Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 167 ( Aku Akan Mengundurkan Diri )


__ADS_3

Aldo baru saja sampai di depan Lobby kantor saat Malik menghubunginya untuk segera menjemput Ayu pulang. Suara Malik terdengar khawatir membuat Aldo ikut khawatir. Dengan kecepatan penuh Aldo memutar setir mobilnya menuju sekolah Ayu.


Dan benar saja, keadaan sekolah sangat ramai pagi ini. Semua siswa terlihat ramai di luar sekolah tanpa pengawasan. Aldo segera menuju ruang kelas Ayu. Sandra dan Melani tampak sedang memeluk Ayu dan teman-teman satu kelas lain tampak menjaga pintu kelas.


Hanya ruang kelas Ayu yang sunyi, ruang kelas lain sangat ramai dengan kebisingan yang mereka ciptakan. Aldo bisa paham situasi apa yang saat ini Ayu dan Malik hadapi. Aldo tersenyum ramah pada semua teman-teman Ayu.


"Nona, cepat kemasi barang-barang Nona." Ayu menurut saja, Sandra dan Melani membantu Ayu mengemasi buku-buku pelajarannya. "Terimakasih sudah menjaga Ayu." Aldo mengucapkan terimakasih dengan menundukkan kepalanya di depan teman-teman Ayu sebelum keluar dari kelas.


Kini Ayu dan Aldo berdiam diri di dalam mobil. Aldo menatap wajah Ayu yang tampak sangat terpukul. Ayu tampak menahan air matanya. Rasanya Aldo ingin meninggalkan Ayu seorang diri agar bisa menangis dengan puas. Tapi apa jadinya kalo dia sendirian, kejahatan mengintai hidupnya di mana saja.


"Kenapa semua orang yang aku sayangi menderita! Apa aku sebaiknya tidak ada di sini Kak?" Setelah kesunyian tiba-tiba saja pertanyaan yang pasti sangat menyakitkan untuk dirinya muncul. Aldo tidak mau asal bicara, mencoba berpikir keras menjadi bijak dalam situasi seperti ini.


"Bos pasti bisa mengatasinya Nona, jangan khawatir." Hanya senyum palsu yang Aldo lihat. Matanya tidak bisa berbohong. "Nona aku punya cemilan di bagasi, apa Nona mau makan?" Ayu menggelang segera.


"Aku sedang tidak lapar Kak Al." Ayu kembali menatap jendela dengan tatapan kosong.


Sementara itu terjadi keributan yang tidak bisa dikendalikan di ruang rapat. Semua orang tua siswa saling berteriak menyuarakan kegelisahan hatinya.


"Ganti kepala sekolah!"


"Jangan pekerjakan orang yang tidak bermoral!"


"Jangan buat anak-anak kami menanggung akibat dari perbuatannya!"


"Keluarkan anak haram itu dari sekolah ini!"


Kata-kata kotor dan masih banyak lagi pernyataan tidak baik yang keluar begitu saja. Malik tidak bisa mengontrol emosinya karena mereka semua juga menghina Ayu yang tidak tau apa-apa.


Malik berteriak meminta para orang tua murid untuk bersabar pun sia-sia, mereka sangat emosional sampai sulit di kendalikan. Malik melawan puluhan ibu-ibu seorang diri sangat kewalahan. Akhirnya Malik duduk terdiam tanpa bicara satu patah katapun. Para orang tua murid perlahan meredup suaranya. Mereka memperhatikan Malik yang diam saja.


"Pak Malik, kenapa bapak diam saja." Malik tersenyum, ternyata bukan balik berteriak saat menghadapi ibu-ibu mengamuk. Cukup diam.

__ADS_1


"Apa bisa beri aku kesempatan untuk bicara?" Semua nya mengangguk dan sebagian ada yang menjawab dengan suara kerasnya.


Malik melarang kepala sekolah masuk karena kehadirannya hanya akan menambah kemarahan, Malik takut orang tua murid tidak bisa mengendalikan emosinya dan mencelakai kepala sekolah.


