
Malik tidak bisa berbuat banyak untuk menenagkan Ayu, satu persatu masalah datang seolah sedang menghukumnya. Malik tidak perduli dengan perasaannya saat ini, dia hanya perduli dengan kebahagiaan Ayu. Entah kenapa Ayu tidak pernah di ijinkan bahagia berlama-lama. Dia selalu di uji dengan berbagai macam masalah silih berganti.
Wajah terlelap gadis kecilnya yang begitu teduh membuat Malik terbawa emosi. Teringat kenangan lama yang sudah Malik dan Ayu lewati bersama dalam suka dan duka. Saat keduanya tidak tinggal bersama sampai kini Ayu benar-benar jadi bagian hidupnya.
Krek……
Malik mendengar suara bising mengganggu dirinya yang sedang termenung menatap wajah Ayu, terlihat Adam dan Rey yang sedang membuka bugkus makanan dan air mineral.
“Ayo makan, kau harus punya badan yang sehat agar bisa mendampingi Ayu menghadapi masalah ini.” Rey kali ini yang bertindak sedikit tegas pada Malik. Adam tersenyum ada yang mewakilinya membujuk Malik.
Malik mengikuti langkah kaki Rey membawanya, mulutnya terasa kelu mendengar Rey memintanya untuk makan. Tapi ucapannya ada benarnya.
“Aku tidak selera makan.” Malik menyenderkan kepalanya di pundak Adam. Untung saja Sarah tidak ada, jika ada pundaknya akan dicemari laki-laki cengeng ini.
Adam menyiapkan dua sendok, dia harus memaksa Malik makan seperti yang selalu Sarah lakukan. Malik memang selalu seperti adik kecil bagi Sarah, dia kadang bersikap manja saat hatinya rapuh seperti saat ini.
Tapi tidak semua orang bisa lihat sisi Malik yang kekanakan. Dia hanya menunjukkan nya pada orang-orang yang Malik anggap dekat dengannya. Dia selalu menunjukkan sikap berwibawa nya di depan umum. Mereka tidak tau bagaimana repot nya Adam mengurus Malik selama ini.
“Buka mulutmu.” Malik menggeleng, malas rasanya mengunyah makanan. Hanya ingin melihat Ayu tersenyum dan bahagia.
“Apa semua ini terjadi karena salahku? Aku merasa hidupnya berantakan saat dia berada di sisiku.” Malik memejamkan matanya, Adam menaruh kembali sendok yang sudah dia isi dengan makanan.
"Bukan saat yang tepat bersikap menyalahkan diri sendiri. Kita harus kuat agar Ayu bisa bersandar pada kita semua. Agar dia percaya bahwa kita akan terus mendukungnya sampai akhir." Adam mengeluarkan kata-kata bijak yang membuat Malik memeluknya.
“Kita nikmati saja prosesnya, aku sangat berterimakasih pada Tuhan yang telah mendatangkannya ke dunia. Apapun yang akan terjadi nanti aku tidak perduli, aku tetap mencintainya.” Rey berusaha menahan emosinya agar tidak terlihat jelas.
“Benar, kita sudah terhipnotis dengan ketulusan cintanya. Kita bahkan tidak sadar mencintainya begitu besar.” Adam kagum semua orang sangat perduli dan menyayangi Ayu.
“Tapi tetap saja dia selalu menderita. Apa yang harus aku lakukan agar Ayuna ku bahagia. Aku hanya ingin melihat senyumnya.” Malik mengehela nafas. Semua orang tidak berdaya, hanya bisa menjadi saksi perjalanan pahit hidup Ayu.
__ADS_1
“Setidaknya kau makan dan berusahalah kuat di hadapannya. Jik kita semua mencintainya, pasti Ayu dengan mudah bisa menerima kita dalam hidupnya. Aku bahkan mulai mengkhawatirkan Jofan.” Dia pasti sedih saat tau Ayu menolak masa lalunya.
