
Semenjak pulang dari Puncak, Lissa mengurung diri di dalam kamar. Membut ibu dan Klara khawatir dengan perubahan sikap Lissa yang pendiam dan murung tidak seperti biasnya.
“Klara, kenapaLissa murung sekali Nak? Dia tidak ceria seperti biasanya? Dia bahkan tidak keluar dari kamarnya semenjak pulang dari puncak. Apa yang sebenarnya terjadi Nak?” Klara memeluk Mama Nata dengan penuh kasih sayang. Mencoba memberikan kehangatan.
“Dia hanya kehilangan semua file di dalam handpone nya Mah. Dia akan baik-baik saja. Tenang ya Mah, jangan terlalu khawatir. Ingat jantung Mama yah.”Natalia menarik nafas panjang, mencoba berpikir positif agar tidak mengganggu kesehatannya.
Setelah menenangkan Mama, Klara masuk ke kamar Lissa. Klara tersenyum manis, tidak biasanya Lissa akan sesedih ini kehilangan sesuatu.
“Apa sudah lebih baik?” Klara meraih tangan Lissa dan menepuknya perlahan. Lissa hanya mengangguk tanpa suara.
“Apa ada hal yang sangat penting di dalam handpone Lissa?” Klara kaget melihat Lissa yang tiba-tiba terisak.
Klara mendekap tubuh adik kesayangannya, memeluk dan menenangkan Lissa dengan penuh kasih sayang.
“Sudah sayang, kalo memang ada yang sangat berharga coba ceritakan hal apa itu. Kaka akan mencoba mencari tahu bagaimana mengembalikannya ke dalam ponselmu”.
“Aku kehilangan video yang aku buat” Lissa menunduk. Tapi dia tau kalau Klara akan selalu melindunginya seperti biasanya.
“Iya, video seperti apa?” Lissa mengangkat dagu adiknya agar menatap matanya.
“Aku membuat video mesum Kak Malik dengan Ayu.”
Brugggg.....
Klara jatuh terduduk khilangan keseimbangan mendengar hal mengerikan yang keluar dari mulut adiknya. Rasanya seperti disambar petir di siang bolong.
Kepala Klara tiba-tiba saja pusing dan tidak bisa berpikir dengan baik. Berulang kali menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Menata ritme jantung yang berantakan dan tidak terkendali.
Lissa yang melihat reaksi Klara sangat takut, bagaimana jika Papa dan Mama tahu. Pasti reaksi mereka akan lebih menakutkan dari reaksi Kak Klara.
Lissa hanya mampu meremas jemariya, terisak dan mencoba meminta perlindungan dari sorot matanya. Klara berdiri, sudah sedikit reda emosinya.
“Jangan katakan apapun pada siapa pun. Diam saja!.” Klara meninggalkan Lissa yang masih terisak sendirian. Rasanya tidak percaya Lissa mampu melakukan perbuatan yang sangat buruk pada sahabatnya.
***
“Pak, Tante. Sedikit lagi kita sampai ya” Kaki Aldo kram mengendarai moil cukup lama. Hal yang sama di rasakan Sam. Tapi beruntung Sam sudah diantar Aldo terlebih dahulu.
Sam menolak ikut dengan Aldo ke tempat Malik. Dia tidak mau jadi bagian dari kehancuran seorang gadis kecil seperti yang diceritaka Aldo.
Hanya Sam yang selalu Aldo ajak diskusi dan mencari jalan keluar setiap masalah yang dia hadapi. Sam seorang psikiater, dia sudah lama menjadi penasehat bagi sabahatnya yang sudah seperti saudara kandung. Sam orang yang bisa dipercaya Aldo. Dia tidak akan membicarakan apapun yang Aldo ceritakan pada orang lain.
Mobil sudah terparkir di halaman apartmen. Aldo membukakan pintu belakang secara bergantian. Lia merasa terkejut dengan perlakuan Aldo pada mereka.
__ADS_1
Tapi ya sudahlah, mungkin itu sebagai bentuk penghormatan terhadap orang yang lebih tua dari Aldo. Mereka masuk dan berjalan di belakang Aldo yang selalu menengok ke belakang setiap beberapa detik kemudian tersenyum.
“Jalan yang benar Mas Aldo, nanti kesandung loh lirik-lirik ke belakang terus.” Hadi mencubit kecil tangan istrinya. Menyuruhnya untuk diam dan tidak memancing keributan.
“Maaf Tante” Aldo sedikit malu karena ketahuan dan di tegur pula. Tapi Aldo sangat khawatir dengan apa yang akan terjadi nanti.
“Aku dulu pernah tinggal di tempat seperti ini Pak. Waktu aku kerja di Jakarta dulu Pak.” Hadi menatap istrinya yang menceritakan Jakarta pada jamannya.
“Jangan membuatku mengingat apa yang sudah lama terjadi. Aku sudah melupakan semuanya.” Ada kemarahan dan kekecewaan yang terkubur dalam.
Mereka sudah memasuki lift. Tidak berapa lama Lift berhenti di lantai 5 tempat tinggal Malik. Aldo memencet bel dan menunggu sang pemilik membukakan pintu.
“Halo Aldo. Tumben sekali kau datang ke....” Adam tidak sempat menyelesaikan kalimatnya saat melihat dua orang yang berdiri di belakang Aldo. Adam mengangkat kedua alisnya. Mencari jawaban dari ketidaktahuannya.
“Oh maaf Dok, saya sampe lupa. Ini kenalkan Bapak dan Ibunya Mbak Ayu”
“Delia” Menyamali Adam yang sedang terkejut setengah mati.
“Hadianto” Masih terkejut dengan apa yang terjadi saat ini.
