Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 62 ( Kesurupan )


__ADS_3

Aldo menyiapkan mental menghadapi segala macam penolakkan dari kedua orang tua Ayu.


Rasanya mustahil bisa membawa orang begitu saja menemui Malik. Jika di Jakarta mereka akan dengan senang hati ikut menemui Malik, mencari kesempatan agar bisa jadi bagian dari keluarga Rama Saputra.


Kali ini tidak akan sama, Aldo saat ini sedang menghadapi dunia yang lebih sederhana. Yang lebih banyak menggunakan hati nurani, bukan napsu dunia.


“Ayo, coba cepat hubungi Bos kamu. Kita mau tau, kenapa datang kemari padahal kita tidak saling mengenal. Malah menyuruh kita menemui dia” Agak sedikit menyombongkan diri. Dagu Hadi sedikit naik agar terlihat berwibawa.


Akan semakin rumit jika Bos yang berbicara langsung dengan mereka. Apalagi kalo dia mengatakan yang barusan dia katakan di telpon. Bisa-bisa saya di pasung di kampung ini dan tidak akan terlihat lagi diperedaran laki-laki tampan. Batin Aldo menjerit.


“Begini Pak, Tante” Aldo menarik nafas dalam. “Jadi kemaren itu Mbak Ayu, Bos saya Malik dan teman-temannya berlibur. Ke Villa yang ternyata dihuni oleh makhluk-makhluk tidak kasat mata” Menatap penuh keyakinan agar kedua orang tua Ayu percaya pada perkataannya.


“Maksudnya Setan?” Kartini merasa penasaran.


“Betul Bu” Akhirnya ada yang percaya.


“Kamu ini loh. Mbak Lia di panggil Tante, saya di panggil Ibu. Saya lebih muda loh Mas” Sedikit menggebu-gebu. Marah karena panggilannya lebih tua dari usia.


“Saya panggil Mbak saja kalo begitu yah” Aldo kaget diteriaki Kartini.


“Ganjen kamu ini Tin” Lia menggelengkan kepala.


“Sudah-sudah, kalian malah memotong pembicaraan. Penting loh ini” Hadi heran dengan wanita-wanita ini.


“Mbak Ayu sepertinya melamun Pak, jadi kemaren Mbak Ayu kesurupan”


“Kesrupuan” Serempak seperti paduan suara.


Aldo sedikit memundurkan badannya, dia kaget dengan reaksi ketiga orang dihadapannya. Karena berbohong, jantung Aldo berdetak begitu kencang.


Diteruskan atau tidak ini, kenapa mereka menatapku dengan tatapan mata yang siap membunuhku seperti itu. Kenapa hanya ide itu yang muncul di pikiranku ya Tuhan, sepertinya aku terlalu banyak menonton film horor. Aldo berteriak di dalam hati.


“Be...Betul Pak, Tante, Mbak” Aldo tersenyum kecut.


“Lalu bagaimana keadaan Ayu sekarang?” Berganti khawatir di raut wajah Hadi setelah terkejut dengan apa yang Aldo sampaikan.


“Mbak Ayu kemaren sempat di rawat di rumah sakit karena lemas sekali Pak. Tapi Setannya masih belum mau keluar Pak. Dia minta dipertemukan dengan Bapak dan Tante karena dia mau menikahi Mbak Ayu” Makin terkejut dengan apa yang Aldo katakan.


“Setan masa minta nikah sama bangsa manusia. Tidak mungkin itu, jangan membohongiku!” Aldo kira mereka semua sudah percaya begitu saja. Ternyata salah besar.


“Loh Bapak ini bagaimana? Pernah ingat tidak, anaknya bu Atun yang kesurupan sama genderuwo? Kan dia mau dibawa sama genderuwonya. Katanya dia suka dengan Mbak Aisyah.” Syukurlah, aku dibela sama tante. Aldo sedikit lega usahanya membuahkan hasil.


“Tapi itu di kampung Bu, sepi, banyak rumah dan kebun kosong. Di jakarta mana ada tempat-tempat seperti itu Bu!” Masih tidak percaya.


“Kemaren itu Villa yang ditempati memang selalu kosong Pak. Hanya ada penghuninya saat pemiliknya berlibur saja.” Perjuangan masih panjang Aldo.

