
File yang dicari akhirnya Malik temukan di dalam map yang pernah Murni serahkan pada Ayu seperti dugaan Malik. Sebelum menyerahkan bukti pada pihak berwajib, Malik mencopy semua data ke dalam laptopnya. Memeriksa isi di dalam hard disc sebelum menyerahkannya.
Isi di dalamnya sunggun mencengangkan. Banyak dokumen tentang penyalahgunaan wewenang atas jabatan orang-orang penting yang seharusnya mengayomi rakyat tapi malah memperkaya diri sendiri yang memakai jasa Gunawan sebagai keamanan. Sampai praktek perdagangan orang yang selama ini ada di bawah naungan organisasi yang Gunawan dan Ali kendalikan saat ini.
Masih banyak lagi kasus-kasus yang membuat bulu kuduk bergidik. Jual beli illegal obat-obatan terlarang dan barang-barang yang dilarang diperjual belikan secara bebas. Malik sampai keringat dingin melihat isi file berbahaya yang ternyata ada pada Ayu.
“Dam, apa kau tidak takut melihat isi file ini?” Tidak ada jawaban. “Dam….Dam…” Malik melirik mata Adam yang tidak berkedip karena tercengang dengan apa yang dia lihat. Malik menepuk tangan Adam yang ada di pundaknya.
“Aku tidak habis pikir. Ternyata ada komplotan penjahat yang sebesar ini.” Adam tersenyum kecut, tapi mereka tidak bisa berkutik dengan kemampuan kita.
“Ini tidak main-main Tuan. Kita harus bicarakan baik-baik agar tidak berdampak pada keluarga Tuan kedepannya.” Pras takut orang-orang yang terkait kasus akan balas dendam di kemudian hari.
“Benar apa yang Pras katakan. Kita tidak boleh gegabah. Banyak orang-orang penting yang akan terseret jika kasus ini sampai di buka.” Malik terlihat berpikir keras.
“Biar saya yang cari jalan keluarnya Tuan. Kalian tenang saja.” Pras memang selalu bisa diandalkan. Dia cekatan dan tidak pernah mengecewakan.
“Aku mengandalkanmu Pras. Huhhhh….” Malik sedikit lega karena ada orang-orang yang selalu membantunya bangkit saat terjatuh.
“Oh iya Dokter, saya sudah meminta tim medis menjemput Dokter sarah dan Murni secara diam-diam. Saya pastikan perjalanan mereka akan aman tanpa di ikuti oleh orang-orang suruhan Gunawan.” Adam memeluk Pras berterimakasih.
“Aku mau punya asisten seperti Pras. Aku tidak mau Aldo.” Malik tau Adam sedang meledeknya.
“Adam, Aldo juga akan seperti Pras kalau sudah aku latih.” Pras hanya tersenyum merasa lucu. Malik merasa terhibur melihat Adam bergelayut di tangan Pras.
Pikirannya kembali melayang pada file-file yang baru saja dia lihat. Pantas saja, Ali seperti punya kepribadian yang tidak bisa ditebak. Ternyata dia mencoba menyembunyikan kejahatan demi kejahatan yang selama ini dia lakukan. Malik sangat bersyukur karena Murni selamatkan Ayu dari cengkeraman manusia seperti Ali. Ternyata orang yang selama ini Malik benci karena membiarkan Ayu seorang diri justru malaikat penolong. Malik menyesal selama ini berprasangka buruk pada Murni.
Entah apa yang akan terjadi pada Ayu jika Murni tidak menyadari penyimpangan Ali sejak awal. Pasti saat ini Ayu bisa saja jadi salah satu korban yang daftar namanya ada di dalam file-file yang tersimpan dengan rapat.
Krekkkkk…..
Ayu muncul dari balik pintu yang terbuka. Semua mata tertuju padanya. Ayu menyadari masuk ke kamar pada waktu yang tidak tepat.
“Maaf aku tidak tau kalau….” Ayu sudah membalikkan badannya ingin kembali turun.
“Ayuna!” Malik memintanya mendekat dengan jari telunjuknya. “Kemari, kami sudah selesai.” Ayu berjalan perlahan dengan wajah nya yang menahan malu.
“Dam, Pak Pras. Kita lanjutkan lagi nanti.” Keduanya segera meninggalkan kamar Malik. Adam masih masih bergelayut membuat Pras kesulitan berjalan.
__ADS_1
“Bye….. Ayuna!” Adam membuat Ayu tersenyum.
