Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 16 ( Cemas )


__ADS_3

Pagi ini di sambut dengan teduh dan sejuknya angin pagi. Tiba-tiba saja ada rasa rindu di hati seorang Malik.Dia bergegas untuk segera pergi dari rumahnya.


“Nak, mau kemana buru-buru sekali?” Maminya bingung dengan tingkah anaknya. Malik hanya membalas dengan lambaian tangannya.


Tidak dihiraukan pertanyaan dari sang mami. Pikiran dan hatinya sudah merindukan seseorang. Langkah kakinya secepat kilat melangkah menuju mobilnya yang terparkir rapi.


“Mas ......Mas....., itu mobil masih proses cuci Mas, belum selesai Mas.....” Tak di hiraukan, mobilnya masih penuh dengan sabun diseluruh bodynya.


Tangannya di gerakkan agar wiper kaca depan bergerak membersihkan sisa sabun yang masih menempel. Segera saja dia melajukan mobilnya ke tempat tujuannya.


Sesampainya di depan sekolah, dia memperhatikan langkah kaki sang Pujaan hati. Tak ada yang aneh. Dimata Malik, Ayu tetaplah cantik seperti namanya.


Dia memperhatikan gerak gerik Ayu dari kejauhan, cukup melihat senyumnya saja sudah membuat hati Malik berbunga bunga.


Akhirnya dia memutuskan untuk segera melanjutkan perjalanannya ke kantor.


“ Tok...tok...tokkk....”


Tiba-tiba saja kaca mobilnya di ketok oleh kepala sekolah yang tidak sengaja mengenali mobil Malik. Malik menurunkan kaca mobilnya yang diketuk.


“Pak Malik, apa kabar Pak? Tumben sekali pagi-pagi sudah sampai Pak?” Kepala sekolah mencoba menyapa Malik dengan ramah. Malik pun akhirnya memutuskan untuk keluar dan berbincang dengan kepala sekolah.


Karena di kantor tidak ada hal yang penting, Malik memutuskan untuk melanjutkan pembicarannya dengan kepala sekolah.


Setelah 10 menit berbincang Malik memutuskan untuk segera pergi.

__ADS_1


Diperjalanannya, tiba-tiba saja ada rasa penasaran ingin melihat Ayu didalam kelas.


Langkah nya pun berbelok menuju kekelas Ayu. Dari kejauhan didengarnya teriakan anak2 yang memanggil manggil nama Ayu.


Malik mempercepat langkahnya, dia membuka paksa pintu kelas, gebrakan pintu membuat seisi kelas kaget, mereka semua memperhatikan kedatangan Malik.


Dengan setengah berlari, Malik menghampiri Ayu yang tergeletak di atas pangkuan Jofan. Malik langsung saja menggendong tubu Ayu yang ringan menuju kemobilnya.


Pak Agus yang mengenal Pak Malik mengikuti langkahnya dari belakang. Pak Agus pun sama khawatirnya kepada Ayu.


“Pak, tolong kasih tau keluarganya kalo Ayu saya bawa ke Rumah Sakit keluarga saya, Bapak tidak usah khawatir”. Pak Agus pun mengantar Ayu dan pak Malik hanya sampai diparkiran mobil setelah membukakan pintu mobil.


Malik sangat khawatir dengan keadaan Ayu, dia menerobos lalu lintas dengan cepat, sepanjang perjalanan Malik tak melepaskan genggaman tangannya.


Keluarga Malik adalah salah satu orang kaya yang ada di Jakarta. Beberapa Rumah Sakit, Sekolah, Mall yang ada di Jakarta adalah milik keluarganya. Belum lagi yang ada di luar daerah dan luar negeri. Malik merupakan anak tunggal, keluarganya sangat menyayanginya . Malik merupakan pewaris tunggal keluarganya.


Karena itu, orang tuanya sangat membatasi pergaulan Malik sedari kecil, tidak banyak teman yang dia miliki, hanya beberapa saja. Itupun harus atas ijin Mami dan Ayahnya.


Dokter Adam sahabat Malik sedari sekolah dasar sangat akrab dengan Malik, dia diangkat oleh keluarga Malik sebagai direktur Rumah Sakit keluarga yang ada di Jakarta.


“Kenapa dia Lik? Siapa dia? Kenapa bisa begini?”. Mata Malik langsung saja melotot mendengar deretan pertanyaan yang keluar dari mulut Adam.


“Kau tak bisa memprioritaskan apa yang harus kamu kerjakan? Cepat periksa, JANGAN BANYAK TANYA.” Adam tak berani berkata-kata lagi jika sahabat nya sudah naik darah.


“Keluarlah, aku harus fokus”. Adam mendorong tubuh Malik yang tidak mau berpaling dari Ayu.

__ADS_1


Brakkkkkkkkk..........


Adam menutup pintu dengan kasar, hitung-hitung balas dendam karena rasa penasarannya belum terbalaskan.


“Adam, jangan membuatku menunggu terlalu lama, atau aku pecat kau”. Teriak Malik dari balik pintu.


Adam tak menggubris kata-katanya, dia tau betul gaya sahabatnya jika sedang marah. Dia akan menggunakan kekuasaannya untuk mengendalikan keadaan.


15 menit sudah berlalu, akhirnya Adam membuka ruang perawatan dengan keringat membasahi tubuhnya. Malik langsung saja memberondong Adam dengan banyak pertanyaan.


“Kenapa? Kenapa dia bisa pingsan? Apa ada yang serius? Apa dia sakit parah?”. Adam hanya memandang Malik yang kelihatannya tidak sedang main –main.


“Kenapa kau tumben sekali? Siapa dia?” Adam malah balik bertanya dan tidak menggubris pertanyaan Malik.


“Aku jatuh hati padanya, tolong jawab pertanyaanku. Apa ada yang serius?” Adam heran dengan pernyataan yang terlontar dari mulut Malik.


“Apa aku tak salah dengar? Apa kamu kira aku anak2 yang bisa kau bodohi? Lihat seragamnya, dia masih kecil. Kamu tidak boleh bermain-main dengan anak kecil Lik”.


“Aku tidak main-main, gadis itu sudah membuatku jatuh hati. CUKUP......kenapa kita membahas ini. Dia kenapa?” Malik mecengkeram lengan Adam.


“Dia alergi, dan daya tahan tubuhnya tidak dalam kondisi baik, makanya dia langsung pingsan”. Malik melepaskan cengkraman tangannya “tidak ada yang serius, dan untung saja kamu cepat2 membawa dia ke sini”.


“Aku akan memberikanmu bonus, masih sama kan rekeningmu? Hah....hah....” Malik sangat bahagia mendengar kabar Ayu baik-baik saja.


“Jangan membangun kannya, aku membrikannya obat tidur supaya dia istirahat cukup. Badannya kekurangan cairan juga makanya dia sangat lemah” Adam memperingatkan Malik agar tidak merepotkannya lagi.

__ADS_1


__ADS_2