
Setelah drama panjang, Malik akhirnya mengantarkan Ayu untuk pulang ke kosan. Awalnya Ayu memaksa untuk pulang sendiri, tapi Malik mengancam akan mengurungnya jika membantah perkataan Malik.
Setelah kurang lebih 20 menit perjalanan, merekapun sampai di rumah kos yang Ayu tinggali.
“Ternyata dekat sekali dengan restaurant ya Yu” Padahal Malik semalam berputar-putar mencari gank kecil yang Ayu maksud. Malik hanya menggelengkan kepalanya.
“Kak Malik antar sampai sini saja ya Kak” Ayu menghentikan langkahnya. Tangannya memegang erat pintu gerbang menuju rumah kosnya.
“Aku mau lihat seperti apa tempat tinggal Ayu” Malik menyentil hidung Ayu dan menerobos masuk tanpa permisi. Ayu pun akhirnya mengekor dibelakang Malik setelah tertegun beberapa saat.
Setelah sampai dihalaman depan, Malik bingung harus berbelok kemana. Karena ada 2 lorong di sisi kanan dan 2 lorong di sisi kiri. Malik berbalik, dia tersenyum karena merasa bodoh dengan sikapnya sendiri.
Ceklek....
“Maaf ya Kak, sedikit berantakan. Ayu tidak sempat beres-beres Kak” Ayu membuka lebar pintu masuk dan mempersilahkan Malik untuk masuk kedalam.
“Ayu nyaman tinggal disini?” Malik sedih melihat tempat tinggal Ayu yang besarnya tidak lebih dari kamar mandi di apartmennya.
“Ini tempat yang dekat dengan tempat kerja Kak” Ayu tersenyum, dia sangat bersyukur selama ini bisa tidur dengan nyaman meskipun tempatnya tidak terlalu besar.
“Kasur apa yang kamu pake?” Malik bahkan hanya melihat karpet kecil yang ada disana. Tidak ada kasur ataupun bantal guling. Malik membuang kasar napasnya.
Malik berkeliling, dia menghitung apa saja yang tidak ada di dalam kamar Ayu. Setelah selesai dengan pengamatannya. Malik langsung menghubungi Aldo.
Tut...Tut..Tut
Tepat didering ketiga Aldo mengangkat telpon dari Malik.
“Al, aku sudah kirim WA beberapa peralatan rumah yang harus kamu beli. Aku minta semuanya segera dibeli sekarang juga supaya bisa digunakan malam ini” Malik terbiasa mengakhiri telpon sebelum ada jawaban dari Aldo.
***
Hari ini Aldo sangat senang karena Malik tidak mengganggunya seharian. Setelah selesai bersantai-santai, Aldo memutuskan untuk joging agar tubuhnya tetap fit.
Aldo sudah berlari kurang lebih 20 menit keliling di komplek perumahannya. Sekalian cuci mata, karena selama ini Aldo jarang sekali punya waktu untuk sekedar tebar pesona dengan wanita.
__ADS_1
Aldo melihat gadis cantik yang sedang duduk dibangku taman, terlihat gadis cantik itu juga mengenakan pakaian olahraga.
Aldo melangkahkan kakinya setelah mencium keteknya. Dia memastikan kalo tubuhnya masih wangi.
“Ehem...ehem...ehem” Aldo berdehem agar sang gadis menoleh ke arahnya. Baru saja akan duduk, telponnya berdering.
Aldo menghela nafas panjang. Malik ternyata, pasti kali ini kesempatannya akan kembali hilang. Padahal gadis itu sangat cantik.
“Iya Pak” Kalo tidak segera diangkat, bisa putus leherku. Aldo bergidik mengingat kelakuan Malik yang suka menghakimi dirinya.
Tut...tut...tut (Sambungan telpon terputus)
Arggghhh.......
Aldo mengacak rambutnya, Malik memang suka sekali mengganggunya disaat yang tidka tepat. Gadis yang melihatnya sedari tadi hanya tersenyum merasa lucu.
Aldo pun merelakan kesempatannya kali ini, dia segera menghampiri ojeg yang ada didekat taman untuk segera mengantarnya ke toserba.
***
Aldo akhirnya meminta supir dan kenek yang mengantar barang untuk membantunya mengangkut barang-barang menuju kerumah kosan yang Malik minta.
