
Rama sudah bersiap-siap untuk pergi menemui Lissa dan Hans, tapi masih ada keraguan karena Rama mengajak Ayu dan juga Malik.
“Apa tindakanku sudah benar mengajak Ayu dan Malik?” Rama duduk di depan meja rias yang biasa di tempati Mamih.
“Apa hatimu yakin?” Mamih sedang sibuk dengan sulaman di tangannya.
“Iya, tentu saja!.” Rama berdiri merapihkan jasnya dan menghampiri sang istri.
“Jika yakin maka jalankan, tapi jika ragu sebaiknya tidak usah.” Mamih masih memegang jarum di tangan kanannya.
“Baiklah nyonya, kalau begitu saya segera berangkat.” Rama mengecup kening sang istri setelah memantapkan langkahnya. Mamih ikut berjalan mengantarkan Rama sampai ke dalam mobil seperti biasanya.
Terlihat Malik dan Ayu yang sudah rapih. Mamih sedikit sedih karena pakaian Ayu masih sangat sederhana, dan otak Mamih langsung mengabsen butik-butik langganannya.
“Mamih tidak ikut?” Ayu berharap Mamih akan jadi sandarannya saat suasana canggung mulai membuatnya gelisah.
“Mamih tidak sanggup, kaki Mamih masih sangat sakit karena terlalu banyak bergerak kemarin.” Mamih sedikit meringis untuk meyakinkan.
“Apa Mamih baik-baik saja?” Malik sedikit khawatir karena akhir-akhir ini Mamih sering mengeluhkan keadaan kaki nya yang sakit.
“Tenang saja, Mamih baik-baik saja.” Mereka bergegas menuju tempat pertemuan yang sudah Rama tentukan dengan satu mobil.
Rasa rindu menyeruak membuat mata Ayu berkaca-kaca, betapa tempat ini menyimpan banyak sekali kenangan. Mereka semua selalu membantu Ayu dan mempermudah setiap pekerjaan yang Ayu belum kuasai.
Terlihat Kak Ana duduk di meja resepsionis tersenyum menyambut kedatangan mereka. Ana langsung berdiri berjalan menghampiri dan menunjukkan ruangan yang sudah Rama pesan.
“Apa Rey masih di rumah sakit?” Rama kenal sosok gadis yang ada di hadapannya. Gadis cantik yang setia menemani Rey dan menjadi penguat saat Rey dan Jofan terpuruk.
“Masih Tuan, hari ini Kak Ferdinan sudah bisa pulang.” Ana menyunggingkan senyum bahagia melihat Ayu yang terlihat bahagia, membuat Ana lega.
Setelah Ayah mertua dan Kak Malik menghilang di balik pintu, Ayu memeluk erat tubuh Ana yang sangat dia rindukan.
“Apa kau sangat bahagia? Aku iri melihatmu sudah menikah.” Ana menggambarkan perasaannya saat ini. Rey dan dirinya sama-sama terlalu lama menunda pernikahan.
“Aku masih belum tau Kak.” Ayu masih bimbang dengan perasaannya. Ada rasa lega karena Bapa sudah memaafkan kesalahannya. Tapi ada rasa sedih karena Ayu menikah teralu dini.
“Masuklah, nanti kita bisa bicara lain waktu.” Ana mendorong tubuh Ayu agar segera masuk dan menikmati makan malam.
Duh Kak Ana, padahal aku ingin sekali berada di dapur saja. Aku ingin menghindari ketegangan ini Kak Ana. Tolong aku siapapun yang bisa mendengar jeritan hatiku.
Ayu tetap menyunggingkan senyum. Malik sudah mengulurkan tangannya agar Ayu menggenggam tangannya. Ayu duduk di sebelah Malik. Di depannya duduk Rama yang sedang sedikit berdiskusi dengan Pak Pras dengan sangat pelan.
“Hm..Hm... Begini Nak. Hari ini Ayah mengundang Keluarga Klara dan juga keluarga dari hans.” Ayu tidak asing dengan mereka.