“Silahkan Pak, Bu. Silahkan masuk” Hadi dan Lia masuk ke dalam tanpa kecurigaan.
Adam menarik tangan Aldo menjauhi apartemen Malik. Aldo sangat terkejut karena Malik tidak menceritakan apapun tentang kedua orang tua Ayu yang akan datang.
“Kau gila. Apa semua ini perbuatan Malik?”
Huh...
Adam tidak percay dengan apa yang sudah Malik putuskan. Tentu saja mereka akan membunuh Malik jika menceritakan apa yang terjadi pada putri mereka.
“Assalamualaikum” Hadi dan Lia masuk ke dalam dengan bergandengan tangan.
“Wa’alaikum salam. Apa ini dengan Ayah dan Ibunya Ayuna?” Kali ini Malik yang ketakutan. Tidak siap jika harus kehilangan Ayu.
“Benar Mas. Saya Hadi dan ini istri saya Lia” Mereka bergantian berjabat tangan. Malik mempersilahkan mereka masuk dan duduk di ruang tamu.
Ketakutan menyelimutinya sekarang. Ternyata membayangkan dan menghadapi mereka secara langsung sangatlah berbeda.
“Ayuna” Sarah dan Ayu menengok bersamaan.
“Kenapa Al?” Sarah yang menyahut.
“Di depan ada Bapak dan Ibu Ayu” Ayu menyipitkan matanya tidak percaya. Apa mungkin Kak Malik sedang berhalusinasi?
__ADS_1
“Aku tidak sedang bercanda, aku mengundang mereka karena aku ingin menceritakan semuanya. Aku akan memepertanggung jawabkan perbuatanku” Ayu berlari keluar kamar setelah mendengar Malik yang terlihat sungguh-sungguh.
“Bapak, Ibu” Ayu berlari dan memeluk kedua orang tuanya dengan erat.
Tapi kali ini Ayu tidak menangis, mencoba menyembunyikan penderitaanya dengan senyum yang selalu menghiasi wajah cantiknya.
Sekarang Sarah yang menatap Malik tajam. Tidak percaya dengan kegilaan yang Malik perbuat. “Apa kau tidak bisa mencari jalan keluar lain?” Sarah meninggalkan Malik dan menyusul Ayu yang sudah keluar dari kamar.
“Kamu sudah sehat? Kata mas Aldo kamu kesurupan yah? Kesurupan genderuwo?” Ayu tertawa kecil mendengar Aldo membujuk kedua orang tuanya dengan alasan yang sedikit tidak masuk akal.
“Apa kalian percaya?” Sekarang Ayu tertawa lepas.
“Jadi Mas Aldo bohong?” Lia sedikit berteriak ke arah Aldo yang duduk di kursi dapur meneguk air dingin menyegarkan tenggorokannya.
“Bapak juga tidak percaya dengan apa yang Mas Aldo katakan. Tapi Ibu maksa katanya kita harus cepat-cepat sebelum kamu di bawa genderuwo.” Hadi juga sedikit kesal karena dibohongi Aldo. Tapi mereka semu tertawa dengan kelakuan Aldo.
Aldo hanya mampu tersipu malu karena membohongi orang tua yang tidak bersalah ini. Tapi apalah daya, yang terpenting sekarang mereka sudah ada di sini.
“Kalian ada-ada saja. Tapi aku senang Ibu sama Bapak ada di sini sekarang” Atmosfir sudah berubah mendung.
Lia dan Hadi memeluk hangat anak gadis nya yang duduk di tengah-tengah mereka. Ayu anak kesayangan Bapak sedari kecil, mereka sangat dekat dan mengerti satu sama lain.
“Oh iya, Bapak dan Ibu sudah kenal mereka semua?” Ayu melupakan kehadiran orang-orang yang ada di sana.
“Sudah Nak, tapi Mbak yang cantik itu belum” Lia mengangguk kepada Sarah yang tersenyum manis.
Sarah berjalan ke Arah kedua orang tua Ayu. Berjabat tangan dan memperkenalkan diri.
Hadi dan Lia terkagum-kagum dengan Sarah. Sudah cantik, baik, sopan dan seorang Dokter.
“Pasti pasiennya pada betah yah, Dokternya sangat cantik dan baik. Terimakasih sudah mau merawat anak kami ya Dok!” Lia menepuk punggung tangan Sarah.
Sarah hanya tersenyum. Masih terkejut degan apa yang sedang terjadi. Apa yang akan terjadi setelah ini dan bagaimana nasib sahabatnya jika harus kehilangan orang yang sangat dia cintai.
Malik sudah menyiapkan berbagai macam hidangan. Mereka menyantap makanan bersama termasuk Aldo. Menceritakan bagaimana Aldo meyakinkan mereka dengan cerita yang tidak masuk akal dan tertawa bersama dengan cerita-cerita konyol yang Aldo sampaikan.
Selesai makan, Malik duduk di depan kedua orang tua Ayu yang sedang menonton TV. Sarah, Adam, Aldo dan Ayu yang masih ada di dapur sangat tegang. Malik orang yang pantang mundur. Keputusan yang sudah di ambil harus diselesaikan sampai tuntas.
“Pak, Bu. Ada yang ingin saya bicarakan. Tapi sebelumnya saya minta maaf.” Aldo tertunduk, tidak mampu menatap mata kedua orang tua Ayu.
“Ada apa?” Lia tersenyum karena terkejut dengan sikap Malik yang sangat serius. Hadi hanya membisu.
“Aku telah melakukan perbuatan tidak senonoh pada Ayu dan menodai dia.” Tangan Malik gemetar hebat.
__ADS_1
Plakkkkk....
Hadi memukul Malik. Dia tidak mampu megendalikan emosinya. Mendengar putrinya telah direnggut kesuciannya membuatnya naik pitam.