Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 148 ( Gagal )


__ADS_3

Malik menenggak air dingin sampai tidak tersisa sedikitpun di dalam gelas. Rasa hausnya tidak tertahankan membayangkan apa yang akan terjadi. Malik boleh terlahir dari orag tua yang tajir, tapi pergaulannya tidak begitu baik karena harus mengurus bisbis sejak remaja.


Tidak ada waktu bermain-main, pernah Adam membawa video porno yang dia dapat dari kaka sepupunya secara diam-diam untuk di tonton bersama Malik. Selebihnya Malik benar-benar buta untuk memulai hubugan dengan seorang wanita.


Sebelum memastikan dirinya siap, Malik berselancar di dunia maya membaca kiat-kiat agar pasangan merasa puas dengan hubungan intim yang mereka lakukan. Membacanya saja sudah membuat Malik keringat dingin.


Malik meyakinkan dirinya agar tidak ada keraguan, naluri sebagai pasangan suami dan istri pasti akan keluar dengan sendiinya pikir Malik. Hal itu sering dia dengan dari pasangan-pasangan yang sudah menikah. Malik memberanikan diri melangkah, dia memastikan dirinya bersih dan wangi sebelum masuk ke dalam kamar.


Ayu sedang duduk membaca buku pelajarannya di atas kasur, tubuhnya sudah dililit selimut tebal sampai tidak terlihat sedikitpun tubuhnya. Hanya kepala dan tangannya yang muncul dari balik selimut.


“Apa yang kau baca? Apa esok ada ulangan?” Malik basa –basi agar Ayu melihat dirinya yang sudah tidak sabar. “Kau kenapa tidak menatapku.” Malik tau Ayu sedang menyembunyikan rasa malunya. “Ayuna, kau marah karena aku mengikutimu?” Malik duduk di depan Ayu dengan wajah yang sangat manis.


“Kak Malik, jangan terlalu dekat.” Jantungku semakin kencang, apa yang harus aku lakukan. Ayu berterian dalam hati merasa takut sekarang.


“Kenapa, bukannya kau bilang ingin aku pijat!” Malik menyentuh kaki Ayu yang ada di balik selimut.


Brugggg....


Ayu spontan mendorong Malik sampai jatuh dari atas kasur. Malik tidak langsung berdiri, sepertinya dia sangat marah karena Ayu sengaja mendorongnya. Atau malu.


“Maaf Kak, aku hanya terkejut. Kak Malik kenapa menyentuhku begitu.” Ayu berdiri membantu Malik berdiri. Malik menahan malu karena tidak bisa menahan tubuhnya saat Ayu mendorongnya.


“Huh......”Malik mengeluarkan kasar nafasnya. Berjalan mondar-mandir seakan ingin menghukum Ayu. “Apa tujuanmu memakai pakaian seperti ini?” Malik menarik ujung piyama tipis yang Ayu kenakan. Ayu tidak bisa menjawab, dia hanya garuk-garuk kepala merasa bingung.


“Aku akan ganti kalau Kak Malik merasa tidak nyaman.” Ayu segera melangkah, Malik menahan Ayu dengan tubuhnya yang besar sampai Ayu tidak bisa bergeming. Ayu menabrak dada Malik yang bidang. Tubuh Ayu sedikit gemetar khawatir dengan apa yang akan Malik lakukan. Malik menatap wajah Ayu yang sedang memejamkan matanya. Malik tau isi pikiran kotor gadis yang saat ini sedang puber. Pasti rasanya penasaran dan takut bercampur aduk.


“Kak, sepertinya celanaku basah.” Ayu segera lari ke kamar mandi. Malik tidak mengerti maksud dari ucapan Ayu. Malik kira Ayu terangsang sampai celana nya basah.


“Kau baik-baik saja!” Malik mengetuk pintu kamar mandi berulang kali. “Jawab Ayu, jangan membuatku takut.” Masih tidak ada jawaban. “Kalau kau belum siap jangan memaksakan diri. Aku akan sabar menunggu sampai kau merasa percaya padaku.”


Duggg.....


Kepala Malik yang ada di depan pintu persis tertabrak pintu yang Ayu buka secara mendadak tanpa ada suara apapun sebelumnya. Malik mengusap kepalanya yang sedikit berdenyut. Ayu hanya menjulurkan kepalanya dari balik pintu.


“Aku tidak sengaja Kak, maafkan Aku.” Masih tidak keluar.

__ADS_1


“Cepat keluar, atau aku tidak akan memaafkan kesalahan fatalmu.” Malik mengulurkan tangannya. Malik merasa Ayu bertingkah aneh.


