
Plakkkk……plakkk……
Murni mendapat tamparan keras dari suaminya yang semakin hari semakin tidak Murni kenali sikap dan sifatnya. Dia seperti orang yang berkepribadian ganda. Terkadang manis seperti Ali yang Murni kenal, tapi terkadang dia lepas kendali seperti orang gila yang tidak bisa menahan amarahnya.
Murni terisak di pojok ruang tamu dengan bibir dan pelipis mengeluarkan darah karena pukulan Ali cukup keras. Murni tidak berani berteriak meminta bantuan, itu hanya akan membuatnya malu memiliki suami temprametal seperti Ali.
“Kenapa kau mengusik perempuanku! Aku sudah katakan jangan pernah ikut campur masalah pribadiku!.” Ali melemparkan gelas yang sedang dia pegang tepat mengenai kepala murni.
Murni hilang kesadaran karena benturan keras, kepalnya mengeluarkan darah cukup banyak membuat Ali ketakutan. Ali sadar perbuatannya sudah membahayakan nyawa Murni. Dengan cepat Ali membawa Murni ke rumah sakit terdekat. Kepala Ali berdenyut menyadari kesalahannya bisa saja Murni laporkan ke Polisi. Tapi Ali juga tidak mau kehilangan wanita yang sangat dia cintai.
Malik dan Adam melihat Ali memasuki rumah sakit menggedong wanita yang tidak sadarkan diri berlumuran darah. Mereka menghentikan percakapan yang sedang berlangsung dan menghampiri Ali. Adam dan Malik pernah bertemu Ali satu kali, mereka tidak bertegur sapa tapi tau bahwa Ali adalah saudara yang menelantarkan Ayu.
“Apa yang terjadi?” Malik terkejut melihat Murni berlumuran darah.
Bagaimanapaun mereka pernah menjaga Ayu sebelum bertemu dengan Malik.
Ali tidak menanggapi pertanyaan Malik, dia mengikuti suster dan dokter UGD yang mendorong Murni ke dalam ruangan untuk diberikan pertolongan. Saat ini Ali tidak bisa berpikir jernih, dia takut kehilangan Murni dan takut di tangkap karena melakukan KDRT.
Adam menangani langsung untun menyelamatkan Murni. Dia harus menjaga orang-orang yang Ayu sayangi sebagai bentuk terimakasih karena telah menyelamatkan Putra dan Istri tercintannya. Semua ini tidak akan cukup dengan apa yang telah Ayu berikan untuknya dan keluarganya. Gadis yang selama ini Adam dan Sarah kagumi karena ketulusan, kesabaran dan kerendahan hatinya menjalani hidup yang penuh dengan cobaan.
Malik masih menunggu di depan ruangan Murni, memperhatikan Ali yang tidak berhenti menghembuskan kasar nafasnya dan berjalan bolak-balik terlihat sangat khawatir. Dia pasti sangat takut jika harus kehilangan wanita yang dia cintai.
Krekkkk…..
Suara pintu terbuka, Ali dan Malik menghampiri Adam yang baru saja keluar dari ruangan. Wajahnya terlihat tidak bersahabat. Ada kemarahan yang Malik rasakan.
“Dok, bagaimana keadaan istri saya?” Ali gemetar, dia berharap Murni selamat dan mengampuni perbuatannya.
“Tuan, apa yang sebenarnya terjadi?” Adam memeriksa luka yang Murni alami. Bahkan di tangan dan beberapa bagian tubuh masih ada bekas lebam yang masih membiru seperti bekas pukulan.
“Dia terjatuh. Aku ingin melihat nya.” Ali menghindari pertanyaan Adam lebih lanjut. Dia takut perbuatannya akan ketahuan meninggalkan Adam memasuki ruangan.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” Malik merasa ada yang tidak beres.
“Aku akan memeriksa pasien lebih lanjut besok. Saat ini pasien membutuhkan istirahat. Kau juga, sana temani Ayuna.” Adam berjalan meninggalkan ruangan Murni yang saat ini masih tertidur. Malik merasa ada yang Adam tutupi, dia akan bungkam jika apa yang dia duga belum tentu benar.
