Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 111 ( Camping Part 4 )


__ADS_3

Malik semalaman tidak menggerakkan badannya. Dia takut menganggu Ayu yang sedang terlelap di pelukannya. Banyak beban yang Ayu pikul sendiri demi kebaikan banyak orang. Malik merasa semakin mencintainya saat ini. Tidak rela jika ada orang yang berbuat jahat padanya apalagi sampai menyakitinya.


Malik terasa masih ada di alam mimpi saat Ayu membangunkannya. Senyum cantiknya yang semalam pudar sudah kembali.


Entah kapan dirinya terlelap, Malik merasa masih memeluknya tadi, dia tidak sadar saat Ayu bangun dan melepaskan pelukannya.


"Kak...." Ayu tersenyum lalu memeluk erat Malik yang baru saja membuka matanya.


"Kenapa sayang?" Malik membawa Ayu dalam dekapannya. Memeluknya erat penuh rasa cinta.


"Terimakasih sudah datang. Apa aku membuat Kak Malik khawatir?" Ayu merasa tidak enak hati tapi juga bahagia.


"Tentu saja, tapi aku datang bukan karena perasaan khawatir." Menyentuh pipi Ayu dengan kelembutan. "Aku datang karena tidak bisa menahan rindu." Pipi Ayu seketika merona mendengar ucapan Malik.


Jantung Ayu terpacu tidak beraturan. Selalu saja merasa malu saat Kak Malik mengungkapkan isi hatinya.


"Bos.....Ah...maaf Bos." Malik membulatkan matanya melihat Aldo masuk tanpa permisi ke tenda nya.


"Kau ini, selalu saja mengganggu ku." Ayu mencubit lengan Malik merasa malu.


"Aku tadi lihat Nona, jadi aku pikir kalian sudah selesai...." Tidak melanjutkan kata-katanya.


"Aku ke tempat teman-temanku ya Kak. Aku harus bersiap ikut senam pagi." Malik mencium kening Ayu sebelum melepaskannya.


"Kenapa Al. Kau tegang sekali." Malik merasa ada yang tidak beres.


"Aku sudah dengar cerita lengkap apa yang terjadi di sini Bos." Aldo yakin Malik pasti akan mengamuk.


"Lalu..." Meneguk teh hangat yang Ayu bawakan.


"Semua kejadian sepertinya sengaja, karena selalu Nona yang jadi incaran. Tapi Edward bilang Oji ada di kediamannya."


Malik menarik panjang nafasnya. Menghembuskan nya perlahan untuk mengurai emosi yang sudah mulai menguasai dirinya.


"Apa kamu punya petunjuk?" Malik tidak terpikirkan satu nama pun.


"Masih belum Bos. Hans dan teman-teman panitia lain akan mencoba mencari tau Bos." Malik bangun dari duduknya, dia harus menghirup udara segar.


"Sementara ini kita awasi saja, pastikan Ayu aman dan tidak jauh dari jangkauan kita." Aldo seperti sedang bicara dengan orang lain.


Malik biasanya selalu emosi dan berteriak di gendang telinganya saat marah. Tapi kali ini dia tersenyum seperti bukan Malik.


Malik duduk di bangku kayu panjang yang memang sudah ada di dekat lapangan. Terlihat semua siswa sudah berbaris rapih untuk senam pagi.


Ayu mudah ditemukan, hanya dia siswa di sekolah Malik yang mengenakan hijab.


Malik bahagia melihat Ayu bercanda tawa bersama sahabatnya.


"Aldo, siapa gadis yang bergandengan tangan dengan Ayu. Aku baru melihatnya." Malik melihat Martha.


"Dia itu siswa pindahan. Dia bergabung bersama kelompok Nona Bos." Aldo tidak melihat Martha berbahaya. Dia siswa biasa.


"Awasi dia, aku tidak mau Ayu percaya pada orang asing yang baru saja dia kenal." Malik selalu curiga pada siapa saja.


"Baik Bos." Aldo hanya bisa menurut.


Malik kembali menikmati pemandangan indah di depan matanya. Melihat senyum Ayu pagi ini yang cerah, membuat hati Malik ikut berbunga-bunga.

__ADS_1


Dari kejauhan Malik melihat ada kebahagiaan dalam diri Ayu. Layaknya remaja pada umumnya, seperti tidak ada beban seperti yang sebenarnya saat ini sedang menghantuinya.


