Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 59 ( Menerima Kenyataan Part 2 )


__ADS_3

“Kau mau memukulku?” Malik mendekatkan wajahnya. Ayu menggeleng, rasanya tidak pantas melakukan hal buruk pada Kak Malik.


Ayu mengerakkan bibirnya berkali-kali. Bingung mau berkata apa. Saat menatap wajah didepannya, dia adalah laki-laki yang selama ini menjaganya. Begitu tulus menyayangi dan selalu merangkulku dalam setiap keadaan.


Akhirnya tidak ada kata-kata yang keluar. Ayu menutup wajah dengan kedua tangannya dan kembali terisak. Kali ini Malik memeluk tubuh Ayu. Ayu sudah tidak bertenaga untuk meronta. Dia hanyut dalam kesedihannya.


Setelah tangisan Ayu reda, Malik melepaskan pelukannya.mengangkat dagu Ayu agar menatap matanya. Malik mencoba tetap tersenyum untuk mencairkan suasana.


“Apa sudah bisa bicara?” Ayu mengangguk.


“Apa yang akan Kak Malik lakukan?” Ayu mengusap sisa air matanya.


Malik bingung dengan pertanyaan yang Ayu lontarkan. Saat ini gadis didepannya sedang kebigungan, Malik tidak mau mengambil keputusan yang akan mempersulit hidup Ayu kedepan.


“Apa boleh beri aku waktu beberapa hari untuk memikirkan jalan keluarnya?” Malik masih tidak melepaskan genggaman tangannya.


“Apa aku akan dihukum karena telah melakukan perbuatan dosa?” Malik sangat menyukai kepolosan Ayu. Dia gadis yang sangat menjaga harga dirinya. Malik tertawa kecil, membuat Ayu mengerucutkan bibirnya.


Malik tidak meneruskan obrolan, dia meraih makanan yang ada di nakas.


Menyuapkan sedikit demi sedikit makanan agar Ayu bisa meminum obat nya.


Kali ini Malik sudah bisa menenangkan Ayu. Tapi Malik yakin Ayu masih sangat terpukul karena perbuatannya.


Saat diperjalanan, Malik menghubungi Aldo agar menjemput kedua orang tua Ayu yang saat ini ada di kampung halaman. Dia akan mengakui perbuatannya pada Ayu.


Malik memutuskan untuk melakukannya karena Ayu pasti akan terus terbebani jika dirinya tidak segera bertanggung jawab.


Malik memutuskan untuk membiarkan Ayu istirahat. Dia menghubungi Jofan agar mengajak Melani dan Sandra ke rumah sakit. Kehadiran sahabatnya akan membuat Ayu terhibur.


Tok....tok....tok...krekkkk


Sarah melongok sebelum masuk, dilihatnya Malik yang menatapnya dengan penuh kesedihan. Sarah tersenyum, dia selalau berusaha menjadi pelipur lara dalam setiap keadaan.


Tidak terlihat Adam yang biasanya akan mengekor kemanapaun Sarah pergi.


“Apa kau datang sendirian?”


“Yang benar saja, Adam sedang bertemu sahabatnya yang dia repotkan tadi pagi karena ulahmu” Sarah membuka roti yang dia bawa dan menyuapkan 1 potong kecil ke mulut Malik.


Rasanya tidak bisa menolak ketulusan Sahabat terbaiknya. Malik membuka mulut dan mengunyah dengan perlahan. Sarah tau persis sifat Malik, dalam keadaan sekarang ini, dia tidak akan menyentuh makanan.


“Kau tidak mau menceritakan apa yang terjadi?” Sarah menatap penasaran pada Malik yang tidak membuka mulutnya. Biasanya jika dia datang, Malik akan langsung memeluknya dan menceritakan detail peristiwa yang menimpanya.


“Apa aku boleh menyimpannya sebagai rahasia? Ada hati yang harus aku jaga!” Matanya menatap Ayu yang tertidur pulas.


