Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 179 ( Listrik Padam )


__ADS_3

Malik tidak sedikitpun bisa memejamkan matanya, perasaan yang pernah dia rasakan sebelumnya saat Ayu terbaring lemah karena jatuh dari jurang. Sekarang Malik sama tidak berdayanya, hanya bisa memandangi wajah Ayu yang lemah tidak berdaya. Tangannya bankan di perban bekas sayatan untun mengeluarkan peluru yang menembus tangannya.


Tok…tok….tok…


Sarah berlari kecil ke arah pintu masuk, dia berharap Adam yang datang. “Kau lama sekali.” Seperti tebakan Sarah, benar Adam yang muncul. Sarah tertegun karena Adam tidak datang seorang diri. Meminta jawaban lewat sorot matanya.


“Kenalkan. Ini Pak Adit saudara Ayuna.” Sarah menjabat tangan Adit yang menjulur padanya. Tidak lupa dengan senyum Sarah yang ramah.


“Aku Sarah, aku istri Dokter Adam.” Adam tertawa kecil mendengar Sarah memperkenalkan dirinya seolah takut pria lain naksir padanya.


“Apa Malik masih terjaga?” Sarah mengangguk. Keduanya sudah tau seperti apa perangai Malik jika sedang khawatir, siapa pun tidak akan bisa membujuknya.


Adit mendekat begitu saja saat melihat Ayu terbaring tidak sadarkan diri. Dia ingat Ayu gadis periang kecintaannya saat dia masih kecil dulu. Adit sudah lama tidak melihatnya, sekalinya bertemu malah dalam keadaan seperti ini. adit menggenggam tangan Ayu. Dia tidak memperhatikan ada sepasang mata yang memandangnya dengan amarah.


“Tenang, dia Kakak kandung Murni.” Adam menahan tangan Malik yang siap menghantam wajah Adit. Tetap saja Malik tidak suka ada laki-laki yang memegang tangan Ayu.


“Kau yang bernama Malik. Maaf aku tidak menyapamu. Aku sangat syok melihat keadaan Ayu seperti ini.” Sorot mata Adit terlihat tulus, Malik masih waras dan tidak berminat melakukan keributan. Adit memeluk Malik, membelai lembut pundak Malik.


Adit mencoba menyalurkan simpatinya pada Malik yang pasti sangat berat melihat wanita yang dia cintai tidak berdaya. Perasaan aneh menyeruak menyelubungi jiwa Malik, terasa hangat dan nyaman saat Adit memeluknya. Perasaan yang Malik tidak bisa dapatkan dari siapa pun saat ini. Malik merasa aneh dan menghempaskan tubuh Adit agar menjauh darinya. Dia tidak mau punya perasaan berharap pada orang lain.


Adam tersenyum lucu melihat wajah Malik yang tidak mengakui dirinya butuh perhatian lebih dari semua orang. Dia bisa mengelak dan tidak menghiraukan dirinya dan Sarah, tapi dia tidak bisa memberontak saat Adit yang tidak lain keluarga Ayu memeluknya. Adam merasa senang Adit melakukan hal yang Malik sangat butuhkan tanpa diminta. Itulah keluarga, mereka saling menguatkan.


“Mas…atau Pak…atau apa aku harus memanggil anda.” Sarah sedikit linglung karena tidak pernah punya saudara sepupu seperti Ayu.


“Panggil saja Mas, aku tidak setua yang kalian pikirkan. Mungkin kita hanya terpaut beberapa tahun. Hahahhaa….” Adit mencoba mencairkan suasana.


“Baiklah Mas Adit, mari saya antarkan ke tempat istirahatnya. Sekarang sudah malam, biarkan mereka semua istirahat.” Adit menurut saja, perjalanan dari Surabaya ke Jakarta lumayan membuat tubuhnya pegal-pegal.


