Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 103 ( Jangan Menyentuhku )


__ADS_3

Malik semalaman tidak bisa tidur, saat subuh menjelang matanya baru merasa lelah dan terpejam. Ayu memandang dengan rasa iba pada wajah Malik yang dipenuhi rasa khawatir.


Ayu tau Kak Malik orang yang sangat baik, dia tidak mungkin mempermainkan perasaan Nikita seperti ucapannya semalam. Dia bahkan gagap menjawab rasa penasarannya.


Ayu mandi, shalat subuh dan setelah nya belajar sebentar mengulang pelajaran yang akan jadi mata pelajaran ujian hari ini. Setelah dirasa cukup paham Ayu menyudahi belajarnya. Dia bersiap-siap mengenakan seragam sekolah dan turun ke bawah untuk sarapan sebelum berangkat.


Beberapa kali Ayu menggoyangkan tangan Kak Malik tapi tidak ada respon, dia sepertinya sangat kekalahan. Ayu memutuskan untuk tidak membangunkan nya dan turun ke bawah sendiri.


"Apa Malik belum bangun?" Biasanya mereka turun berdua, mengundang rasa penasaran pada Mamih.


"Tidak usah di bangunkan Mih, sepertinya Kak Malik sangat lelah." Ayu menyuapkan roti yang sudah di olesi selai kacang ke mulutnya.


"Ayu berangkat sama Ayah. Hari ini Ayah akan ke pusat jadi sekalian jalan." Ayu mengangguk menyetujui ide Ayah Mertuanya.


Selesai sarapan mereka semua beranjak, Ayu bersemangat karena hari ini ujian terakhir. Rasanya sudah tidak sabar naik ke kelas 3 dan segera menjadi wanita yang lebih dewasa.


Tidak lama mobil sudah terparkir di lobby sekolah. Rama tidak langsung beranjak, dia mengantar Ayu sampai ke depan kelasnya. Seolah-olah dia sedang mengantar anak gadisnya sekolah.


"Ayah terimaksih banyak. Pulang nanti aku akan hubungi Kak Malik." Ayu masuk ke kelasnya.


Rama masih belum beranjak sampai melihat Ayu duduk di sebelah Jofan. Dia tersenyum lalu pergi meninggalkan kelas dengan suasana hati yang bahagia.


Dahulu tidak ada waktu luang mengantarkan Malik ke sekolah, begitu sibuk dengan dunia yang dia bangun. Sampai-sampai Malik merasa diabaikan olehnya.


Semua mata anak-anak seolah memandang sinis pada Ayu. Mereka tau Rama bukan orang biasa. Merasa ada yang aneh dnegan hubungan Ayu dan orang-orang penting ini. Terkadang mereka membicarakan Ayu di belakang.


"Jangan lihat mereka." Jofan berbisik di telinga Ayu saat tau merasa risih.


"Mereka semua terlihat tidak suka." Aku tidak perduli, dalam hati Ayu.


"Jagan khawatir. Mungkin mereka semua belum terbiasa dan merasa penasaran." Karena hubungan Ayu dan Malik masih rahasia.


Kring.... kring....kring...


Bunyi alarm membangunkan Malik, suaranya yang nyaring membuat Malik terkejut. Sudah lama dia tidak mendengar suara alarmnya.


Malik tersentak kaget, dia merasa kembali ke masa dia mengandalkan alarm untuk bangun pagi. Itu artinya ini sudah pukul 7.00 pagi. Malik memeriksa jam dengan teliti, dan benar saja dia sudah sangat terlambat bangun hari ini.


"Mamih, kenapa tidak membangunkan ku?" Teriak Malik turun masih menggunakan piyama.


"Laki-laki malas, bagaimana bisa kamu baru bangun jam segini." Mamih menepuk jidatnya.


"Dimana Ayu?" Mata Malik berkeliling mencari keberadaan Ayu.


"Dia sudah berangkat."


"Apa!!"


Plak.....


Mamih memukul pundak Malik karena suaranya membuat gendang telinganya berdengung.


