Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 183 ( Laskar )


__ADS_3

Sarah mondar mandir mencari cara untuk memberikan Murni makan. Dia sudah sadar, pasti sangat lapar selama ini menahan diri untuk tidak makan. Bagaimana caranya agar bisa memasukkan makanan dan dia tidak ketahuan. Sarah menggeleng mengingat mustahil melakukannya, CCTV di setiap sudut pasti akan sangat sulit lolos dari pengawasan. Muncul ide tidak masuk akal di kepala Sarah.


Sarah dengan sigap mengambil roti yang ada di atas meja makan miliknya.


Tiba-tiba saja suasana di luar ruangan riuh. Entah apa yang sedang terjadi, semua pasukan membawa senjata menuju ke satu tempat. Ini kesempatan bagi Sarah memberikan Murni makanan. Tidak membuang waktu Sarah segera mengeksekusi ide gilanya.


Sarah mengepal roti di tangannya. Membuka oksigen dari mulut Murni menutupinya dengan rambutnya yang panjang agar CCTV dari sudut manapun tidak bisa merekam. Sarah tertawa tapi gemetar karena bisa saja ketahuan.


“Murni, cepat buka mulut mu. Kau harus makan agar tetap sehat. Kau bisa mati perlahan jika tidak makan apapun.” Murni menurut saja apa yang sarah perintahkan. Murni mengunyak dengan cepat roti yang ada di mulutnya. Sarah sedikit menaikkan tempat tidur Murni agar mudah mengunyah makanan yang dia berikan tanpa memindahkan rambutnya dari wajah Murni. Murni tidak membantah karena dia juga kelaparan, perutnya memang sangat perih karena menahan lapar beberapa hari setelah dia sadar tanpa sepengetahuan orang lain.


“Apa yang sedang kau lakukan?” Sarah memasukkan potongan roti yang masih sisa sedikit ke mulutnya. Mengunyah dan menelan nya dengan cepat.


Kenapa muncul dalam waktu yang tidak tepat. Sabar! menyibak rambutnya yang menutupi sekujur wajah Murni. “Hehehehe, aku sedang makan roti.” Laki-laki yang memergokinnya hanya meringis heran. Meski penasaran tapi tidak menanyakan lebih lanjut apa yang Sarah lakukan.


“Dokter, aku diminta memeriksa laporan medis pasien. Apa ada perkembangan hari ini?” Sarah ingat, dia laki-laki yang kemarin memberinya air dingin.


“Apa kau juga seorang dokter?” Dia hanya menjawab dengan kedipan mata. Sarah heran, apa mungkin tidak boleh saling memberikan informasi. Dirinya yang tidak tau tempat sebenarnya. Mana mau orang yang sedang menyandera memberikan informasi. Sunyi, Sarah membiarkannya memeriksa berkas yang Sarah sudah siapkan. “Apa yang terjadi? Kenapa seperti sedang ada penyusup?” Sarah sungguh penasaran. Sepertinya dia laki-laki yang cukup baik, pikir Sarah.


“Jangan banyak bicara, sebaiknya jangan mencari tau apapun atau kau akan menyesal.” Sarah bergidik ngeri mendengar ucapan laki-laki yang dia tidak tau perannya dalam organisasi yang membawa dirinya dan juga Murni. Baru saja Sarah berpikir dia bisa di ajak bicara, ternyata sama saja.


“Aku hanya penasaran saja.” Sarah menunduk menghindari tatapan mata yang menakutkan.


Duar....duar...duar....


Suara tembakan berturut-turut membuat Sarah terduduk lemas, Sarah menelan ludahnya berulang kali. Matanya dengan jelas melihat Murni bergerak karena terkejut mendengar suara tembakkan. Sarah menggeleng menatap mata laki-laki yang ada di hadapannya.


“Hmmmm....Apa aku tidak salah lihat!” Tangan Sarah gemetar. Kali ini pasti tidak akan lolos dengan mudah. Dada Sarah bergemuruh menahan ketakutan, rasanya lemas dan bingung.