Sarah membawa Adit agar bisa beristirahat di hotel milik keluarga Malik yang tidak perlu keluar dari komplek rumah sakit. Hotel yang sengaja di bangun agar keluarga yang memiliki pasien rawat inap bisa beristirahat dengan nyaman tanpa khawatir dengan kemacetan yang sering menghantui jalanan Ibukota.


Adit senyum-senyum sendiri sepanjang perjalanan, membayangkan kehidupan seperti apa yang Ayu jalani selama ini. Dirinya dan Murni menyia-yiakan Ayu yang Ibunya bawa pada dirinya dan Murni agar bisa bersekolah dan meraih cita-citanya yang ingin menjadi seorang Dokter. Sekarang dia bahkan bisa membeli apapun yang dia ingingkan.


“Kenapa kau tersenyum, apa ada yang lucu!” Sarah merasa heran.


“Maaf…aku sampai lupa sedang berjalan dengan dokter cantik.” Adit membuat sarah tersipu malu. Tidak terasa mereka sudah sampai di lobby hotel, Sarah meminta kunci kamar yang sebelumnya sudah dia booking. “Aku langung masuk, terimakasih banyak sudah mengurus semuanya.” Sarah segera undur diri setelah Adit mendapatkan kunci kamarnya.

__ADS_1


Sarah berjalan perlahan menikmati udara dingin yang menyentuh kulitnya. Dia tiba-tiba saja teringat Mahesa yang saat ini bersama Kakek dan Neneknya. Senyum Mahesa membuat hatinya terasa hangat. Pasti Putra nya juga sangat rindu, sama seperti dirinya, malam yang sangat panjang. Seharusnya dia hanya meninggalkan Mahesa beberapa jam saja. Tapi semua terjadi begitu saja tanpa bisa manusia kendalikan.


Langkah kakinya tidak menuju ruang perawatan Ayu, dia ingin melihat perkembangan Murni. Sudah satu minggu lebih namun masih belum ada tanda-tanda yang Murni perlihatkan. Murni sangat kasihan, dia harus menyembunyikan rasa sakitnya seorang diri. Dia bahkan merelakan jiwa raganya demi laki-laki yang sangat dia cintai meski cintanya tidak terbalaskan.


Dari jauh Sarah melihat laki-laki yang berperawakan tinggi besar berdiri di depan ruang perawatan Murni yang bisa di lihat dari luar. Sarah mempercepat langkah kakinya, mencoba bersikap tenang meski sebenarnya dia ketakutan. Malik menceritakan sosok seperti apa suami Murni yang tega memukuli istrinya sampai babak belur. Kaki Sarah gemetar saat tubuh laki-laki yang dia perhatikan berbalik dan seolah sedang menatap dirinya. Kakinya kaku dan tidak bisa lagi melangkah. Sarah memukul-mukul dengkul kakinya yang seolah mengeras. Laki-laki yang dia lihat semakin dekat berjalan ke arahnya.


Sarah tiba-tiba saja jadi perempuan penakut, dia begitu ngeri mengingat luka-luka yang Murni derita. Sarah bahkan tau detail bagaimana luka demi luka bisa terjadi. Membayangkannya saja membuat Sarah lemas.


Sarah semakin tidak kuasa saat tangan besar menyentuh pundaknya. Dadanya semakin bergemuruh dan nafasnya tidak beraturan. Suaranya tercekat tidak bisa lolos dari kerongkongannya. Dia pasti laki-laki yang lebih brutal dari Kala. Mengingatkannya membuat Sarah sesak nafas. Kakinya lemas, Sarah terduduk memegangi dadanya sambil memejamkan mata mengumpulkan kekuatan.


“Kau tidak apa-apa?” Sarah masih memejamkan matanya. “Apa aku bisa membantumu.” Laki-laki itu mencoba membantu Sarah berdiri. Sarah mencoba sekuat tenaga agar bisa mengendalikan ketakutannya supaya tidak berlebihan.


“Sarah…!!!.” Suara yang membuat Sarah lega. Laki-laki yang tadi mendekatinya dan mencoba membantunya menghilang begitu saja, Sarah bersandar pada tembok agar tubuhnya tidak ambruk.