Saat sampai didepan gerbang, terlihat Malik sedang berdiri dan sibuk dengan ponselnya. Aldo langsung masuk dan menjatuhkan kasur yang dia tenteng dihadapan Malik.
Brugggg...
Malik kaget karena sedang fokus dengan hal lain. “Al, pelan-pelan” Malik melotot karena merasa terkejut sambil memegang dadanya. “Kalo jantungku sampe pindah tempat bagaimana?” Malik memberi kode ager Aldo mengikutinya.
“Hufttt” Aldo kembali mengangkat kasur yang lumayan berat.
Ayu yang melihat Aldo dan dua orang lainnya membawa barang-barang begitu banyak merasa kaget. Ayu bertanya-tanya dengan apa yang dilakukan Malik.
Tanpa permisi dengan sang pemilik tempat, Malik menyuruh Aldo untuk mendekor kamar Ayu agar mirip dengan foto yang ada di Instagram.
“Harus mirip ya Al” Malik menepuk pundak Aldo dengan keras setelah tersenyum jahat.
__ADS_1
Malik mengajak Ayu untuk jalan-jalan sambil menunggu Aldo mendekorasi ruang kosnya. Ayu pasrah saja, toh Ayu tidak dirugikan.
“Kita jalan kemana? Apa ada tempat yang ingin Ayu datangi?” Malik melajukan mobilnya asal, dia sendiri bingung harus kemana. Selama ini dia bahkan tidak pernah pergi kemanapun selain rumah, sekolah dan kantor.
“Ayu tidak tau tempat manapun di Jakarta selain sekolah, restaurant Kak Rey dan rumah Mbak Murni” Malik menatap Ayus ekilas, ternyata ada yang bernasib sama dengan dirinya.
“Ternyata kita sama, hehehehe” Ayu dan Malik pun tertawa karena sama-sama tidak tau harus kemana.
Malik memutuskan untuk pergi ke danau tempat dia menghilangkan penat. Disana cukup tenang, sejuk dan indah pemandangannya.
Saat sampai di danau, hari sudah gelap. Lampu-lampu cantik sudah mulai menyala menebarkan sinarnya.
Malik sesekali menegcek email di handponenya. Ayu sampai salut karena beberapa kali Malik menerima telpon dengan berbagai bahasa yang berbeda. Sepertinya Kak Malik menguasai beberapa bahasa.
“Maaf ya Yu” Malik kembali fokus dengan Ayu yang sedang menikmati pemandangan dan duduk disebelahnya. Beberapa kali Malik melihat Ayu menghirup nafas panjang dan merentangkan tangannya.
Malik tersenyum, dia bahagia saat melihat senyum Ayu terukir dibibir tipisnya. Tidak ada obrolah yang serius, mereka hanya bercanda dan sesekali saling menggoda.
Ting....
Pesan masuk dari Aldo
“Sudan beres Bos” Aldo menyertakan gambar kamar Ayu yang sudah rapi dengan walpaper. Kasur baru yang kwalitasnya nomor 1 di Indonesia. Dan masih banyak lagi barang-barang mahal yang menghiasi kamar Ayu.
Senyum mengembang dibibir Malik. Dia berdiri dan mangajak Ayu untuk segera pulang. “Kapan-kapan kita main lagi kesini” Malik mengulurkan tangannya. Tapi Ayu berdiri sendiri tanpa menyentuh tangan Malik yang sudah diulurkan.
“Aku masih bisa berdiri sendiri, hehehehe” Ayu tertawa dan berjalan cepat meninggalkan Malik yang masih belum menarik tangannya. Malik hanya menggeleng dan segera menyusul Ayu.
“Kak, apa aku boleh mampir ketempat Kak Rey sebentar Kak” Ayu menatap Malik dangan perasaan serius. Malik membalas tatapan mata Ayu dengan tajam.
“Tidak” Malik kembali fokus dengan kemudi. Dia sedikit jengkel karena Ayu selalu saja mengingat nama Rey dihatinya.
Ayu tidak membantah, sepertinya Ayu sudah mulai paham jika saat ini Malik sedang jatuh hati padanya.
Ayu merasa aneh karena Malik begitu menyayanginya. Tapi ayu juga sedikit tidak nyaman karena usianya dengan Malik terpaut jauh.
__ADS_1