Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 170 ( Kehangatan Sebuah Rumah )


__ADS_3

Ponsel Rama bordering berkali-kali saat sedang serius bicara dengan Malik, Adam dan Ayu. Melihat siapa yang menghubunginya, Rama mengabaikannya sampai membuat Malik merasa tidak nyaman.


“Kenapa tidak jawab saja panggilannya. Bagaimana jika penting!” Rama menyerahkan ponselnya pada Malik. Malik menggeleng karena Ayahnya bersikap seperti dirinya saat sedang serius.


“Kenapa Pras!” Malik terlihat sangat serius, semua orang jadi malah fokus meperhatikan Malik yang sedang menyimak pembicaraannya.


“Kita mungkin tidak akan bisa keluar pagi ini. Pras bilang wartawan memadati lobby apartemen dan pintu masuk komplek perumahan.” Masalahnya sepertinya sangat serius, kenapa berita seperti ini bisa muncul begitu saja kepermukaan. Pasti ada orang yang dengan sengaja membesar-besarkan beritanya. Rama mulai mencurigai masalah ini bukan masalah biasa.


“Lalu bagaimana dengan pekerjaan dan semua hal yang harus kita kerjakan?” Malik bingung karena jadwalnya sangat padat. Pagi-pagi begini malah sudah dibuat runyam dengan kedatangan wartawan.


“Hubungi Rey, kita atur rencana agar bisa keluar dari incaran berita tidak masuk akal yang mereka buat-buat.” Rama memikirkan solusi terbaik saat ini adalah membiarkan Ayu sementara ini bersama keluarganya. Ayu berusaha tidak memikirkan apapun masalah yang dia hadapi saat ini. Tidak ingin membuat semua orang terbebani dengan kesedihannya.


Adam segera menghubungi Rey agar segera datang ke tempat Malik. Jarak yang tidak terlalu jauh membuat Rey dengan cepat sampai di kediaman Malik.


"Lalu apa sekarang?" Malik masih bingung kenapa Rey harus datang.


"Rey yang akan membawa Ayu keluar dari sini. Setelah aman kita baru akan keluar." Malik sedih karena harus melepas Ayu untuk beberapa saat. Perasaannya tiba-tiba saja jadi sendu. Malik menatap wajah cantik Ayu yang tersenyum padanya.


"Kita masih bisa saling bertemu Kak. Kan tempat kita tinggal tidak sejauh bumi dan langit." Ayu paham tatapan mata Malik. Tetap saja kesedihan menyelimuti Malik.


"Rey, tolong jaga Ayu. Maaf karena membuatmu harus membantu kami." Malik masih memeluk tubuh Ayu.


"Dia juga berharga bagiku. Aku akan menjaganya dengan sekuat jiwa dan ragaku." Rey mengangkat kedua tangannya menampakkan otot-otot tangannya yang kekar.


Malik membawa keluar koper besar yang sudah disiapkannya. Dengan berat melepas Ayu untuk kebaikan bersama. Rey menggandeng tangan Ayu seperti anak kecil. Dia ingat bagaimana tangan Arumi selalu menempel padanya. Rey tidak berhenti tersenyum saat menatap tangan Ayu, kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


Ayu tidak kalah bahagia punya keluarga yang sangat menyayanginya tanpa pamrih. Kasih sayang yang siapa saja pasti sangat menginginkannya.


"Pulang nanti Kak Rey jemput." Ayu sudah turun. "Ingat jangan pergi kemanapun sebelum aku datang!" Berteriak karena Ayu sudah lari, bel tanda masuk sudah berbunyi. Ayu hanya menganggukkan kepalanya dan meminta Rey segera pergi dengan lambaian tangannya.


"Hari ini di antar Kak Rey!" Melani membuat Ayu terjingkat kaget karena muncul tiba-tiba.


Ayu masih memgangi dadanya yang berdekup cukup kencang. "Kau datang tanpa suara Mel." Melani hanya tersenyum merasa bersalah.


"Aku kira kau melihatku berdiri di sini." Ayu dan Melani sama-sama tersenyum merasa lucu. Keduanya segera berlari menghindari hukuman jika sampai terlambat masuk kelas.

__ADS_1


Sikap Sandra hari ini sangat dingin, seolah ada tembok besar yang menghalangi langkahnya. Sesekali tersenyum pada Ayu yang menatapnya tapi tampak asing. Ayu sampai memikirkan kesalahan apa yang sudah dia perbuat kali ini.