__ADS_1
“Apa Ayah sudah tidak waras. Ayah masih mau menjodohkanku dengan Klara?” Malik mendengus kesal.
“Dengarkan dulu Kak, Ayah masih belum selesai bicara.” Rama merasa menang karena Ayu membelanya di depan Malik.
Pras tidak kalah senang karena Malik tidak mungkin melawan perkataan Ayu. Pras menyembunyikan senyumnya, jika Malik tau dia akan jadi pelampiasa kemarahannya.
Kenapa dia malah membela Ayah. Padahal aku sedang membela dirinya dari laki-laki tua ini. Malik menjerit di dalam hati.
“Ayah sudah tau siapa yang menjebak kalian berdua. Tapi Ayah tidak tau detail ceritanya karena banyak cctv di dalam villa yang tidak bisa diperbaiki.” Mlalik mengerutkan keningnya.
“Apa semua itu penting sekarang? Aku bahkan sudah menikah Yah!.” Malik khawatir jika Ayu akan kembali menderita karena masalah ini.
“Tapi Kak Klara orang yang sangat baik, dia tidak mungkin melakukan ini semua.” Ayu hanya beberapa kali bertemu Klara. Tapi Ayu tidak melihat sifat buruk dalam diri Klara. Dia wanita yang amat sangat baik, cantik dan elegan di mata Ayu.
“Kit akan tau setelah kita bicara dengan mereka semua. Tapi Ayah berharap kalian bisa mendengarkan dari ruangan sebelah saja. Ayah masih belum mau membuka pernikahan kalian di khalayak ramai.”Rama mencoba memberikan pengertian pada kedua anaknya.
Malik menarik tangan Ayu memasuki ruangan di sebelah ruangan yang Rama tempati.
Sebenarnya saat ini Malik lebih memikirkan bagaimana perasaan Ayu. Beberapa kali Malik memandang wajah Ayu yang sedikit sendu tapi masih tetap berusaha tersenyum.
“Apa semua baik-baik saja? Apa kita pergi saja dari sini?” Malik mencoba memastikan perasaannya yang tidak enak.
“Tidak Kak, aku baik-baik saja. Aku hanya khawatir sedikit.” Malik merangkulnya, memberikan pelukan hangat dan sentuhan magic yang sering membuat Ayu merinding.
sentuhan-sentuhan ini ya Tuhan. Ayu meronta di dalam hati.
Tok...tok...
Tampak seorang pemuda masuk sendirian menemui Rama. Dia tidak bicara apapun, tubuhnya langsung duduk berlutut memohon pengampunan atas perbatannya. Hanya ada air mata yang menggambarkan perasaan menyesalnya.
“Dimana kedua orag tuamu?” Rama melipat kedua tangannya di depan dada.
“Tolong Tuan, jangan bicarakan ini dengan orang tua ku. Aku akan bertanggung jawab.” Hans tertunduk.
“Mereka harus tau Hans, ini tindakan kriminal dan bisa saja menjeratmu.” Rama merasa sedikit iba karena Hans mencintai keluarganya.
“Mereka sudah cukup sulit Tuan. Aku mohon jangan menambah beban hidup mereka Tuan, aku mohon Tuan.” Hans begitu menyesal.
Perasaan cintanya membutakan matanya.
“Kenapa? Kamu takut mereka marah, atau takut mereka akan...” Rama sedikit ragu. Air mata Hans terlihat begitu tulus.
“Aku tidak ingin mereka terbebani Tuan. Aku akan melakukan apapun untuk melindungi mereka semua. Kalau harus mati aku juga rela, tapi jangan libatkan mereka Tuan.”
__ADS_1
Deg....
Bahkan anak muda ini rela mengorbankan nyawanya demi kebahagiaan keluarganya.
Selama ini Rama begitu menginginkan sosok anak laki-laki nya menjadi gagah berani seperti pemuda yang ada di hadapannya.
