
Pikiran Malik kacau, dia tidak bisa meninggalkan Ayu dan menyerahkannya pada orang lain. Tapi dalam waktu yang sama Malik juga harus memeriksa sendiri apa yang terjadi, memastikan keadaan di luar ruangannya kondusif dan kecurigaannya tidak terbukti.
“Apa aku bisa meminta mu menjaga Ayu.” Adam menggeleng, dia takut tidak bisa menghadapi seorang diri. Malik berfikir jika ini perbuatan Ali, dia pasti akan mengincar Murni, bukan Ayu. “Jangan khawatir, kamu bisa mengunci pintu masuk saat aku keluar, kau lebih Ayu butuhkan daripada aku. Kau harus memastikan Ayu dalam keadaan baik-baik saja.” Malik bicara tanpa memberikan Adam kesempatan membalas kata-katanya.
Malik sudah menghilang dari balik pintu, Adam segera mengunci pintu rapat-rapat. Segera Adam berlari mendekati kaca yang memperlihatkan halaman luar rumah sakit. Beberapa suster terlihat berlari membawa pasien keluar dari ruangan yang pasti pengap tanpa penyejuk udara karena listrik padam. Tidak hanya listrik, ponsel yang Adam pegang pun tidak ada signal. Entah apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Malik dibuat terkejut saat melihat pemandangan m
engrikan di depan matanya, genset yang rumah sakit miliki hanya bisa rumah sakit gunakan untuk pasien yang benar-benar tidak bisa lepas dari alat kesehatan yang menempel di tubuhnya. Sebagian besar pasien yang masih bisa bertahan terpaksa dikeluarkan dari ruangan agar mendapat udara segar dan tidak mengalami sesak nafas.
“Apa mereka semua baik-baik saja?” Malik bangga semua tenaga medis bekerja sama bahu membahu menyelamatkan para pasien rumah sakit.
“Tidak Pak, kami berusaha menyelamatkan semua pasien sekuat tenaga kami.” Malik tersenyum bangga mendengarnya.
“Apa sudah tau kenapa listrik bisa padam?” Tanya Malik saat seorang teknisi berlari ke arahnya. Nafasnya berderu sampai Malik bisa mendengarnya.
Dia menggelengkan kepalanya. “Listrik kita benar-benar padam Pak, mereka menggunakan peledak yang suaranya tidak terdeketsi sampai kita kecolongan Pak.” Malik menghela nafasnya.
“Kalau begitu cepat selesaikan, kita tidak bisa membiarkan pasien tidak mendapatkan perawatan karena listrik kita padam.” Teknisi kembali berlari untuk segera menangani listrik.
“Dokter Amran.” Malik berteriak memanggil dokter yang memiliki tanggung jawab penuh atas pengobatan Murni dan merupakan salah satu petinggi rumah sakit yang sedang berlari pontang panting. Amran segera mendekat kea rah Malik.
“Huh….semuanya kacau. Dimana Adam? Aku mencarinya kesana kemari tapi tidak ada dimanapun. Dia selalu saja menghilang di saat-saat penting seperti ini.” Suaran Amran terdengar kesal.
“Maaf, tapi Adam sedang menjaga wanita paling berharga bagiku.” Amran membekap mulutnya yang bicara lancang tanpa berpikri panjang. Malik hanya tersenyum karena tau Amran tidak bermaksud menyinggung dirinya.
“Bagaimana ini Pak Malik. Kita harus menyelamatkan para pasien sementara teknisi memperbaiki listrik. Apa kita tidak bisa memindahkannya di bangsal ruangan rumah sakit yang ada di belakang? Kebetulan panel listrinya tidak menyatu, aku sudah memeriksanya dan listrinya masih dalam keadaan bagus.” Malik tersenyum, bersyukur karena ada solusi atas apa yang terjadi.
“Kau benar Dokter, kita bisa gunakan rumah sakit belakang yang belum kita resmikan.” Amran segera lari setelah mendapat persetujuan Malik. “Aku segera menyusul. Aku harus memeriksa Murni.” Malik berteriak karena Amran cukup jauh. Amran hanya mengacungkan jempol ke arah Malik.
Malik melihat ada yang aneh dengan para penjaga yang ada di depan ruangan Murni. Mereka duduk menunduk tanpa pergerakan. Malik mempercepat langkahnya dengan jantungnya yang mulai berdegup kencang. Benar saja dugaannya, kedua penjaga dalam keadaan tidak sadarkan diri. Ruangan Murni sudah terbuka dan Murni sudah tidak ada di dalam ruangan.
Malik lari menghubungi para staff keamanan untuk memblokir semua pintu masuk menggunakan woki toki yang masih berfugsi tanpa listrik. Keadaan semakin tegang saat ada pasien yang tiba-tiba saja anfal saat akan di pindahkan ruangan.
