar dari apartemen, hanya Malik seorang yang mengantar Aldo membawa Martha dan Nikita sampai ke depan lift. Tidak boleh membiarkan kejahatan yang sudah mereka lakukan dilupakan begitu saja tanpa hukuman.
“Al, apa tadi Ayu cemburu padaku?” Aldo meringis menatap wajah Malik, dia baru paham maksud dari tindakannya memeluk Nikita tadi.
“Nona bahkan menutup matanya, sia-sia usahamu Bos.” Aldo tertawa merasa puas membuat wajah Malik berubah kecewa.
“Apa dia menutup mata? Dia tidak melihat aku berusaha membuatnya cemburu?” Kecewa tidak jelas mendengar ucapn Aldo. Padahal Malik berharap Ayu cemburu pada dirinya yang menyentuh wanita lain.
“Kau salah tempat Bos. Mana bisa Nona merasa cemburu dalam keadaan dan situasi yang genting seperti ini.” Aldo menggeleng tidak habis pikir sifat kekanakan Malik muncul di saat yang tidak tepat.
Malik mencerna kata-kata Aldo, ada benarnya juga apa yang Aldo katakana. Baginya Nikita masih sahabat yang dia kenal baik. Saat ini Nikita hanya tertunduk tidak berani menatap wajah Malik. Hatinya hancur, pria yang sangat dia cintai saat ini pasti sangat membencinya. Apalagi perbuatan Martha hampir saja membuat Malik kehilangan wanita yang sangat dia sayangi.
Malik kembali ke apartemen setelah pintu lift tertutup. Tinggal satu wanita lagi yang harus dapat hukuman atas perbuatannya. Lissa kali ini tidak akan Malik lepaskan seperti dulu, dia harus dapat hukuman agar jera dan tidak lagi mencelakai Ayu.
“Kau belum tidur?” Malik memeluk tubuh Ayu yang seakan kaku. Dia masih duduk termenung dengan pandangan mata kosong. Kepalanya pasti penuh dengan kekhawatiran.
“Apa mereka harus di hukum Kak? Aku kasian melihat Martha, dia hanya tersulut emosi karena kamu menyakiti Kakanya.” Matanya berkaca-kaca menatap wajah Malik.
“Iya, aku tidak akan melepaskan mereka begitu saja. Mereka harus bertanggung jawab. Bisa saja mereka mengulangi perbuatannya jika kita tidak menghukumnya. Lihat Lissa….” Ayu menelan ludahnya yang tercekat di tenggorokan, sedih membayangkan jika Martha harus tidur dan hidup di penjara.
“Kenapa Lissa sangat membenciku. Aku tidak pernah menyakitinya Kak.” Ayu merasa sedih ada orang yang sangat membencinya sampai ingin mencelakai dirinya.
“Kita akan tanyakan besok saat memberi kesaksian di kantor polisi. Sekarang kita harus istirahat, besok akan jadi hari yang panjang untuk kita.” Malik mengangkat tubuh Ayu dan membawanya ke kamar. Malik tiba-tiba merasa canggung saat melihat Ayu saat ini sedang menatap wajahnya dengan lekat. Dadanya berdetak tidak beraturan seakan mau meledak.
__ADS_1
“Kak, kenapa kamu berkeringat? Padahal AC nya sangat dingin Kak.” Malik tidak menggubris kata-kata Ayu. Dia mempercepat langkahnya agar tidak terlihat kepanikan yang sedang menerpa dirinya.
Brugggg….
“Awwww…” Ayu merasa kali ini Malik membantingnya di atas tempat tidur, Ayu semakin penasaran kenapa Malik berbuat yang tidak biasa pada dirinya. “Kak Malik marah padaku?” Ayu sedikit mundur karena wajah Malik terlihat merah saat ini.
Malik tersenyum dengan canggung. Bagaimana bisa dia berpikir aku marah. “Aku tidak marah, tiba-tiba saja perutku sakit.” Malik lari ke kamar mandi. Perutnya benar saja terasa sedikit mulas karena menahan malu.