“Baiklah, tutuplah dengan rapat. Jangan biarkan siapapun tahu dan menyakiti nya” Malik berkaca-kaca, dia menahan tangisannya sedari tadi. Mencoba terlihat kuat di depan Ayu.

__ADS_1


Malik tidak mau Ayu melihat dirinya lemah dan tidak berdaya. Cukup lama Malik menangis dalam diam, hanya air mata yang mengalir.


Baru kali ini Sarah melihat Malik begitu terpukul. Entah apa yang telah terjadi pada mereka berdua. Sarah mencoba tidak mengorek informasi apapun. Itu hanya akan membuka kembali luka yang coba mereka sembunyikan.


“Tara....” Adam masuk dan membuat kegaduhan.


“Hushhhh!!!” Sarah mendelik melihat suaminya tidak tau tempat untuk bercanda. “Jangan ribut, Ayu baru saja terlelap” Sarah menunjuk ke Arah Ayu yang ada di ruang tidur utama dikamar perawatan.


“Apa yang sebenarnya terjadi? Kau membuatnya sampai pingsan?” Sarah mencubit keras perut Adam. “ Awwww....” Adam mengaduh kesakitan.


“Kau bisa diam sebentar saja sayang!” Berkata penuh penekanan.


Adam mengangkat bahunya, mencoba mencari jawaban dari kecanggungan yang ada di ruagan ini. Rasanya sesak dan tidak bisa bernapas dengan bebas.


Akhirnya Sarah menyeretnya keluar dan mencoba memberikan pengertian pada Adam. Terkadang otaknya tidak berfungsi dengan baik jika tidak berkaitan dengan pekerjaan dan dunia ke dokteran.


Setelah memberi penjelasan dan Adam paham, mereka berdua kembali masuk kedalam kamar. Kali ini Malik sudah memejamkan matanya. Sarah mengambil selimut yang ada didekat Malik.


Lali-laki yang dia kenal sangat berwibawa, sabar dan penuh kasih sayang ini saat ini dalam keadaan terpukul dan menderita.


Saat Sarah dan Adam keluar, mereka melihat ketiga sahabat Ayu yang berjalan ke arah mereka. Sarah melambaikan tangan karena merasa mengenal mereka bertiga.


“Bagaimana keadaan Ayu?” Sarah menarik tangan Jofan yang hendak melangkah masuk.


“Biarkan mereka berdua istirahat sebentar saja. Sepertinya mereka berdua butuh waktu untuk memulihkan kesegaran tubuhnya dengan cukup istirahat” Sarah melebarkan senyumnya.


Uhuk...Uhuk...Uhuk....


“Pelan-pelan, seperti anak kecil saja “ Jofan menepuk pelan pundak Sandra untuk membantunya meredakan batuk. Sandra menyodorkan handpone ke tangan Jofan.


“Brengesek!!!”Jofan memukul meja cukup keras. Meninggalkan noda darah disana,kemudia Jofan berlari kencang. Membuat semua orang terkejut dengan perbuatannya. Sandra ikut lari mengejar Jofan.


“Apa yang terjadi?” Adam, Sarah dan Melani ikut berlari mengejar Jofan. Lift sudah tertutup. Mereka menunggu lift selanjutnya.


Sarah melihat amarah yang menakutkan dari tatapan mata Jofan. Sepertinya akan terjadi badai besar hari ini.


Brugg.... ( Jofan membanting pintu cukup keras)


Membuat Ayu dan Malik yang sedang mengobrol terlonjak kaget. Tanpa aba-aba Jofan melayangkan pukulan ke wajah Malik berkali-kali.


Malik tersungkur, tidak ada perlawanan. Kali ini Malik membiarkan Jofan memukulnya. Menggantikan rasa sakit yang dia pendam sejak tadi. Rasanya sedikit terangkat beban yang berat dari dada Malik.


Sandra memeluk erat sahabatnya. Menangis dan ikut merasakan apa yang Ayu rasakan. Beberapa kali Sandra tanpa sadar memukul Pundak Ayu.