Laki-laki yang namanya tertera di pakaian yang dia kenakan sebagai Laskar meraih buku laporan medis yang ada di lantai karena jatuh saat mendengar tembakkan. Pura-pura membacanya namun pasti pikirannya tidak dengan laporang yang ada di tangannya. Bibirnya saja sesekali tersenyum.


“Kalian benar-benar berani. Jangan sampai siapa pun tau saat ini dia sudah sadar. Mereka hanya menunggu informasi penting yang dia sembunyikan sebelum menghabisi nyawa kalian.” Laskar bicara tanpa menatap wajah Sarah. Benar dugaan Sarah, pasti ada yang mereka sembunyikan dan berkaitan dengan Murni.


Apa yang sebenarnya terjadi, kedepannya Sarah harus lebih hati-hati saat bertindak. Salah sedikit bisa fatal akibatnya. Dia tidak sedang menghadapi seorang Ali, melainkan sebuah organisasi yang lebih besar. Ada rahasia yang saat ini Murni sembunyikan. Bagaimana mengoreknya, dia saja masih koma.


Lascar meninggalkan Sarah dalam kebingungan. Entah apa yang akan terjadi setelah ini, dia pasti akan memberikan informasi sesuai dengan yang dia lihat. Bagaimana jika Laskar melaporkan keadaan Murni yang sebenarnya.


Tidak lama Ali masuk ke dalam ruangan, Sarah semakin gemetar, pasti saat ini Ali tau jika Murni sudah sadar. Ali mendekati Murni, berbisik di telinganya seperti biasa. Sepertinya dia masih belum tau, apa Laskar tidak memberikan informasi pada Ali. Tanda Tanya besar memenuhi isi kepala Sarah. Jika tidak, apa maksudnya. Seharusnya saat ini dirinya dan Murni pasti sudah dalam keadaan mengenaskan. Tapi lihat yang terjadi.

__ADS_1


“Kalian baik-baik saja?” Pertanyaan yang tidak pernah terbayang di benak Sarah.


“Ba…baik..” Sarah sampai tergagap. Jantungnya tidak berhenti berpacu dengan cepat sampai keringat dingin bercucuran.


“Tolong sembuhkan wanita yang paling aku sayangi. Kalian hanya punya waktu satu minggu. Jika dia masih saja sama seperti ini, aku terpaksa harus mencari jalan lain.” Pernyataan yang semakin membuat Sarah lemas.


Apakan akan ada keajaiban? Sarah tidak berani menatap mata Ali. Kelihatannya saja tidak ada kelainan jiwa, tapi tidak ada yang tau isi dalam otaknya. Sarah tidak percaya Ali berubah, dia pasti akan menyakiti Murni dan dirinya jika tidak kunjung mendapatkan apa yang dia inginkan.


***


Adam menggendong Ayu segera ke dalam mobil, meski kepala nya pusing Adam tidak boleh menyerah saat ini. Ayu membutuhkan pertolongan, kondisinya semakin memburuk. Dia bahkan mengigau memanggil-manggil Ibu dan Ayah nya. Adam mencoba menyadarkan Ayu tapi tidak berhasil. Suhu tubuhnya juga tidak kunjung membaik, masih tetap tinggi.


“Adam, aku ikut dengan mu.” Adam menoleh meski sedang kerepotan.


“Bisakah kalian semua jangan keluar dari rumah ini. Berbahaya, kalian harus tetap aman.” Ada benarnya, tapi Rama merasa tidak bisa tinggal diam.


“Tapi Dam.” Rama masih mencoba mengikuti Adam dari belakang.


“Siapa yang menjaga mereka semua.” Rama menatap Ferdinan, Mamih dan Ana yang terlihat sangat terpukul.


“Baiklah, kalau begitu aku di sini menjaga mereka semua. Kau cepat pergi.” Rama mengalah demi keamanan bersama.


