Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 52 ( Perseteruan )


__ADS_3

Rey menuruni tangga, matanya masih memandang Oji yang sedang tersenyum pada Ayu yang duduk didepannya.


Kali ini Rey membiarkan Oji memasuki restaurant setelah sekian lama, masih terbayang jelas bagaimana perbuatan Oji dimasa lalu yang membuat Rey dan Jofan sangat membencinya.


“Jika sudah selesai, silahkan tinggalkan tempat ini” Rey menarik tangan Ayu. Membawanya bersama Rey.


“Satu lagi, tidak perlu bayar. Makanan ini semuanya gratis” Rey berlalu meninggalkan Oji. Ayu hanya menurut mengikuti Kak Rey.


“Huh, aku tidak kesini untuk makan gratis. Aku akan membawa Ayu. Jika tidak bisa dengan cara lembut, aku akan gunakan cara lain” Oji berteriak, membuat seisi restaurant memperhatikannya.


Oji memandang satu persatu mata yang menyorotinya, mereka semua memilih menghindar. Rasanya orang gila ini tidak perlu mereka ladeni, hanya membuang waktu.


Oji pergi meninggalkan restaurant dengan penuh amarah, dia sudah sangat bahagia karena Ayu menyambutnya dengan hangat.


Bahkan dia menunggu kedatanganku. Kenapa harus ada laki-laki itu, dia merusak semua rencana yang sudah aku susun. Batin Oji


Oji memandang kursi belakang yang sudah penuh dengan mawar putih. Bunga-bunga cantik yang sudah dipersiapkan Oji untuk menyatakan perasaannya pada gadis pujaan.


Berulang kali Oji memukul stir mobil, tangannya memerah karena pukulan yang cukup kuat. Rencana pertama gagal, kini Oji harus menyusun kembali rencana lain.


***


“Kak Rey, apa semua baik-baik saja?” Ayu bingung karena Kak Rey mengurungnya diruangan kerjanya. Kak Ana bahkan tidak membuka suara.


“Hushhhh” Kak Rey menyuruh Ayu untuk diam.


Ayu melirik Kak Ana yang duduk termenung, sepertinya Kak Ana tau apa yang membuat Kak Rey begitu benci dengan Kak Oji. Tapi Kak Ana menggeleng, dia enggan membuka suara.


“Sepertinya dia sudah pergi” Yang Kak Rey maksud adalah Oji.


“Apa dia masih sama? Apa manusia seperti dia akan bisa berubah?” Ana penasaran dengan sosok Oji yang baru ditemuinya.


“Tidak penting, yang jelas dia hanya akan membuat kita semua terluka” Kini mata tajam kembali memandang Ayu. Rasanya ini bukan Kak Rey yang Ayu kenal. Dia laki-laki yang tegas namun penuh kehangatan.


Dipeluknya Ayu seperti adiknya, tangannya menyentuh lembut puncak kepala Ayu. Tidak ada penolakkan. Rasanya Kak Rey begitu hangat sekarang, bukan laki-laki yang memandangnya dengan penuh amarah seperti tadi.


Sorot mata mereka bertemu, Ayu masih bingung apa yang menjadi kekhawatiran Kak Rey. Mereka seperti sedang berhadapan dengan ancaman yang bisa membunuhku kapan saja.


“Ingat dengan baik. Jangan pernah menemuinya dibelakangku” Matanya menyiratkan ketulusan, ada kepedihan yang mendalam.


“Apa aku bisa tau alasanya?” Memelas. “Aku hanya ingin tau, karena dia tidak pernah menyakitiku selama ini Kak”


“Jangan tertipu, kami dulu sama denganmu. Tidak pernah tau kebusukan hatinya selama ini. Membiarkannya bermain-main dengan Arumi sampai kami menyesal membiarkan mereka tanpa pengawasan kami” Rey marah mengingat masa lalu adiknya.


“Arumi adik Mas Jofan?” Ayu pernah dengar Jofan bercerita tentang adiknya yang sedikit mirip dengan dirinya.