“Kau ini bajingan. Apa kau sadar dengan yang kau lakukan ?” Tangan Jofan bergetar hebat, menahan diri agar menyudahi pukulannya. Tidak ada perlawanan dari Malik membuat Jofan sadar, saat ini Malik tau kesalahannya.


“Tolong hentikan Kak, aku sudah mencoba untuk menerima semua ini sebagai ujian” Jofan menatap Ayu penuh amarah.

__ADS_1


Adam mencoba melerai saat masuk kedalam ruangan dan mendpaati Jofan siap melayangkan pukulannya kembali pada Malik yang sudah bersimbah darah.


“Ada apa ini sebenarnya?” Adam bingung dengan mereka semua.


Perlihatkan pada mereka apa yang baru saja kita lihat. Sandra mencoba memperlihatkan video yang dia lihat tadi. Tapi video sudah tidak ada dan tidak ditemukan.


“Sudah tidak ada Fan” Jofan dan Sandra bingung kerana postingan dari akun yang tidak dikenal hilang begitu saja.


Tanpa kata-kata, Jofan mencabut selang infus yang terpasang di tangan Ayu. Menggendong Ayu dengan paksa dan membawanya pergi dari sana.


Sandra dan Melani mengikuti Jofan. Melani masih tidak memahami apa yang sedang terjadi. Tapi tidak mau bertanya lebih lanjut, Melani ngeri melihat kemarahan Jofan kali ini.


Tidak ada yang berkata-kata, Jofan menghembuskan kasar napasnya. Emosinya masih belum reda, dia membawa kendaraan dengan kecepata yang membuat ketiga sahabatnya jantungan.


“Kau tidak waras?” Sandra mulai berteriak.


Jofan hanya membalas dengan tatapan mata yang tajam pada kaca spion didepannya. Menatap penuh amarah pada Sandra yang baru saja memakinya.


Ayu dan Melani hanya menangis, mereka semua ketakutan dibuatnya.


“Berhenti.... Jofan, berhenti!!!” Sandra berteriak sekuat mungkin.


Ciiiiittttttt........ (Suara gesekan ban dan aspal karena Jofan mengerem mobilnya degan mendadak)


Jofan keluar membanting pintu mobil cukup keras.


Ahhhhhhh...........Ahhhhhhh...... ( Berteriak meluapkan emosinya )


Sekarang Jofan terduduk lemas, dia gagal melindungi sahabat kesayangannya. Bahkan orang yang ia percaya tega melakukan hal mengerikan pada Ayu.


“Kalian tetaplah di sini. Aku akan mencoba menenangkan Jofan” Sandra memberanikan diri mendekati Jofan.


Laki-laki yang sangat dicintainya menangis menundukkan tubuhnya memeluk kedua lututnya. Sandra memeluk tubuh kuat yang selalu mejaga mereka yang saat ini sedang tidak berdaya.


Perlahan tubuh Jofan melemah dan membalas pelukkan Sandra. Cukup lama Sandra menenangkan Jofan sampai emosinya kembali reda.


Setelah tenang, Sandra membantu Jofan duduk di bangku penumpang. Sandra yang akan membawa mobil. Jofan dalam keadaan tidak baik untuk membawa kendaraan.


Sandra tersenyum pada kedua sahabatnya yang masih saling berpelukan.


Masih tersisa air mata di sana. Ayu mencoba tegar, tersenyum dan menghapus air matanya. Dia merasa bersalah dengan kekacauan yang saat ini terjadi.


Sesampainya di Villa, Ayu masuk ke dalam kamar dan mencoba untuk tidur. Kepalanya berat dan pusing. Banyak sekali hal mengerikan yang melintas dalam benak Ayu hari ini.


Ayu mencoba memejamkan matanya. Masih teringat bagaimana Kak Malik meyakinkan dirinya untuk tidak putus asa. Kak Malik akan menjaga Ayu dan bertanggung jawab atas dirinya. Ayu akhirnya tertidur pulas.


Saat melihat Ayu sudah terlelap. Jofan kembali ke ruang TV. Mengunci semua pintu dan tidak membiarkan siapa pun masuk ke dalam Villa.

__ADS_1


__ADS_2