"Kenapa tidak membangunkan ku?" Malik merajuk seperti anak kecil.


"Salah mu sendiri jadi laki-laki malas." Mamih marah tanpa alasan. Masih kesal dengan gadis yang masih tidur di siang bolong.

__ADS_1


"Cepat makan, jangan sampai terlambat menjemput Ayu. Atau dia akan benar-benar marah padamu." Mamih berbohong agar Malik tidak lupa menjemput Ayu.


"Apa dia marah? Dia tau aku semalaman tidak bisa tidur." Malik tidur saat Ayu bangun shalat subuh.


"Mana aku tau, dia tadi berangkat dengan muka yang sangat kecewa padamu." Malik merasa frustasi melihat ekspresi Mamih yang di buat-buat.


"Kak Malik...." Suara Nikita menambah drop suasana hati Malik pagi ini.


Malik menoleh dengan rasa sedihnya, dia lupa masih ada masalah yang belum dia bereskan. Dan sekarang dia malah menambahnya dengan maslaah baru.


"Kak, aku tidur sangat nyenyak malam ini!" Sudah duduk manis di samping Malik.


Mamih melirik sinis ke arah nya. Dia benar-benar cantik, tapi dia tidak punya sopan santun yang baik.


"Selamat pagi Mamih. Apa Mamih tidur dengan nyenyak Mih?" Mamih memaksakan senyumnya.


Bagaimana gadis ini tau aku sedang memakinya dalam hati. Dia bisa saja membuatku merasa malu. Mamih masih tersenyum tidak menanggapi pertanyaan Nikita.


"Mamih ada pertemuan hari ini. Jangan lupa jemput Ayu." Mamih melotot dan berlalu.


"Sepertinya Mamih tidak menyukaiku." Nikita merasa sedih.


"Tidak, dia sangat penyayang. Mungkin dia sedang buru-buru." Merasa tidak enak hati.


"Iya Kak, mungkin karena baru bertemu." Nikita mengambil selembar roti tanpa di suruh.


Memakannya dengan lahap tanpa malu-malu. Dia merasa nyaman dengan semua yang ada di rumah Malik.


Malik sendiri merasa tidak enak hati karena membohonginya di masa lalu. Dia benar-benar tidak tau jika Nikita benar-benar mencintainya. Dia bahkan rela mencarinya sampai jauh-jauh ke Jakarta dari Bali.


Selesai sarapan Malik bersiap-siap untuk pergi ke kantor, sudah banyak pekerjaan menumpuk dan harus segera dia selesaikan kerena kemaren Malik absen.


"Kau di rumah saja, atau minta supir ajak kamu jalan-jalan supaya tidak jenuh." Malik tidak mau dia muncul sebagai wanita nya di media.


Rasanya Malik ingin berteriak dan mengumumkan pernikahan sahnya, tapi apalah daya.


"Baiklah, aku tunggu di rumah saja." Nikita mengecup pipi Malik.


Malik tidak sempat menghindar karena Nikita tidak meminta ijin dan melakukan seenak hatinya.


"Kau....jangan pernah menyentuhku tanpa seijin ku." Malik naik darah, bisa-bisanya Nikita berbuat seenaknya.


"Maaf Kak...." Memasang wajah menyesalnya agar Malik tidak marah padanya.


"Jangan mengulanginya. Aku tidak suka!" Malik masuk ke mobil dan supir segera melajukan mobil dengan kecepatan rata-rata.


Kepala Malik berdenyut, banyak sekali masalah menumpuk di kepalanya. Rasanya tidak adil jika selalu saja membuat Ayu dalam posisi tidak di untungkan karena status pernikahan mereka yang di rahasiakan.


Tapi mau bagaimana lagi, dia masih di bawah umur. Kami menikah karena sebuah kesalahan yang menyeret sampai ke titik ini.


Malik menarik nafasnya yang terasa sedikit berat.


"Tuan...Apa Tuan baik-baik saja?" Pak Dodo merasa khawatir Malik terlihat begitu tertekan.