“Kak, bukan aku tidak siap. Sebenarnya aku siap malam ini. Tapi.....” Malik masih menunggu dengan penasaran kata-kata yang Ayu belum dia selesaikan.


“Jangan mengucapkan sesuatu jika tidak kau tuntaskan, cepat katakan dengan benar!.” Malik merasa Ayu mempermainkannya.


“Aku datang bulan Kak.” Malik tersenyum, dia pikir Ayu menolak dirinya karena alasan lain. “Tolong ambilkan pembalutku di laci meja belajar Kak.” Ayu meringis merasa bersalah pada Malik.


Malik menggelengkan kepalanya berulang kali. Dia akan menggunakan waktu yang ada untuk belajar lebih banyak bagaimana prosedur yang baik saat behubungan intim. Malik sebenarnya malam ini masih belum yakin dengan kemampuannya. Ternyata Ayu memberinya waktu untuk belajar lebih.


Ayu keluar kamar mandi dengan wajah sedihnya, membayangkan raut wajah Kak Malik yang berubah menjadi sendu membuat Ayu ikut sedih. Pasti dia selama ini kesulitan menahan diri.


“Maafkan Aku Kak.” Ayu menempelkan kepalanya di lengan Malik yang sedang membaca buku laporan. Malik menatap Ayu dengan senyum nya yang penuh kebahagiaan.


“Aku maafkan. Tapi kau tidak akan bisa lepas setelah ini. Tunggu pembalasanku.” Mata Ayu terbelalak mendengar Malik mengancamnya. “Jangan menatapku seperti itu. Sekarang tidur, atau kau akan menyesal jik....” Dengan cepat Ayu menarik selimut menyelimuti tubuhnya. Malik tidak pernah main-main saat mengancam.


Malik mengecup kepala gadis kecilnya yang memejamkan mata membelakangi tubuhnya. Baginya Ayu tetap jadi prioritasnya. Tidak ada hal yang lebih penting selain menjaga keselamatan dan memastikan Ayu selalu bahagia saat bersama dirinya. Tidak ada lagi yang boleh menyakiti Ayu, Malik akan menjaga Ayu dengan segenap jiwa raganya. Malik tersenyum sendiri mengingat keberanian Ayu melawan Nikita yang berusaha merebut dirinya dari Ayu.


Ternyata Ayu sekarang bukan wanita lemah yang bisa orang lain permainkan karena kelembutan hatinya. Dia sudah bisa melawan dan mempertahankan apa yang menjadi haknya. Dia tidak lagi jadi wanita lemah yang mudah ditindas.


“Kak....” Malik tidak menjawab, dia sedang asyik memainkan rambut Ayu yang Malik sangat suka aromanya. “Aku ingin kembali ke sekolah besok.” Malik terperanjat. Matanya tidak lagi mengantuk.


“Aku tidak mau terus bersembunyi. Aku mau menghadapi apapun yang sudah jadi takdirku. Aku merenung dan aku sadar, akan lebih sulit bagiku jika terlalu lama mengambil keputusan dan lari dari kenyataan.” Malik senang akhirnya Ayu sadar akan cinta kasih yang menantinya.


“Aku akan ada di setiap apapun yang jadi keputusan Ayu. Jika memang keputusannya sudah bulat, aku akan selalu ada untuk jadi pendukungmu.” Malik memeluk Ayu, menenggelamkan tubuh kecilya dalam dekapan tubuh Malik.


Tidak lama Ayu terpejam, dia pasti sangat lelah setelah melawan wanita pengganggu rumah tangganya hari ini. Setelah memastikan Ayu tidur dengan nyaman, Malik meraih ponselnya. Dia menghubungi Adam, Rey, Ferdinan dan teman-teman Ayu agar besok memperlakukan Ayu seperti biasanya agar Ayu tidak merasa canggung.


***


Jofan memeluk Ferdinan dengan erat, akhirnya Ayu mau membuka hatinya menerima dirinya dan Ayahnya sebagai keluarganya. Senyum tidak pudar dari wajah Jofan, dia merasa bahagia mendengar kabar yang Malik sampaikan. Rasanya seperti mimpi.


“Kau sangat bahagia? Ayah dulu sangat takut kau akan membenci Ayu. Dia tidak pantas menanggung dosa yang aku lakukan.” Ferdinan masih tidak bisa lupa dengan kebodohannya.


“Lupakan semua itu, kali ini Ayah harus perhatikan anak-anak Ayah agar kami tidak menyesal punya Ayah seperti dirimu.” Ferdinan mengangguk. Kebencian Jofan pada dirinya seolah menguap. Kini Jofan dengan tulus menyayangi Ferdinan sebagaimana mestinya.

