Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 145 ( Salah Paham )


__ADS_3

Ayu, Malik dan Aldo berkeliling mengitari proyek pembangunan yang sudah setengah jadi. Semua pekerja yang melihat Malik dan Aldo menyapa dengan sangat ramah. Malik sering datang untuk memantau secara langsung proyek-proyek yang menjadi tanggung jawabnya. Jadi para pekerja tau siapa Malik.


“Aku menghitung satu persatu dan tidak ada habisnya barisan perumah ini. Ada berapa rumah Kak.” Ayu merasa penasaran. Dia kesulitan mengingat berapa rumah yang sudah dia hitung.


“Ada kurang lebih 50 Blok. Setiap Blok ada sekitar 15 atau 12 rumah tergantung luas tanah dari setiap bloknya.” Otak Ayu mulai menghitung jumlah rumah yang begitu banyak layaknya kota di perumahan.


Rumah yang ada terbilang besar, Ayu sampai tidak habis pikir kenapa Malik bisa memberikan hasil kerja kerasnya begitu saja pada Ayu. Cinta bisa membuat orang melakukan hal yang mustahil menjadi nyata. Mungkin Ayu harus membiasakan diri dengan kehidupan nya yang penuh keajaiban.


Malik memarkirkan mobilnya di komplek perumahan yang sudah jadi. Malik ingin menunjukkan design rumah yang dia rancang sendiri dengan bantuan arsitek handal perusahaan. Malik sekali lagi ingin menyombongkan diri di depan Ayu.


“Ayo Nona.” Malik kalah cepat dari Aldo. Ayu sudah melenggang berjalan tanpa menunggu Malik. Ayu juga sudah tidak sabar melihat isi rumah yang bangunan luarnya saja sangat indah.


Ada apa sebenarnya dengan Aldo! Kenapa dia seolah sedang menghukumku. Tidak biasanya dia begitu marah. Malik bicara sendiri dalm hati merasa bingung dengan sikap Aldo.


Malik menarik tangan Aldo saat Ayu asyik ngobrol dengan para pekerja yang sedang istirahat untuk makan siang. Ayu tanpa malu-malu menanyakan apa saja yang membuatnya penasaran pada orang-orang yang ada di sana.


“Kau sebenarnya kenapa? Kenapa kau sangat kasar padaku belakangan ini. Kau sudah bosan denganku!” Malik merangkul pundak Aldo cukup keras. Bicara berbisik agar Ayu tidak mendengar percakapan mereka.


“Jangan pura-pura tidak tau kenapa aku marah. Jika semua itu benar-benar terjadi, aku akan membawa Nona pergi menghilang selamanya dari hidup Bos.” Malik menyipitkan matanya merasa tidak paham dengan ucapan Aldo.


“Apa yang aku lakukan pada Ayu. Aku sangat mencintainya. Apa kau marah karena aku sangat menyayanginya?” Malik terharu Aldo sangat mencintai Ayu dan ingin melindunginya.


“Ckckckckck…..” Aldo berdecak merasa kesal pada Malik. “Jangan coba-coba menyakitinya.” Aldo menajamkan ucapannya membuat Malik merasa geli ingin tertawa. Tapi tampaknya Aldo sedang tidak bercanda.


“Al, bicara dengan jelas. Aku benar-benar tidak tau apa maksud kemarahanmu.” Malik menarik Aldo keluar agar bisa bicara dengan leluasa. Malik sampai harus menyeret Aldo yang tidak mau beranjak. Aldo yang kekanakan mengingatkan Malik pada kebiasaannya saat marah.


“Kenapa kau sangat tega pada Nona. Bos tidak ingat apa yang sudah Nona korbankan? Dia bahkan rela menikah dengan laki-laki tua sepertimu.” Aldo keceplosan memaki Malik. Tapi Aldo tidak meyesal.


