Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 193 (Bersama Kita Kuat)


__ADS_3

Malik kembali menemani Ayu keluar mencari udara segar pagi hari, Malik berusaha keras agar Ayu tidak lagi marah padanya. Dia hanya senang saat melihat wajah Ayu cemberut karena kesal pada dirinya. Ayu juga tidak sepenuhnya marah, dia hanya kesal karena Malik merasa dirinya tidak begitu memperhatikan Malik selama ini.


“Kalian sudah baikan?” Tanya Ana iseng karena Malik dan Ayu sudah kembali bergandengan tangan.


“Kami tidak bertengkar An! Untuk apa kami baikkan.” Malik menggelengkan kepalanya heran. “Jangan menanyakan hal yang bisa jadi boomerang. Nanti kau bilang aku lagi yang tidak peka. Padahal kau yang memancing-mancing.” Malik masih merepet pada Ana.


“Kau cerewet sekali Kak. Hahahaha….” Ana tertawa puas. Dia benar-benar lucu saat merajuk seperti anak ABG.


“Kak, aku pernah jalan-jalan di daerah sini. Tidak jauh dari sini ada tukang bubur yang sangat eeeeeenak sekali.” Semua menyimak Melani yang bicara penuh antusias.


“Ada dimana tepatnya Mel.” Malik ingin mencari makanan untuk semua orang. Melani menjelaskan detail lokasi tukang bubur yang dia maksud. Malik segera meluncur mengambil kunci mobilnya yang ada di kamarnya.


Rama menghampiri Malik yang sudah mengenakan hoodie berwarna biru tua. “Mau kemana Nak?” Malik terkejut Rama muncul tanpa suara, dia memegangi dadanya sambil tersenyum.


“Ayah, kenapa muncul tanpa aba-aba.” Rama ikut tersenyum melihat wajah Malik yang merah.


“Kau saja yang tidak memperhatikan. Ayah tidak mengijinkan siapa pun keluar dari rumah.” Malik merengut, benar juga kata Ayah. Saat ini mereka sedang bersembunyi. “Tidak ada negosiasi, kembali dan jangan berharap siapa pun bisa keluar sebelum keadaan benar-benar aman.” Rama terdengar sangat tegas.


“Baik Ayah. Aku hanya lupa untuk sesaat.” Malik mengikuti kemana mata Rama memandang. “Kasihan sekali.” Malik berlari, mengangkat tubuh Mahesa dari pangkuan Rey. Rey terperanjak mengira Mahesa jatuh dari pangkuanya.


“Maaf….maaf Rey, aku jadi membangunkan mu. Tidurlah, aku akan menjaganya.” Malik tidak tega melihat Rey yang sangat kelelahan.


“Aku kira dia bisa lompat sekarang.” Rey menyesal tertidur saat menjaga bayi menggemaskan yang mengisi cintanya beberapa hari ini.


“Istirahat Rey, kau bisa sakit karena kelelahan jika kau tidak mengatur pola tidur mu dengan baik.” Teriak Rama dari depan kamarnya.


“Baik Yah. Maaf aku menyerahkannya pada mu.” Rey mencium Mahesa yang tenang di gendongan Malik.


“Tenang saja, kau jangan sungkan Rey. Aku akan mengurusnya.” Malik segera membawa Mahesa keluar menemui para wanita yang sedang menikmati waktunya. Malik kembali masuk ke rumah, dia takut wanita-wanita yang sedang menikmati keindahan mentari pagi malah terganggu karena harus mengurus Mahesa.


Malik menatap gemas mata Mahesa yang saat ini sedang menatap matanya. “Apa kau lapar! Kenapa wajahmu sangat merah”. Malik merasa ada yang tidak beres. “Ada apa dengannya, kenapa wajahnya merah dan dia seperti….” Malik bicara sendiri.


Dutt…


Suara kentut yang cukup kuat dari seorang bayi kecil.


“Kau kentut?” Malik mencium pantat Mahesa yang di balut celana tidur dan popok bayi. Malik mengintip sedikit dan terlihat ada bercak kuning yang tidak jelas. “Awwww…” Malik berteriak keras sambil berlari membuat Mahesa takut, bayi kecil yang semula anteng kini menangis cukup keras. “Maaf sayang maaf…” Malik lari ke kamar Mamih. Dia tidak tau caranya menenagkan bayi yang menangis.