“Tenang Paman, Ayu akan baik-baik saja. Aku berjanji!” Ferdinan tidak merasa tenang mendengar kata-kata Adam. Dia semakin merasa kondisi Ayu tidak baik-baik saja. Terlihat jelas di mata Adam.


Adam sudah masuk mobil bersama Ayu ditemani Pak Dodo dan satu orang bodyguard. Adam mendekap Ayu selama perjalanan, berharap Ayu sadar dari kondisi kritisnya. Adam benar-benar merasa bersalah memperbolehkan Ayu pulang sebelum memastikan kondisi fisiknya.


Perjalanan terasa sangat lama padahal jalanan sangat sepi karena masih pagi buta. Sesampainya di rumah sakit Adam langsung membawa Ayu ke ruangan yang sudah di siapkan, Malik sudah menunggu di sana dengan wajah lelahnya.


“Bagaimana kondisinya?” Mengganggu Adam yang sedang memasang alat-alat medis di tubuh Ayu. Adam masih tidak merespon karena sibuk dengan pekerjaannya. “Adam!” Malik menarik tangan Adam agar menatapnya.


“Kau tidak lihat, aku sedang berusaha menyelamatkan Ayu, jangan mengganggu ku!.” Adam menghempas tangan Malik. Dirinya tidak kalah merasa bersalah karena kondisi Ayu, ditambah lagi tidak tau dimana Sarah berada saat ini. perasaan campur aduk yang membuat Adam tidak bisa mengontrol emosinya.


“Kau bilang dia baik-baik saja tadi. Belum lama kau bilang begitu, kenapa sekarang dia bisa sakit seperti ini.” Malik merasa bersalah memperbolehkan Ayu pulang bersama Adam. Masih terbayang jelas wajah Ayu yang enggan meninggalkan dirinya.


“Aku juga merasa bersalah, kau pikir aku baik-baik saja melihat Ayu seperti ini.” Kata-kata nya cukup membuat Malik marah. Malik menarik baju Adam.


“Kenapa kau marah padaku, seharusnya kau bisa memperhitungkan akibatnya. Lihat kondisinya, kau tidak becus menjadi Dokter.” Adam emosi mendengar umpatan yang Malik lontarkan, Adam mendorong tubuh Malik sampai tersungkur di lantai.

__ADS_1


“Kau pikir aku dewa? Aku hanya Dokter yang sama seperti dirimu. Aku manusia biasa!” Adam memukul Malik, dia benar-benar lepas kendali. Malik tidak membalas kali ini, dia tau emosi Adam bukan karena kata-katanya. Dia marah karena Sarah.


Malik sengaja memancing emosi Adam agar tidak diam saja, Malik lebih tenang saat melihat Adam melampiaskan amarahnya daripada diam tanpa tau apa yang saat ini Adam rasakan. Adam berhenti saat sudah puas memukuli Malik, sudut bibir Malik sampai berdarah karena hantaman tangan Adam yang cukup keras.


“Hey…..apa yang terjadi!.” Rey mengangkat Adam yang masih berusaha memukul Malik dengan sisa tenaga yang ada di tubuhnya. Jofan membantu Malik berdiri.


“Kenapa kalian berkelahi. Jaga emosi dan tenaga kita untuk hal yang penting, jangan seperti anak kecil.” Rey memarahi keduanya.


Ruangan sunyi, semua membisu. Malik tidak lagi bisa berkata-kata. Pasti dirinya akan sama kalutnya jika Ayu di culik oleh orang seperti Ali. Bagaimanapun semua ini terjadi karena Malik tidak berhati-hati menghadapi Ali.


Jofan membantu Malik membersihkan luka di wajahnya, Malik bersyukur Ayu memiliki kaka sebaik Jofan. “Terimakasih Fan.” Jofan tersenyum.


“Katakan dimana Sarah berada.” Adam berdiri dengan wajah penuh amarahnya. Malik menggeleng. “Kau tidak bisa meminta orang-orang itu mencari Sarah. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk padanya!” Malik hanya menunduk. “Malik….cepat cari dimana istriku berada.” Adam menarik-narik tangan Malik.


