Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 169 ( Untuk Sementara Waktu )


__ADS_3

Ayu menggenggam erat tangan Murni yang masih terbaring tidak berdaya. Membacakan ayat-ayat suci agar Murni dapat kekuatan untuk sembuh dari lukanya. Meski perih Ayu tidak menangis, mencoba mengajak Murni berkomunikasi lewat bacaan ayat-ayat suci yang Ayu lantunkan.


Malik menunggu dengan sabar sambil menikmati keindahan suara Ayu yang membuat hatinya sejuk. Pemandangan yang sering Malik dengar belakangan ini semenjak menikah dan tinggal bersama Ayu. Dia gadis yang taat beribadah dan punya hati yang sangat baik. Suara Ayu mulai hilang, dia menahan isak tangisnya yang sudah menumpuk di dadanya.


Berulang kali Ayu terlihat menarik nafasnya dalam mengendalikan emosi yang memuncak. Malik membiarkan Ayu menikmati waktunya, dia belajar mengendalikan suasana hati agar bisa tetap kuat menghadapi setiap detik yang dia lewati.


Setelah Ayu cukup tenang, Malik mendekatinya. Memeluknya dari belakang dengan penuh cinta kasih. Gadis yang sekuat karang yang saat ini jadi cinta sejati Malik. “Apa kita bisa pulang sekarang?” Menatap lekat bola mata Ayu.


“Apa tidak bisa aku di sini saja? Aku ingin menemani Mbak Murni.” Malik tidak menjawab. “Aku yakin Mbak akan segera bangun. Bagaimana jika Mbak bangun dan mencari aku!” Malik menggenggam erat kedua tangan Ayu.


“Aku punya dokter dan suster yang menjaga Mbak Murni 24 jam.” Ayu menyimak, Malik pasti tidak akan mengijinkannya tinggal. “Tugasku adalah menjagamu agar tetap aman dan sehat.” Malik mencubit hidung Ayu gemas. “Bagaimana jika kamu sakit? Siapa yang akan bisa Mbak Murni andalkan!” Benar apa yang Kak Malik ucapkan. Jarak rumah sakit dan apartemen juga tidk begitu jauh.


Ayu menurut, dia juga harus bisa tenang agar tidak ikut sakit dan tenggelam dalam kesedihan. Ayu memandangi kontak di ponselnya dengan raut wajahnya yang sedih. Malik mengintip mencoba mencari tau siapa yang ingin Ayu hubungi. Malik tersenyum melihat Bapak di kontak yang sedang Ayu buka.


“Hallo Pak, bagaimana kabarnya? Lama sekali Malik baru bisa menghubungi Bapak.” Ayu menatap wajah Malik dengan matanya yang berbinar, Malik segera menyalakan speaker di ponselnya. Ayu mendekat dengan wajah bahagianya. Sekian lama Ayu akhirnya bisa mendengar suara laki-laki yang sangat dia sayangi.


“Baik Nak, kami semua sehat. Malik dan Ayu bagaimana kabarnya?” Bapak membalas dengan kata-kata yang lembut. Tanpa sadar Ayu mencengkeram lengan Malik dengan cukup kuat.


“Kami juga sehat Pak, Ayu sangat rindu Pak. Bapak kapan bisa Malik jemput?” Ayu menggeleng, dia tidak mau keberadaannya diketahui. Dia hanya ingin dengar suara Bapak saja saat ini.


“Kami masih sibuk di lading Nak. Mungkin tidak bulan-bulan ini. Mungkin setelah panen Nak. Kami yang datang ke sana.” Ayu meneteskan air matanya. Menyembunyikan wajahnya di balik punggung Malik.


“Baik Pak, aku mohon segera datang ya Pak. Kami semua sangat rindu. Terutama istriku!” Malik menegaskan suaranya. Suara nafas bapak terdengar berat.


“Baik Nak, kami juga rindu. Nak Malik tolong jaga Putri Bapak yah. Katakana Bapak dan Ibu dan Adiknya juga sangat rindu. Kami akan segera datang setelah panen.” Malik mencium kepala Ayu yang masih ada di belakang punggungnya.


“Baik Pak, jaga kesehatan.” Malik tidak menutup ponselnya sebelum Bapak menutupnya terlebih dulu, biasanya dia akan seenaknya menutup panggilan begitu saja.


