Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 104 ( Ayu Adalah Istriku )


__ADS_3

Malik duduk di samping Aldo, biasanya dia akan duduk di kursi belakang layaknya Bos pada umumnya. Hari ini berbeda, ada gadis cantik yang tergila-gila padanya duduk di kursi belakang.


Nikita padahal berharap akan duduk berdua dengan Kak Malik di kursi belakang saat Kak Malik meminta Aldo menemani mereka. Tapi ternyata hanya khayalan saja.


"Kak Malik, kita jangan langsung pulang yah! Aku ingin keliling Jakarta Kak." Nada bicara yang manja, membuat Aldo sedikit kesal mendengar nya.


"Hmmmm...." Malik sibuk dengan ponsel di tangannya.


"Kak, aku ingin sekali pergi ke kota tua. Teman-temanku bilang disana banyak sejarah tentang penjajahan jaman dahulu." Bercerita dengan antusias.


Aldo melirik Malik dengan sinis, dia bahkan tidak mendengarkannya. Apa sebenarnya hubungan mereka. Gadis ini juga tidak tau diri sekali sok kecantikan, tapi memang cantik sih. Aldo kesal sendiri memikirkan hubungan mereka.


Mengingat bagaimana perjuangan Malik mendekati Ayu sampai mereka terjebak di keadaan yang membuat mereka memutuskan untuk menikah.


Mereka sudah sampai di sekolah Ayu. Tampak beberapa anak sekolah yang sudah keluar dari kelas. Terlihat raut bahagia setelah mengikuti ujian hari terakhir kenaikan kelas.


Malik memutuskan untuk menunggu Ayu di kantin. Perutnya sedikit lapar karena belum makan siang. Malik berniat mencari cemilan.


Malik, Nikita dan Aldo duduk menikmati jus mangga segar yang mereka pesan. Cemilan tetap harus sehat untuk menunda lapar yang mendera.


"Kak, Ayu itu adikmu yah?" Pertanyaan polos Nikita.


Uhuk....uhukkkk....uhukkk...


Malik terbatuk-batuk mendengar pertanyaan Nikita. Tenggorokannya sampai sakit karena tersedak cukup keras.


"Kau baik-baik saja Kak? Kenapa tidak pelan-pelan" Nikita menepuk punggung Malik.


"Sudah... uhukkk..tidak papa." Malik menyingkirkan tangan Nikita dari pundaknya. Dia merasa risih dan tidak nyaman.


Rasakan, itu pasti karma karena sudah menduakan Nona yang sangat baik. Laki-laki semua sama saja. Selain diriku. Gerutu Aldo dalam hati.


"Maaf, kalian jadi lama menunggu yah." Ayu tersenyum sedikit terengah-engah karena lari.


Terlihat Sandra, Melani dan Jofan berdiri di belakang Ayu. Mereka bertiga memandang Nikita dengan tatapan yang sangat sinis dan tidak suka.


Malik jadi salah tingkah dibuatnya. Tetapan mereka mengintimidasi secara tidak langsung. Mereka bertiga memang sangat menyayangi Ayu. Pasti banyak pertanyaan yang ada di kepala mereka bertiga saat ini tentang Nikita.


"Kalian mau ikut Kak Malik makan siang? Kita rayakan hari terakhir kalian ujian." Mencoba mencairkan suasana.


"Mereka pasti teman-teman Ayu yah? Salam kenal semuanya, aku Nikita pacar Kak Malik."


"APA!!!" Teriak ketiga sahabat Ayu seperti paduan suara, membuat Malik terkejut.


Jofan sangat marah, wajahnya merah padam menahan emosi. Ayu sadar ketiga sahabatnya tidak nyaman, Ayu menarik tangan ketiga sahabatnya, tersenyum agar ketiga sahabatnya tau dirinya baik-baik saja.


"Aku akan jelaskan nanti. Sekarang kita makan siang sama-sama yah." Ayu menarik Jofan sekuat tenaga. Menjauhkannya dari pertikaian yang hampir meledak. Melani dan Sandra mengikuti langkah Ayu di sebelahnya. Mereka berjalan beriringan dengan langkah yang cukup cepat.


"Siapa wanita itu?" Jofan berkata lirih di telinga Ayu, dia sudah tidak bisa menahan pertanyaan yang sudah menari di kepalanya.


"Dia masa lalu Kak Malik. Dia sangat cantik dan mereka terlihat sangat serasi." Ayu menatap sedih Malik dan Nikita yang berjalan jauh di belakang mereka.

