Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 143 ( Pertemuan Tak Terduga )


__ADS_3

Malik terus memandangi wajah Ayu yang terlelap di kursi depan di sampingnya duduk. Malik lagi-lagi tidak ada di saat Ayu membutuhkannya. Ponselnya bahkan tertinggal dan tidak berhasil Malik temukan dimanapun. Malik perlahan melajukan mobilnya agar Ayu tidak terganggu.


“Kak....” Suara parau mengagetkan Malik yang sedang fokus dengan isi kepalanya. Malik menepi merasa sedikit pusing.


“Kenapa terbangun? Apa ada yang tidak nyaman?” Malik memeriksa kening Ayu yang sedikit berkeringat. Ayu masih sibuk mengumpulkan nyawanya dan tidak memperhatikan Malik.


“Aku baik-baik saja, aku hanya bermimpi aneh tadi.” Malik mengapit wajah Ayu dengan kedua telapak tangannya merasa gemas. Malik lega Ayu baik-baik saja.


“Kau membuatku terkejut, mimpi apa sayang.” Malik memperhatikan Ayu dengan wajah sangat manis, Ayu sedikit takut jika sikap Malik manis padanya. Ayu takut hal-hal yang tidak di inginkan terjadi. Padahal sudah sah mereka ini.


“Aku mimpi sedang membeli bubuk coklat untuk adonan kue yang masih setengah jadi.” Malik tersenyum melihat wajah cemberut Ayuna.


“Aldo sudah mengurusnya, selesai mengantar Nikita dia bilang akan mampir.” Malik melanjutkan perjalanannya yang terhenti sejenak.


“Tapi aku mau membelinya sendiri, Kak Aldo tidak akan tau apa yang ingin aku beli Kak.” Ada benarnya juga yang Ayu katakan. Malik menatap wah Ayu yang cemberut.


“Jadi apa maumu sekarang.” Malik menatap jalanan yang tersendat karena lampu merah. Ayu mendekatkan duduknya mencoba merayu Malik agar mau mengikuti keinginannya.


“Aku mau beli sendiri. Aku mohon Kak.” Memasang wajah paling manis di seluruh jagat raya. Malik tidak bisa menolak jika Ayu sudah bersikap manja seperti ini.


“Kau tau kelemahanku.” Malik tertawa kecil. “Adam sudah berulang kali katakan kau tidak boleh terlalu capek, jadi hanya beli apa yang kamu mau dan langsung pulang. OK!” Malik mengacungkan jari kelingkingnya ke arah Ayu. Ayu mengangguk. Dengan cepat Ayu menautkan jari kelingkingnya dengan kelingking Malik dengan senyum penuh kebahagiaan.


Dasar gadis kecilku, dia selalu bisa membuat jantungku berdebar. Melihatnya tersenyum bahagia membuatku lega, dia banyak menderita selama menjadi istriku. Aku merenggut kebahagiannya, seharusnya saat ini dia masih asyik dengan masa mudanya yang penuh tantangan. Cita-citanya yang setinggi langit pasti bisa dia raih jika semangatnya seperti ini.


Tanpa sadar Malik membelai puncak kepala Ayu dengan lembut, Ayu yang mendapat perlakuan tidak biasa dari Malik merasa jantungnya mau copot. Pipinya seketika merah menahan rasa haru dan tersipu malu.


Ayu buru-buru turun saat Malik selesai parkir, Ayu ingin segera keluar dari atmosfer ruangan mobil yang membuatnya tidak bisa bernafas dengan leluasa. Malik dengan cepat menyusul Ayu yang sudah berjalan dengan cepat di depannya.


“Jangn lari. Jalan pelan-pelan saja!!!.” Malik mengeraskan suaranya, pasti Ayu tidak akan dengar jika Malik bicara pelan. Ayu berbalik dan tersenyum sebelum benar-benar masuk ke dalam supermarket.


Malik mengawasi Ayu dari kejauhan. Mereka berhenti di supermarket yang tidak terlalu luas, jadi Malik bisa mengawasi Ayu dari jauh. Tidak lama Malik melihat Ayu berhenti mematung, sepertinya ada yang dia lihat. Malik segera lari mendekati Ayu.