__ADS_1
Saat ini Adam akan mencari tau apa yang sebenarnya terjadi pada Murni, luka yang dia alami begitu banyak jika suaminya bilang dia terjatuh. Lukanya mirip dengan pukulan tangan, lebamnya juga tidak hanya di satu bagian, ada di beberapa bagian yang membuat Adam mencurigai sebagai penganiayaan.
Malik tersenyum saat masuk ruangan dan mendapati Ayu terlelap dengan wajah yang menenagkan jiwanya. Malik tidak akan pernah melepaskannya, cukup satu kali saja Malik memilih keputusan dan jalan yang sampai saat ini dia sesali.
Dia tidak akan pernah menukar kebahagiaan Ayu dengan apapun diduania ini. Malik tidak bisa menahan diri untuk tidak mencintainya. Ayu seperti kekuatan tersendiri yang mampu membuat Malik merasa berharga.
“Kak, kenapa belum tidur?” Ayu terbangun karena perutnya merasa lapar.
“Kenapa kau bangun? Kau rindu suamimu?” Malik sering mengulang mengingatkan Ayu agar ingat ikatan suci diantara mereka.
“Aku masih tidak percaya kalau kita benar-benar sudah menikah. Tapi Ibu dan Bapak juga mengatakan hal yang sama padaku kemaren.” Ayu tidak ingat sampai Malik menelpon Ibu mertuanya agar Ayu yakin dengan apa yang Malik katakan.
Saat ini Malik sama sekali tidak bisa menyentuh Ayu, dia masih merasa rishi dan takut. Malik harus menjaga diri agar Ayu merasa nyaman. Malik harus bersabar dan perlahan membantu Ayu menemukan memorinya yang hilang.
“Kak, apa kita sudah pernah melakukannya.” Ayu tertunduk malu. Malik menghentikan tangannya yang sedang mengupas buah apel.
“Melakukan apa? Aku bisa saja berpikir kotor jika tidak kau jabarkan pertanyaan mu dengan benar.” Malik tau maksud pertanyaan Ayu, tapi pura-pura tidak paham karena Malik sendiri merasa malu.
Laki-laki ini bisa saja, bagaimana mungkin aku mengatakan apa maksud pertanyaan ku dengan jelas. Aku saja rasanya ingin menarik kembali uacapanku. Ayu meracau dalam hati menyesali pertanyaan bodohnya.
“Hahahahahaha…..” Malik terbahak membuat Ayu semakin merasa malu. “Kau ini ada-ada saja. Cepat makan buahmu dan jangan berpikiran kotor.” Malik masih tertawa agar Ayu tidak merasa canggung.
Drettt….dretttt…..
Ponsel Malik bordering, Malik masih duduk di samping Ayu saat menjawab panggilan telponnya.
“Iya Al.” Wajah nya berubah tidak bersahabat. Malik terlihat menaakutkan membuat Ayu sedikit khawatir.
“Kala tidak akan pernah aku ampuni. Aku yang akan memberi perhitungan dengannya.” Malik membanting ponselnya kasar di atas kasur. Kesabarannya hilang saat mendengar nama orang yang sudah berani menyakiti Ayu.
Kala nama yang tidak asing bagi Ayu, ada kenangan melintas di benaknya. Seorang laki-laki tinggi besar berdiri dengan senapan panjang yang sedang membidiknya. Ayu merasakan sesak di dadanya, Ayu mencoba mengatur nafasnya tapi semakin sesak. Kesadarnnya semakin menurun karena semakin sulit bernafas.
“Ayuna….ayu…..Kau kenapa! Dokter…..dokter…..cepat kemari.” Malik histeris melihat Ayu yang tiba-tiba saja tidak sadarkan diri.
Adam masuk memeriksa kondisi Ayu, sepertinya Ayu benar-benar masih terguncang. Dia hilang kesadaran dan kondisinya maish belum stabil.