Jofan sangat bahagia saat tau Ayu adalah saudara kandungnya, dia sudah melepaskan masa lalu yang membuat keluarganya bercerai berai. Ayu adalah hadiah indah yang Tuhan berikan untuk menggantikan kesedihannya di masa lalu.
“Kak…” Ayu mendengar percakapan ketiga pria yang saat ini sedang menjaganya.
Ayu tersenyum karena semua orang sangat perduli dengan kebahagiaannya. Tapi hatinya masih belum bisa menerima jika dirinya bukan anak kandung dari Hadi. Selama ini Ayu sangat dekat dan menyayangi Hadi lebih dari Ayu menyayangi Ibunya.
“Kau sudah bangun?” Adam segera memeriksa Ayu yang baru saja siuman. Semua terlihat normal dan baik-baik saja.
Malik mendekap tubuh Ayu dalam pelukkanya. Keningnya masih hangat, sepertinya Ayu demam. “Keningnya hangat, coba pegang.” Perintahnya pada Adam.
“Itu wajar, Ayu kan baru saja bangun Al. ini bukan demam, Ayu baik-baik saja.” Adam meyakinkan Malik yang masih saja khawatir.
Malik terlihat berulang kali memeriksa keningnya dan Ayu. Adam sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya yang semakin aneh saja belakangan ini.
“Aku mau pulang." Semua tercekat mendengar ucapan Ayu. "Tolong bantu aku melepaskan ini.” Malik menatap Adam yang sama terkejutnya, Ayu harus ada di rumah sakit sementara waktu untuk memastikan keadaannya baik-baik saja.
“Ayu, apa kau bisa berjanji padaku akan lebih baik jika berada di rumah? Apa aku bisa datang kapan saja untuk memeriksa keadaan Ayu?” Ayu mengangguk, air matanya sudah mengembang di sudut matanya. Melihatnya Adam tidak tega menahannya di rumah sakit.
“Apa Kak Rey boleh mengantar Ayu pulang? Kak Rey juga khawatir.” Rey menggenggam tangan Ayu yang memegang lengan baju Malik yang duduk di hadapannya.
Ayu hanya mengangguk, tenggorokannya sakit menahan tangisnya. Sungguh semua yang terjadi bukan salah mereka semua. Ayu tidak mau marah karena akan semakin menyakiti perasaannya sendiri. Ayu berusaha agar terlihat kuat di depan semua orang.
Adam melepas selang infus yang masih menempel ditangannya. Berat mengambil keputusan membiarkan Ayu tanpa pengawasannya. Tapi ketenangan jiwa Ayu lebih penting saat ini. Adam mencoba memahami isi hati Ayu.
“Aku tidak mau kembali ke rumah. Apa aku boleh tinggal di apartemen Kak Malik?” Ayu mengusap air matanya yang lolos. Malik mengangguk, dia sangat bingung harus bersikap bagaimana saat ini. Mengikuti keinginan Ayu sebisa Malik agar Ayu kembali percaya pada dirinya.
“Benar, aku jadi mudah datang untuk mengontrol keadaan Ayu.” Adam mencubit tangan Malik yang masih terlihat bingung. Adam yakin perasaan Malik saat ini bercampur aduk. Dia bahkan terlihat lebih frustasi dibanding Ayu. Ayu terlihat lebih tenang meski air mata tidak bisa membohongi perasannya saat ini.
__ADS_1
“Aku akan bicara pada yang lain. Sementara kita biarkan Ayu menenagkan pikirannya.” Rey keluar memberikan kabar yang semestinya. Mereka harus bekerja sama menjaga Ayu agar tetap dalam kondisi stabil.
Semua terkejut saat mendengar Ayu tidak mau pulang sementara waktu. Hadi membawa Lia ke pelukkannya. Lia cukup lama menahan diri tidak masuk ke ruang perawatan, berharap Ayu memberinya belas kasihan agar bisa tetap memeluknya.
