Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 147 ( Jangan Meremehkanku )


__ADS_3

Ayu duduk dengan santai menunggu tamu yang mengundangnya siang ini. Jantungnya berdegup kencang tidak beraturan, Ayu mencoba terlihat berani agar tidak dianggap sebagai perempuan lemah. Ayu bosan menjadi target kekerasan dan kejahatan karena sikapnya yang terlalu lemah lembut.


Uhukkkk....uhukkkk...uhukkk...


Aldo terbatuk-batuk saat melihat wanita yang sangat dia benci duduk bersama Ayu. Hidung Aldo sampai terasa panas tersedak air yang sedang dia minum. Aldo memutuskan duduk lebih dekat tapi tidak terlihat oleh Ayu agar bisa mendengar percakapan keduanya.


“Apa kau sudah pesan makanan?” Nikita membolak-balikkan buku menu yang ada di atas meja. Mencoba memilik menu makanan yang menarik.


“Pelayan....” Nikita melambai pada seorang pelayan yang berdiri siap melayani setiap pengunjung yang datang.


“Aku pesan kue coklat dan jus mangga.” Nikita menyerahkan buku menu pada Ayu. “Kau mau pesan apa?” Bersikap manis.


“Samakan saja, aku tidak punya waktu memilih-milih makanan.” Nikita terkejut dengan sikap Ayu yang ketus. Ada senyum di wajah Aldo saat mendegar Ayu bersikap kasar pada wanita tidak tau malu ini.


Pelayan yang menerima pesanan segera menuju tempatnya untuk menyediakan menu yang mereka pesan. Tidak lama pesanan datang membuyarkan keheningan dan hawa dingin yang meyelimuti seluruh ruangan.


“Kenapa tiba-tiba ingin bertemu denganku.” Ayu menyeruput jus mangga yang menyegarkan. Ayu berusa menyembunyikan ketakutannya di depan Nikita.


“Apa kau tidak bisa sedikit santai. Aku dengar kau wanita yang sangat baik dan sopan. Sepertinya mereka semua salah menilaimu.” Bukan Ayu yang geram, tapi Aldo yang merasa panas mendengar ucapan Nikita.


“Aku, siapa yang berkata seperti itu.” Ayu menyendokkan kue coklat yang ternyata sangat enak ke mulutnya. Mencoba mengembalikan suasana menjadi sedikit lebih cair. Ayu terbawa suasana karena Nikita terakhir kali memintanya melepaskan Malik.


“Semua orang yang aku kenal menyukaimu. Mereka bilang kau wanita yang sangat baik.” Nikita menatap tajam wajah Ayu. “Apa kau sudah siap melepaskan Malik.” Wajah nikita berubah tidak bersahabat.


Aldo mengepalkan kedua tangannya. Nikita beruntung seorang wanita. Jika tidak, Aldo pasti sudah menghancurkan wajahnya yang cantik jelita. Aldo berusaha menahan emosinya, dia ingat Ayu memintanya tidak ikut campur apapun yang terjadi.


“Al, apa yang sedang terjadi.” Aldo terkejut melihat Malik duduk di sebelahnya dengan pakaian serba hitam, kaca mata hitam dan topi hitam yang malah membuatnya sangat mencolok karena terlihat sangat tampan. Banyak wanita yang memperhatikannya dari kejauhan.


Untung saja Ayu dan Nikita tidak melihat kedantanganya karena sama-sama sedang emosi. Wanita lebih seram saat sedang bertengkar.


“Bos, jangan berisik. Nona memintaku tidak ikut campur apapun yang terjadi. Jika aku ikut campur, dia akan memecatku.” Malik menurunkan topinya menutupi wajahnya yang tampan. Dia bahkan ingat Ayu memintanya tidak ikut campur dan membiarkan dirinya pergi seoramg diri.


“Nona Nikita yang sangat cantik, apa tidak ada laki-laki lain yang bisa kau menangkan hatinya. Kenapa harus suamiku.” Ayu sedikit menekan suaranya, Malik dan Aldo saling tersenyum tidak percaya Ayu punya kepercayaan diri yang sangat besar.


“Kau pikir semudah itu merubah perasan dan hati seseorang. Dia cinta sejatiku, aku tidak akan melepaskan Malik untuk wanita kampungan sepertimu.” Nikita terbawa emosi melihat Ayu yang berubah jadi sangat berani.


“Kau pikir aku akan membiarkanmu merebutnya dariku?” Ayu menajamkan Matanya. “Jangan pernah bermimpi.” Nikita menelan ludahnya, seperti sedang tawuran dengan anak SMA. Nikita kehabisan kata-kata.

