Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 117 ( Jebakkan )


__ADS_3

Malik menahan emosi yang sudah naik ke ubun-ubunya. Harga dirinya merasa ternoda karena Ayu mendapat bantuan dari Jofan. Malik berharap Ayu hanya bergantung pada dirinya dan bukan pada orang lain.


Malik menarik nafasnya panjang, mencerna ucapan Ayu yang tadi dia dengar. Malik mengambil ponsel miliknya, memeriksa kapan terakhir dirinya menghubungi Ayu.


Malik terkejut sendiri, ternyata saat camping terakhir Malik mengirim pesan mesra pada Ayu. Malik mengacak rambutnya frustasi, dia sudah terlalu lama tenggelam dalam perasaan bersalah yang membuat Ayu semakin menderita atas perbuatannya yang tidak berperasaan.


Malik ingin mengakhiri perasaan ini, ingin kembali mencintai Ayu seperti dulu. Tapi Malik merasa malu untuk memulai nya dari awal. Ayu sudah terlanjur menganggapnya laki-laki tidak berperasaan.


Semakin dipikirkan Malik semakin kecewa pada dirinya sendiri. Entah apa yang merasuki nya sampai terpikir untuk melepaskan Ayu. Wanita yang paling dia cintai melebihi dirinya sendiri.


Tok...tok....tok....


Suara kamar Malik di ketuk. Malik masih enggan melihat wajah Ayu yang sedih akibat ulahnya.


Cobaan apalagi ini Tuhan, aku tidak mau menyakitinya lagi. Aku merasa marah pada diri ku yang tidak bisa menahan amarah.


Krekk....


Malik membuka pintu, membuat Ayu bingung karena Malik tidak keluar kamar. Dia malah duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya.


Ayu ragu untuk melangkah, tapi ada yang harus Ayu bicarakan. Tidak terlalu mendesak, tapi ini kesempatan untuk bicara dan menatap wajah laki-laki yang dia rindukan setiap saat.


"Maaf Kak aku masuk." Ayu berdiri di depan Malik. Jari-jarinya tidak berhenti bergerak karena menahan perasaan takut.


"Kak, lusa Ibu dan Bapak datang. Mereka rindu padaku karena sudah lama tidak datang." Ayu menunggu mulut Malik terbuka, tapi tetap saja tidak bergerak.


Tangannya sibuk dengan ponselnya. Entah dia mendengar atau tidak yah, tapi dia pasti hanya berpura-pura tidak mendengarkan ku. Ayu menghibur diri sendiri mengurangi rasa kecewanya.


"Ehmmmm, aku keluar ya Kak. Terimakasih." Ayu berharap Malik menahannya agar tidak pergi. Ayu melangkah perlahan mana tau Ka Malik berubah pikiran.


"Yu." Ayu auto berhenti dan kembali mendekat pada Malik yang masih duduk di sofa dengan perasaan gembira.


"Besok kita di undang Kak Sarah. Nanti aku jemput di sekolah." Ayu tersenyum bahagia.


Malik mendapat undangan dan Sarah mengharuskan dirinya membawa Ayu. Ini kesempatan bagi Malik memperbaiki keadaan dan memulai awal yang baru.


"Acara apa Kak?" Duduk di sebelah Malik, berharap pembicaraan akan berlanjut dan membuat mereka bisa berdamai dengan keadaan.


"Lihat saja besok." Malik kembali memainkan ponselnya tanpa menatap Ayu.


Ayu kembali berdiri melihat Malik yang masih dingin seperti es. Tapi setidaknya dia mau membawa serta Ayu. Kemajuan menurut Ayu. Ini harus di rayakan.


Ayu menuju dapur, mengupas beberapa buah menaruhnya di atas piring besar. Mengadakan perayaan atas kemajuan sikap Malik dengan buah-buahan segar dan segelas susu.


Ayu tenggelam dalam perasaan bahagianya menikmati sepiring buah segar di temani Drakor yang hits saat ini.


Ayu tertawa sendiri menyaksikan adegan lucu dari drama yang sedang dia nikmati. Tanpa dia sadari Malik menikmati pemandangan yang menyejukkan jiwa yang sudah lama tidak dia lihat.


Malik mengurungkan niatnya menanyakan detail ponsel Ayu yang hilang. Membiarkan Ayu menikmati dirinya sendiri tanpa terganggu olehnya.