“Hyaaaa!!!!” Malik berteriak membuat Aldo ciut. “Aku tidak tua, bukankan aku idaman wanita!” Malik memamerkan wajah tampannya di depan mata Aldo. Malik tidak tega memarahi Aldo yang sedang mencoba melindungi Ayu dari dirinya.


“Aku tidak ingin ikut campur, tapi aku telah melakukan kesalahan yang menurutku benar.” Aldo kembali membuat Malik harus memutar otak memahami apa yang Aldo maksud.

__ADS_1


“Kau pikir aku akan tau apa maksud dari ucapanmu jika terus bicara tidak jelas seperti ini!” Malik mendorong Aldo sampai mentok di tembok. Aldo dan Malik seperti benar-benar yang akan baku hantam.


“Aku menghapus foto bukti skandal Bos dengan Nona Nikita. Aku melakukannya demi Nona yang sangat aku sayangi.” Malik melemah, pantas saja Aldo sangat marah pada dirinya.


“Foto apa dan ada dimana?” Malik membawa Aldo lebih jauh dari jangkauan Ayu. Pembicarannya bisa saja Ayu dengar dan bisa berakibat buruk bagi kesehatan Ayu.


“Ada di ponsel Bos yang tertinggal pada Nona Nikita. Aku sudah menghapusnya agar Nona tidak melihat foto yang aku sendiri sangat tidak suka melihatnya." Raut wajahnya penuh amarah.


“Ayu tidak pernah menyentuh ponselku Al. Tapi foto itu ada di ponselku bukan ulahku. Aku bahkan tidak tau ponselku ada dimana saat sampai di pesta semalam.” Malik mulai menaruh curiga pada Nikita.


“Maksudmu foto itu sengaja ada disana tanpa sepengetahuanmu?” Aldo mulai menyadari ada yang janggal. Dia takut wanita yang terlihat sangat baik punya hati yang busuk dan bisa kapan saja menyerang Ayu.


“Aku bahkan tidak tau foto apa yang kau maksud Al.” Malik menghela nafasnya. Lagi-lagi ada orang yang ingin membuat rumah tangganya hancur.


“Jangan katakana apapun pada Nona. Aku harus memastikan dia tidak memikirkan hal-hal tidak penting seperti ini.” Aldo mengangguk, dia menyesal menuduh Malik tanpa bertanya kebenaran yang terjadi.


"Kau bahkan menyeringai membuatku bulu kuduk ku berdiri." Aldo ingat senyum bahagia Malik di dalam foto yang dia temukan.


“Kak…..kenapa aku di tinggalkan.” Ayu terlihat sangat bahagia.


“Apa kau sangat bahagia! Apa cintaku bisa kau rasakan sekarang!” Ayu mengangguk. Aldo ikut tersenyum bahagia melihat kemesraan Malik dan Ayu. Rasanya tidak akan ada yang bisa memisahkan mereka.


“Kak Aldo, kenapa kaka tersenyum sendiri.” Ayu meledek Aldo sampai Aldo tersipu malu. Dia terlihat lebih bahagia dari Malik dan Ayu. Rasa khawatirnya pada Malik yang akan menghianati Ayu sirna sudah, semua itu ulah Nikita yang masih tergila-gila pada Malik tidak tau malu.


Malik mengajak Ayu makan siang, rasanya sudah lama mereka tidak makan di tempat yang enak semenjak Ayu sakit. Malik ingin membuat hari-hari Ayu penuh dengan kenangan kebahagiaan. Rasanya tidak ingin lagi melihat mendung di wajah cantik Ayuna.


Malik memesan tempat VIP seperti biasa, tapi kali ini Ayu menolak. Ayu ingin merasakan duduk di ruangan yang sama degan orang lain tanpa ada batas yang memisahkan.


"Apa kita tidak bisa makan tanpa ruangan VIP, rasanya jadi seperti makan di rumah bukan di restaurant." Ayu memelas berharap Malik mengabulkan keinginannya.


