
Sarah melangkah dengan penuh keraguan. Rasa rindunya sangat dalam, tapi masih ada luka yang belum seutuhnya sembuh.
"Apa kau yakin kali ini? Jika masih berat kita bisa kembali lagi saat kamu sudah benar-benar siap." Adam menggenggam erat tangan Sarah, menguatkan.
Sarah hanya mengangguk, lidahnya kelu.
Tok....tok...tok...
"Permisi" Adam mengetuk pintu, menunggu jawaban dari dalam.
Tok...tok....tok...
"Sepertinya tidak ada orang." Adam mengintip dari jendela kaca.
"Ayah, apa kamu ada di dalam? Aku pulang." Suara Sarah bergetar menahan tangis.
Adam sangat bangga. Setelah sekian lama akhirnya Sarah mau membuka diri untuk memaafkan perbuatan kedua orang tuanya.
Pasti beban nya sangat berat, membenci orang-orang yang sebenarnya sangat kita cintai.
Kreeekkkkkk.....
Pintu terbuka
Tampak wanita yang sudah sangat tua, rambutnya sudah berubah menjadi putih. Badannya sedikit bau degan pakaian compang camping tidak terurus.
"Ibu...." Sarah memeluk tubuh renta itu dan menangis.
Ibu tidak merespon, pandangan matanya kosong.
Dia menuntun Sarah dan Adam masuk dengan tatapan matanya yang kosong. Rumah nya masih sama, tidak ada yang berubah. Hanya tidak terawat dengan baik.
"Ibu, apa Ibu baik-baik saja?" Sarah menyelipkan rambut Ibu yang menutupi wajahnya.
Dia hanya diam, memandang wajah Sarah lalu membuang muka kembali.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Sarah terisak. Dipeluk erat tubuh Maghda yang tidak merespon perkataan Sarah.
"Sarah..." Austin menjatuhkan kantong belanja di tangannya.
Dia berlari mendekap erat putri tercintanya. Menangis dan tenggelam melampiaskan segala rasa rindu yang selama ini dia tahan.
Austin tidak berhenti bersyukur. Dia sangat bahagia melihat Sarah kembali.
"Aku tau kamu akan kembali. Kami menuggu Sarah. Maafkan kami Nak." Austin tidak melepaskan pelukannya.
Sarah bahagia, kedua orang tuanya masih sehat. Hanya Maghda yang terlihat sakit. Tapi tubuhnya masih sehat.
"Ayah, apa yang terjadi dengan Ibu? Apa ibu sakit?" Sarah memandang dengan penuh rasa iba. Ibu selama ini merawatnya dengan baik.
"Dia tidak sakit, dia hanya terlalu menyesali perbuatannya padamu." Austin menghela nafasnya panjang.
"Apa yang terjadi?" Sarah duduk menggenggam tangan Maghda yang sudah berkerut.
__ADS_1
"Maghda menyesal, siang malam dia berkeliling mencari keberadaan mu. Dia sering lupa makan, kurang istirahat dan tidak memperhatikan kesehatan tubuhnya." Austin menangkup wajah Sarah. Bahagia tidak terkira putrinya ada di depan mata.
"Dia tidak benar-benar mengatakan semuanya dari hati Nak. Dia sangat mencintai Sarah." Austin menggenggam tangan Maghda. Dia tetap wanita yang Austin cintai.
"Aku tau itu. Dia selama ini selalu mencintaiku." Sarah ingat bagaimana Ibu mencintainya. Dia tidak pernah mengatakannya, tapi perhatinnya yang tulus selalu Saarah rasakan.
Sarah baru teringat akan keberadaan Adam yang hilang dari peredaran bumi. Sarah tersenyum, laki-laki yang membuatnya banyak belajar sedang menunggu Sarah dengan penuh kesabaran.
"Ayah, ini Adam. Dia suamiku, Ayah dari anak yang ada dalam rahim Sarah." Adam tersenyum.
Adam mengulurkan tangannya, Austin memeluk Adam dengan penuh rasa terimakasih. Adam pasti laki-laki yang sangat baik dan bertanggung jawab. Dia bahkan mengantarkan putrinya kembali dengan selamat setelah sekian lama dia menghilang.