Malik memikirkan sikapnya belakangan ini. Dia bertekad ingin berubah dan memperbaiki keadaan seperti sedia kala.


Bukan air mata yang mampu membangkitkan semangat Malik, melainkan senyum bahagia dari Ayu yang bisa membuat dirinya merasa punya arti.

__ADS_1


Malik merasa silau terkena pantulan cahaya matahari yang menembus dinding kaca apartemennya.


Perasaan Malik baru saja memejamkan mata, ternyata hari sudah pagi, terasa begitu cepat. Malik bangkit, ini hari baru yang harus disambut dengan penuh semangat.


Sepertinya Ayu sudah berangkat, Malik terlambat bangun seperti biasa. Dia sudah beberapa Minggu tidak bangun pagi karena menghindari Ayu.


Malik melihat tudung saji di atas meja makan. Berjalan perlahan untuk membuka tudung saji yang sudah lama tidak nampak. Malik tersenyum melihat catatan kecil di atas tudung saji.


"Dear Kak Malik, percayalah aku akan tetap setia." Emot love-love. Malik mencium catatan yang Ayu buat, tenyata perasaannya salah selama ini. Ayu masih sangat mencintainya dengan tulus.


Malik memulai hari penuh dengan kebahagiaan. Seperti taman bunga yang sangat indah. Dia menyapa siapa saja yang ditemuinya. Semua orang bahkan merasa aneh dengan perubahan sikap Malik yang tidak seperti biasa.


Aldo yang melihat keceriaan di wajah Malik ikut bahagia. Ini artinya suasana kantor akan menjadi tempat yang indah seperti surga.


"Pagi Bos. Bos sepertinya sedang bahagia hari ini." Malik tersenyum mendengar sapaan Aldo.


Malik merapihkan rambutnya yang tidak berantakan, memperhatikan ketampanan di cermin sampai Aldo merasa risih melihatnya.


"Oh iya Al, aku hari ini tidak bisa pulang terlalu malam." Aldo berjalan ke arah Malik dengan wajah masam.


"Bos yang meminta pertemuan dengan Tuan Dirga, jangan di undur lagi Bos. Ini sudah yang ketiga kali." Malik ingat dia yang bersikeras ingin bertemu.


Jika begini aku tidak bisa menjemput Ayu. Tapi aku yang meminta pertemuan ini, tidak bijak jika membatalkan begitu saja. Bicara dalam hati.


"Baiklah, selesia jam berapa pertemuannya?" Malik akan meminta Ayu datang duluan ke tempat Sarah dan Adam.


"Target hanya 50 menit meeting Bos. Semoga bisa lebih cepat." Aldo lega Malik tidak membatalkan pertemuan.


Aldo tersenyum bahagia. Sudah lama Malik tidak memperhatikan karyawan nya seperti ini. Tanpa ragu Aldo menghubungi Rera untuk memesan makan siang untuk seluruh staf.


***


Ayu sangat bahagia, ini hari pertama dia akan kembali bergandengan tangan setelah sekian Minggu tidak bisa saling menyayangi.


"Kenapa kau tidak berhenti tersenyum dari tadi?" Jofan ikut bahagia melihatnya. Tapi juga merasa aneh.


"Ah...." Ayu malu menutup wajah dengan kedua tangannya. "Apa aku sangat kentara, aku jadi malu." Jofan tersenyum.


"Bahagia lah, aku senang melihat senyum mu kembali." Ayu tersipu.


"Kak Malik yang menjemput mu?" Jofan masih belum beranjak menemani Ayu menunggu jemputan nya datang.


"Aku tidak tau, tapi Kak Malik mengajak ku ke rumah Dokter Sarah." Ayu masih dengan wajah bahagia nya.


Mereka berbincang dan tertawa bersama, tidak lama mobil mewah berwarna putih berhenti di lobby sekolah.


"Sepertinya itu bukan Kak Malik. Seperti nya Pak Dodo yang datang." Ayu merasa heran, dia pikir Kak Malik yang akan datang menjemputnya.


"Terimaksih sudah menemani Mas. Ayu pamit yah." Ayu melambaikan tangannya.


Jofan tidak beranjak sebelum memastikan Ayu masuk mobil dengan selamat. Selama Malik tidak menampakkan diri, Jofan selalu setia menemani Ayu menunggu. Dia orang paling perhatian dan peka dengan keadaan dan perasaan Ayu.