“Adam! Hanya aku yang boleh memanggilnya begitu!!!.” Adam tidak menghiraukan Malik. Dia masih berjalan santai dengan Pras yang sangat bersahaja, berbeda dengan Adam.
“Kak Malik harusnya jangan menyuruh mereka pergi. Aku kan jadi tidak enak.” Ayu bicara dengan ekpresi wajahnya yang kesal. Malik tidak perduli. Dia masih sibuk dengan penyalinan dokumen ke lapotop nya.
“Kau masih saja malu-malu. Mereka yang seharusnya tidak enak karena membuat kamu malu.” Malik meraih tangan Ayu yang berdiri di depannya.
“Kau sudah makan? Apa ada yang ingin kamu minta padaku?” Ayu menggeleng. “Kenapa kau tidak pernah minta apapun pada ku!” Ayu tersenyum melihat wajah Malik yang memelas.
“Kak Malik sudah berikan semua yang aku butuhkan. Aku bahkan bingung menggunakannya.” Bicara semanis madu agar Malik terhibur. Tiba-tiba raut wajah Malik berubah.
“Ada yang ingin aku tanyakan.” Nada bicara serius. Ayu menyimak dengan penuh rasa penasaran. “Apa yang Murni katakan saat menyerahkan tabungannya padamu.” Ayu mencoba mengingat.
“Aku tidak ingat.” Masih mencoba mengingat kejadiannya. “Apa ada yang salah Kak?” Menyerah berpikir sendiri karena tidak ada yang aneh menurut Ayu.
Itu artinya dia tidak tau tentang isi hard disc yang Murni simpan di dalam map.
“Kau yakin!” Ayu mengangguk. “Aku sedang serius sayang. Jangan main-main.” Wajah Ayu terlihat tidak serius.
“Lihat istriku ini, sudah pandai merajuk sekarang.” Ayu masih terlihat kesal. “Aku hanya penasaran saja.” Malik mencubit pipi Ayu yang membuatnya gemas.
“Hari ini aku akan menyelesaikan pekerjaan ku. Apa aku bisa percaya padamu untuk tidak ceroboh saat bertindak selama aku tidak ada?” Malik seolah akan pergi untuk waktu yang lama.
“Aku akan baik-baik saja.” Wajah Ayu semakin sedih. “Memang pekerjaan apa Kak?” Ayu tau Malik tidak suka dirinya terlalu banyak ingin tau.
“Kau sudah dewasa sekarang.” Malik menyetuh puncak kepala Ayu dengan lembut. “Apapun yang terjadi kau harus ingat. Tidak akan ada yang bisa memisahkan kita apapun yang terjadi. Aku hampir kehilangan dirimu beberapa kali. Tapi lihat, kamu mampu bertahan. Kamu wanita yang sangat hebat.” Malik memeluk Ayu dengan erat.
Kenapa tiba-tiba Kak Malik bicara selembut ini. apa yang sebenarnya terjadi, dia membuat ku takut. Ayu tidak berani bertanya lebih jauh, lebih baik tidak tau daripada membuat dirinya semakin ketakutan.
Ayu dan Malik kembali berkumpul bersama keluarga besar untuk makan malam. Mamih sangat menikmati waktu kebersamaan yang menguras semangatnya menyiapkan berbagai makanan enak untuk para tamu.
Terlebih ada Melani dan Sandra yang menghiburnya dengan tingkah jenakanya. Mahesa yang sangat baik meski Sarah cukup lama meninggalkannya. Ana terpaksa memberikan Mahesa susu formula karena stok Asi Sarah habis. Ana menikmati waktunya bersama Mahesa, serasa memiliki seorang putra.
“Bayi besar ini merepotkan Mu?” Tanya Rey saat melihat wajah Ana yang sangat lelah. Ana menggeleng. “Aku tidak percaya, lihat matamu. Hitam seperti nenek lampir.” Ana memukul dada Rey yang mengejek dirinya.
“Hitung-hitung latihan sebelum aku benar-benar punya anak sendiri.” Ana tersenyum, terlihat wajahnya sangat bahagia. Wanita yang selama ini tulus menemani perjalanan hidup Rey dengan penuh kesabaran. Wanita yang menepikan egonya demi hubungannya dengan Rey.
__ADS_1
Jika bukan karena dirinya, Ana pasti saat ini sudah menjadi seniman yang sukses. Dia memiliki bakat yang luar biasa, beberapa tahun ini Ana benar-benar fokus pada bisnis yang Rey kembangkan. Padahal Rey tau, dia sangat mencintai bakatnya.