"Sebenarnya kepala sekolah dengan masa lalunya tidak bisa kita protes, apa ada dari kita yang tidak punya masa lalu? Setidaknya kepala sekolah sudah membuktikan diri bagaimana kerja kerasnya selama ini sampai sekolah kita jadi sekolah terbaik di Jakarta ini." Semua terdiam membenarkan apa yang Malik ucapkan.


"Tapi bagimana jika masalah ini mempengaruhi anak-anak kami Pak." Seorang ibu yang tampak masih emosional bicara menggebu-gebu.


"Anak-anak sekolah kita sangat terpelajar. Mereka tidak dengan mudah terpengaruh isu-isu yang merugikan diri mereka. " Malik masih lantang bicara.


"Jangan menyepelekan masalah seperti ini Pak Malik. Kami ingin anak-anak kami belajar dengan tenang." Malik kenal wanita yang baru saja bicara.


Malik tersenyum, dia mulai gusar. "Apa yang sebenarnya ingin ibu-ibu semua sampaikan. Apa ada solusi atas keresahan hati ibu-ibu saat ini?" Malik mencoba menggali keinginan para ibu-ibu yang berdemo.


"Tolong pertimbangkan untuk mengeluarkan salah satu diantara mereka berdua. Selamatkan masa depan anak-anak kami Pak Malik." Malik menelan ludahnya berulang kali. Kepalanya sedikit berdenyut mendengar permintaan yang sulit dia kabulkan.


"Kenapa permintannya sangat sulit. Mereka berdua orang yang sangat penting bagi diriku." Malik bicara lirih pada dirinya sendiri.


"Aku yang akan keluar!" Semua menatap pintu masuk, Ferdinan berdiri dan berjalan perlahan memasuki ruangan rapat. Malik menggeleng agar Ferdinan tidak melanjutkan kata-katanya. Ferdinan sudah berdiri di depan audience.


"Aku yang bersalah atas masa laluku. Tidak ada hubungannya dengan putri kandungku. Aku akan segera membuat surat pengunduran diri. Saya mohon maaf karena menyebabkan kekacauan di sekolah ini." Semua terdiam mendengar ucapan Ferdinan. Segera Ferdinan keluar dari ruang rapat.


"Jangan menyesali keputusan anda kepala sekolah. Memang anda harus berkorban demi anak-anak didik yang sudah anda besarkan. " Seorang ibu bicara dengan bangga. Semua orang tua pasti akan membela anak-anak nya seperti yang saat ini sedang mereka lakukan.


Semua ibu-ibu yang ada di ruang rapat bertepuk tangan bangga dengan keputusan kepala sekolah yang pasti tidak mudah. Dia sudah menjabat puluhan tahun sebagai kepala sekolah sampai bisa membesarkan nama sekolah sebesar ini. Pasti berat meninggalkannya begitu saja.


Malik akhirnya bisa keluar dari ruang rapat dengan hati yang lega meskipun keputusannya tidak terlalu baik. Malik segera menuju parkiran setelah bicara dengan kepala sekolah yang saat ini sedang bahagia. Ferdinan merasa lega, setidaknya dalam hidupnya dia pernah berkorban demi putrinya.


Sandra tampak sedang berdebat dan bersitegang dengan ibunya. Malik menghampiri mereka dan dari kejauhan Malik bisa mendegar pembicaraan mereka.


"Pak Malik. Kita bicara lagi nanti. " Mendorong tubuh Sandra agar segera masuk ke dalam kelas. Malik tersenyum ke arah Sandra yang terlihat sedih. Ibu Sandra pasti mengenal baik siapa Ayu. Mereka sering menghabiskan waktu bersama.

__ADS_1


"Apa kita bis bicara sebentar?" Malik meminta Ibunya Sandra mengikutinya. Saat ini mereka berdua duduk berhadapan dengan wajah yang serius.


"Apa yang Pak Malik bicarakan? Saya harus pergi ke toko saya." Merasa canggung .