__ADS_1


Byurrrrr.......


Nikita menyiram Ayu dengan segelas air putih.


“Yea.....Kenapa kau menyiramku.” Malik berdiri spontan ingin membantu Ayu. Aldo menyadarkanya dirinya agar tidak ikut campur. Malik kembali duduk menuruti perintah Aldo. Ayu mengibas-ngibaskan tangannya membersihkan sisa-sisa air yang membasahi wajah dan pakaiannya.


“Ini tidak seberapa dengan apa yang akan aku lakukan jika kau tidak menyerahkan Malik padaku.” Nikita masih percaya diri dengan pendiriannya.


“Kak Nikita, kau tidak malu meminta ku melepaskan laki-laki yang sudah jadi suamiku. Apa kau mau jadi perempuan perebut suami orang!” Ayu sedikit berteriak, seisi cafe memandang Nikita dengan tatapan jijik. Nikita yang merasa risih akhirnya pergi meninggalkan Ayu.


Malik yang melihat Ayu baik-baik saja akhirnya memutuskan meninggalkan Ayu dalam pengawasan Aldo. Malik bangga karena Ayu sudah berubah, dia berani mengutarakan isi hatinya sekarang. Ini kesempatan dirinya memberi teguran tegas pada Nikita yang masih saja mengganggu Ayu.


“Nona kau baik-baik saja?” Aldo membawa handuk kecil yang dia ambil dari pelayan yang membawanya saat melihat Ayu disiram air. Aldo membantu Ayu membersihkan pakaiannya yang basah kuyup.


“Nona, kau sangat keren. Jangn biarkan siapapun merebut laki-laki yang kita cintai.” Seorang wanita yang hendak keluar cafe menyampaikan rasa kagumnya pada keberanian Ayu. Ayu tersipu malu, ternyata banyak yang mendegar keributannya tadi. Aldo ikut senang karena Ayu kali ini tidak bersikap lemah. Dia menunjukkan kekuatan cinta yang bia merubah dirinya jauh lebih kuat.


“Nikita.....Nikita....” Malik berteriak karena Nikita sudah cukup jauh.


Nikita yang melihat Malik langsung ingin memeluk Malik tapi Malik tepis. Malik tetap besikap ramah meskipun Nikita sudah menyakiti Ayu. Sikapnya membuat Nikita yakin bahwa Malik masih mencintai dirinya.


Malik memesan minuman agar Nikita bisa sedikit berpikir jernih. Malik menyesal dengan perbuatannya di masa lalu. Gadis ini dulu sangat baik, dia tidak punya sikap dan sifat jahat sedikitpun. Semua ini karena ulah dirinya yang memberikan harapan palsu padanya.


“Kak, apa kau sudah tidak punya sedikitpun rasa cinta padaku.” Sudut matanya basah. Nikita wanita yang sangat tulus. Dia tidak bisa menyembunyikan perasaannya.


“Aku benar-benar tidak bisa membalas cintamu Nik. Dulu aku salah mempermainkan perasaanmu. Tapi aku benar-benar tidak punya perasaan sedikitpun padamu. Aku meganggapmu seperti sahabat.” Malik tidak tega melihat Nikita menangis.


“Tapi aku tulus. Aku tidak bisa hidup dengan laki-laki lain Kak.” Nikita terisak. Malik kehabisan kata-kata menghadapi wanita yang begitu menderita karena ulahnya.


Malik membiarkan Nikita menangis meluapkan emosinya, dia juga wanita biasa yang saat ini sedang terluka. Malik membuat Nikita dalam keadaan yang tidak seharusnya. Andai saja waktu bisa di putar, Malik ingin menghapus kisahnya dengan Nikita.


“Apa kau sudah lebih tenang?” Nikita mengangguk. “Aku benar-benar tidak bisa membalas cintamu. Aku punya wanita yang sangat aku cintai Nik. Dia wanita yang saat ini menjadi istriku.” Malik meyakinkan Nikita agar melupakan masa lalu mereka.


“Bukankan kau menikahinya karena terpaksa. Jangan menyembunyikan masa lalu dengan nama cinta.” Nikita mendengar masa lalu Malik dari Lissa.


“Itu hanya kecelakaan, sebelum itu aku sudah jatuh hati padanya. Aku benar-benar mencintainya. Aku bahkan rela mengorbankan apapun untuk melindunginya.” Malik merasa Nikita cukup keras kepala. Dia masih saja bertahan dengan harapan nya yang tidak mungkin jadi kenyataan.