__ADS_1
“Apa yang kau katakan sampai dia pingsan?” Adam sudah berusaha menyampakan sejelas-jelsanya agar Malik tidak memicu ingatan yang bisa membuat Ayu terguncang.
“Aku terbawa emosi saat Al menelponku dan mengatakan Kala berusaha bunuh diri.” Malik menyesal, bisa saja ucapannya memicu ingatan Ayu sampai Ayu tidak sadarkan diri.
“Kau harus lebih hati-hati. Kau ini selalu saja emosional. Jangan sampai aku melarangmu menemui Ayu.” Adam marah karena Malik terus saja membuat Ayu menderita.
“Aku janji akan lebih hati-hati. Aku akan lebih tenang aku janji.” Malik yakin ancaman Adam tidak main-main kali ini. Malik tidak mau sampai ancamannya jadi kenyataan.
Adam tidak meninggalkan Ayu sampai dia siuman, Adam harus mengawasinya lebih ketat sekarang. Malik masih tidak bisa menjaga diri agar tidak mengungkit masa lalu yang membahayakan keselamatan Ayu.
“Adam, apa kejadian tadi bisa membahayakan keselamatan Ayu?” Malik tidak tau kalau ucapannya begitu mengguncang Ayu.
Adam langsung bangkit saat melihat jari-jari Ayu yang bergerak, lega karena Ayu siuman dengan cepat. Adam sangat takut Ayu bisa saja koma karena terlalu memkasakan diri mengingat kejadian yang membuatnya trauma.
“Dokter, Kak.” Ayu mencoba duduk, Malik menopang tubuh Ayu dengan lengannya yang kekar. Menjadi sandaran untuk tubuh Ayu yang masih lemas.
“Aku ingat sedikit peristiwa yang menakutkan. Apa yangs sebenarnya terjadi?” Ayu merasa penasaran karena semua orang bilang dia di rawat karena kelelahan. Padahal ada beberapa luka yang tidak wajar di kepalanya.
“Apa yang kau ingat? Apa tidak papa memaksakan Ayu mengingatnya saat ini? Aku bahkan melarang semua orang memancing ingatan yang Ayu lupakan, biarkan semua Ayu ingat dengan alami. Terlalu beresiko jika Ayu terlalu memaksakan diri.” Adam tidak bisa menahan diri untuk tidak mengomel.
“Aku takut, aku tidak mau mengingatnya.” Malik tersenyum bahagia saat Ayu tenggelam dalam pelukkannya. Kesempatan langka karena selama ini Ayu menolak dirinya.
Awww…..
“Kenapa kau memukulku!” Malik terkejut saat pukulan mendarat di bahunya.
“Jangan mencari kesempatan.” Adam memang jail, dia senang saat Malik marah dengan ulahnya. Ayu malu memeluk Malik didepan Adam. Ayu mengendurkan pelukkannya yang erat, tapi entah mengapa Ayu merasa nyaman. Rasanya sentuhan Malik tidak asing baginya.
“Aku harus kembali kekamar Sarah. Jaga dia dengan baik, jangan mengulangi kesalahan yang sama atau aku tidak akan tinggal diam.” Adam mengancam Malik.
“Tenang saja, kebahagiannya lebih berharga dari apapun di dunia ini.” Mendengar ucapan Malik, Ayu tersipu malu. Rasanya sangat bahagia tapi tidak bisa di ugkapkan dengan kata-kata.
Adam mengecup kening Ayu sebelum meninggalkan ruangan, Malik merasa iri karena Ayu tidak menolak dan membiarkan Adam melakukannya. Ayu sendiri terkejut karena Dokter Adam memperlakukanya sangat manis.
Malik meradang, tapi dia hanya bisa memaki di dalam hati. Malik tidak mau membuat Ayu sedih karena sikap dan sifatnya yang kekanankan. Malik semakin bersungut-sungut melihat Adam yang menyeringai.
__ADS_1