Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 42 (Karen Cedera Kecil )


__ADS_3

Kak Rey terlihat sibuk mondar mandir kesana kemari mengurus dokumen Ayu. Ada perasaan bahagia menyeruak dalam hati, Kak Rey begitu menyayangiku.


Tidak pernah terbersit sedikitpun dalam benakku akan memiliki cinta kasih yang berlimpah.


Banyak sekali cinta kasih yang hadir, mereka bahkan lebih tulus dari orang-orang yang seharusnya saat ini ada bersamaku. Tidak terasa air mata manganak sungai, tidak bisa dibendung. Ayu sesenggukan karena sedari tadi menahan rasa haru.


Tangisannya kali ini benar-benar sebuah kebahagiaan, tapi tetap saja membuat siapa saja yang melihatnya sedih. Perawat yang sangat baik menepuk halus pundak Ayu. Sepertinya dia paham kalo saat ini Ayu butuh sandaran.


“Kau baik-baik saja?” Suster memeluk Ayu dan menepuk lembut pundak Ayu.


“Kami semua sedang berusaha, coba untuk tenang yah....jagan menangis yah anak cantik. Lukanya juga tidak terlalu serius kok !” Suster merasa iba melihat air mata yang berderai dipipi Ayu.


Ayu hanya mengangguk, dia tidak mampu berkata-kata. Setelah selesai dengan semua administrasi, Kak Rey kembali ke UGD menemui Ayu. Dari kejauhan Rey melihat Ayu yang sedang menghapus sisa air matanya.


Anak ini memang benar-benar melankolis (Bergumam dalam hati). Kak Rey memberi isyarat agar suster meninggalkan Ayu, karena pertolongan pertama memang sudah diberikan dan sudah selesai. Saat ini Kak Rey duduk menghadap Ayu.


“Apa sangat sakit?” Kak Rey duduk disebelah Ayu. Tangannya mencoba memeriksa luka Ayu yang sudah dibaluri salep. Sebenarnya lukanya tidak terlalu berbahaya, karena kulit Ayu hanya merah akibat tersiram air sup yang cukup.


Tapi karena Kak Rey panik, dia langsung saja membawa Ayu ke rumah sakit tanpa pikir panjang. Dia bahkan sedikit malu karena berteriak meminta segera ditangani. Setelah tahu penjelasan dokter, Rey sedikit malu karena ulahnya sendiri.


Dokter paham jika keluarga pasien kadang suka terburu-buru dan panik saat menghadapi insiden. Apalagi menyangkut nyawa orang.


“Dokter bilang sudah boleh pulang, apa Ayu merasa pusing? Apa perlu rawat inap untuk memastikan semuanya baik-baik saja?” Rey sebenarnya juga bingung karena Ayu masih saja menangis.


“Gak perlu Kak, kita pulang saja. Udah gak terlalu sakit, hanya panas saja” Ayu sudah bersiap turun dari kasur.


“Tapi kenapa kamu masih menangis? Apa benar tidak sakit?” Rey masih ragu dengan pernyataan Ayu. Jelas-jelas dia masih berderai air mata.


“Aku memangis karena bahagia” Ayu berjalan mendahului Kak Rey. Rey tampak bingung dengan sikap Ayu.


Kenapa menangis kalo sedang bahagia, bukankah menangis gambaran hati yang sedang sedih yah? Apa aku tidur yah waktu pelajaran bahasa Indonesia? Suara hati Rey.


***

__ADS_1


Braakkkk....


Aldo masuk ke ruangan Malik tanpa permisi, dia baru saja mendapat telpon dari orang suruhan Malik yang mengawasi Ayu.


“Al, selalu saja masuk tanpa permisi” Malik sering kali dibuat jantungan dengan ulah Aldo.


“Ayu Bos (Aldo masih mengantur napasnya yang tidak beraturan)” Tangannya memegang dada yang terasa mau copot karena napasnya tersenggal-senggal.


“Bicara yang benar, kenapa dengan Ayu?” Malik berjalan mendekati Aldo yang membuatnya khawatir.


“Ayu tadi dibawa sama Pak Rey ke rumah sakit” Akhirnya Aldo mampu meyelesaikan kalimatnya dengan sempurna.


“Kenapa?” Malik tiba-tiba mencengkeram kerah baju Aldo. Banyak kekhawatiran, Malik takut jika Ayahnya akan mencelakai Ayu.


“Tangannya tersiram air panas Bos” Malik langsung saja menyambar jasnya yang tergantung dibelakang kursi.


“Kirimkan nama rumah sakitnya, cepat jangan pakai lama Al” Malik berlari sambil berteriak keras. Sekertaris perusahaan yang melihatnya ikut bingung.