__ADS_1


“Aku akan buatkan puding coklat kesukaannya. Dia pasti senang jika aku bawa besok ke sekolah.” Ferdinan sangat bersyukur hari yang sangat dia nanti akhirnya datang.


Keesokan paginya Malik mengantar Ayu ke apartemen Adam sebelum berangkat ke sekolah. Malik ingin memastikan kondisi Ayu baik-baik saja karena hari ini harus meninggalkan Ayu, dia ada meeting dengan relasi bisnisnya dari Malaysia yang siang ini datang untuk tanda tangan berkas kerja sama antar dua perusahaan.


Malik sudah tidak sabar dengan bisnis baru yang dia rintis dari nol. Ini cabang kedua setelah cabang pertama yang ada di Indonesia mendapatkan respon baik dari masyarakat. Taman bermain yang Malik bangun dengan konsep modern ternyata diminati banyak kalangan. Baik anak-anak, remaja maupun para orang tua yang membutuhkan hiburan dari penatnya rutinitas sehari-hari yang membutuhkan hiburan.


“Kenapa wajahmu sangat tegang.” Sarah mencubit pipi Ayu yang seolah mengeras. Senyumnya terlihat dipaksa tidak senatural biasanya.


“Apa yang bisa aku lakukan agar tidak gugup.” Ayu tidak lagi basa-basi menyembunyikan rasa khawatirnya. Dia benar-benar butuh masukkan agar tidak terlihat tegang.


“Ikuti....” Sarah berdiri tegap di samping Ayu. “Tarik nafas dalam dalam-dalam dari hidung.” Ayu mengikuti aba-aba dari Sarah. “Keluarkan perlahan dari mulut.” Mereka mengulang gerakkan yang sama selama satu menit.


Para laki-laki sibuk menggoda Mahesa yang semakin hari semakin menggemaskan. Pipinya yang bulat membuat Malik dan Adam bergantian mencubitnya sampai Mahesa berteriak seolah meminta pertolongan.


Eaaaa....


“Kenapa dia berteriak, apa aku menyakitinya.” Malik merasa terkejut mendengar Bayi berteriak.


“Kau pasti terlalu kencang mencubitnya. Pelan sedikit, kulitnya kan sensitif.” Malik mengulangi gerakkan mencubit pipi Mahesa dengan lembut.


“Seperti ini.” Kali ini Mahesa tidak berteriak. Sepertinya ucapan Adam benar, mencubit dengan lembut.


Adam dan Malik tidak berhenti menggoda Mahesa sampai dia menangis. Sarah yang sedang memberikan wejangan pada Ayu sampai terhenti memperhatikan kekonyolan dua laki-laki yang kebingungan tidak bisa menghentikan tangisa Mahesa yang menggelegar.


“Kak Mahesa menangis.” Ayu bicara pelan menatap wajah Sarah. Sarah tidak langsung berdiri, matanya tajam melihat ke arah dua laki-laki yang takut dengan tatapan mata Sarah yang mengeluarkan laser menghujam jantung keduanya.


“Ayu, ayo kita jalan. Nanti kau terlambat.” Malik melarikan diri dari amukan Sarah.


“Kau....Tanggung jawab membuatnya menangis.” Malik tidak menggubris. Dia sudah melangkah mendekati pintu keluar.


“Kak, aku pamit yah. Terimakasih banyak.” Ayu tidak tau ada perang batin yang sedang terjadi di antara mereka bertiga.


“Pergilah, ingat jangan terlalu memaksakan diri.” Sarah mengantar Ayu ke pintu keluar. Wajahnya masih manis tidak mmecurigakan.


“Sayang, ini ulah Malik. Dia mencubit pipinya sampai merah.” Adam mencoba membela diri. “Aku harus berangkat sekarang. Tolong...” Menyerahkan Mahesa yang masih menangis pada Sarah.

__ADS_1


“Diamkan dulu, setelah itu kau boleh pergi.” Sarah berlalu menuju dapur. Tenggorokannya kering bicar sepanjang pagi meyakinkan Ayu agar tidak ragu dengan langkah yang akan dia ambil.


Sarah bahagia akhirnya semua keadaan bisa kembali baik. Akhirnya Ayu bisa dengan lapang dada menerima keluarga baru yang akan menjadi bagian takdirnya. Tidak mudah, tapi semua takdir bisa kita lalui dengan tetap percaya ada kebaikan di dalamnya.


__ADS_2