Aldo menjaga Ayu dari kejauhan saat Malik meninggalkannya untuk membersihkan diri.


Aldo tersenyum melihat Ayu dikelilingi sahabat-sahabat yang sangat menyayanginya. Dia jadi ingat dengan Samuel yang akhir-akhir ini sangat sibuk dan sulit dihubungi.


Setelah senam berakhir, panitia membawa semua siswa berkeliling sekitar hutan untuk memetik sayuran hijau dan mencabut ubi dan singkong.


Para siswa antusias melakukan kegiatan yang belum pernah mereka lakukan. Berbeda dengan Ayu, dia sudah terbiasa dengan pekerjaan ladang dan sawah seperti ini.


Dia menawarkan diri berbagi ilmu pada teman-teman nya.


Dengan cekatan Ayu mencoba memberikan instruksi bagaimana cara mencabut ubi dan singkong dengan benar. Ternyata pekerjaan apapun harus mengunakan ilmu agar pekerjaan terasa lebih mudah dilakukan.


Semua siswa mengikuti instruksi dari Ayu, panitia bahkan tidak terpikir cara yang tepat untuk mencabut ubi dan singkong dengan baik agar tidak tertinggal di dalam tanah.


Selesai kegiatan ladang yang cukup menguras tenaga, semua siswa kembali ke tenda untuk membersihkan diri. Menyerahkan hasil panen untuk di olah menjadi makanan lezat.


Ayu dan sahabat-sahabatnya selalu mandi bersama karena merasa takut dengan suasana kamar mandi yang gelap ditengah hutan.


"Apa yang mereka lakukan?" Malik heran mereka berempat masuk ke kamar mandi yang sama sambil menggosok rambut nya yang masih basah.


"Mandi Bos." Jawab Aldo sekenanya.


"Nenek-nenek juga tau Al. Tapi kenapa mereka semua masuk dalam 1 ruangan. Kan masih banyak tempat lainnya." Malik merasa iri.


"Mungkin mereka lebih suka mandi bersama." Aldo tersenyum. Membuat Malik semakin heran.


"Biasanya cewek-cewek kalau mandi suka membicarakan hal-hal nakal Bos." Aldo iseng menggoda Malik.


"Hal nakal bagaimana Al." Dia saja tidak pernah Ayu ajak mandi bersama. Ayu masih belum menyerahkan dirinya. Malik juga dengan sabar menunggu kesiapan Ayu.


"Belum Bos, anak-anak panitia juga sama. Tidak ada yang mencurigakan." Semua yang ikut camping tidak ada yang membuat mereka curiga.


"Kita harus tetap waspada." Malik iri melihat masa muda yang begitu indah. Dulu dirinya tidak punya kesempatan seperti yang mereka semua dapatkan.


Semua siswa menikmati sarapan dengan ubi dan singkong hasil panen. Makan dalam keadaan lapar membuat semua orang menjadi semangat. Bahkan makanan sederhana seperti ini terasa sangat nikmat.


Malik baru kali ini makan singkong dan ubi rebus. Biasanya dia makan ubi di restaurant dalam bentuk yang berbeda. Tapi Malik menyukainya. Rasanya natural dan membuat lidah nya menikmati setiap gigitan.


Hari ini para siswa kegiatannya mencari teka teki petunjuk yang sudah di sebar di berbagai penjuru hutan tidak jauh dari perkemahan.


Semua siswa bahagia mengikuti setiap acara dan tantangan yang di susun oleh panitia.


Setelah mendapat petunjuk pertama, setiap kelompok siap memasuki hutan belantara.


Aldo dan Malik mengikuti Ayu dan team nya dari kejauhan. Mereka merasa kembali muda.


Jofan menemukan petunjuk kedua, mereka di arahkan masuk ke dalam hutan lebih dalam.


Saat mencari petunjuk, tangan Martha tidak sengaja memegang tumbuhan penuh duri. Tangan nya berdarah dan ada beberapa duri yang menancap di tangannya.


"Aduh....sakit Kak." Rengek nya pada Jofan yang sigap memberikan pertolongan.


Sandra cemburu dengan sikap Jofan yang manis pada Martha. Selalu saja ada yang merebut perhatian Jofan darinya.


Malik lari secepat mungkin mendekati Ayu dan teman-teman nya.

__ADS_1


"Apa kamu terluka?" Ayu menggeleng, Malik lega.


"Kenapa tidak hati-hati." Aldo membantu Jofan menarik duri yang menancap di tangan Martha.