Tapi ketamakan ku malah menjadi jarak antara aku dan Malik. Bahkan aku terkesan tidak menyayanginya selama ini. Rama menarik nafasnya panjang. Saat ini Hans menyesali perbuatannya.
“Duduklah, jangan katakan apapun pada sahabatmu yang juga melakukan hal yang sama denganmu.” Hans sudah paham dengan apa yang Tuan Rama maksud.
Entah ganjaran apa yang akan Hans terima. Saat ini Hans sudah pasrah dan siap menerima segela resiko yang harus dia hadapi.
Tidak lama tampak keluarga Lissa memasuki ruangan dengan aura bahagia, kecuali Lissa. Hans melihat gurat kekhawatiran di wajah cantik perempuan pujaan hatinya. Tapi Hans hanya membisu. Menyambut hangat Tangan Tante Nata yang terulur padanya. Hans mencoba bersikap baik-baik saja.
Acara makan malam begitu tegang, hanya Mamah dan Papa Lissa yang tampak begitu bahagia. Mereka sama sekalin tidak tau kegundahan hati putrinya.
Setelah makan malam yang begitu tenang dan bahagia. Saat ini Nata dan Zaldi melihat kedua putrinya berlutut di depan Tuan Rama. Mereka tidak tau sama sekali dengan perbuatan anak-anaknya.
Nata mencoba meraik tangan Klara, mencoba menarik tangan Lissa yang berlutut di belakang Klara setelah tertegun melihat Kaka nya harus mempermalukan dirinya demi adik yang dia sayangi.
“Nata tenanglah.” Rama masih khawatir karena Nata sangat lemah.
“Bagaimana ini, apa yang mereka lakukan.” Nata begitu terpukul, dirinya tidak tau apa yang di alami putri-putrinya.
“Klara, Lissa. Tidak perlu seperti ini, duduklah.” Rama tidak tega melihat mereka berlutut.
“Tidak Tuan, aku pantas melakukannya karena tidak menjaga Lissa dengan baik. Aku tidak mengajarkannya dengan baik dan aku lengah.” Klara menahan emosinya agar bisa berkata tanpa terisak.
“Tidak, tidak. Ayo duduk, jika begini aku tidak mau dengarkan penjelasa kalian.”Lissa dan Klara bangkit.
Nata memeluk tubuh kedua putrinya yang bergetar hebat, selama ini Nata berpikir semuanya baik-baik saja.
Lissa mencoba menceritakan sedetail mungkin isi dari video yang dia rekam. Air matanya tidak dapat di bendung saat melihat sorot mata Papah, Lissa begitu takut akan kemarahan Papah setelah ini.
Ayu begitu lega mendengar cerita yang Lissa sampaikan. Malik menggenggam erat tangan Ayu, tidak mau melepaskannya walau hanya sedetik.
Apa hubunganku denga Ayu akan berakhir? Apa Ayu akan meninggalkanku setelah ini? Tuhan, tolong jangan gadis cantik ini dari hidupku. Batin Malik menjerit.
“Aku minta maaf Tuan. Aku begitu jahat membuat Ayu dan Kak Malik harus menanggung semua ini. Aku mohon maafkan aku Tuan.” Lissa ketakutan. Bukan karena Tuan Rama, tapi karena sorot mata Papahnya.
Ayu dan Malik berjalan memasuki ruangan yang begitu panas meskipun dengan penyejuk ruangan. Mereka berdua memandang satu persatu wajah orang-orang yang begitu merasa bersalah.
“Aku sudah memaafkan mereka semua Ayah. Tolong jangan beri hukuman, beri kesempatan pada Lissa dan Hans untuk memperbaiki semua ini.” Rama kembali terkejut.
__ADS_1
Hans, Klara dan Ayu adalah anak-anak muda yang memiliki hati begitu suci. Bahkan mereka semua rela berkorban demi kebahagiaan orang lain. Tidak perduli dengan apa yang akan mereka tanggung akibat perbuatan mreka ini. Rama terkagum, mulutnya kelu tidak bisa mengatakan apapun padahal sudah dia susun sedemikian rupa agar mereka jera.