“Ada apa!” Malik merangkul Ayu dalam pelukannya karena wajahnya terlihat syok.

__ADS_1


“Aku mau pulang!.” Ayu berbisik, Ayu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Malik memperhatikan sekeliling. Malik menggeleng agar pria yang Ayu lihat tidak mendekat.


Jofan paham dengan isyarat yang Malik maksudkan, mengingat kondisi Ayu yang saat ini masih sangat lemah. Jofan berbaik hati tidak menuruti egonya. Jofan berbalik setelah meletakkan puding kesukaan Ayu di tangan Malik. Dia hanya tersenyum bahagia melihat Ayu saat ini baik-baik saja. Jofan bahkan mengecup puncak kepala Ayu yang masih ada dalam pelukkan Malik sebelum pergi.


“Hati-hati Fan!” Teriak Malik merasa terharu dengan sikap Jofan yang sangat dewasa. Malik tidak menyangka rasa cinta yang begitu besar bisa merubah sikap seseorang menjadi lebih bijaksana. Jofan hanya mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


Malik melepaskan pelukkanya, Ayu masih saja menutup wajahnya dengan telapak tangan yang basah. Dia pasti tidak bisa menahan air matanya, hatinya sangat lembut. Tapi pasti sangat sulit apa yang saat ini Ayu rasakan.


Malik memutuskan menggendong Ayu dan membawanya kembali ke dalam mobil. Banyak mata yang melihat dan memperhatikan Malik yang tampan rupawan bersikap begitu manis pada seorang wanita. Bahkan ada yang merekamnya secara diam-diam tanpa sepengetahuan Malik.


Sampai di mobil Malik mengecup kening Ayu, menutupi tubuh Ayu dengan selimut yang selalu Malik bawa kemanapun mereka pergi. Ayu sering kali kedinginan saat berada di dalam mobil, oleh sebab itu Malik memyiapkan segala kebutuhan Ayu di dalam mobil jika sewaktu waktu dibutuhkan. Malik mengusap air mata yang masih tersisa di ujung mata Ayu.


Malik tidak menanyakan apapun pada Ayu. Dia tidak mau Ayu merasa semakin sedih jika banyak pertanyaan yang bisa saja membuatnya semakin terpuruk. Malik memberikan ruang agar Ayu bisa menguasai perasaannya sendiri.


“Maaf....” Setelah sunyi cukup lama, tiba-tiba saja Ayu meminta maaf pada Malik. Malik hanya bisa menghibur Ayu dengan wajah bahagianya. Malik meraih tangan Ayu dan menciuminya sepanjang perjalanan.


“Jangan berpikir yang tidak baik. Lihat bagaimana Jofan sangat mencintaimu. Aku bahkan cemburu. Hah....Berani sekali dia mencium istriku didepan mata kepala ku. Huh.....” Membuang kasar nafasnya, Malik berteriak seolah tidak terima dengan perlakuan Jofan.


Terlalu keras berpikir membuat Ayu kelelahan. Akhirnya dia terlelap di dalam mobil dengan kepala yang masih bersandar di tangan Malik. Untun mobilnya canggih jadi Malik bisa menyetir dengan satu tangan.


***


Rey ikut tersenyum melihat Jofan yang datang dengan wajah bahagianya. Entah apa yang sedang merasuki pikirannya sampai dia terlihat seperti terlahir kembali. Beberapa hari ini Jofan terlihat murung, baru hari ini Jofan kembali ceria.


“Jangan membuatku takut, apa yang terjadi!” Rey duduk di samping Jofan yang terus tersenyum sambil menikmati es krim rasa coklat.


“Kak Rey, aku bertemu adikku di supermarket.” Rey ikut tersenyum saat tau Jofan berhasil bertemu dengan Ayu. Meskipun pertemuannya tidak terduga.


“Apa yang dia katakan! Apa dia sudah bisa menerima kita?” Rey sangat antusias mendengar cerita Jofan. Matanya berbinar-binar seolah dirinya lah yang bertemu Ayu.


Jofan menggeleng. “Tapi aku berhasil menunjukkan rasa cintaku padanya.” Jofan merasa bangga dengan apa yang sudah berhasil dia lalui.