"Bukan tidak bisa, tapi akan ada banyak berita saat wajahku dikenali banyak orang. Kau paham maksud ucapanku?" Malik merasa iba, Ayu pasti sulit selama ini menyesuaikan diri dengan kehidupan Malik.

__ADS_1


Ayu mengangguk melanjutkan langkah nya menuju ruang VIP yang ada di ujung. Wajahnya cemberut membuat Malik gemas ingin memakannya. Pasti lambat laun Ayu bisa menerima keadaan keluarganya yang tidak bisa menjadi keluarga pada umumnya.


"Maaf karena membuatmu tidak nyaman, tapi aku benar-benar tidak bisa seperti yang Ayu inginkan." Ayu melihat mata Malik yang penuh penyesalan. Malik memasang wajah bahagianya. Mantra yang selalu ampuh merayu Ayu saat tidak sependapat.


"Aku tidak apa, aku hanya bercanda. Asal ada Kak Malik cukup Kak. Maafkan aku." Ayu menyesali permintaan sederhana yang ternyata Malik sendiri tidak bisa melakukannya.


"Bos, ada email dari Malaysia. Tawaran kerja sama pembangunan tempat hiburan yang kita ajukan di setujui!" Aldo sangat girang, tapi ini juga akan berat kedepannya. Malik dan Aldo pasti akan bolak balik Malaysia mengurus dan memantau proyek agar bisa selesai tepat waktu dengan biaya yang sudah di hitung anggaran nya.


Malik bahagia proyek yang di ajukan di setujui, Ayu juga akan sibuk tahun ini mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian nasional. Malik bisa mengatur waktu agar pekerjannya tidak mengganggu aktifitas Ayu. Semoga kondisi kedepan akan mendukung Malik agar tidak lagi mendapati Ayu dalam bahaya.


***


Klara asyik berbincang dengan Lissa di depan kolam renang sambil menikmati teh hangat buatan Mamah tercinta. Suara canda tawa di selingi kata lawakan terdengar membuat Mamah yang mendengar nya dari dalam ikut tertawa.


"Kenapa kau tertawa sendiri." Zaldi memeluk Nata dari belakang. Mereka masih mesra di usia yang tidak lagi muda. Nata selalu bisa membuat suaminya jatuh cinta.


"Anak-anak membuat ku ingat masa muda ku dulu." Nata bahagia Lissa bisa kembali ceria setelah terpuruk cukup lama menyesali perbuatannya.


"Tante, kalian membuatku sangat iri!" Nikita ingin punya pasangan yang bisa membuatnya nyaman seperti Paman nya.


"Nikita, om jadi malu kamu melihat kami seperti anak ABG." Zaldi tersipu malu, masuk ke kamar menghindari pertanyaan yang akan membuatnya pusing.


"Kenapa Paman pergi." Nikita tau Paman nya malu saat digoda. Dia selalu menghindari pertanyaan memusingkan.


"Jangan mengganggu Pamanmu. Kau selalu saja membuatnya lari ketakutan." Nata sedih tidak seorang pun dari keluarga nya bisa mendapatkan cinta dari keluarga Rama.


"Aku ingin bergabung, tante mau ikut?" Nikita mengajak Nata ke luar bergabung bersama dua anak gadisnya.


Tiba-tiba saja Nata memeluk Nikita penuh kehangatan. "Jangan simpan dendam ya Nak, kamu wanita yang cantik dan pintar. Kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu inginkan. Asalkan bukan suami orang. OK !!!!" Nikita tersenyum di depan Nata.


Senyum Nikita seolah menyiratkan jika dirinya baik-baik saja tidak bisa memiliki Malik. Tapi tidak demikian yang ada dalam lubuk hati Nikita.

__ADS_1


Nikita berjanji akan membuat Malik jadi miliknya, jika bukan dirinya, maka orang lain juga tidak boleh memiliki Malik. Nikita punya tekad yang kuat jika sudah berkomitmen.


__ADS_2