Pelajaran sekolah berakhir dengan cepat, jam istirahat Sandra menghilang entah kemana. Pulang sekolah pun Sandra segera hilang tanpa jejak.


Melani menghampiri Ayu yang sedang membereskan buku-buku nya. "Apa hanya aku yang merasa aneh!" Ayu tersenyum karena paham maksud ucapan Melani.


"Jangan hiraukan, kita tidak akan bisa terpisahkan apapun yang terjadi. Aku akan tetap mencintai kalian begitu pula sebaliknya." Melani mengangguk setuju.


"Ayo kita kedepan sama-sama, hari ini aku juga tidak Pulang sendiri. Papah ku jemput." Berjalan sambil bergandengan.


"Aku senang kita bisa bersama selama ini. Kalian mewarnai hari-hariku." Ayu tidak bisa berhenti bersyukur di kelilingi orang-orang baik dan tulus.


"Aku juga sama, wah Kak Rey sudah datang. Aku iri kau punya mereka semua yang ketampanannya membuat jantungku mau meledak." Ayu tertawa mendengar Melani bicara. Mata Melani berbinar-binar seolah bertemu dengan kekasihnya.


"Mereka juga senang, anggap saja mereka juga kaka mu." Melani memukul pelan tangan Ayu merasa terharu.


Rey merentangkan kedua tangannya, tidak hanya Ayu yang dapat pelukkan, Melani juga diperlakukan sama seperti adik baginya. Ayu menggelang sambil tertawa melihat wajah Melani yang memerah.


"Ayo Kak Rey antar." Melani ingin sekali ikut, tapi papah nya sebentar lagi sampai.


"Ya sudah, Kak Rey tunggu sampai Papah Melani datang. Kita duduk di sana." Rey menggandeng tangan keduanya seperti anak kecil. Ayu baru sadar jika Kak Rey orang yang sangat romantis. Tidak lama Papah Melani datang dengan motor kesayangan Melani.Rey melepasnya dengan tenang.


"Kita mampir ke rumah sakit yah. Oh iya, Malik menghubungi ponselmu dan tidak tersambung." Ayu memeriksa ponselnya dan benar. "Jangan kaget saat mendengar konferensi pers Kak Malik atas nama perusahaan hari ini. Sementara waktu, nanti semua akan kembali baik-baik saja. Jangan khawatir!" Rey menatap dengan wajah tenang agar menularkan energi positif pada Ayu.


"Aku sebenarnya takut. Tapi aku percaya pada Kak Malik." Ayu takut Malik benar-benar tidak bisa seutuhnya menjadi miliknya. Mereka terlalu jauh berbeda.


"Jangan memikirkan yang tidak-tidak. Aku kenal baik siapa dia. Kalau dia sampai macam-macam lihat saja!" Tingkah Rey membuat Ayu tertawa. Perjalanan ke rumah sakit terasa begitu singkat.


Hari ini masih sama, Mbak Murni masih belum ada kemajuan. Ayu hanya bisa berdoa agar keadaannya membaik. Ayu merasa bersalah tidak menahannya pergi. Jika tidak semuanya akan berbeda ceritanya. Tapi semua sudah terjadi, penyesalan tidak akan mengembalikan keadaan.


"Jangan sedih, Mbak Murni pasti sedih jika tau kamu bersedih." Ayu mengangguk. Kak Rey benar, Ayu harus bahagia.


Selesai mengurus Mbak Murni, Rey mengantar Ayu ke rumah untuk istirahat. Ferdinan sangat antusias saat mendengar Ayu akan menginap beberapa hari bersamanya.


Hari ini Rey meminta karyawannya bekerja tanpa dirinya dan Ana, saat ini Ana juga mempersiapkan kamar Arumi yang akan Ayu gunakan selama menginap. Makanan enak dan puding kesukaan Ayu sudah siap menyambut kedatangannya.

__ADS_1


“Kau pasti deg-degan yah?” Ayu mengangguk. “Tenang saja, kami sama seperti keluargamu yang lain. Kamu harus menjadi diri sendiri dengan kami. Jangan menutupinya.” Rey meledek Ayu yang diam saja menahan diri. Dia biasanya berisik.