“Dokter.” Rey menuntun Adam keluar dari ruang perawatan. Adam menurut saja karena pikirannnya kacau. Kini Rey dan Adam sudah duduk di kursi tunggu. “Aku tau bagaimana perasaan Dokter sekarang.” Adam menggeleng. “Kita saat ini sudah berusaha keras mencari keberadaan Sarah dan juga Murni. Kita pasti akan menemukannya.” Mencoba memberikan harapan agar Adam bisa semangat.


“Dokter harus tenang, tolong bantu Ayu dan semua pasien yang membutuhkan dokter saat ini. Aku yang akan memastikan keadaan Dokter Sarah baik-baik saja.” Adam menyenderkan kepalanya yang semakin pusing. Rey hanya menghiburnya, pikir Adam.


Rey menemani Adam yang saat ini memejamkan matanya. Mengawasi Adam yang bisa saja melakukan hal nekat yang bisa membahayakan dirinya.


“Kak Malik baik-baik saja?” Jofan tau ini bukan perkelahian karena Adam baik-baik saja, tidak terluka sidikitpun. Malik mengangguk dengan senyumnya yang di paksakan.


“Apa aku bisa menitipkan Ayu padamu? Sebentar saja, aku harus bicara dengan Adam.” Jofan dengan senang hati setuju. Malik mengecup kening Ayu, suhu tubuhnya masih sangat panas.


Malik berjalan perlahan menghampiri Adam. Rey meninggalkan keduanya agar bisa bicara dari hati ke hati. Malik menatap sedih wajah Adam.


“Maaf kan aku. Apa yang bisa aku lakukan agar kau memaafkanku.” Adam membalik badannya membelakangi Malik. “Tolong jangan seperti ini.” Malik mengguncang tubuh Adam dengan lembut. “Adam….” Adam masih enggan menjawab Malik. “Tolong beri aku kesempatan mencari Sarah sampai ketemu. Aku janji dia akan baik-baik saja.” Malik memeluk Adam dari belakang. Adam tidak mengelak kali ini.


Adam sudah sadar apa yang dia lakukan tidak akan mengembalikan Sarah padanya. Dan dia tau betul apa yang terjadi bukan kesalahan Malik. “Apa aku bisa pegang janji mu!” Malik mengangguk. Tentu saja dirinya juga tidak akan membiarkan Sarah terluka, dia wanita yang sudah banyak membantunya tumbuh selama ini.


Adam meminta Malik berdiri dan berjalan mengikutinya. Dengan telaten Adem mengobati luka yang ada di wajah Malik. Beberapa kali Malik mengaduh kesakitan agar Adam tertawa. “Jangan cengeng. Ini hanya luka kecil.” Adam sudah membaik.


“Enak saja, lihat wajah tampanku ini. Ayu bisa tidak mengenali wajah suaminya kalau seperti ini.” Keduanya saling menghibur. “Adam apa Ayuna ku baik-baik saja?” Malik baru teringat kondisi Ayu terakhir saat Adam bawa.


“Tenang saja. Dia hanya trauma pasca operasi.” Sambil menempelkan obat ke luka Malik. “Aku membuat semua orang percaya agar aku bisa keluar dari rumah besar tanpa perdebatan.” Malik menggeleng. Hamper saja jantungnya copot, ternyata Adam hanya acting agar bisa keluar dengan mudah dari rumah.


“Kau membuat aku sangat mederita Dam. Apa tida ada cara lain?” Malik meninggikan suaranya.

__ADS_1


“Jangan memancing emosiku. Kau yang sudah membuat ku tidak bisa kemanapun. Sekarang jangan salahkan aku mencari cara keluar dengan memaksa seperti ini.” Malik segera menghubungi Rama dan mengatakan Ayu baik-baik saja saat ini.


__ADS_2