Martha mulai tidak bisa menahan air matanya. Luka nya tidak dalam, tapi cukup membuatnya merasa kesakitan.


"Tenang yah, ini akan baik-baik saja. Tumbuhan ini tidak berbahaya." Mereka melanjutkan pencarian setelah menempelkan plester di tangan Martha yang luka.


Mereka berjalan dalam penuh penghayatan. Berharap petunjuk selanjutnya segera di temukan.


"Yu, di sebelah sana." Martha menunjuk bendera kecil yang tersembunyi di balik ranting dan daun yang rimbun.


Tangannya tidak bisa meraih bendera yang dia lihat karena tangannya masih sangat sakit. Ayu segera berlari untuk meraihnya.


Akhhhhhhh......tolong..... tolong...


Kaki Ayu masuk dalam jebakkan sebuah tali yang menyeretnya ke dasar jurang.


Malik, Aldo dan Jofan lari secepat kilat meraih tali, tangan dan tubuh Ayu yang terseret ke dasar jurang. Tapi ketiganya gagal karena Ayu terseret begitu cepat.


Ayu berhasil meraih akar pohon yang ada di sekitarnya. Menahan beban tubuhnya yang tersangkut di tebing jurang yang cukup dalam.


Dada Malik terasa sesak dan berat. Pikirannya sudah tidak terkontrol. Malik mengatur nafasnya agar emosinya kembali terkontrol. Dia harus tenang agar bisa menyelamatkan Ayu.


"Nona, pegang tanganku. Lepaskan ranting itu Nona. Ayo raih tanganku." Ayu ketakutan. Hanya isak tangis yang terdengar. Aldo tidak bisa meraih Ayu, tangannya tidak sampai. Kecuali Ayu mengulurkan tangannya.


"Ayu, raih tangan Kak Aldo. Cepat. Ayu!." Suara Jofan semakin membuat Ayu panik.


Dia bahkan memejamkan mata tidak berani melihat apa yang ada di bawahnya.


Ketiga sahabat Ayu berteriak meminta bantuan pada yang lainnya.


Ayu masih memejamkan mata. Dia sudah pasrah jika memang ini takdir nya.


"Ayuna... malaikat ku." Suara Malik perlahan menyadarkan Ayu. Matanya perlahan Ayu buka.


"Kau ingat bagaimana kita bertemu? Aku melakukan banyak hal untuk dapat perhatian mu. Kamu wanita yang sangat baik, kamu berjuang demi mimpi mu." Ayu sadar, dia tidak boleh menyerah begitu saja.


"Kau percaya padaku?" Ayu mendongak, di atasnya banyak orang-orang yang sangat menyayanginya.


Malik mengulurkan tangannya, dadanya sendiri bergemuruh takut usahanya gagal dan malah membuat Ayu celaka.


Malik tau Ayu masih ragu meraih tangannya, dia juga pasti sangat takut jika usahanya tidak berhasil.


"Percayalah padaku. Kau ingat janjiku. Akan aku tepati sampai kapanpun." Malik mencoba tersenyum agar Ayu yakin.


Ayu perlahan mengulurkan tangannya. Akar pohon yang dia genggam erat tiba-tiba saja putus. Malik meraih tangan Ayu tanpa mempertimbangkan keselamatannya.


Untung saja Aldo dan Jofan segera meraih kaki Malik dan berhasil menahan nya. Perlahan Jofan dan Aldo menarik tubuh Malik yang memeluk erat tubuh Ayu.


Malik menangis melihat Ayu tidak sadarkan diri di pelukan nya. Tubuhnya ikut lemas, entah apa yang terjadi jika Ayu benar-benar jatuh ke dasar jurang.


Aldo segera membawa Malik dan Ayu ke rumah sakit terdekat. Malik membisu, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Dia hanya memandangi wajah Ayu yang masih tidak sadarkan diri.


Sepanjang perjalanan Aldo cemas melihat kondisi Malik. Dia seperti hilang kesadaran meski matanya terbuka. Aldo bicara pun tidak Malik respon.


Aldo bingung harus berbuat apa sekarang. Langkah pertama menurutnya yang tepat adalah membawa keduanya ke rumah sakit.

__ADS_1


Malik benar-benar terlihat hancur, Aldo sampai tidak tega dan terpaksa menghubungi Rama agar membantu Malik menemukan kesadarannya yang hilang.


__ADS_2