Hadi membawa Lia masuk, mencoba berbicara dari hati ke hati agar Ayu tidak mengambil keputusan yang akan membuat Lia merasa tidak di akui. Lia juga berjuang selama ini agar Ayu mendapat kasih sayang yang besar dari dirinya. Meski setiap kali menatap wajahnya Lia selalu teringat masa lalunya yang kelam.
“Nak…..” Ayu menolak menatap Lia yang berdiri di depan ranjangnya. Tubuhnya gemetar mendengar suara Lia. Ayu menenggelamkan wajahnya di lengan Malik yang masih memeluknya. Malik tau Ayu tidak mungkin bisa menyakiti orang lain apalagi itu Ibunya.
“Ibu tidak akan bosan menunggu Ayu memaafkan Ibu. Jika memang ini yang terbaik untuk kita berdua, Ibu akan selalu mendo’akan Ayu agar suatu hari bisa membukakan pintu maaf untuk Ibu.” Lia terisak, Hadi mencoba menguatkan Lia agar tidak dan tetap berdiri kokoh. Lia mengatur nafasnya agar kembali tenang.
Ayu tidak merespon, dia masih sibuk menyeka air matanya yang banjir membasahi lengan kemeja Malik. Lia tidak tega melihat Ayu yang tidak mau menatapnya, Lia tau bagaimana Ayu. Dia hanya menghindari dirinya agar tidak menyakiti siapa pun dengan sikapnya.
Pasti putrinya saat ini bingung harus bagaimana, seharusnya di usianya ini Ayu sedang menikmati masa remajanya yang penuh dengan kebahagiaan. Lia semakin sedih mengingat jalan terjal yang Ayu lalui selama ini.
"Bapak dan Ibu bahagia lihat Ayu baik-baik saja, kita berdua harus pulang. Kasian Riyan sendiri kami tinggalkan cukup lama." Hadi memeluk Ayu dari balik punggung nya. Nada bicara nya dibuat-buat agar terdengar baik-baik saja.
Malik tidak bisa lepas karena Ayu mencengkeram lenggannya cukup kuat menutupi wajahnya yang sedang menangis. Hadi menggelengkan kepala agar Malik tidak pergi dari posisinya melindungi Ayu.
"Kau tetap putri Bapak yang berharga. Jangan lupa kami menunggu Ayu di rumah kita." Hadi menecup kepala Ayu yang masih tidak bergeming sebelum pergi.
"Nak, jika suatu hari Ayu ingin pulang. Tolong antar Ayu ya Nak. Ibu titip Ayu supaya Nak Malik jaga Ayu dengan baik." Malik mencium tangan Lia yang menggenggam tangan kirinya.
Rey berbalik memunggungi semua orang, air matanya tidak bisa di tahan membuatnya malu. Adam yang menyadari kesedihan Rey tidak tega membiarkanya, Adam menarik Rey dan membawanya ke ruang kerja Adam.
Lia keluar dengan patah hati, belum siap menerima kenyataan putri kecilnya saat ini tidak mau menatap matanya. Hatinya benar-benar rapuh dan lapuk. Ini seperti saat dirinya datang pada Hadi memohon agar janin nya dipertahankan.
"Tenang besan, aku akan menjaga Ayu. Aku akan mengawasinya sendiri dengan jiwa dan ragaku." Mamih memeluk Lia yang masih menangis.
Tidak ada orang tua yang mau dan mampu kehilangan anaknya untuk alasan apapun. Mereka adalah kekuatan yang membuat orang tua bertahan dalam keadaan sulit, sumber kebahagiaan bagi orang tua.
__ADS_1
Rama membawa Hadi dan Lia pulang, Ayu masih belum siap menerima kenyataan tentang jari dirinya. Dia pasti saat ini syok dan begitu terpukul.