Malik menarik tubuh Ayu ke pelukannya. Membiarkan Ayu menangis di pelukkannya. Aldo segera melaju menuju apartemen mengantarkan Malik dan Ayu. Suasana Apartemen cukup sepi, sudah tidak ada lagi wartawan yang siang tadi memadati lobby apartemen. Malik lega karena bisa pulang dengan tenang malam ini.


“Al, tidak usah mengantar kami. Langsung pulang saja. Kamu juga pasti sangat lelah.” Malik segera naik lift dan meminta Aldo pulang.

__ADS_1


Ayu menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Wajahnya masih kusut tidak bersemangat. Malik mengecup keningnya dan segera menyiapkan makanan yang Rey siapkan. Semua orang sangat membantu Malik dalam keadaan seperti ini.


Malik menyiapkan makanan dalam satu piring, Ayu pasti tidak selera makan jika Malik tidak memaksanya untuk makan. “Duduk sebentar sayang, kita makan dulu sebelum tidur. Kamu bisa masuk angina jika tidur dalam keadaan lapar.” Ayu menurut, perutnya juga keroncongan.


Malik senang Ayu makan dengan lahap tanpa mengeluh. Piring yang penuh kini tinggal separuh, Malik bisa makan setelah Ayu tidak mau lagi karena merasa kenyang. Malik juga kelaparan, tapi suasana hatinya tidak dalam kondisi baik saat ini. Rasanya lebih sakit saat melihat orang yang dia sayangi menderita, andai saja semua beban bisa Malik pindahkan.


Malik mengangkat tubuh Ayu yang ringan dari atas sofa, membantunya membersihkan diri dan segera istirahat. Malik memberikan vitamin sebelum Ayu tidur, suhu tubuhnya sedikit panas. Mungkin karena Ayu stress dan terlalu banyak pikiran.


“Istirahat sayang, jangan terlalu banyak pikiran. Kamu harus sehat dan kuat.” Malik memeluk Ayu, mengelus kepalanya agar Ayu merasa nyaman. Ayu membisu, Malik sangat takut jika Ayu depresi dengan apa yang dia hadapi. Tidak lama Ayu tertidur, Malik menatap lekat wajah Ayu yang terlihat sayu.


“Adam, kamu tau bagaimana keadaan Ayu saat ini? apa Aldo sudah menjelaskan apa yang terjadi?” Malik menghubungi Adam setelah Ayu terlelap dengan nyaman.


“Iya, apa aku perlu datang sekarang?”


“Dia sudah tidur sekarang. Aku takut dia tidak bisa menahan emosinya. Aku tidak mendengar suaranya sejak dia tau keadaan Mbak Murni. Aku hanya dengar suaranya saat dia membaca ayat suci.” Malik merasa takut.


“Besok aku datang pagi-pagi. Aku akan memeriksanya besok.” Adam juga sama khawatirnya. Ketakutan berlebihan bisa saja menjadi depresi.


Malik kembali kekamar memeluk tubuh Ayu dan memastikan Ayu tidak demam malam ini. suhu tubuhnya normal setelah Malik memberikan vitamin. Malik ikut terlelap, tubuhnya terasa sakit setelah seharian menghadapi berbagai macam masalah yang menguras kekiatan fisiknya.


"Sayang bangun.....Ayuna.......bangun." Ayu memeluk Malik saat terbangun dari mimpi buruknya. Malik menyeka keringat dari kening Ayu. Menyodorkan air putih yang Malik siapkan di atas nakas.


"Tenang yah....itu hanya bunga tidur, tidak ada artinya." Ayu masih tidak bicara. Tapi tubuhnya mengisyaratkan dirinya tidak mau Malik jauh darinya. "Apa yang ada dalam mimpimu sampai kamu ketakutan?" Bertanya dengan nada yang sangat lembut, Malik tidak mau Ayu bersedih lagi, tapi penasaran dengan mimpi Ayu.


Ayu menggeleng, rasanya malas membuka mulutnya untuk bicara. Ayu takut terbawa suasana dan kembali menangis.


"Ya sudah, lupakan saja. Anggap saja itu tidak pernah terjadi." Malik kembali menarik selimut agar Ayu bisa kembali beristirahat.