Malik memukul wajahnya berulang kali, Ayu terlihat sangat berbeda malam ini. Malik merasa dia terlihat sangat cantik sampai Malik mabuk kepayang membayangkan binar mata Ayu yang seolah menyihirnya. Setelah bisa menguasai emosinya, Malik kembali ke kamar yang lampunya masih terang benderang. Ayu masih terlihat menunggunya dengan tenang. Tatapan matanya masih terasa menyakitkan Malik rasakan.
“Kenapa melihatku seperti itu!” Malik menutup sebagian wajahnya. Menghindari kontak mata dengan Malik. “Jangan menggodaku, atau kau akan menyesal.” Langsung menutup mata setelah berbaring dan menenggelamkan tubuhnya di balik selimut yang cukup tebal.
“Kak….Apa aku boleh menanyakan sesuatu?” Malik tidak menjawab, pura-pura tidur. “Kak….” Ayu bersuara manja menggoyangkan tubuh Malik agar meresponnya. Malik sedang berusaha menguasai hawa nafsunya dengan keras.
“Kenapa tidak menjawabku…..” Ayu menusuk-nusukkan jarinya di pipi Malik. “Aku ingin menanyakan hal penting Kak.” Ayu berbisik di telinga, Malik masih tidak bergeming. Ayu akhirnya menyerah, Ayu membalikkan tubuhnya merasa kecewa karena Malik diam saja.
Malik akhirnya menyerah, Malik mendekap tubuh Ayu di pelukkannya. Perlahan Malik memiringkan tubuhnya di samping Ayu, menatap dengan lekat menikmati setiap inci tubuh istri tercintanya. Kali ini Ayu juga gugup, tapi malam ini Ayu sudah pasrah. Dia ingin menyerahkan jiwa raganya sepenuhnya untuk Malik.
Malik dengan lembut menyentuh wajah Ayu, mencium setiap bagian wajah Ayu yang membuatnya jatuh cinta. Sentuhannya berhenti, Ayu perlahan membuka matanya penasaran kenapa Malik tidak melanjutkannya. Ayu menatap wajah suami tercintanya yang saat ini sedang menatap wajahnya.
“Apa kau benar-benar sudah siap melakukannya?” Malik masih berpikir Ayu masih terlalu dini melakukan kewajibannya sebagai seorang istri. Tapi Ayu tidak ragu, dia mengangguk dengan senyum penuh kebahagiaan.
“Lakukan kewajibanmu sebagai seorang suami. Aku akan menerima semuanya dengan penuh cinta.” Kali ini Malik tersanjung mendengar kata-kata Ayu. Keraguan yang sempat menghantui kini sudah hilang. Malik yakin ini adalah waktu yang tepat bagi dirinya dan Ayuna.
“Bagaimana jika kamu hamil, apa kamu sudah siap?” Malik ingin dengar jawaban Ayu. Tapi ada senyum mencurigakan kali ini.
“Aku sudah meminum pil KB agar aman. Aku masih ingin melanjutkan kuliah jika Kak Malik membolehkan.” Malik terkejut, darimana Ayu bisa tau tentang pil kontrasepsi.
“Darimana dan kapan kamu membelinya?” Ayu menggeleng.
“Aku tidak membelinya. Mamih yang memberikannya padaku.” Malik ingin tertawa, tapi dia tahan karena tidak mau merusak suasana yang sudah sangat romantis ini.
__ADS_1
Mamih pasti terinspirasi dari ceritanya yang sampai saat ini belum pernah menyentuh Ayu dengan alasan keamanan demi masa depannya. Malik tidak perduli lagi, dia sudah tidak tahan lagi menahan dirinya.
“Aku akan melakukanya perlahan. Mungkin akan sedikit sakit. Tapi kamu harus menahannya.” Mata Ayu tiba-tiba saja terbuka lebar. Ada sedikit ketakutan.
“Kata Mamih aku harus mencobanya. Dan Mamih bilang tidak akan….” Malik membekap bibir Ayu dengan bibirnya. Dia sudah kehilangan kesabaran kali ini.