"Kau sedang hamil? Aku akan menjadi seorang kakek?" Austin tertawa bahagia.
Ternyata kesabaran nya selama ini membawa kebahagiaan berlipat ganda.
Sarah menceritakan perjalanan hidupnya, dia bahagia karena kedua orang tuanya sangat perduli padanya. Sarah membuka kado ulang tahun yang selalu mereka simpan di dalam kamar Sarah setiap tahun di tanggal dan bulan yang sama.
Tidak seberapa pemberian mereka. Tapi Sarah bahagia karena Maghda selalu mengingat dirinya sebagai putrinya yang berharga. Isi setiap surat yang mereka tuliskan menggambarkan betapa besar penyesalan mereka.
Tapi saat ini Sarah sudah tidak menangis, beban berat dalam dadanya sudah terangkat. Sarah bahagia karena mereka masih menunggunya sampai akhir.
"Kenapa kalian tidak mencari rumah yang lebih layak. Uang Ayah juga sekarang pasti sudah banyak kan?" Austin bekerja keras selama ini.
Hanya saja pengobatan Bintang sangat mahal, sampai mereka tidak punya kesempatan hidup dengan layak selama ini.
Mereka terlalu fokus pada Bintang dan melupakan keberadaan Sarah yang sama berharganya.
"Kami sibuk mencari keberadaan mu. Jika kami pindah, kamu pasti akan kebingungan mencari keberadaan kami." Austin tersenyum.
"Aku yakin Sarah akan pulang. Ayah dan Ibu selalu menunggu kedatangan Sarah. Kami yakin Sarah adalah putri kami yang sangat baik hatinya. Dia akan memaafkan kesalahan kami." Tidak berhenti rasa bersalah yang Austin rasakan.
Tapi kembalinya Sarah membuatnya lega, itu artinya Sarah sudah melupakan segala masa lalu kelamnya.
“Terimakasih sudah mau kembali dalam keadaan sehat, kami sangat bersyukur.” Maghda meneteskan air mata. Seperti sedang merespon pembicaran yang dia dengar.
“Ibu, aku akan menyayangimu, seperti apa yang sudah kamu lakukan selama ini padaku. Kamu selalu memelukku seperti kamu memeluk Bintang. Aku tetap putrimu, apapun yang terjadi.” Sarah memeluk Maghda dengan erat.
***
“Al, setelah ini tolong jemput Ayu. Aku akan mengajaknya makan malam. Tadi dia bilang pulang jam 2 siang.” Aldo melihat deretan jadwalnya yang juga tidak kalah padat.
Untungnya jarak antara kantor dan sekolah tidak terlalu jauh, tapi Aldo tidak bisa terlalu lama. Jam 2.15 ada meeting dengan klien penyedia barang. Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan.
Aha....ide cemerlang muncul.
“Pak Leo, aku boleh pinjam motor mu. Aku ada perlu sebentar.” Leo langsung saja melemparkan kunci motor yang ada di atas mejanya. Siapa yang tidak akan memberinya kunci, menolaknya sama saja menolak perintah Pak Malik.
Tidak lama Aldo sudah berada di depan sekolah, Ayu juga sudah menunggunya di depan gerbang sekolah sendirian.
“Maaf Nona, apa sudah lama menunggu?” Aldo sudah parkir tepat di depan wajah Ayu.
“Hehehehe. Tidak Kak Aldo, aku juga belum lama.” Ayu heran karena tumben Aldo membawa motor, biasanya dia membawa mobil.
__ADS_1
Kak Aldo keren juga pakai motor gede, jadi terlihat seperti laki-laki metropolitan yang gagah berani. Ayu memang suka sekali mengagumi laki-laki tampan.
“Naiklah.” Aldo sedikit memiringkan motor ke arah Ayu. Agar Ayu lebih mudah untuk naik.
Hanya 10 menit mereka sudah sampai di depan gedung, saat sedang berjalan tiba-tiba saja Rera berlari menghampiri mereka berdua.