Adam pagi-pagi buta sudah datang ke apartemen Malik. Ingin segera melihat sendiri bagaimana kondisi Ayu pagi ini. Malik yang tidak bisa tidur lagi segera membukakan pintu saat Adam datang.


"Kau datang pagi-pagi buta begini. Apa Mahesa tidak marah?" Adam menyeringai.

__ADS_1


"Maksudmu Mamih nya yang marah!" Adam menggeleng. "Dia tidak akan komplain jika berhubungan dengan keselamatan kalian." Sarah bahkan membangunkannya penuh semangat kemerdekaan.


"Tapi Ayu masih tidur, semalam dia tidak bisa tidur nyenyak." Malik menyiapkan kopi untuk mereka berdua nikmati.


"Sarah membuatkan roti bakar." Malik menerimanya dengan senang hati. Sahabat perempuan yang sudah seperti kaka baginya. "Jangan khawatir, Ayu pasti bisa melewatinya. Dia gadis yang kuat." Adam bisa melihat kesedihan di mata Malik.


Ayu keluar setelah membersihkan diri menemui Adam. Wajahnya sudah lebih berwarna, matanya masih sedikit bengkak karena terlalu banyak menagis.


"Apa aku kehilangan sesuatu!" Adam berpura-pura mencarinya sambil mendekati Ayu yang saat ini duduk di sofa sambil meraba-raba tubuhnya sendiri. Adam meraih tangan Ayu memeriksa ritme denyut nadi Ayu saat ini. "Ternyata tidak hilang." Ayu tersenyum mendengar candaan garing Adam pagi ini.


"Maaf aku merepotkan semua orang." Adam memasang wajah sedih.


"Keluarga, seperti ini maknanya. Kita akan saling terhubung untuk terus saling mencintai, saling mendukung dan saling menghawatirkan satu sama lain." Malik memperhatikan dari dapur, senang melihat senyumnya sudah kembali.


Adam mengangguk mengisyaratkan Ayu baik-baik saja saat ini, Malik lega mendengar nya. Kini mereka bertiga menikmati roti bakar buatan Sarah yang lezat.


Ting tong.....ting tonggg....


Malik segera datang membuka pintu, Malik kaget karena Ayah nya pagi ini datang tanpa memberi kabar. Rama marah karena tau cerita Murni dari Hans, bukan dari putranya sendiri.


"Oh ada Adam juga." Rama memeluk erat Ayu. Merasa bersalah atas apa yang terjadi. "Kalian sedang sarapan!" Ayu menuntun Rama agar duduk bersama menikmati roti bakar. Tidak lupa Ayu menyiapkan teh hangat untuk Rama.


"Ayah pasti sangat kangen yah pagi-pagi sudah datang." Rama hanya mengangguk-ngangguk sambil tersenyum. Dirinya masih kecewa pada sikap Malik. Tangannya masih tidak bisa melepaskan tangan menantu nya. Menatapnya dengan penuh kepedihan.


"Aku baik-baik saja Ayah. Kak Malik juga baik-baik saja." Kemarahannya tidak nyata, dia hanya seorang Ayah yang khawatir pada anak-anak nya. Ayu lebih peka dengan perasaan Ayah nya dibanding Malik. Dia paham bagaimana meluluhkan kembali perasaan Rama.


"Ayah khawatir kan banyak hal. Beberapa kali wartawan menghubungi Ayah dan menanyakan kebenaran skandal hubunganya dengan gadis SMA." Melirik Malik dengan matanya yang tajam.


"Sepetinya aku harus menerima tawaran tinggal bersama Papah dan Kak Jofan untuk sementara." Ayu tidak mau egois. Ini jalan keluar terbaik saat ini.


"Kenapa tidak bersama Ayah." Rama ingin membantu sebisa mungkin.

__ADS_1


Malik menggeleng "Para wartawan itu pasti mengikuti Aku dan Ayah. Akan lebih berisiko Yah." Rama membenarkan isi pikiran kedua anaknya. Adam hanya mendengar tanpa menyela pembicaraan.


"Baiklah, untuk sementara waktu. Tapi jangan terlalu lama, setelah Ayu lulus kita bisa segera meresmikan hubungan kalian berdua." Ayu tersenyum membuat semuanya merasa lega.


__ADS_2