"Ah...tidak papa Pak." Malik memijat pelipisnya mencoba mengusir pusing dari kepalanya.

__ADS_1


Adam sudah duduk di ruangan Malik saat Malik masuk.


"Sedang apa kau di sini?" Malik merasa heran.


"Pertanyaan macam apa, kau membuatku tidak bisa tidur semalaman." Adam kesal.


"Bagus, karena aku juga sama. Apa yang akan kita lakukan?" Malik duduk di sebelah Adam.


"Apa dia tau kau sudah menikah?" Adam cemas.


Malik menggeleng, seingatnya dia tidak memberikan informasi apapun tentang pernikahannya.


"Kita harus memberi taunya. Dia bisa terus mengganggumu jika dia tidak tau kau sudah menikah." Malik berpikir hal yang sama.


"Apa tidak beresiko bagi Ayu? Aku khawatir ini akan berdampak buruk untuknya." Malik tidak mau menyakiti Ayu dengan keputusannya.


"Dia gadis yang baik, pasti dia akan mengerti jika kita jelaskan perlahan." Adam mencoba meyakinkan Malik.


"Aku akan pikirkan, semua orang di rumah memusuhiku." Malik menggeleng kan kepalanya.


"Pasti Mamih sangat tidak suka." Adam tersenyum, membayangkan wajah Mamih saat marah pada putra semata wayangnya.


"Kau tau? Mereka tidak ada yang mendukungku. Ini semua gara-gara kamu Dam. Kamu yang menyuruhku memacarinya!" Malik kesal saat ingat bagaimana Adam memaksanya.


"Kenapa kau setuju? Dia memang sangat cantik dan manis." Nikita gadis yang cukup populer.


"Aku harus kembali ke rumah sakit. Aku akan ke rumah mu, kita selesaikan bersama, hehehehe" Adam tertawa membayangkan Malik berada dalam situasi yang menyiksanya.


Malik menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, ada beberapa meeting yang harus di jadwal ulang karena Malik tidak bisa pergi hari ini.


"Bos, apa tidak bisa jangan di undur? Kita sudah sangat dekat final untuk proyek ini Bos." Aldo merasa tidak enak hati dengan klien yang sudah menunggu cukup lama.


"Kalau aku paksakan hasilnya tidak sempurna Al. Ada masalah mendesak." Malik meraih jas nya bersiap untuk menjemput Ayu.


"Bos...." Ragu-ragu.


"Ada apa sebenarnya Aldo, cepat katakan. Aku tidak ada waktu." Malik terburu-buru.


"Ada perempuan menunggu Bos di lobby. Aku melarangnya masuk karena dia mengaku pacarmu Bos." Aldo merasa aneh. Karena hanya Ayu yang selama ini Malik cintai sepengetahuan Aldo.


"Gadis gila ini.....ahhhhh...." Malik berteriak mengacak rambutnya frustasi.


"Apa aku harus mengusirnya?" Aldo tidak melihat gadis ini berbahaya.


"Jangan, biar aku menemuinya." Malik merapihkan kembali rambutnya sebelum turun.


Laki-laki ini apakah dia mendua? Padahal dia begitu keras memperjuangkan cintanya pada Nona. Aku benar-benar mengutuknya jika itu terjadi. Aldo bicara dalam hati.


"Jangan mengutukku dalam hati." Aldo terkejut. Dia sering sekali benar membaca pikiran Aldo.


"Kak....." Nikita berlari ke arah Malik.


Para karyawan yang melihatnya merasa iri karena mereka pasangan yang sangat serasi.


Nikita menarik tangannya yang mau menyentuh Malik. Dia ingat Malik tidak suka dia menyentuhkan sembarangan.

__ADS_1


"Aldo temani aku menjemput Ayu." Malik menarik Aldo agar berjalan disampingnya.


"Baik Bos." Aldo menghela nafas, dia tau akan ada di posisi sulit saat ini.


__ADS_2