
Malik mengatur dengan segala macam cara agar waktu yang dia punya bisa Malik gunakan dengan baik. Terlebih lagi saat ini dia harus lebih memperhatikan Ayu sebagaimana mestinya. Perkerjaan yang begitu banyak terkadang membuat Malik kehilangan banyak momen untuk menemani Ayu.
Seperti hari ini, Ayu sudah duduk santai menunggu jemputan nya datang. Tapi setiap kali mereka selalu saja terlambat tidak tepat waktu. Membuat Ayu harus punya kesabaran lebih menunggu lebih lama.
Ayu memutuskan menunggu di perpustakaan, menghilangkan penat karena menunggu membosankan. Ayu berkeliling mencari buku-buku yang menarik untuk dia baca.
Ada satu buku yang menarik perhatian Ayu. Ayu memutuskan untuk membacanya, mencari tempat duduk agar nyaman menikmati setiap bait kata yang tertulis di dalam buku. Ayu melihat Kepala Sekolah yang sedang membaca buku tebal di bangku paling ujung perpustakaan.
Perlahan Ayu berjalan menghampiri.
"Sore Pak, Bapak belum pulang juga?" Ayu tersenyum ramah.
Dada Ferdinan bergemuruh setiap melihat paras Ayu yang mengingatkan akan dosa besarnya, rasanya ingin sekali berteriak menyatakan jati dirinya yang sebenarnya. Tapi tidak bisa egois, banyak perasaan yang harus Ferdinan jaga.
"Bapak baik-baik saja?" Ayu khawatir melihat wajah Ferdinan yang merah padam. Seperti ada banyak beban yang tidak bisa di ungkapkan.
"Ah...maaf. Bapak malah melamun. Duduk lah Nak." Ferdinan menggeser kursi di sebelahnya. Bahagia bisa melihat Ayu tumbuh jadi gadis yang cantik dan kuat.
Banyak cerita yang Ferdinan dengar dari Jofan bagaimana perjalanan hidupnya selama ini. Banyak penderitaan, tapi juga banyak suka cita yang turut mewarnai kehidupannya. Ayu lebih banyak membagikan cerita bahagia pada ketiga sahabatnya.
"Aku temani ya Pak. Kak Malik juga belum datang." Ayu duduk di sebelah Ferdinan. Ferdinan tidak bisa menahan kekagumannya pada anak gadisnya.
"Kamu sangat cantik Nak." Bergumam lirih, Ayu mengernyitkan dahinya karena kata-kata nya tidak terlalu jelas.
"Bapak bicara padaku? Maaf aku tidak dengar." Merasa bersalah karena terlalu fokus dengan buku yang Ayu baca.
"Tidak, teruskan Nak. Sepertinya Bapak sudah di tunggu Jofan. Bapak harus meninggalkan Ayu sendiri." Ferdinan takut tidak bisa menahan diri. Dia memutuskan meninggalkan Ayu meski hatinya sangat sakit.
Putri kecilnya duduk di sebelahnya tapi saat ini Ferdinan bahkan tidak bia meraih tangannya. Diam membuat semuanya berjalan baik-baik saja, tapi hatinya begitu perih menjalani setiap momen yang terus mengingatkan kesalahan masa lalunya.
"Tidak apa, aku sudah terbiasa. Jangan sungkan Pak." Ayu berdiri memberikan jalan.
Ayu menangkap kesedihan di raut wajah Kepala Sekolah, dan ini sudah terjadi beberapa kali setiap Ayu menatap wajahnya akhir-akhir ini. Dulu beliau orang yang sangat berjiwa muda, memperlakukan setiap siswanya seperti sahabatnya.
Ayu bahkan banyak belajar karena Kepala Sekolah mampu diajak bicara dengan baik oleh siswa-siswanya yang masih sangat muda. Memahami setiap keinginan dan menjadikan sekolah tempat yang sangat menyenangkan.
“Ayu, masih belum di jemput juga? Apa mau pulang bersamaku?” Kepala Jofan muncul dari balik pintu membuat Ayu terkejut.
“Kau membuatku jantungan.” Mengelus dada. “Aku masih menunggu Kak Malik Mas.” Tersenyum kecut karea sudah hampir satu jam menunggu.
“Mau menunggu saja?” Masih berharap Ayu mau pulang bersamanya.
“Iya Mas, aku menunggu saja, mungkin sebentar lagi.” Ayu meyakinkan dengan senyum selebar mungkin.
“Baiklah, jangan hilang lagi.”
Dia pikir aku anak kecil, aku bukan hilang Mas. Tapi ketangkep sama petugas Satpol PP. Mereka membuatku kapok. Bicara sendiri.
__ADS_1
Ayu menaruh kembali buku yang dia baca, sudah mulai bosan. Ayu kini sudah duduk di kantin, pesannya bahkan belum Kak Malik baca.
Saat sedang mengamati makanan ringan yang tersusun rapi di etalase satu persatu, tiba-tiba ada tangan yang memeluknya dari belakang.
“Kaka kenapa lama sekali.” Ayu spontan membalikkan badan. Sedikit meluapkan amarah nya karena selalu menunggu.
“Kau sudah menungguku? Apa aku tidak salah dengar?” Muka Ayu pucat pasi melihat bukan Malik yang ada di hadapannya.
“Aku pikir....Maaf aku harus pulang.” Ayu menghindar dan segera berlari.
Oji mengejar Ayu, dia tidak akan pernah menyerah mendapatkan perhatian dan cinta Ayu. Selama ini dia menunggu saat yang tepat mendekati Ayu. Memastikan tidak ada satu orang pun yang akan menggangunya.