__ADS_1


"Bicara apa kamu ini. Kamu kan istrinya, dia tidak boleh punya hubungan seperti ini meskipun kalian menikah secara diam-diam!" Jofan semakin emosi dengan sikap Ayu.


"Kak Malik berjanji akan menyelesaikannya. Tapi aku tau dia sedang bingung menentukan pilihannya. Kak Nikita sangat manis." Ayu mengakui kecantikannya dan kelembutan hati Nikita.


"Tidak, dia tidak boleh memilih. Enak saja berbuat seenaknya begitu saja." Ayu terharu Jofan membelanya seperti sekarang ini, rasanya bahagia banyak yang perduli pada dirinya.


"Jangan jadi wanita lemah hanya karena kamu merasa dia lebih baik. Kamu juga harus berjuang." Jofan ingat bagaimana Mama kalah dalam mempertahankan cintanya karena rasa bersalah.


"Maaf aku membuat kalian semua jadi khawatir. Aku yakin Kak Malik akan membereskan masalah ini." Ayu memeluk Sandra dan Melani yang hanya mendengarkan Jofan sampai terbawa suasana.


Malik sengaja berjalan perlahan menghindari amukan ketiga sahabat Ayu. Pasti Ayu akan menenangkan suasana seperti biasanya.


Jofan tidak membiarkan Ayu satu mobil bersama Malik. Dia menariknya ke dalam mobilnya tanpa persetujuan Malik.


Malik mati kutu karena Jofan terlihat mengerikan saat marah. Aldo bahkan sampai kaget melihat Jofan begitu berani melawan Malik. Padahal selama ini Aldo memimpikan bisa melawan Malik seperti yang di lakukan Jofan.


Perjalanan ke restaurant Kak Rey tidak jauh dari sekolah. Bahkan tidak ada pembicaraan akan makan dimana mereka siang ini.


Jofan mengambil keputusan begitu saja berhenti di restaurant Kak Rey tanpa kesepakatan. Aldo hanya bisa mengikuti mereka dari belakang tanpa bertanya.


Malik pasti saat ini sedang kacau pikirannya, bertanya padanya sama saja mencari masalah.


Malik dengan cepat turun dari mobil membukakan pintu untuk Ayu. Ayu sampai kaget pintu mobil terbuka begitu saja saat dirinya belum siap.


"Kak...aku sangat terkejut. Kak Malik ada-ada saja." Malik hanya tersenyum.


Membawa Ayu dalam pelukannya karena merasa ketiga sahabatnya menjauhkannya darinya.


Malik berjalan tidak melepaskan tangan Ayu. Memesan ruangan VVIP seperti biasa dengan menu makanan spesial yang akan memanjakan lidah.


"Kak Malik sangat menyayangi Ayu. Aku terharu melihatnya." Jofan menggeleng tidak percaya dengan apa yang dia saksikan di depan mata.


"Siang semuanya....." Adam memasuki ruangan dengan raut wajah yang sangat bahagia, berbeda dengan penghuni ruangan yang saat ini sangat tegang dan tidak bersahabat.


"Kak Adam....." Nikita berlari menyambut Adam, memeluknya dan mencium pipinya kanan dan kiri. Budaya orang barat. "Aku sangat merindukanmu." Adam merasa malu semua mata menatapnya.


"Hahahhahahha......Aku juga, kita kan bersahabat cukup lama yah." Bicara lantang. Mencoba mejelaskan hubungan sebenarnya.


"Kak Adam juga sudah mengenal mereka semua yah? Pasti sangat menyenangkan punya banyak teman." Nikita merasa bahagia ada di tengah-tengah mereka.


Adam membawa Nikita duduk setelah basa basi. Semua menikmati makanan mereka yang sudah terhidang selain Jofan. Hanya ada perbincangan ringan yang tidak berfaedah. Ayu bahkan terlihat baik-baik saja, membuat Jofan semakin emosi melihatnya.


Ayu saat ini malah merasa bersalah membuat Nikita kehilangan Malik tanpa dia tau. Seharusnya Nikita yang menjadi pasangan Kak Malik.


"Ayu, kamu pasti sangat bahagia punya Kaka sebaik Kak Malik."


Uhukkkk..uhukkkk...uhukkkk


Giliran Adam yang tersedak makanan saat mendengar ucapan Nikita.


Nikita membantu Adam menepuk pundaknya, sama seperti yang dia lakukan pada Malik tadi.