“Tapi....” Malik berdiri ingin menyudahi percakapan yang tidak menemukan titik terang.

__ADS_1


“Nikita, aku sudah coba bicara baik-baik dengamu. Aku tidak akan mentoleransi lagi tindakan apapun yang bisa membahayakan Ayu.” Malik meninggalkan Nikita yang tercengang mendapat penolakkan yang cukup menyakitkan.


“Satu hal lagi, jangan pernah muncul di depan wajahku atau Ayuna. Jika tidak aku tidak segan-segan bertindak tegas padamu.” Kali ini Malik benar-benar pergi.


Malik bukan tidak perduli selama ini pada Ayu. Dia hanya menunggu waktu yang tepat untuk memberikan peringatan pada Nikita.


Malik pura-pura duduk santai di ruang tamu saat Ayu masuk dengan wajah cemberutnya. Malik mengedipkan mata agar Aldo segera keluar dari apartemennya. Malik penasaran apa yang akan Ayu ceritakan padanya.


“Kenapa wajahmu? Apa bajumu basah? Kenapa?” Pura-pura tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Ayu menatapnya dengan tajam. Kali ini Malik merasa terintimidasi.


Ayu mengendus tubuh Malik. Hembusan hafas yang keluar dari hidung Ayu membuat bulu kuduk Malik berdiri. “Jangan pura-pura tidak tau. Aku tau kau membuntutiku.” Ayu berlalu meninggalkan Malik yang masih tercengang.


Malik memukul wajahnya berulng kali agar sadar dari keterkejutannya. Malik benar-benar tidak kenal dengan Ayu saat ini. Banyak tindakan di liar yang Ayu lakukan dan membuat Malik terkejut.


Ayu keluar dengan pakaian tidur tipis yang Mamih belikan, kali ini Malik merasa risih melihatnya. Padahal sebelumnya dia merayu Ayu agar mengenakan pakaian tipis saat sedang bersamanya.


“Kenapa kau pakai pakaian tipis seperti itu?” Malik memberanikan diri untuk bertanya apa motif Ayu sebenarnya.


“Oh, pakaianku sudah tidak layak pakai. Lagi pula kita hanya berdua saja disini. Apa Kak Malik keberatan?” Ayu pura-pura terlihat santai.


“TIDAK!!!!” Berteriak sponta. Ini kemajuan pesat dalam hubungannya. Selama ini Ayu terlalu membatasi pergerakanya sampai Malik tidak bisa bergerak dengan bebas sebagai suaminya.


“Kenapa berteriak.” Ayu berjalan ke dapur mengambil segelas air putih. Tenggorokannya sakit karena berteriak di cafe melawan perempuan masa lalu Malik.


Wajah Malik merah merona membayangkan apa yang akan terjadi malam ini dengannya dan Ayu. Dia bahkan tersenyum sendiri tanpa tau malu. Ayu yang melihat kelakuan aneh suaminya geleng-geleng kepala.


Aku harus merayunya agar dia tidak bisa meninggalkanku demi wanita lain. Aku sangat malu menggunakan pakaian ini, tapi apa boleh buat, aku harus membuatnya jatuh kepelukanku malam ini. Kak malik hanya milikku seorang.


“Kak, badanku sangat pegal. Sepertinya aku kecapean Kak. Apa aku boleh minta tolong?” Ayu bersandar di punggung Malik. Malik pura-pura fokus membaca koran padahal otak kotornya sudah bekerja.


“Aku masih membaca koran, tunggulah di kamar sebentar lagi. Aku segera menyusul.” Bicara tanpa menatap wajah Ayu. Dadanya bergemuruh seakan mau lepas dari tubuhnya.


Malik mondar-mandir mengurangi rasa gemetar di tubunya, tiba-tiba saja suhu ruangan terasa sangat panas tidak seperti biasanya. Ayu tidak kalah terkejut dengan permintannya sendiri.


Dia sekarang bingung apa yang harus di lakukan saat ini. Ayu benar-benar tidak siap melakukannya malam ini. Keputusan bodoh yang akan merubah kisah hidupnya, tapi nasi sudah menjadi bubur, Ayu bahkan nekat tidak menggunakan dalaman agar Malik semakin bergairah.


Sepertinya malan ini benar-benar tiba, kasian Malik sudan menunggu cukup lama sampai Ayu cukup umur.

__ADS_1


__ADS_2