__ADS_1


“Coba telpon anakmu. Bagaimana kalo mereka ini hanya berbohong dan mau mencelakai kita, kan kita tidak kenal sama mereka ini Bu.” Hadi merasa curiga, orang kesurupan bukannya di rukiyah, ini malah jauh-jauh datang menjemput mereka ke kampung.


Deg.......


Tamat riwayatku ini. Kenapa tidak kepikiran mereka bisa menghubungi Ayu. Bagaimana ini. Apa aku kabur saja yah? Tapi nanti aku bisa bertemu kematian yang tertunda saat bertemu Malik di Jakarta tanpa mereka berdua. Atau aku culik saja mereka ini!. Aldo melirik pada sahabatnya yang tidak mungkin mau melakukannya.


Sam mengangkat bahunya dan menghindari tatapan mata Aldo karena sama-sama bingung dengan situasi saat ini. Dia bahkan menggaruk kepalanya yang mulai berkeringat akibat kebohongan Aldo yang tidak masuk akal. Tapi dia hanya mampu membisu.


Lia bergegas masuk untuk menghubungi Ayu. Dia terlihat lari ke Halaman rumah setelah mengambil handpone dari dalam kamar nya.


Sinyal di kampung memang jelek, mereka harus mencari tempat berkumpul sinyal agar bisa mengudara dengan lancar.


Saat ini jantung Aldo siap meledak, menahan pipis yang tiba-tiba saja tidak tertahan. Keringat yang mengucur deras seperti air bah.


Pak Hadi sedikit tersenyum melihat gelagat Aldo yang salah tingkah. Dia sedikit curiga memang dengan kedatangan mereka.


Terlihat Lia berlari masuk kembali ke dalam rumah. Aldo semakin khawatir dengan hasil diagnosanya akan keadaan saat ini.


“Bagaimana? Apa yang Ayu katakan?” Hadi menegakkan duduknya, merasa penasaran.


“Bagaimana ini Pak” Lia duduk di samping Hadi meremas-remas jemarinya.


“Bagaimana apanya? Katakan yang betul toh Bu” Geram dengan tingkah istrinya sendiri kali ini.


“Telponnya tidak aktif Pak!”


Semua orang terlonjak kaget karena Aldo berteriak sangat kencang di suasana yang menegangkan ini. Hanya Aldo yang tersenyum kecil. Aldo kembali duduk karena semua mata melotot padanya.


“Kita harus cepet Pak. Kita harus cegah genderuwo itu membawa Ayu!” Lia meremas tangan suaminya dengan keras.


“Ngawur saja Mbak ini kalo bicara” Kartini sedikit tidak percaya, tapi bagaimana jika yang dikatakan laki-laki itu benar.


“Ya sudah, siap-siap lah. Kita harus bergegas” Hadi dan Lia pergi ke dalam bersiap-siap.


Kali ini sepertinya Tuhan sedang sangat baik padaku. Aku sangat bahagia karena semua berjalan dengan mulus. Batin Aldo


“Kau kenapa berbohong?” Sam berbisik pada Aldo.


“Tidak mungkin aku mengatakan yang sebenar nya tentang video yang Ed kirimkan padaku. Bisa digantung di pohon mangga leherku ini!” Sam menggelengkan kepalanya tidak percaya.


Ternyata sahabatnya berlimpah harta, tapi tidak dengan kehidupannya. Tidak seindah yang dibayangkan Sam selama ini. Sam pikir Aldo kaya raya karena menjadi sekertaris pengusaha kaya dan hidup bahagia. Ternyata banyak kepahitan dan kesulitan yang harus Aldo jalani setiap harinya.


Terlihat Lia dan Hadi sudah siap dengan tas tenteng di tangannya. Mereka tidak membawa banyak barang karena tidak akan lama di Jakarta. Apalagi Lia baru saja pulang dari Jakarta kemarin.


“Tin, aku titip Riyan yah. Dia masih kemping ke gunung sama temen-temennnya. Nanti kalo dia pulang tolong bilang Bapa dan Ibu sedang menjengguk Mbak Ayu sebentar.”