Untung saja para Dokter dengan cepat bisa menangani pasien dan pasien kembali bisa di selamatkan. Pihak kepolisian yang di hubungi pihak rumah sakit sudah datang, mereka dengan pakaian lengkap sigap membantu para dokter, suster dan staff rumah sakit memindahkan pasien. Sebagian polisi berjaga dan mengawasi keadaan di luar rumah sakit.
__ADS_1
Malik segera bicara dengan polis yang berpangkat Brigadir Jendral Polisi (BRIGJENPOL) yang ikut datang mengamankan keadaan Rumah Sakit yang cukup mencekam. Malik menyampaikan apa yang terjadi dengan detail, dan kebetulan Polisi yang Malik ajak bicara kenal dengan sosok Ali. Dia terlihat terkejut karena selama ini Ali rekan-rekannya kenal sebagai polisi yang disiplin dan baik.
Polisi meminta Malik tidak membocorkan informasi yang dia miliki demi menjaga nama baik pihak kepolisian dan keluarga Ali yang tidak tau sifat putranya.
“Kami akan segera bergerak Pak. Mohon kerja samanya.” Polisi tersebut segera meninggalkan Malik yang masih berharap semua orang yang dia sayangi bisa diselamatkan.
Duarrrrrr…..Duarrr……
Suara tembakan terdengar yang menyesakkan dada Malik, kakinya seolah berat melangkah tapi Malik berusaha kuat menahan diri agar tidak tumbang. Setelah yakin, Malik melanjutkan langkah kakinya meski berat.
Dua mobil Polisi menghadang mobil ambulance yang sedang memaksa keluar. Malik yakin itu adalah Ali. Polis lewat pengeras suara melarang siapa pun mendekat ke lokasi mobil ambulance dan mengamankan diri menjauhi mobil. Malik tidak bisa berbuat banyak karena Polisi mengambil alih pengamanan. Malik dan para tenaga keamanan menunggu instruksi lanjutan apa yang harus mereka lakukan.
Polisi berusaha berdiskusi dengan bijak lewat pengeras suara agar Ali menyerahkan diri. Tidak ada tanda-tanda perlawanan, tapi Ali masih tidak keluar dari mobil. Polisi merayu dengan seribu cara tapi tidak ada itikad baik dari Ali.
“Jika kau tidak menyerahkan diri, kami terpaksa akan menangkap mu dengan kekerasan. Jangan salahkan kami jika terjadi hal yang….”
Duarrrrr…..
Ledakan keras membuat semua orang lari menyelamatkan diri. Ali ternyata nekad meledakkan bom yang dia lempar ke area lapangan rumah sakit yang tidak jauh dari tempatnya berada. Salah sedikit mobil yang dia tumpangi bisa saja ikut meledak. Semua orang dibuat heran dengan sikap Ali yang gegabah tanpa memikirkan resiko yang akan terjadi.
“Apa yang kau inginkan?” Polisi masih mencoba berdiskusi dengan Ali.
“Biarkan aku lewat dan tidak ada satu orang pun yang boleh mengikutiku. Jika aku tau masih ada yang membuntutiku, kalian akan tau akibatnya.” Ancaman Ali membuat Malik semakin geram. “Jangan terlalu lama berdiskusi, aku tidak punya waktu!!” Ali berteriak dengan keras.
“Apa yang bisa jadi jaminan kau tidak akan mencelakai kami jika sudah keluar dari sini.” Polisi tidak percaya begitu saja.
“Aku tidak sedang basa basi. Jangan membuang waktuku!!!” Ali terdengar putus asa. Tidak mungkin dia tidak takut. Saat ini dia sedang menjadi pusat perhatian, pasti tidak akan mudah kedepannya meski dia lolos hari ini.
“Baiklah, tapi jangan main-main dengan apa yang sudah kau ucapkan. Jangan sampai menyesal.” Polisi terpaksa melepaskan Ali, tidak mungkin bersikeras menahan Ali sementara banyak nyawa terancam. Tentu saja pihak kepolisian tidak melepaskan Ali begitu saja. Mereka sudah punya strategi.
Malik segera berlari ke arah polisi saat mobil Ali berhasil keluar. Malik merasa gagal kali ini, Ayu pasti sangat sedih Murni kembali di tangan laki-laki yang membuatnya koma. Ditambah lagi perbuatan Ali bisa saja berdampak buruk pada keselatan Murni. Dia harus berada di tangan dokter yang benar-benar tau kondisinya saat ini.
Ponsel Malik bergetar, ternyata panggilan masuk dari Aldo. Malik mengabaikan panggilan yang masuk. Dia masih harus mendiskusikan langkah apa yang harus mereka lakukan untuk melumpuhkan Ali. Aldo benar-benar membuat Malik geram, ponselnya tidak berhenti bergetar.
