
Pagi ini Aldo berangkat terburu-buru. Kemeja rapih berwarna biru langit membalut tubuhnya yang kekar, tangan kanannya memegang jas yang masih di bungus plastik laudry.
Hari yang sudah lama Aldo tunggu setelah sekian lama penantian.
Sinar surya pagi ini sangat bersahabat, cerah dan bersinar seperti suasana hati Aldo yang sedang bersemi indah. Siulan menggema menemani sepanjang perjalanan.
Aldo kini sedang menunggu Aleta yang sudah janjian akan berangkat bersama pagi ini. Aldo senyum-senyum sendiri karena begitu bahagianya ada wanita mudah yang sangat canti membuka sedikit hati untunya.
Sudah setengah jam menunggu, Aleta masih saja belum muncul ke permukaan. Aldo sedikit gusar karena pagi ini ada meeting dengan Malik dan klien dari properti yang sedang di garap di Surabaya.
Telpon berkali-kali pun percuma, Aleta tidak merespon panggilan telpon Aldo. Dengan sedih Aldo melajukan mobilnya menuju kantor. Hari yang cerah berubah menjadi suram dalam sekejap.
“Pagi Mas Aldo.” Sapa resepsionis dengan ramah.
Aldo biasanya akan menggoda mereka, tapi pagi ini mood nya benar-benar tidak bersahabat. Dia hanya tersenyum kemudian berlalu begitu saja. Mengundang banyak pertanyaan dengan sikap Aldo yang tidak seperti biasanya.
“Al, kamu sudah siapkan laporan hari ini? Kita harus selesaikan hari ini, aku tidak mau di ganggu pekerjaan saat aku libur.” Malik menatap heran wajah Aldo yang lesu.
“Sudah Boss.” Merapihkan berkas yang akan dia bawa ke ruang meeting dengan wajahnya yang masih sendu.
“Kau sehat Al. Kau sepertinya sakit.” Malik masih penasaran.
“Iya Boss, aku mengidap penyakit kronis. Jantungku hampir meledak pagi ini.” Malik berdiri, memeriksa kening Aldo dengan tangannya. Menyamakan panas kening Aldo dengan keningnya.
“Tidak panas.” Aldo menarik tangan Malik, meletakkannya di dada Aldo dan menatap mata Malik dengan penuh penderitaan.
Malik mundir menghindari Aldo, tapi tangan Malik masih di genggam erat oleh Aldo menyentuh dada Aldo.
“Disini Bos.” Meninggalkan Malik yang masih mematung.
Malik mengikuti Aldo setelah sadar dari rasa terkejutnya.
Ting....
Pintu lift terbuka.
Ada perang dingin di dalam lift. Kebetulan saja Aleta satu lift dengan Aldo dan Malik.
Tapi karena merasa kesal, Aldo tidak membuka suaranya. Hanya menatap Aleta dengan pandangan penuh kemarahan.
Aleta hanya tersenyum merasa bersalah, dia melupakan janjinya pada Aldo karena pagi ini terburu-buru memenuhi panggilan atasannya.
Pagi ini sangat sibuk karena ada beberapa berkas yang harus di selesaikan sebelum jam 8 pagi.
Aleta sangat tau bagaimana perasaan Kak Aldo. Dia bahkan tidak berani menatap mata Aldo karena sangat menyesali perbuatannya.
Dan apes nya lagi, ponselnya tertinggal di kamar kos nya.
Sepanjang meeting Aldo tidak bersemangat, membuat Malik jadi terbawa suasana dan tidak konsentrasi.
Tapi karena keahliannya, meeting tetap berjalan lancar dengan hasil yang memuaskan.
“Al, kemari.” Malik membuka lebar pintu ruangannya agar Aldo mengikutinya masuk ke ruangan.
“Iya Boss.” Aldo hanya pasrah, suasan hatinya sedang kacau.
“Kau kenapa? Apa ada masalah serius? Apa kau benar-benar sakit?” Malik berdiri bertolak pinggang.
“Iya Boss. Apa ini yang selama ini Boss rasakan? Rasanya lebih sakit dari yang aku pernah rasakan.” Dahi Malik berkerut.
“Apa hubungannya penyakit kamu denganku Al. Bicaralah yang masuk akal. Aku tidak mengerti.” Malik mengacak rambutnya frustasi.
“Kau dulu pernah merasakannya. Siang malam kamu menggangguku untuk membantu Bos mendekati Ayu.” Aldo terkejut karena berteriak pada Malik.
“Kau.” Malik tersenyum.
“Maaf Boss.” Aldo menyesali teriakannya yang membahana.
Malik tersenyum, dia sudah tau jawaban penyakit yang Aldo maksud. “ Keluarlah, beli makanan yang manis. Dinginkan kepalamu.” Aldo undur diri dengan perasaan kecewa yang masih memenuhi raganya.