“Aku mencarimu kemana-mana. Syukurlah aku menemukanmu.” Adam memeluk Sarah dengan erat. Adam merasa ada yang aneh dengan wajah Sarah. Terlihat pucat dan menahan ketakutan. “Apa yang terjadi?” Sarah masih tidak bisa mengeluarkan suaranya. Dia takut akan trauma yang dia miliki, dia takut kondisinya bisa memburuk seperti Maghda. Bahkan air matanya pun tidak mau keluar meski Sarah memaksakannya.


Adam tau apa yang Sarah alamai. Adam segera membawanya ke ruangan untuk membantu Sarah menenagkan diri. Adam memeluk Sarah dan beberapa kali memberinya air hangat agar tubuhnya rileks. Adam memandu Sarah mengatur nafasnya yang tidak beraturan. Perlahan Sarah bisa menguasai emosinya.


“Jangan memaksakan diri.” Adam membelai lembut puncak kepala sarah, wanita yang sangat Adam sayangi. Sarah tersenyum, merasa bersalah melihat Adam begitu ketakutan.


“Jangan minta maaf, aku yang membiarkanmu pergi seorang diri tanpa menemanimu.” Adam sibuk mengurus Ayu sampai lupa Sarah juga bisa saja dalam bahaya.


“Aku melihat laki-laki tinggi besar di depan ruangan Murni. Itu pasti Ali.” Sarah sampai meneteskan air mata takut Ali berbuat nekat. Adam mengusap lembut pipi Sarah. Adam merasa lega Sarah bisa mengeluarkan isi kepalanya. Adam lebih takut saat Sarah menahannya seorang diri.


“Kau membuatku ketakutan. Jangan pegi seorang diri, itu sangat berbahaya.” Sarah mengangguk mengiyakan permintaan Adam.


Ruangan Murni Malik design seketat mungkin agar tidak ada yang bisa membawanya pergi. Hanya beberapa dokter dan perawat yang Malik sangat percaya yang bisa masuk ke ruangan Murni. Malik tau betul orang seperti apa yang dia hadapi, harus berhati-hati agar tidak ada lagi korban jiwa yang bisa Ali sakiti.


Malik sampai harus menyiapkan materi penangkapan Ali sedemikian rupa agar Ali tidak mudah berkelit seperti yang pernah dia lakukan dan lolos begitu saja sampai Murni pasrah jika dirinya harus mati di tangan Ali. Entah terbuat dari apa jiwa Ali yang begitu jahat.


Adam meminta Aldo mengantar Sarah pulang agar bisa istirahat, dia tidak dalam kondisi baik saat ini. Hanya Mahesa yang bisa menjadi obat penenang yang ampuh bagi kekalutan jiwanya. Adam tau Sarah tertekan tapi dia tidak menunjukkannya, Adam tau betul bagaimana menghadapi dan menyikapi Sarah. Tidak mudah mengorek isi hati Sarah. Dia sering menyembunyikan perasaannya demi orang-orang yang dia cintai agar tetap bahagia.


Setelah mengantar Sarah, Adam bergegas ke ruangan keamanan mengecek CCTV untuk memastikan yang Sarah lihat. Adam berusaha bersikap tenang agar Sarah tidak semakin terguncang. Dia ingin Sarah tetap merasa nyaman.


Benar saja apa yang Sarah katakana, ada laki-laki dengan ciri-ciri mirip dengan Ali yang berdiri di depan ruangan Murni dengan pakaian serba hitam. Wajahnya tertutup topi dan masker, Adam masih tidak bisa memastikan orang yang datang adalah Ali, bisa saja itu orang lain yang salah masuk ruangan. Tapi apa salahnya meminta Malik melihatnya. Adam menyalin rekaman CCTV ke ponselnya. Setelah berhasil di salin, Adam segera berlari menemui Malik.

__ADS_1


Brakkkk…..