"Pak, apa Kak Malik belum pulang?" Ayu kecewa terlalu berharap.

__ADS_1


"Belum Nona, Tuan menyuruh saya mengantar Nona ke rumah Dokter Adam." Pak Dodo bicara dengan nada yang lembut.


"Kak Malik tidak datang?" Masih penasaran.


"Akan menyusul katanya Nona." Jelas Pak Dodo pada Ayu yang sedang kecewa.


Sarah dan Adam menyambut kedatangan Ayu dengan pelukan hangat. Sudah lama sekali Sarah dan Ayu tidak berjumpa. Sarah tidak banyak bergerak karena kandungannya sedikit lemah dan harus ekstra hati-hati.


"Adik kecilku sudah kelas 3 SMA sekarang? Kau semakin cantik sekarang." Pujian Sarah membuat Ayu tersipu.


"Dokter juga, kenapa perut besar ini membuatku sedikit iri." Sarah terkikik.


"Nanti saat waktunya tepat kamu juga akan memilikinya." Sarah memeluk erat Ayu.


"Sebenarnya Ada acara apa Kak? Kenapa sepi." Ayu meneguk air putih yang Adam sediakan. Tenggorokannya kering dan harus segera diberi perhatian.


"Hanya syukuran kecil-kecil an, karena sekarang kandunganku Sudah 8 bulan. Supaya dia sehat." Adam mengelus perut besar Sarah sambil menjelaskan pada Ayu.


"Kau ini, anak ini ada di dalam perutku." Gerutu Sarah mendengar ucapan Adam.


"Wah.... sebentar lagi aku punya teman kecil." Ayu tertawa lepas bersama Sarah dan Adam.


Malik sudah memberi tahu Adam jika dia menyesali perbuatannya. Kali ini dia akan membuat Ayu menjadi wanita yang selalu bahagia bersama dirinya.


Adam sudah tidak lagi menghawatirkan hubungan mereka, Malik sudah menyadari kesalahannya.


Tidak lama kerabat Adam dan Sarah sudah berkumpul menikmati jamuan yang sudah di sediakan. Tidak lupa do'a dan harapan dari para undangan yang datang membanjiri Sarah dan kandungannya.


Bruggggg.....


Suara keras dari halaman rumah membuat semua orang kaget dan beranjak untuk melihat Apa yang terjadi.


"Kau tetap di dalam, Ayu tolong jaga Sarah yah. Aku mau memeriksa sebentar apa yang terjadi di depan." Entah apa yang membuat Adam merasa khawatir berlebihan.


Sebuah mobil sedan dengan kepulan asap ada di halaman rumah Adam, membuat semua tamu panik berlarian menyelamatkan kendaraan mereka menjauhi kendaraan yang terlihat terbakar.


Adam sibuk menarik selang air untuk berjaga-jaga. Dia mencoba mendekati mobil dan mengecek isi di dalam mobil. Tidak ada siapapun di dalam. Ini seperti sebuah jebakkan.


"Adam, ada apa ini!" Malik baru saja sampai degan nafas beratnya karena lari.


"Tidak tau, tiba-tiba saja terdengar dentuman keras dan kami semua mencoba memeriksa apa yang terjadi. Tapi kenapa tidak ada orang di dalam sini." Tenyata asap yang terlihat juga merupakan asap buatan.


Mendengar itu Malik membulatkan matanya. Dia berpikir ini hanya trik mengalihkan perhatian.


"Dimana Ayu!" Adam tersadar Sarah dan Ayu di dalam rumah bersama Maghda.


Mereka lari mencari keberadaan Ayu dan Sarah. Terlihat Maghda yang meracau tidak jelas dengan air mata yang bercucuran. Adam jongkok mencoba membantu Maghda dengan segelas air putih.


Maghda menolak, dia menepis gelas membuat air tumpah berantakannya. Sontak saja pikiran buruk menerpa. Ayu dan Sarah tidak ada di sana. Apa yang sebenarnya terjadi.


"Adam, Sarah dan Ayu tidak ada di sini." Malik terduduk lemas. Kakinya seolah tidak bertenaga merasakan khawatir dan cemas dengan apa yang terjadi pada Ayu dan Sarah.


Pandangan mata Adam kosong, dia menyesal meninggalkan Sarah dan Ayu begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2