__ADS_1


Kenapa kalian bisa tersedak dengan pertanyaan yang sama. Bicara dalam hati. Memang siapa sebenarnya Ayu ini!.


"Bukankan benar Ayu ini adik Kak Malik?" Mencari kebenaran dan kepastian. Dia juga tidak bodoh, ada yang ganjil dengan sikap Malik dan Adam saat ini.


Semua terdiam mendengar pertanyaan Nikita. Sebenarnya memang ada yang aneh dengan hubungan Malik dan Ayu. Tapi dibenaknya sangat tidak mungkin Ayu kekasih Malik apalagi dia masih SMA.


Malik tersenyum sebelum memulai penjelasannya. "Aku sudah melakukan kesalahan padamu Nik, tapi semua harus kita selesaikan." Semua mendengar kan dalam diam.


Ayu sangat takut Nikita akan membenci Kak Malik jika tau siapa dirinya. Dia hanya menunduk menyembunyikan rasa khawatir.


"Jelaskan, aku seperti orang bodoh di tengah-tengah kalian semua." Nikita sedikit emosi karena merasa tidak tau apapun tentang keadaan saat ini.


"Ayu adalah istri ku, kami sudah resmi menikah dan sah secara hukum dan agama." Ayu terharu mendengar ucapan Kak Malik yang penuh penekanan.


Nikita tidak merespon, otaknya masih berfikir kalau dirinya sedang dikerjai oleh mereka semua.


"Kau bercanda kan Kak. Apa mungkin...." Adam mengangguk saat Nikita mencari jawaban lewat sorot matanya yang mulai berkaca-kaca.


"Aku minta maaf, aku dulu pernah berjanji hal yang sebenarnya tidak mungkin terjadi." Malik berdiri di depan Nikita yang tidak mau melihat ke arahnya.


Hanya ada air mata di pelupuk mata Nikita yang dihapus dengan kasar oleh tangannya sendiri.


"Tolong maafkan Malik, ini semua salahku yang memaksanya memacari Nikita. Padahal Malik tidak pernah mau." Nikita semakin sesenggukan mendengar ucapan Adam.


Merasa dirinya sedang di permalukan di depan semua orang saat ini. Malik bahkan memacarinya dulu karena terpaksa, dia tidak sungguh-sungguh dengan perasaannya.


"Kak Nikita, aku minta maaf. Aku harap Kakak tetap mau jadi sahabat Ayu." Ayu meraih tangan Nikita namun di tepis, merasa iba karena Nikita gadis yang baik.


"Kamu membuatku malu, aku menolak lamaran seseorang karena aku yakin Kak Malik masih menungguku." Bicara sambil terisak.


"Aku mohon maafkan aku." Malik memang yang bersalah di sini.


Nikita lari pergi meninggalkan ruangan.


Malik lari mengejar Nikita diikuti Adam dan Aldo.


"Tunggu di sini, aku harus membantu mereka menemukan Nikita. Jagan tinggalkan ruangan ini sebelum Kak Malik atau aku datang." Pesan Jofan pada ketiga sahabatnya yang hanya duduk mematung, mereka bingung harus berbuat apa.


Sandra, Melani dan Ayu gelisah menunggu mereka yang tidak juga datang. Waktu terasa begitu lama.


"Kita tidak bisa duduk di sini dengan tenang. Aku takut Kak Nikita berbuat yang tidak-tidak." Ayu bangkit ingin ikut mencari.


"Tidak, nanti kita kena marah Jofan kalau tidak menuruti nya." Melani paling takut kalau Jofan sudah marah.


"Tapi benar apa yang Ayu katakan, kita lebih baik ikut mencari dimana Nikita." Melani menghela nafas, dua lawan satu. Sudah pasti dia kalah.


Mereka bertiga berjalan menyusuri jalanan dekat restaurant, mencari di tempat-tempat yang cukup terang agar tidak berbahaya.


"Kak Nikita....dia sembunyi dimana yah! Apa mungkin mereka sudah menemukannya?" Sandra mengangkat bahu tidak tau harus menjawab apa pernyataan yang Melani lontarkan.


"Bagaimana jika kita berpencar agar lebih cepat." Ayu mengusulkan ide.

__ADS_1


"Tidak, jangan mencari masalah. Kita bisa saja dalam masalah kalau nanti malah kita yang hilang." Sandra tau Ayu sedang tidak aman sekarang.


Mereka tetap mencari sambil bergandengan tangan, tidak melepaskan satu sama lain agar tetap aman.


__ADS_2