__ADS_1


“Iya, akan ada waktu Kak Rey menjelaskan semuanya. Tapi tidak sekarang. Jangan biarkan dia tau tempat tinggalmu dan jangan biarkan dia masuk dalam kehidupanmu” Kak Rey berlalu meninggalkan rasa penasaran dalam diri Ayu.


“Jangan salah paham. Dia sangat menyayangimu, bahkan dia rela melakukan apa saja untuk menjaga Ayu. Kamu sangat beruntung, Kak Rey orang yang sangat bertanggung jawab” Kak Ana memeluk Ayu yang masih diam mematung.


“Apa kehadiranku membuat kalian mengingat luka lama?” Netra Ayu berlaca-kaca, dia sedih membuka luka lama yang sudah terkubur.


“Tidak, kehadiranmu membuat Kak Rey begitu semangat seperti dulu. Dia selalu bahagia menceritakan perkembanganmu selama disini. Dia bangga bisa menjaga dan mencintai Ayu seperti Arumi” Kak Ana sosok yang sangat mengerti Kak Rey.


Ana memutuskan mengantar Ayu pulang kekosan. Gadis ini pasti sangat lelah setelah seharian ini. Dia butuh istirahat untuk memulihkan staminanya.


“Kak Ana, terimaksih banyak ya Kak. Riyan pasti sangat suka dibawakan makanan yang sangat enak ini”


“Baiklah, masuklah. Istirahat dan makan dengan benar”


Ana melambaikan tangan sebelum meninggalkan Ayu. Rasanya bahagia melihat Rey begitu bahagia menemukan lentera hatinya yang sudah redup.


Hampir suram dan tidak bercahaya, dan kini kembali bersinar sejak kehadiran Ayuna. Dia gadis yang penuh kebahagiaan.


Memancarkan kebaikan dan menularkan pada siapa saja. Rasanya tidak salah jika banyak orang yang sangat menyayangi Ayu.


***


“Ibu, Riyan. Mbak Ayu sudah pulang” Terlihat Ibu dan Riyan yang sudah bersiap untuk pulang kekampung halaman.


Mereka sudah merapihkan semua baju dan oleh-oleh yang Ayu persiapkan. Oh benar, tadi pagi Ibu sudah bilang jika Bus nya berangkat setelah mahgrib. Dan sekarang sudah pukul 4 sore.


“Masak dengan apa? Kan disini tidak ada kompor Bu!” Ayu penasaran cara apa yang Ibu lakukan untuk memasak. Ayu memilih tiduran diatas pangkuan Ibunya ketimbang bersih-bersih.


“Ibu pinjam sama Ibu kos. Tadi beliau juga bilang masakkan ibu enak. Dia makan sampai nambah 3 piring” Ibu tertawa mengingat Ibu kos yang sangat doyan makan.


“Itu mah rakus Bu namanaya” Riyan menimpali


“Hush, jangan sembarangan bicara. Memang ibu enak kok masakannya. Kamu saja yang suka menolak makanan Ibu yang enak” Ibu masih fokus melipat baju-baju Ayu yang berantakkan.


“Oh Iya, Mbak bawa makanan tadi” Mata Riyan beredar. Mencari keberadaan makanan yang Mbak Ayu bawa.


Dia langsung berlari setelah menemukan seonggok plastik yang tergeletak diatas meja makan. Tangannya dengan lihai membuka ikatan plastik.


“Wah ini enak” Padahal baru kali ini Riyan melihat makanan dengan bentuk seperti nampan.


“Itu Pizza, makanlah. Tadi Kak Ana yang membawakan untuk Riyan” Riyan langsung melahap Pizza yang menggiurkan lidahnya.


Kali ini cocok dengan lidah Riyan, tidak seperti kerak telor yang dicobanya tadi pagi.


Selesai makan dan bersih-bersih. Ayu bersiap mengntarkan Ibu dan Riyan ke terminal terdekat. Rasanya sedih Ibu dan Riyan hanya datang sebentar. Masih rindu dan masih ingin bersama-sama.

__ADS_1


Ibu bisa memahami kesedihan Ayu, tapi tidak bisa tinggal terlalu lama. Awalnya Ibu ingin membawa Ayu pulang. Karena tidak ada yang mejaganya disini.