“Apa sangat kelihatan aku tegang? Aku tidak tau harus bagaimana nanti.” Ayu masih tidak habis pikir akhirnya bisa tinggal bersama keluarga ayah kandungnya.


“Kau pikir kita akan bertemu penjajah! Wajahmu terlihat sangat serius.” Ayu menatap wajahnya di kaca spion. Benar, dirinya benar-benar tidak bisa mengendalikan diri. Perasaannya campur aduk tidak karuan saat ini.


Rumah yang cukup megah ada di depan matanya. Sudah berdiri seorang Ayah yang merindukan putrinya di depan halaman menyambut kedatangannya. Ana yang juga menyayangi Ayu turut menyambut kedatangan Ayu hari ini. Suasana hangat yang selama ini hilang kembali, kedatangan Ayu membuat rumah terasa hidup. Kehangatan yang setiap keluarga butuhkan sebagai obat kebahagiaan dalam menjalani hidup.


“Selamat datang Nak.” Ferdinan memeluk erat Ayu menyalurkan kerinduannya selama ini. Lega rasanya, putri kandung yang selama ini dia cintai datang untuk tinggal meski hanya beberapa waktu.


Ayu tersenyum dan memeluk tubuh Ferdinan dengan hangat. Ayu juga bahagia bisa diterima dengan baik oleh keluarga Ferdinan. Wanita yang Ayu sangat kenal menyambutnya di ruang tamu dengan senyumnya yang sangat berwibawa.


“Putriku sudah datang.” Tina memeluk Ayu. Hari ini dipenuhi cinta kasih yang membuat Ayu terharu. Tina menuntun Ayu ke meja makan, meminta Ayu untuk duduk bersama menikmati makanan yang sudah dirinya dan Ana siapkan.


"Jangan sungkan, kita semua sama dengan bapak dan Ibu yang menyayangi kamu.” Tina menoel hidung Ayu yang sama persis dengan hidung putrinya Arumi.


Semuanya duduk dengan tenang menikmati makanan. Ferdinan tidak berhenti menatap wajah Ayu yang saat ini duduk di depan matanya. Kebahagiaan yang belum pernah Ferdinan rasakan selama ini. Kerinduan yang teramat sangat kini sudah terobati.


Ayu membantu Ana dan Tina membersihkan piring-piring kotor selesai makan. Tina bangga melihat Ayu yang sangat pengertian tanpa diminta. Selesai dengan pekerjaan masing-masing, Ana membawa Ayu ke kamar untuk istirahat.


“Kau pasti sangat lelah, istirahat yah Yu. Kak Ana ada di depan jika Ayu butuh bantuanku.” Ayu memeluk Ana sebelum dia pergi. Ungkapan terimakasih atas semua yang telah Ana lakukan untuk dirinya.


Ayu melihat potret dirinya yang di pasang sejajar dengan foto Arumi dan Jofan. Ayu tersenyum melihat foto-foto yang bahkan dirinya tidak pernah sadar kapan potretnya di ambil. Ini pasti ulah Jofan, dia seringkali membawa kamera kemanapun dia pergi. Memikirkan Jofan Ayu jadi rindu padanya. Ingat bagaimana wajahnya yang sering terlihat dingin seperti patung tidak bernyawa.


Ayu tidak bisa tidur dan memutuskan keluar dari kamarnya menemui Ana yang sedang sibuk menyusun daftar nama tamu untuk pernikahannya yang sebentar lagi akan di laksankan. Ana terlihat sangat cantik saat sedang serius dengan daftar nama yang dia susun.


“Jangan menatapku seperti itu. Aku jadi grogi. Hehehehe….” Ana dan Ayu tertawa bersama.


“Kak Ana ada-ada saja. Aku hanya bingung kenapa Kak Ana sangat cantik hari ini.” Ana tersipu malu. Ayu paling bisa membuat suasana hatinya jadi berbunga-bunga.


“Jangan memujiku seperti itu.” Ana merendah dengan pujian yang Ayu berikan. “Nanti kau menyesal.” Ana berbisik.


“Kenapa?” Ayu penasaran.


“Nanti aku bisa ketagihan. Hahahahaha….” Tawa keduanya memenuhi ruang tamu yang luas. Hanya berdua tapi suara tawanya memenuhi udara.

__ADS_1


__ADS_2