__ADS_1


“Iya tenang saja. Telpon aku kalo sudah sampai Jakarta ya Mbak!” Kartini melambaikan tangan saat mobil sudah mulai meninggalkan halaman rumah.


***


Pagi ini Ayu tidak bangun pagi seperti biasanya , dia sedang halangan dan rasanya malas menggerakkan badannya. Masih terlintas jelas di memorinya tentang musibah yang baru saja menimpanya.


Terkadang Ayu merasa sedikit mual saat mengingat dirinya di pagi itu. Akibatnya Ayu kehilangan selera makan dan hanya mampu berbaring di atas kasur yang membuat tubuhnya nyaman.


Berulang kali ketiga sahabatnya menawarkan sarapan, tapi tidak ada respon dari Ayu, dia tetap menutup matanya dan enggan berbicara. Akhirnya Sandra hanya membiarkan sarapan tergeletak di atas nakas.


“Masih tidak mau bangun dan sarapan?” Jofan sedikit terpancing mosinya.


“Fan, please! Sepertinya Ayu butuh waktu untuk sendiri. Biarkan hatinya damai untuk beberapa saat saja. Dia akan baik-baik saja!” Sandra mencoba menahan Jofan yang hendak pergi ke kamar Ayu.


“Dia pikir kita semua tidak sakit dengan semua ini. Kita semua menderita!” Jofan berteriak pada dirinya sendiri.


“Mel tolong kunci pintu kamar Ayu” Melani berlari mengunci pintu kamar Ayu dari luar.


Mereka berdua tidak mau Jofan semakin marah dan menyakiti perasaan Ayu yang sedang hancur saat ini.


Ayu yang mendengar perkataan Jofan hanya menahan tangisnya. Menenggelamkan wajahnya ke bantal agar suara tangisnya tidak keluar.


Jofan menghempaskan kasar tangan Sandra yang menahan tubuhnya. Jofan pergi keluar Villa mencoba mencari ketenagan.


Sebenarnya kemarahan Jofan adalah bentuk kasih sayang yang begitu besar. Tidak tau harus berbuat apa dengan sikap Ayu yang tidak mau berinteraksi dengan siapapun membuat Jofan frustasi dan terpancing emosinya.


Sudah setengah jam lebih Jofan tidak kembali, Sandra dan Melani bingung karena Ayu masih saja membisu. Berpura-pura tidur dan tidak mau berbicara dengan siapapun.


Brugggg...


Melani, Sandra dan Ayu terlonjak. Pintu kamar tiba-tiba dibuka dengan kasar tanpa terdengar langkah kaki.


“Kak Malik, kenapa Kaka kesini?” Sandra merasa ada yang aneh. Melani dan Sandra memeluk Ayu dan melindunginya dari Malik.


“Aku tidak akan berbuat kasar. Tapi aku harus menyelesaikan urusanku dengan Ayu yang belum tuntas. Tolong jangan halangi aku” Malik berkata dengan lembut. Tapi suasana menjadi semakin mencekam karena terlihat dua bodyguard di depan pintu kamar.


Ayu tidak bisa berkata-kata. Dia masih syok dan sedikit takut dengan Malik. Saat di rumah sakit, perasaan takut sudah sedikit memudar.


Tapi melihatnya datang dan sedikit emosi, membut Ayu sedikit tegang dan khawatir.


“Tolong jangan sekarang, Ayu masih ketakutan Kak” Air mata mulai membanjiri mata kedua sahabat Ayu. Membuat Ayu tidak bisa menahan tangisnya.


“Sandra, Melani. Kalian kenal baik Kaka seperi apa. Aku tidak akan menyakiti Ayu. Tolong percaya padaku” Malik masih lembut.


“Aku tidak mau ikut. Aku mau di sini saja dengan Melani dan Sandra.” Ayu mencengkeram keras jari-jarinya. Sesekali tangannya mengusap air mata yang lolos membasahi pipi.

__ADS_1


Akhirnya Malik menyuruh kedua anak buahnya menahan Sandra dan Melani. Malik membawa paksa Ayu dan menggendongnya masuk ke dalam mobil. Ayu meronta, tapi kekuatannya tidak bisa mengalahkan tubuh Malik.


__ADS_2