Tapi setelah melihat tekad putrinya yang sangat menggebu-gebu. Ibu luluh dan mencoba memberikan kesempatan pada Ayu.


“Ingat yah, jangan terlalu larut. Jaga kesehatan, makan yang teratur. Sholat nomor 1. Jangan sampe menyia-yiakan hidup hanya untuk mengejar dunia.” Ibu membelai lembut puncak kepala putrinya.


Ayu hanya manggut-manggut dan tidak melepaskan pelukannya. Rasanya akan begitu rindu wangi tubuh ini.


Dekapannya akan selalu dirindukan, nasehatnya akan selalu terbayang. Do’a-do’a yang membanjiri saat tidur akan sangat dinantikan. Entah kapan bisa berkumpul kembali. Ayu sampai menitikkan air mata tanpa terasa. Ibu juga tidak bisa menahan air matanya.


Bus sudah berlalu, Ayu berjalan menyusuri trotoar. Masih berat melepaskan Ibu dan Riyan. Tapi harus tegar, ini jalan yang sudah aku pilih.


Setelah berjalan 30 menit, Ayu sampai didepan kosan. Ayu kaget melihat Jofan, Melani dan Sandra yang sudah menunggunya didepan pintu.


“Loh kalian rame-rame kesini? Ada acara apa?” Ayu dengan polosnya bertanya


“Kok kamu lupa Yu! Kan kita mau ke puncak!” Melani heran dengan sahabatnya ini. Selalu saja dia lupa kalo sudah merencanakkan liburan bersama.


“Ya Tuhan” Ayu menepuk jidatnya. Dia benar-benar melupakkan rencananya untuk liburan bersama ke villa keluarga Sandra di puncak


“Dia inikan sangat sibuk Mel” Sandra meraih tangan sahabatnya dan mengambil kunci dari tangannya. Mereka harus bergegas agar tidak terlalu malam sampai di puncak.


Ayu mengambil baju sekenanya. Membawa selimut dan mukena untuk Sholat. Mereka segera berlalu setelah menyiapkan semua barang-barang yang harus dibawa Ayu.


“Aku mampir sebentar, aku harus pamit sama Kak Rey” Jofan membuntuti Ayu. Kedua sahabatnya lebih memilih duduk diluar. Agar tidak memakan waktu lama karena harus berbasa-basi.


Ayu mencari Kak Rey keruangannya tapi tidak menemukannya. Didapur juga tidak ada, Jofan juga tidak menemukannya dimana-mana.


“Nai, kamu lihat Kak Rey?” Nampak Nai sedang membereskan meja.


“Oh Yu, tadi ada tamu. Sudah lama tapi masih belum keluar. Mereka di ruangan VVIP” Nai kembali membereskan meja dengan cekatan.


“Kita tunggu sebentar yah. Kak Rey akan khawatir jika aku tidak pamit. Bisa-bisa aku akan dihukum seperti tadi siang.


Karena menunggu cukup lama, Ayu mengajak kedua sahabatnya untuk menunggu didalam. Mereka bercanda sambil menikmati jus yang mereka pesan.


“Yu, Mel, nanti kita makan jangung bakar yah. Aku sudah siapkan alat berbeque dan bahan-bahan makanan yang akan kita masak” Mereka menelan ludah mengingat kelezatan makanan yang akan memanjakan lidah mereka.


Ceklek.... akhirnya pintu ruang VVIP terbuka setelah menunggu cukup lama.


“Kak Rey...” Kata-katanya menggantung. Ada sosok laki-laki yang berjalan dibelakang Kak Rey. Dan Ayu sangat mengenal dia.


“Kalian sudah bersiap berangkat? Pergilah, Jofan jaga mereka semua. Kamu laki-laki yang Kak Rey andalkan” Rey sudah tau karena Jofan dari jauh-jauh hari sudah meminta ijin padanya.


Malik tersenyum manis melihat Ayu yang terkejut dengan kehadirannya.

__ADS_1


Dia pasti bingung kenapa dia bisa ada disini bersama Kak Rey yang sangat dikaguminya. Dan selalu dia bangga-banggakan.


__ADS_2