__ADS_1


“Mamih tolong aku.” Mamih yang sedang membaca buku hanya memperhatikan Malik yang mendekat padanya. “Tolong dia menangis.” Mamih mengambil Mahesa dari tangan Malik, mengayun tubuhnya agar sedikit tenang.


“Kenapa anak ganteng, Ayah Malik tidak bisa mengurus mu yah….Jangan takut ya Nak. Tenang sayang, omah ada di sini sayang.” Mamih memeriksa popok Mahesa. Mamih memandang Malik dengan mata tajamnya.


“Kenapa? Apa dia buang air besar?” Mamih tersenyum, dia membuka lebar popok Mahesa tanpa melepasnya. “Ahhh, sangat menjijikan sekali Mih.” Mamih memukul pundak Malik.


“Kau ini kenapa sangat jahat. Kau juga dulu seperti Mahesa.” Malik bergidik ngeri.


“Aku tidak ingat pernah sekecil dia.” Mamih hanya menggeleng heran.


“Kau juga harus belajar, bagaimana kalau kau punya anak! Kau harus membersihkan kotorannya, jangan mengandalkan Ayu. Dia pasti membutuhkan sosok suami yang bisa menggantikannya saat dia lelah menjaga anak kalian. Kau harus bisa mengurus anak. Ayo Mamih ajarkan caranya.” Malik menggeleng.


“Jangan membantah, cepat ikut!” Malik mengikuti Mamih dengan menutup hidungnya. Mamih menarik tangan Malik.


“Aku tidak mau menyentuhnya.” Malik menolak saat Mamih menyuruhnya membersihkan kotoran di pantat Mahesa.


“Baiklah, lihat saja cara Mamih membersihkannya.” Mamih menyerah, membujuk Malik bisa membuat Mahesa kedinginan karena dia terus menolak.


Selesai membersihkan Mahesa, Mamih menyerahkannya kembali pada Malik. Mahesa kembali menangis saat Malik menggendongnya. Malik jadi takut dan menyerahkannya lagi pada Mamih.


“Kenapa dia terus menangis! Apa dia takut padaku.” Mamih ingin tertawa tapi kasihan pada putranya, seumur umur dia tidak pernah mengurus orang lain selain dirinya sendiri.


“Apa aku sudah cocok jadi seorang Ayah!” Tanya nya serius pada kedua orang tuanya. Rama tidak habis pikir denga perntanyaa Malik.


“Pikirkan apa yang jadi prioritas Ayu. Dia masih sangat muda untuk punya anak di usianya saat ini.” Malik mengangguk, ini memang hal yang harus dia diskusikan dengan pasangannya.


“Iya Ayah, aku tidak akan egois. Aku akan menghormati apapun yang jadi keinginan Ayu.” Rama mengangguk dan kembali membaca Koran yang pagi ini dipenuhi berita mengerikan.


“Tapi kami tidak menolak jika punya cucu lagi. Biar anak tampan ini ada temannya.” Mamih tersenyum senang menatap wajah Rama yang tidak menggubris kata-katanya.


Setelah cukup pulas, Malik menidurkan Mahesa di kamar Mamih agar ada yang menjaganya. “Maaf merepotkan Mamih. Tapi ada yang harus aku periksa sekarang Mih.” Malik menerima email dari pihak kepolisian yang menangani kasus yang dia laporkan.


“Iya Nak, Mamih akan menjaganya dengan segenap jiwa raga Mamih.” Malik merasa terhibur, semua orang selalu ada saat dirinya membutuhkan.


“Nak.” Malik menghentikan langkahnya. “Kita harus segera menyelesaikan masalah ini dari akarnya. Jika tidak Ayah takut kemungkinan yang bisa terjadi dan akan sangat membahayakan keluarga kita.” Malik merasa kasian pada Rama, di usia senjanya, dia masih harus mengurus masalah-masalah yang tidak berhenti mendera keluarganya.


“Ayah, kali ini serahkan pada ku. Jangan terlalu lelah memikirkan kami semua. Sekarang tugas ku. Ayah jangan sampai sakit karena kelelahan, aku mohon.” Rama memeluk Malik yang membuatnya sangat berterimakasih.

__ADS_1


“Kau sudah bekerja keras, maaf karena Ayah tidak banyak membantu.” Malik tersenyum bangga, hubungannya dengan Rama sangat baik saat ini. mereka saling terbuka satu sama lain, keduanya belajar saling memahami.