“Aldo, kamu ini kemana saja. Semua orang sudah menunggu.” Rera sangat kesal karena Aldo pergi tanpa pamit.
“Aku lupa, Ayu kamu naik ke lantai 15, Bosa sudah menunggu mu di atas.” Aldo berlari menyusul Rera yang sudah menghilang.
Ayu bingung, bagaimana caraku masuk. Bahkan pintu nya ada sensor, baru bisa terbuka dengan kartu yang mereka tempelkan. Ayu tidak hilang akal. Dia mencoba bertanya pada satpam yang menjaga pintu sensor tersebut.
“Pak maaf, saya mau menemui Kak Malik.” Banyak mata yang memandangnya aneh. Ayu hanya mampu tersenyum mengusir rasa takutnya.
“Apa Nona sudah ada janji sebelumnya?” Pak satpam sangat sopan dan baik.
“Aku sudah berjanji akan datang setelah pulang sekolah. Tadi aku bersama Kak Aldo, tapi dia pergi begitu saja.” Ayu sedih karena kebingungan.
“Mari ikut saya.” Dia membawa Ayu ke resepsionis.
“Ada yang bisa di bantu Nona?” Menyerahkan buku tamu yang ada di hadapannya.
“Aku mau bertemu Kak Malik.” Terlihat kedua wanita yang ada di hadapannya menahan senyum. Mereka seperti sedang menertawakan Ayu dalam hati.
“Tapi Boss tidak ada jadwal bertemu dengan gadis SMA hari ini. Apa kamu sudah buat janji?” Masih bersikap ramah meski wajahnya tidak menunjukkan sikap yang demikian.
Ingin rasanya Ayu berteriak memberitahukan siapa dirinya. Tapi apalah daya, pernikahannya bahkan masih menjadi rahasia.
“Baiklah, aku akan kembali lain waktu.” Aku pulang saja, mungin Kak Malik sedang sibuk.
Aku juga tidak mau mempertaruhkan harga diriku jika harus berdebat dengan mereka.
Aku akan memukul Kak Aldo lain kali. Dia membuatku bingung harus pergi kemana. Ayu merana, mencerca kebodohannya sendiri.
“Ayu, kamu di sini sayang?” Mamih memeluk Ayu yang sudah berkecil hati berjalan gontai.
Hahaha....lihatlah, kalian akan malu kalau tau siapa diriku. Ayu tertawa di dalam hati karena bisa membuktikan siapa dirinya. Dan lega tidak pergi begitu saja membawa luka.
“Mamih, aku tidak bisa naik.” Ayu sedikit mengeluh karen kesal. Memperlihatkan wajahnya yang sedang sedih.
“Ada yang mempersulitmu masuk ke kantorku?” Malik muncul dari belakang. Ayu bahkan tidak menyadari kedatangannya.
Malik kesal mendengar Ayu di perlakukan tidak baik oleh karyawannya.
Akan jadi masalah besar kalau aku mengatakan yang sebenarnya. Aku tidak boleh membuat mereka dalam masalah. Gumam Ayu dalam hati.
“Ah Kak, tidak. Aku tadi hanya bingung harus kemana. Kak Aldo pergi begitu saja.” Malik membetulkan hijab Ayu yang sedikit berantakan.
“Kamu kenapa berantakan sekali?” Malik menggenggam erat tangan Ayu setelah merapihkan hijab yang Ayu kenakan. Ingin memberitahukan pada siapa saja yang melihatnya untuk bersikap baik pada Ayu.
“Benarkah, pasti karena Kak Aldo tadi sedikit ngebut bawa motornya.” Malik terkejut, berani-beraninya Aldo membawa Ayu naik motor.
“Kau naik motor? Siapa yang menyuruhmu naik motor?” Ayu jadi bingung. apa salahnya dengan dirinya naik motor.
__ADS_1
Ayu hanya membisu, saat ini dia hanya duduk di sebelah Kak Malik yang masih terlihat sangat marah. Menatap Ayu dengan sangat tajam sampai Ayu bingung dengan apa yang sudah dia perbuat sampai membuatnya begitu marah.