“Al....kenapa kau berisik sekali, kau tidak tau.....Al. Kenapa suara Mu. Kau baik-baik saja!” Malik merasa ada yang tidak beres dengan Aldo. Suara bergetar seakan menahan sakit.
__ADS_1
“Jangan khawatir, aku baik-baik saja.” Padahal kepalanya bercucuran darah terkena pukulan benda tajam. “Bos, Dokter Sarah di culik.” Aldo sangat takut Sarah dalam bahaya, dia merasa yang menculik Sarah bukan orang biasa.
“Al......apa yang terjadi.” Sambungan telpon putus karena Aldo pingsan. Pasti semua ada hubungannya dengan Murni. Ali tau sarah yang selama ini menjaga Murni selama koma. Dia sudah lama mencari tau dan mencari informasi. Malik lengah karena menganggap Ali tidak tau keberadaan Murni.
Lagi-lagi Malik kalah cepat langkahnya dengan orang-orang jahat yang selalu mencoba mengganggu orang-orang yang sangat berharga bagi Malik. Tidak lama ambulance yang membawa Aldo tiba karena lokasinya tidak jauh dari rumah sakit. Pras yang menemukan Aldo dalam keadaan pingsan karena sebelumnya Aldo meminta bantuan untuk datang ke rumah sakit.
“Apa lukanya parah?” Pras menggeleng. Tidak ingin membuat Malik semakin khawatir. Sementara ini yang perlu mereka lakukan adalah memindahkan semua pasien ke rumah sakit lain demi keamanan dan keselamatn semua orang.
Gedung yang mereka tempati saat ini penuh dengan bom yang bisa meledak kapan saja. Malik segera berlari ke ruang perawatan Ayu setelah memastikan Aldo mendapat perawatan dengan baik. Lagi pula ada Pras yang menemani Aldo saat ini.
Polisi dan semua pihak kemanan sudah memeriksa gedung belakang yang belum di gunakan, keadaan aman dan tidak terdapat bom disana. Semua pasien di pindahkan ke gedung belakang selama pemeriksaan berlangsung.
Kepala Malik berdenyut rasanya hari yang sangat panjang, bagaimana menyampaikan pada Adam jika saat ini Sarah ada bersama dengan Ali.
Sementara tidak ada yang bisa dirinya lakukan untuk menyelamatkan Sarah dan Murni. Rasanya tidak tenang hanya mengandalkan Polisi seorang bekerja tanpa campur tangan dirinya. Malik harus tenang, harus memikirkan cara yang bisa menyelamatkan semua orang tanpa ada yang harus di korbankan.
Mata Malik melotot saat melihat pintu masuk yang berdiri tegak di depannya. Jantungnya semakin tidak bisa terkontrol. Tubuhnya bercucuran keringat menahan ketakutan.
“Adam! Adam.....” Masih tidak ada jawaban. “Adam!!!” Suara Malik semakin kencang meski tubuhnya bergetar.
“Iya....Kenapa kau tidak....” Adam mencoba membuka pintu yang tidak bergerak sama sekali karena di tahan oleh tangan Malik.
“Jangan membuka pintu atau menyentuh pintu. Jauhkan tubuh kalian dari pintu.” Malik berteriak sekeras mungkin. Ayu yang sudah sadar hanya menyimak dengan bingung.
“Kak....” Hati Malik meleleh mendengar Ayu memanggil namanya. “Apa semuanya baik-baik saja?” Ayu bicara dari balik pintu.
“Jangan khawatir. Semuanya baik-baik saja. Yang perlu kalian lakukan hanya menjauhi pintu ini dan jangan menyentuhnya. Apa kalian mengerti?” Adam tau ada yang tidak beres. Tapi Malik tidak ingin mereka berdua panik sampai tidak memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi.
“Aku dan Dokter Adam akan menunggu Kak Malik yang membuka pintu untuk kita. Kami berjanji.” Ayu mengeluarkan suaranya dengan nada bahagia. Seakan memberikan semangat pada Malik bahwa mereka saat ini baik-baik saja meskipun khawatir.
Malik segera meminta Pras meminta petugas kepolisian naik ke ruang perawatannya. Dengan cepat Pras melakukan permintaan yang Malik inginkan. Tidak lama Malik melihat dua orang petugas kepolisian dengan pakaian anti bom di dampingi Pras.
“Tenang Pak, kami akan segera menjinakkannya.” Petugas keamanan melihat pintu yang masih tertutup rapat.
“Benar, ada istri saya di dalam.” Malik keceplosan, padahal selama ini dia tidak pernah mengakui dirinya sudah menikah di depan publik. “Tolong selamatkan mereka.” Malik dengan sedih menggenggam tangan petugas yang saat ini ada di depannya. “Nyawa mereka lebih berharga dari apapun yang aku miliki saat ini.” Suara Malik sangat lirih. Dia takut Ayu dengar dirinya dalam bahaya.
__ADS_1