“Perasaan ku tidak enak. Aku sangat takut.” Rama menyandarkan kepalanya di bahu Mamih. Tidak ada yang bisa Mamih lakukan, dia hanya bisa mendengarkan kekalutan yang Rama rasakan.


“Apa kali ini kasus nya sangat berbahaya?” Rama mengangguk.


“Aku tidak akan rela siapa pun menyakiti keluarga ku. Aku akan melakukan cara apapun untuk melindungi kalian semua. Andai saja aku punya kekuatan.” Mamih juga turut sedih, dia sangat takut keluarganya di sakiti orang lain yang tidak bertanggung jawab. Mamih menepuk pundak tangan suaminya. Laki-laki yang selalu ada di sisinya bagaimanapun kondisi dan keadaannya. Wajahnya terlihat lelah sekarang, dia pasti punya banyak beban yang tidak dia ceritakan padanya. Dia diam demi menjaga keluarganya tetap harmonis dan baik-baik saja.


***


“Tuan, cepat pergi dari rumah Tuan Rey sekarang juga. Aku tidak ada waktu menjelaskan apa yang terjadi.” Pras langsung menutup telpon membuat Malik panik.


“Ayah….Ayah….Ayu, Rey…..!!!!! Kalian semua dimana.” Malik berteriak tanpa tau arah. Rama yang mendengar putranya berteriak kencang langsung lari menghampirinya.


“Ada apa Nak? Kenapa? Duduk dan katakana dengan tenang.” Rama meminta Malik menenagkan dirinya dulu.


“Kita harus berkemas. Cepattt!!!!!” Rama memeluk putranya yang sangat ketakutan. “Pras bilang kita harus segera meninggalkan rumah ini, dia terdengar sangat panik Ayah. Tolong suruh mereka cepat!” Rama lari memanggil semua putrinya yang masih asik bercanda tawa.


“Anak-anak, cepat masuk.” Wajah Rama yang tegang terlihat jelas.


Keempatnya berlari segera menuruti permintaan Rama. Rama memeluk putri-putrinya dengan hangat. “Jangan takut, Ayah minta kalian semua bereskan barang-barang kalian. Kita akan segera mencari tempat berlindung yang lebih aman.” Mereka saling bergandengan tangan menguatkan diri.


“Kak, kau baik-baik saja?” Ayu memeluk Malik duduk di sofa sambil menutup wajahnya. “Kita akan baik-baik saja.” Malik memeluk Ayu, dadanya yang sesak kini terasa sedikit lega.


Rey menuruni tangga setelah Ana membangunkannya. “Apa beritanya falid?” Tanya Rey pada Malik.


“Pras tidak mungkin bohong Rey, dia ada di lokasi saat ini. Aku tidak tau apa yang terjadi padanya. Bagaimana jika mereka terluka Rey.” Malik terlihat baik-baik saja pagi tadi, sekarang kondisinya tiba-tiba saja menghawatirkan.


“Apa kau baik-baik saja? Jangan berfikir yang tidak-tidak. Kau sangat pucat.” Malik menakuti Ayu, dia pasti takut Malik terluka. Ayu hanya pura-pura terlihat baik-baik saja, tapi matanya tidak bisa membohongi Rey. “Sayang, pergi bereskan barang-barang mu. Kak Rey akan menjaga Kak Malik.” Ayu tetap tersenyum meski perasaannya tidak karuan saat ini.


“Tolong jangan tinggalkan Kak Malik sendirian.” Semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Tinggal Rey di ruang tamu bersama Malik.


“Kau menakuti Ayu Al, apa aku bisa membantu mu agar lebih tenang? Jangan panik, atau mereka semua akan ketakutan jika kau terlihat lemah.” Malik baru sadar dirinya kehilangan kendali.


“Maaf Rey, aku tidak berpikir jernih. Aku akan fokus kembali.” Tangan Malik masih gemetar. Rey memeluk Malik menenangkannya. “Aku hanya takut kalian semua akan terluka.”


“Kita akan saling menjaga. Jika kita bersama, tentu kita akan kuat dan kita akan baik-baik saja.” Menatap mata Malik.

__ADS_1


“Kau benar Rey, kita harus kuat. Aku akan mengalahkan mereka yang mengganggu dan mecoba menyakiti keluarga ku.” Kepercayaan diri Malik kembali, begini seharusnya. Dia tidak boleh lemah dan kalah dengan keadaan.


__ADS_2