“Al, ayo kita makan sama-sama. Hari ini Aleta mengajak kita makan bersama. Dia bilang mau traktir gaji pertamanya.” Teriak Rera dari meja kerjanya saat melihat Aldo keluar dari ruangan Malik.
Aldo tidak menggubris ajakan Rera. Mendengar nama Aleta membuat deru jantungnya terpacu begitu cepat.
Aldo mengasingkan diri siang ini. Makan sendiri tanpa Rera ataupun sahabat lainnya.
"Kak Rera, apa Kak Aldo tidak ikut? Dia pasti sangat marah padaku." Aleta merasa bersalah.
"Kenapa juga dia marah, dia yang menolak ajakan kamu. Harusnya kamu yang marah." Rera tidak tau masalah mereka berdua.
__ADS_1
Selesai makan Aleta membeli kopi. Menunggu denga sabar kedatangan Aldo di depan ruang kerjanya.
Akhirnya yang di tunggu muncul dengan wajah yang masih lesu seperti tadi pagi.
"Kak Al, aku membelikan Kak Al kopi." Aleta menyodorkan kopi ke arah Aldo.
Aldo tidak menanggapi, dia berjalan melewati Aleta tanpa menyapanya.
Aleta menarik panjang nafasnya, mengumpulkan keberanian menghadapi Kak Aldo.
"Kak, ini kopi kesukaan Kak Aldo. Cobalah." Tersenyum semanis mungkin.
Aldo tetap tidak bergeming. Berpura-pura fokus dengan pekerjaannya.
"Aku mohon maafkan aku Kak. Aku tidak lupa kalau kita janjian ber....." Aleta tergagap, melihat Aldo begitu marah membuat nyalinya ciut.
"Kau, keluar. Aku sibuk." Masih pura-pura tidak perduli. Padahal sangat ingin tau alasannya dia melupakan janjinya.
"Setidaknya cobalah Kak."
Pyurrr....
Awwwww....
Tangan Aleta tersiram kopi panas yah dia pegang. Aldo menolak tangan Aleta cukup keras sampai kopi tumpah.
"Rera, apa yang kau lakukan." Malik memergoki Rera yang sendang mengintip pertengkaran rekan sejawatnya.
"Eh...maaf Pak. Ini..." Malik tidak menghiraukan Rera. Kini Malik mengikuti perbuatan Rera.
Mereka mengintip berjamaah.
"Kau tidak apa-apa. Apa tanganmu terluka?" Aldo merasa khawatir. Karena percikan air yang megenai tangannya cukup panas.
"Panas Kak." Aleta mengibaskan tangannya. Mengurangi panas yang mulai menyebar di lapisan kulitnya.
"Kau ini ceroboh sekali." Aldo menarik tangan Aleta. Membawanya duduk di kursi kebesarannya.
Aldo berjongkok mengambil kotak p3k yang ada di laci mejanya. Mencari salep luka bakar untuk mengurangi rasa sakit.
"Maaf Kak Al. Aku benar-benar menyesal." Aleta tidak bisa menahan kesedihannya. Perbuatannya sangat menyinggung perasaan Kak Al.
"Kau menangis, tenang lah." Aldo memeluk Aleta setelah mengoleskan salep di tangannya.
"Tolong maafkan aku. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi." Aleta masih terisak.
"Aku tidak marah. Aku hanya...ehhh... lupakan. Tenang yah." Aldo membelai lembut rambut Aleta yang hitam tergerai.
Setelah tenang, Aldo mengantarkan Aleta untuk turun ke ruangannya.
Dugg....
Pintu membentur kepala seseorang.
"Bos, maaf. Aku tidak sengaja." Aldo mengernyit, Aldo heran kenapa mereka ada di depan ruangannya.
Malik megusap kepalanya yang sedikit berdenyut.
"Rera, besok suruh orang perbaiki pintu ini. Membuatku celaka saja.
Malik berlalu meninggalkan kebingungan di benak Aldo. Di susul Rera yang lari terbirit-birit.
"Mencurigakan. Mereka pasti menguping." Berkata sangat lirih.
Aldo mengantarkan Aleta ke ruangannya. Hati yang mendung kini sudah ber pelangi disiram cinta.
"Masuklah, pulang nanti aku antar." Tersenyum manis. Membuat Aleta tersipu malu.
***
Siang ini Ayu di jemput Pak Dodo, salah satu supir keluarga Malik.
"Pak, kita mampir yah. Aku mau beli ice Cream." Ayu membayangkan ice Cream lumer di mulutnya.
Pak Dodo menepikan mobilnya. Parkir dengan tertib setelah itu turun mengikuti kemanapun Ayu berjalan.
Ayu merasa sedikit risih, tapi dia harus terbiasa. Setelah kejadian kemaren, Malik tidak membiarkan Ayu berjalan sendiri.