“Apa yang kau lakukan! Jangan membuat keadaan semakin rumit.” Rey takut Jofan nekat dan membat Ayu semakin jauh dari jangkauannya. Rey tidak mau keadaan semakin memburuk jika berbuat gegabah.

__ADS_1


“Di bahkan tidak lari saat melihatku. Apa itu sudah cukup?” Jofan menarik panjang nafasnya. “Dia pasti sangat kesulitan, aku tidak mau Ayu terus menyalahkan dirinya sendiri.” Jofan tau alasan Ayu masih tidak siap bertemu dengannya. Rey menepuk pundak Jofan merasa bangga. Adik kecilnya sudah mulai tumbuh jadi pria dewasa.


“Ayo ke atas, teman-temanmu sudah menunggu bersama Kak Ana.” Rey membawa aneka makanan yang siap dihidangkan ke roof top untuk dinikmati bersama. Jofan memindahkan beberapa hidangan ke tangannya, membantu Rey yang terlihat kesulitan.


“Akhirnya kalian datang juga, kami sudah cukup lama menunggu.” Teriak Melani antusias. Sandra, Melani dan Ana menyambut keduanya dengan penuh semangat.


Ana menata semua menu makanan berjejer rapi, siapa saja yang melihatnya pasti sangat ingin memakan apapun yang Rey hidangkan. Tangannya sangat lihai mengolah bahan makanan sederhana menjadi makanan istimewa yang terlihat mahal dan berkelas.


“Kak Rey, ajari aku masak. Aku ingin kelak calon suamiku bahagia hidup bersamaku.” Sandra mencuri pandang le arah Jofan. Rey tersentuh dengan ucapan sederhana Sandra.


“Apa makanan bisa membuat rumah tangga bahagia? Aku tidak pernah dengar. Hahahahaha....” Tertawa sampai membuat orang lain ikut tertawa.”Jangan terlalu banyak berkhayal.” Rey tidak bisa berhenti tertawa.


“Aku pernah melihatnya di drama, saat suaminya pulang kerja, istrinya menyambut dengan senyum hangat. Makanan enak yang di buat dengan penuh cinta bisa merubah mood suaminya jadi kembali bersemangat Kak.” Sandra sedikit berteriak dianggap tidak serius.


“Jangan menertawakannya, aku bahkan sering merasakan apa yang Sandra ceritakan.” Semua menatap Ana, ana jadi merasa risih karena salah bicara sepertinya.


“Apa yang Kak Ana rasakan?” Melani menatap Ana tanpa berkedip. “Aku juga ingin punya suami yang pandai masak.” Bertanya dengan serius.


"Kenapa?" Tanya Ana dan Sandra kompak.


"Karena aku malas!"


Huhhhhh......


Semua bersorak, Melani berhasil menghancurkan suasana yang sudah sangat serius menjadi lucu. Akhirnya semua tertawa bersama. Mereka menikmati malam yang indah penuh dengan canda tawa.


“Kau bahagia saat Aku menyiapkan makanan untukmu.” Mengejutkan Ana karena tiba-tiba Rey memeluknya dari belakang. Ana yang sedang berdiri di pinggir pembatas menatap lampu-lampu bercahaya indah hanya tersenyum tersipu malu.


“Makanan pertama yang kamu suguhkan sudah membuatku jatuh cinta.” Ana bicara tanpa berbalik. Rey semakin mengeratkan pelukannya. Sebentar lagi mereka akan menjadi pasangan yang terikat dalam sebuah pernikahan.


“Terimakasih sudah sabar menungguku yang keras kepala.” Rey menciumi puncak kepala Ana dengan lembut. Wanita yang berhasil meluluhkan keegoisannya untuk mengakhiri masa lajangnya di usia yang sudah sangat matang.


Ana wanita satu-satunya yang berhasil merebut cinta Rey, mereka sudah bersama cukup lama. Sudah sangat mengenal satu sama lain untuk menjadikan hubungannya serius mengingat mereka sudah tidak lagi muda. Rey juga harus memikirkan keturunan untuk menjadi pewarisnya kelak di masa tua. Hidup terus berjalan.

__ADS_1


__ADS_2