Adam tidak sengaja membuka pintu dengan keras, Malik sampai penasaran apa yang sebenarnya terjadi. Malik menatap Adam yang berlari tergopoh gopoh ke arahnya yang sedang duduk di tepi ranjang di samping Ayu. Menunggu Adam yang mengatur nafasnya yang sesak karena berlarian. Mata Malik membuat Adam bergidik ngeri karena tatapan tajamnya.


“Kau seolah mau menerkam ku.” Adam menutup wajah Malik dengan telapak tangannya yang segera di singkirkan oleh Malik.


“Kau!!! Jangan menyentuhku.” Adam mendapat bogem di telapak tangannya. Dia sudah tau akan begini, tapi tetap saja merasa gemas melihat Malik bersikap seperti ini.


“Lihat.” Adam mengeluarkan ponselnya. Video tidak langung berputar, entah apa yang membuatnya macet. Malik jadi merasa semakin penasaran dan turun dari ranjangnya. Menarik Adam yang masih sibuk menggoyangkan ponselnya agar video bisa berputar dengan lancer.


“Kau jangan mengganggu Ayu, suaramu sangat berisik. Apa isi Video itu?” Malik sudah tidak sabar mendengar isi video yang Adam bawa.


“Kau tidak bisa lihat, sabar.” Adam mengibaskan tangan Malik yang menarik mantel dokternya. “Oh Tuhan….kenapa kau mati dalam keadaan genting seperti sekarang ini.” Adam merasa kesal saat ponselnya mati di waktu yang tidak tepat.


“Kenapa seperti telenovela, kau terlalu banyak drama.” Malik menghujat Adam yang sedang frustasi.


“Kau ini, jangan memancing emosiku.” Adam yang kesal, Malik sedikit terhibur bisa menggoda Adam sampai meradang.


Adam segera berlari mengambil carger ke ruangannya. Dia bahkan tidak terfikirkn jika Malik memilikinya. Malik juga tidak menawarkan bantuan, dia sedang saat Adam kerepotan. Malik masih tersenyum sendiri mengingat kelakuan Adam.


“Aw….hah…Dadaku sangat sesak.” Adam mejatuhkan tubuhnya di atas kursi. Untung saja ruangannya tidak jauh dari tempat Malik. Tapi tetap saja berlari membuat kakinya lemas.


Malik dengan santai mengulur kabel carger milinya, meletakkannya di atas nakas sebelah kanan Ayu tidur. Sontak saja mata Adam melotot melihat ulah Malik.


“Kau!!!” Adam geram melihat tingkah Malik yang benar-benar keterlaluan mengerjainya. Dia hanya bisa geleng-geleng kepala. Dia pasti akan berteriak jika tau apa yang akan Adam sampaikan.


“Sekarang tunjukkan apa yang ada di dalam ponsel mu itu.” Malik tidak membiarkan Adam beristirahat. Adam membangkitkan tubuhnya yang terasa lemas berjalan Manghampiri Malik yang duduk di sebelah Ayu.


Malik melihatnya dengan sangat serius, memperhatikan bentuk tubuh dan gerak gerik laki-laki yang dia kenal meski wajahnya tidak terlihat. “Aku harus memperketat penjagaan. Hubungi Aldo.” Malik takut Ali berusaha membawa Murni.


“Aldo saat ini sedang mengantar Sarah. Aku memintanya istirahat.” Malik terlihat sangat tegang.


“Kalau begitu hubungi Hans dan Pras. Minta mereka memperketat penjagaan agar kita tidak kehilagan Murni.” Adam mengangguk.


Baru saja kakinya akan melangkah. Tiba-tiba seluruh ruangan gelap. Aliran listrik di seluruh rumah sakit padam. Malik memeluk tubuh Ayu yang terbaring di sebelahnya. Adam menyalakan senter di ponselnya, memastikan tidak ada siapa pun yang masuk. Adam mengunci pintu kamar perawatan. Saat ini mereka semua kebingungan, apa yang terjadi sampai listrik padam seluruhnya.

__ADS_1


__ADS_2