“ Al, Pak Malik sebentar lagi ada meeting dengan kontraktor baru” Seru Rera (Sekertaris Malik), Aldo hanya mengangkat bahunya. Dia pasti akan mengambil alih pekerjaan Malik seperti biasanya.


***


Langkahnya setengah berlari menuju meja informasi, dicarinya nama orang yang saat ini sudah memenuhi hatinya.


“Mbak, Ayuna. Cepat cari”Dengan cekatan sang petugas sudah menemukan nama orang yang Malik cari. Mereka mengenal betul siapa Malik,dialah pemilik rumah sakit tempat mereka bekerja.


Malik langsung berlari menuju UGD, sesampainya disana Malik tidak menemukan siapapun. Hanya ada Balita yang sedang menangis dipangkuan ibunya.


Malik mencoba bertanya pada siapa saja yang ada disana dan tidak mendapatkan jawaban. Langkahnya sudah gontai, dia bingung karena tidak menemukan Ayu dimanapun.


Aku harus ke restaurant Rey. Biarkan saja jika harus bertemu Rey, aku akan menyuruhnya lebih waspada menjaga Ayu. Batin Malik


Saat sedang berjalan melewati lorong rumah sakit, Malik melihat sosok yang sangat dikenalnya. Malik langsung saja berlari memeluknya dari belakang.

__ADS_1


Brug....


“Apa kau baik-baik saja?” Malik memeluk erat tubuh Ayu. Malik yakin kalo setelah ini akan dibunuh oleh Ayu. Tapi biarkan saja, aku sangat khawatir.


“Kak Malik” Ayu meihat netra Malik saat berhasil melepaskan pelukan Malik. Dan Ayu tidak bisa marah. Saat ini kak Malik mungkin khawatir dan lepas kendali, atau bisa saja curi-curi kesempatan.


“Aku sangat khawatir, kenapa bisa begini?” Malik memeriksa setiap jengkal tangan Ayu yang terbalut oleh salep. Hatinya kembali marah karena tidak bisa menjaga Ayu.


“Kalian tau apa yang aku rasakan saat ini?” Mata Ayu kembali berkaca-kaca. Dia masih tidak bisa lepas dari rasa harunya.


Malik dan Rey menatap serius netra Ayu. “Karena cedera kecil ini, aku tau begitu banyak cinta kasih yang ada dalam hidupku” Ayu menggengam tangan Kak Malik dan Kak Rey.


“Terimakasih” Malik dan Rey sama terharunya dengan Ayu. Ternyata tindakan mereka yang sepele sangat penting bagi Ayu.


“Apa aku boleh meminjamnya?” Mata Malik menatap Rey dengan serius. “Kalo tidak boleh tetap akan aku bawa” Rey mencoba mencari jawaban dari tatapan mata Ayu. Dan sepertinya Malik orang yang baik.


“Pergilah” Rey berjalan untuk segera pulang. “Oh ya (kembali berbalik), Ayu boleh libur dan masuk lagi setelah tangan Ayu sudah sembuh” Kak Rey melanjutkan perjalanannya.


Malik pun membawa kembali Ayu pulang ke apartemennya. Malik ingin merawat Ayu dan mencoba selalu ada setiap Ayu membutuhkannya.


Tut...tut...tut...tut


“Kak sepertinya penting, angkatlah sebentar” Ayu merasa tidak enak karena Malik beberapa kali mengabaikan panggilan telponnya.


Sialan Aldo, kenapa selalu saja tidak tau kedaan. Kalo tidak diangkat berarti aku sedang sibuk, dia mengacaukan saja suasana hatiku yang sedang bahagia. Malik memaki Aldo dalam hatinya.


“Kenapa?” Malik berbicara dengan intonasi yang tinggi. Biasanya Aldo akan tau jika saat ini Malik tidak mau diganggu.


“Gawat Bos, Pak Rama hari ini datang kekantor pusat” Aldo saat ini sedang khawatir. Dia pasti akan kena semprot oleh kedua pihak.


“Cari saja alasan yang bisa menyelamatkanku” Malik menutup telponnya.


Tinggallah Aldo yang harus menyusun strategi agar Bos besarnya tidak curiga akan keberadaan anaknya yang saat ini tidak terlihat dipelupuk mata.

__ADS_1


Kenapa nasibku selalu saja dalam ujung tanduk, siapa yang harus aku lindungi ya Tuhan. Keduanya sama-sama membuatku jantungan setiap saat.


Terkadang Aldo frustasi menghadapi kedua Bosnya. Keduanya sama saja menjengkelkan dan mau menang sendiri. Memang Malik anak Pak Rama, sifatnya banyak menurun dari Ayahnya. Batin Aldo


__ADS_2