"Apa tidak keterlaluan meminta Sandra menjauhi Ayu? Mereka sahabat baik. Aku kenal bagaimana mereka saling menyayangi. " Malik menatap penuh kesedihan mendalami perasaannya. Ayu akan sangat sedih jika teman-temannya menjauhinya.


"Kau tidak akan pernah tau bagaimana perasaanku selama ini. Membiarkan anakku bergaul dengan gadis yang aku tidak tau asal-usulnya. Aku ketakutan setiap saat. Bagaimana jika terjadi hal buruk pada putriku!" Perasaan yang wajar bagi seorang ibu.


Malik mengangguk "Aku yang bertanggung jawab atas masa depan Ayu. Apa aku tidak bisa dipercaya!" Malik masih berusaha meyakinkan.


"Jangan memaksa ku. Aku tidak mau putriku salah pergaulan. " Ibu Sandra pergi begitu saja. Malik kini hanya memikirkan apa yang akan terjadi jika Ayu tau. Masalah Murni saja masih dirahasiakan. Sekarang muncul masalah lagi yang akan membuat Ayu sedih.


Malik berjalan gontai memikirkan kebahagiaan Ayuna. "Kak Malik." Malik mengenal suara ini. Malik segera berbalik. Malik tersenyum melihat Sandra berdiri di depannya dengan air matanya yang berderai.


"Kenapa menangis?" Malik memeluk Sandra agar tenang. Dia pasti sangat sedih, ini yang akan Ayu rasakan jika tau kemarahan ibu Sandra. "Jangan menangis, kita hadapi ini bersama." Sandra mengangguk dan segera melepaskan dirinya dari tangan Malik.


"Tolong jangan katakan apapun pada Ayu, aku tidak mau Ayu bersedih. " Ucapan yang seharusnya keluar dari mulut Malik tapi Sandra mengatakannya lebih dulu. Malik bangga mereka bersahabat dengan sangat baik. Malik mengangguk, Sandra segera pergi setelah Malik menyetujui permintaan nya.


"Kalian menunggu lama?" Malik membuka pintu mobil dan menarik Ayu agar duduk di belakang bersamanya. Malik mendekap tubuh Ayu dengan lembut. Ingin memindahkan segala beban berat yang dia pikul. "Semua akan baik-baik saja." Malik sangat tau dan paham kegundahan hati Ayu.


Aldo saja sangat sedih, apalagi mereka berdua yang merasakannya. Menatap iba pada dua orang yang sangat dia sayangi. Aldo menghentikan mobilnya saat ada panggilan masuk dari rumah sakit. Menatap mata Malik yang saat ini juga sedang menatapnya.


Aldo menepi " Bos, aku ingin buang air sebentar. Perutku sakit." Aldo segera lari setelah memarkirkan kendaraannya. Malik pura-pura tertawa melihat tingkah Aldo, padahal hatinya sedang sangat cemas. Malik takut hal buruk terjadi.


"Ayo kita turun, kita cari makanan enak." Malik membawa Ayu mengelilingi kue-kue dan roti enak yang ada di etalase.


Ayu tidak menyentuh satupun, padahal biasanya dia akan sangat bahagia saat Malik mengajaknya belanja makanan. Malik mengalah, dia memilih kue-kue dan roti yang biasa Ayu makan. Saat perasannya pulih dia pasti akan sangat lapar.


Aldo keluar dengan wajahnya yang terlihat tenang. Malik tau itu kabar baik. Akhirnya Malik bisa lega. Setelah selesai membayar makanannya. Malik memutuskan segera pulang. Tidak mood lagi bekerja hari ini. Malik akan bekerja dari rumah.


Apartemen nya tidak seperti biasanya sepi, lobby utama terlihat sangat ramai. Malik tidak langsung masuk, dia menghubungi pihak keamanan gedung untuk memastikan apa yang sedang terjadi.

__ADS_1


Ternyata para wartawan yang berkumpul mencari dirinya. Berita tentang dirinya yang menikahi gadis di bawah umur sudah tercium awak media. Hari ini benar-benar melelahkan. Malik memutuskan pulang ke rumah besar. Masalah demi masalah beruntun membuat tubuhnya lemah.


__ADS_2