“Terimakasih Istri ku.” Ana mengernyit. Tidak biasanya Rey semanis ini. “Kau sudah membuat aku sadar, aku harus bahagia agar orang-orang yang menyayangi ku juga bahagia.” Ana mengangguk.
“Kau sedang mabuk!” Ana tersipu malu. “Aku merasa ada yang aneh dengan isi kepala mu. Hehehehe….” Ana memegang kening Rey sambil tertawa.
“Apa selama ini aku sangat kasar?” Ana menggeleng. “Aku akan berusaha merubah apapun yang kamu tidak suka dari ku.”
“Kau bukan kasar. Kau dingin seperti es.” Ana masih tersenyum bangga pada Rey. “Apa gunung es ku sudah mencair?” Rey mengangguk.
“Ada wanita baik hati yang melelehkannya.” Rey memeluk Ana yang saat ini memangku Mahesa yang terlelap di gendongannya.
“Kak Rey, Kak Ana. Ayo kita makan!” Ajak Jofan dengan wajah belepotan tepung terigu. “Ayo! kenapa kalian malah menertawai ku.”
Rey mengambil alih Mahesa dari tangan Ana. Merasa kasian jika Ana harus menggendong Mahesa yang tidak ringan lagi. “Ayo sayang. Kamu juga harus banyak makan.” Ana semakin bahagia dengan sikap Rey yang sangat romantis padanya. Meski dingin, dia sering kali memperlakukan dirinya seperti wanita paling istimewa di dunia.
“Putraku!” Rey mengindar menjauhi Adam yang sangat berisik. Ana meminta Adam tidak berisik dengan isyarat tangan. “Oh, dia tidur. Ayah rindu Nak!” Adam kesal karena Rey melewatinya begitu saja.
“Dokter, biarkan saja Mahesa bersama kami. Dokter fokus saja dengan Sarah.” Adam mengangguk dengan mata berkaca-kaca haru. Banyak orang-orang yang sangat mencintai keluarganya.
“Ayo kita makan An. Aku harus memperlakukan mu dengan baik. Aku pasti kebingungan jika tidak ada wanita sebaik diri mu.” Adam menggandeng tangan Ana ke meja makan. Semua orang sudah berkumpul untuk makan malam bersama.
“Adam! Singkirkan tangan mu itu.” Rey menatap tajam mata Adam.
“Iya…iya, kau sama saja dengan Malik. Aku juga punya wanita istimewa, tenang saja!.” Semua terhibur dengan pertengkaran Rey dan Adam. Adam menyendokkan nasi ke piring Ana. Ana yang tau Adam sedang menggoda Rey hanya pasrah saja.
“Kita juga akan semesra itu kan saat sudah menikah?” Sandra berbisik di telingan Jofan. Tidak ada reaksi apapun.
Dasar laki-laki angkuh, tapi aku cinta! Jerit Sandra dalam hatinya. Jofan benar-benar suka sekali membuat dirinya kesal.
Sandra iri melihat Kak Ana menyuapi Kak Rey yang tangannya repot menggendong Mahesa yang masih terlelap meski sangat bising. Mahesa juga terlihat sangat nyaman, tidak terganggu oleh canda tawa yang memenuhi ruang makan keluarga Rama Saputra.
Tiba-tiba saja Ayu teringat kedua orang tuanya, meski ada Ferdinan yang menemaninya selama ini. ayu merasa Bapak sangat jauh sekarang darinya. Jarang sekali mengabari dan menelpon jika bukan Ayu yang menghubungi mereka duluan.
Biasanya sehari paling tidak Bapak menelponnya sekali sekedar menanyakan kabarnya hari ini, tapi sekarang mereka sangat jauh. Bahkan adiknya yang suka sekali merengek meminta uang jajan juga sama, seolah mereka ingin Ayu lebih dekat dengan keluarganya yang baru Ayu temukan.
“Are you ok?” Malik menyadari pandangan mata Ayu yang kosong, dia pasti memikirkan hal lain. Pikirannya tidak fokus dengan orang-orang yang ada di sekitarnya saat ini. Ayu berusaha menutupinya dengan tawa. Tetap saja tidak bisa membohongi Malik yang sangat tau sifat Ayu. Malik membiarkan Ayu menahan diri untuk tidak menampakkan kesedihannya di depan banyak orang, dia memang sangat dewasa.
__ADS_1