Malam pertama yang sangat Malik inginkan pun terjadi. Tidak hanya sekali, Malik melakukannya beberapa kali sebagai bentuk balas dendamnya selama ini karena sudah menahan hasratnya sekian lama. Malik merasa dirinya saat ini sudah menjadi laki-laki seutuhnya, selama ini Adam sering mengejeknya karena tidak bisa merasakan apa yang dia rasakan. Malik bahkan sering kesal saat Adam menceritakan kenikmatan yang dia rasakan. Selama ini Malik hanya membayangkannya.
Pagi menjelang, Ayu sudah membersihkan diri karena harus segera pergi ke sekolah. Tubuhnya terasa sakit tidak bertenaga. Banyak tanda yang Malik tinggalkan di sekujur tubuhnya. Ayu sampai tidak habis pikir dengan apa yang sudah terjadi. Ayu tersenyum sendiri merasa malu mengingat yang terjadi semalam.
Selesai mandi Ayu segera shalat, dia bangun sedikit terlambat karena merasa lelah. Malik saat ini masih terbaring di bawah selimut tebal. Ayu menyiapkan sarapan setelah selesai menata buku-buku pelajarannya.
Ayu hanya membuat roti bakar pagi ini. Tidak ada isnpirasi membuat sarapan apa hari ini, tubuhnya terlalu lelah. Tiba-tiba saja ada tangan yang menyelusup memeluknya dari belakang, Malik bergelayut mesar di tubuh Ayu yang sangat kecil.
“Kenapa bangun pagi sekali? Aku masih menginginkan mu.” Malik menciumi kepala Ayu dengan gemas.
“Aku sudah rapih Kak. Cepat mandi, aku bisa terlambat datang jika Kak Malik tidak segera mandi.” Sentuhan tangannya membuat tubuh Ayu merinding. Ayu masih belum terbiasa dan masih merasa malu saat bermesraan dengan Malik meski hanya ada mereka berdua di apartemen.
Malik segera meluncur ke kamar mandi setelah menghujani Ayu dengan ciumannya. Ayu merasa kesal tapi juga merasa senang. Perasaannya tidak bisa di gambarkan dengan kata-kata. Langit seakan menebarkan kelopak bunga turut bahagia seperti dirinya.
Ayu tidak berani menatap wajah Malik. Dadanya masih berdebar-debar saat mata Malik menatapnya, Ayu masih merasa malu mengingat dirinya yang tidak terkendali semalam. Ayu pura-pura sibuk membaca buku agar Malik tidak curiga.
“Apa hari ini ada ulangan?” Ayu hanya menyeringai. Bibir Malik mengulas senyum, Ayu masih tidak sadar dengan kesalahan yang dia buat. “Apa hari ini ada ulangan membaca buku terbalik?” Malik menahan tawanya. Ayu segera memeriksa buku yang dia pegang. Benar saja, dia tidak meperhatikan sampai tidak sadar buku yang dia pegang terbalik.
“Jangan melihatku.” Ayu menutup wajahnya dengan buku. Malu sekali tertangkap basah dan tidak bisa lari kemanapun karena dia sedang berada di mobil.
“Kenapa kamu tidak sadar? Aku kira ulangan hari ini membaca buku terbalik. Hahahahaha….” Malik sangat puasa tertawa dengan tingkah Ayu yang sangat konyol.
“Jangan mengejekku.” Berteriak dengan wajah tertutup buku tebal. Malik tidak berhenti tertawa sampai di depan sekolah.
“Sudah sampai. Apa kau tidak mau turun?” Malik menahan diri karena Ayu sepertinya benar-benar malu. Ayu melongok dari balik bukunya. Menyodorkan tangannya agar Malik meraihnya. Ayu secepat kilat mengecup tangan Malik dan segera berusaha membuka pintu mobil yang masih Malik kunci. Malik tidak tega dan segera membuka pintu agar Ayu bisa melarikan diri.
__ADS_1
“Aku mencintaimu.” Malik berteriak dengan keras, banyak siswa yang mendengar teriakkan Malik karena sangat keras. Semuanya tersenyum membuat Ayu merasa semakin malu.