"Bapak mau rasa apa?" Menawarkan pada Pak Dodo.
__ADS_1
"Tidak Non terimakasih." Sungkan menerima tawaran Ayu.
"Jangan terlalu formal, lakukan itu di depan Kak Malik dan Ayah." Ayu tersenyum.
Memesan 2 mangkok ice Cream coklat yang menggugah selera.
Pak Dodo masih berdiri bingung harus bagaimana. Tidak mungkin juga menolak makanan yang sudah di pesan.
"Pak, duduklah. Tidak apa. Jangan sungkan." Ayu menarik paksa agar pak Dodo mau duduk bersamanya.
Mereka menikmati ice Cream yang rasanya sangat lezat. Sesekali Ayu melempar candaan agar suasana tidak canggung.
Tiba-tiba saja ada tangan yang menutup kedua mata Ayu dari belakang. Ayu terkejut, sendok yang di pegang nya sampai jatuh ke lantai.
"Tebak siapa aku." Ayu tertegun.
Pak Dodo bingung, kalo Boss melihatnya, pasti akan marah besar.
Ayu melepas paksa tangan yang menutup kedua matanya.
"Kak Oji." Ayu bahagia, sudah lama tidak bertemu dengannya.
"Apa kau masih suka ice Cream?" Oji duduk di sebelah Ayu. Ayu mengangguk. Dia tersenyum tanpa tau perasaan Oji yang sebenar nya saat ini.
"Kau pasti sangat menderita. Aku akan membantumu lepas dari laki-laki ini." Ayu kaget mendengar ucapan Kak Oji.
"Aku baik-baik saja Kak, aku tidak menderita. Aku bahagia." Ayu teringat kata-kata Jofan untuk tidak mendekatinya.
"Jangan berpura-pura, aku tau bagaimana perasaan mu." Oji menggengam tangan Ayu.
Ayu mencoba melepaskan tapi tidak bisa. Itu hanya akan menyakiti dirinya sendiri.
"Kak lepaskan." Ayu meronta.
"Tuan tolong jangan kurang ajar. Aku bisa bersikap kasar." Pak Dodo sudah berdiri tegap.
Orang-orang yang bekerja di tempat Rama sudah terlatih. Mereka semua menguasai ilmu bela diri untuk selalu siap dalam semua kondisi.
Huuhhhhh....
Oji mendengus kesal. Dia mencoba menahan amarahnya agar tidak meledak di depan Ayu.
"Katakan pada Bos mu. Lepaskan Ayu dengan suka rela, atau aku akan membawanya secara paksa." Oji berlalu setelah mengulas senyum ke arah Ayu.
Setelah kejadian itu Ayu bergegas pergi dari toko ice Cream. Dia sangat takut mendengar ancaman dari mulut Kak Oji.
"Pak, tolong jangan katakan apapun pada Kak Malik." Ayu takut mereka akan dalam masalah.
"Tidak bisa Nona. Ini masalah yang serius."
"Pak!!!" Ayu terjingkat kaget oleh suara nya sendiri. "Hehehe, maaf. Aku telalu bersemangat." Malu sendiri.
"Aku mohon pak, tolong jangan katakan apapun." Wajah polis merayu pertahanan Pak Dodo.
"Baiklah Nona. Aku tidak akan mengatakannya." Dodo mengalah di depan Ayu.
Tok...tok...tok...
Kepala Ayu muncul dari balik pintu. Dia mendapati Malik berdua bersama karyawan wanita yang sangat cantik.
Muka Ayu yang tadi sangat ceria berubah menjadi sendu. Tapi tetap melangkah dengan senyum.
Malik menangkap aura cemburu di wajah istrinya. Ide jahatnya mulai muncul di kepala.
"Kamu boleh melanjutkan pembicaraan kita nanti. Saat kita hanya berdua." Karyawan perempuan itu merasa Bos nya sedikit aneh.
Dia mengangguk dan kemudian pergi meninggalkan Malik dan Ayu.
Ayu melirik Malik yang masih sibuk dengan dokumen-dokumen yang menumpuk di atas meja nya.
Duduk dengan lunglai karena persaan cemburu menguasai hati nya.
Laki-laki selalu saja tidak bisa menjaga mata dan pandangannya. Dia bilang hanya sayang padaku, tapi dia melirik banyak karyawan cantik di sini. Berperang batinnya.
"Kau sudah makan?"
"Sudah" Suara nya lirih hampir tak terdengar.
"Kau tidak menjawab pertanyaanku!" Ayu duduk merapihkan bajunya yang sedikit berantakan.
__ADS_1
"Sudah Kak. Kak Malik sudah makan?" Terpaksa menanggapi dari pada masalah melebar.
Malik menahan senyum di bibirnya. Tidak menatap Ayu sedikitpun, membiarkan Ayu tenggelam dengan perasaan cemburunya.