“Lepaskan Kak, sakit.” Ayu mencoba melepaskan tangannya dari cengkraman Oji. Tenaga nya kalah jauh, hanya membuat tangannya perih dan sakit.
Oji menarik Ayu jauh ke halaman belakang.
Ayu meronta tapi tubuhnya tidak kuat menahan tenaga Oji yang sudah di kuasai amarah.
Dia orang yang lembut dahulu di mata Ayu, tapi setelah tau Ayu sudah bersama orang lain. Oji menjadi orang yang tidak bisa di tebak emosinya. Dia sering meledak-ledak tanpa Ayu tau penyebab pastinya.
Oji mendorong tubuh Ayu sampai tersungkur, celana legging yang Ayu kenakan sampai sobek dan dengkulnya luka. Oji kali ini benar-benar tidak bisa mengontrol emosinya.
“Kau, kenapa kamu berani sekali menolakku. Aku tidak akan membiarkan siapapun merebut kamu dariku.” Oji mencengkeram dagu Ayu. Meluapkan amarah yang sudah dia tahan selama ini.
Ayu hanya menangis, teriakannya tercekat di tenggorokan. Hanya ada air mata yang menganak sungai karena ketakutan yang luar biasa.
“Jika aku tidak bisa memilikimu, orang lain pun tidak akan aku biarkan memilikimu.”
Amarahnya memuncak sampai ke ubun-ubun. Oji terlihat sangat mengerikan.
“Ayu....kamu dimana Yu. Ayuna....” Terdengar suara Kak Malik yang meneriakkan nama Ayu.
Oji mulai gusar, dia tau seberapa jauh dia mampu menghadapi Malik. Dia terlalu jauh berada di atasnya. Tidak mungkin menghadapinya dalam keadaan seperti ini.
“Jangan katakan apapun padanya, aku bisa menyakitinya juga kalau sampai Malik tau yang sebenarnya terjadi padamu.” Ayu mengangguk.
Sudah tidak mampu bertahan karena tubuhnya sudah sangat bergetar ketakutan. Tidak bisa lagi memikirkan hal lain selain menyelamatkan diri.
Malik lari saat melihat Ayu menangis bersimpuh di atas tanah. Pikirannya kacau mendapati Ayu dalam keadaan yang tidak semestinya.
Malik tidak menanyakan apapun, dia sibuk menyalahkan dirinya sendiri membuat Ayu terlalu lama menunggu. Malik meraih tubuh Ayu ke pelukkannya, mendekapnya erat.
Membiarkan Ayu menumpahkan segala ketakutannya. Meluapkan emosi yang entah apa yang membuatnya seperti ini.
Malik menggendongnya ke mobil. Tubuh kecil Ayu tidak menyulitkan Malik membawanya. Cukup lama Ayu menangis.
Sekarang Ayu sudah sedikit tenang, sudah bisa mengontrol emosinya yang tidak terkendali saat Malik datang. Dia membisu, membuat Malik bingung dan takut.
__ADS_1
“Masih mau menangis?” Malik menawarkan pundaknya. Ayu menggeleng, tubuhnya sudah sangat lemah sekarang.
Malik tidak mencari tau apa dan kenapa Ayu bisa seperti ini pada Ayu. Tapi Malik melimpahkan pertanyaan yang sangat mengganggunya pada Aldo. Menyuruh Aldo memcari tau apa yang sebenarnya terjadi.
“Ayuna, jangan menderita. Aku tidak bisa melihatnya!.”Malik mendekap erat, membisikkan kata-kata penuh cinta yang membuat Ayu tersenyum.
“Aku lapar.” Malik tertawa melihat Ayu yang sudah kembali. Gadis kecil yang selalu penuh semangat dan kebahagiaan.
“Aku akan suruh Aldo pesan makanan. Aku ada satu meeting penting lagi yang harus aku hadiri.” Malik melajukan mobil segera menuju kantor.
Tangannya tidak melepaskan genggamannya. Menciumnya beberapa kali membuat Ayu malu.
Ini kali kedua Ayu datang ke kantor Kak Malik. Kedatangan pertamanya tidak menyenangkan, semoga kedatangannya kali ini lebih sedikit diterima.
Ayu menunggu Malik di ruangannya, setelah melewati banyak pasang mata yang memperhatikannya tidak suka, menikmati berbagai jenis makanan yang sudah Malik pesankan lewat Aldo.
Perutnya sudah mulai kenyang melahap makanan yang menggugah selera.
Ayu tidak ada teman kali ini, Rera dan Aldo sama-sama sibuk mengikuti meeting.
Dia duduk sendiri mengotak atik handponnya. Ayu kini sudah punya akun media sosial yang Sandra buatkan. Ada beberapa foto dirinya dan ketiga sahabatnya.
Tidak ada foto Malik satupun, dia bahkan tidak tau Ayu saat ini memiliki akun media sosial.
Ayu iseng mencari akun dengan nama Kak Malik di media sosial. Muncul beberapa nama di halaman dengan profil yang berbeda-beda.
Mengirimkan permintaan pertemanan pada akun Malik yang Ayu yakini milik suaminya. Berharap Kak Malik akan menerima pertemanan yang Ayu kirimkan.
Bosan mulai melanda, sudah shalat mahgrib dan Kak Malik masih juga belum terlihat batang hidungnya.
Ayu menahan kantuk, rasanya seperti ada yang menarik kelopak matanya agar terpejam. Akhirnya Ayu menyerah, dia tertidur pulas di sofa ruang kerja Malik.
“Rera, tolong jangan beri jadwal pekerjaan yang sama dengan waktu aku harus mejemput Ayu.” Malik mulai meluapkan kekesalannya setelah menahan cukup lama.
“Baik Bos, aku akan atur scedulenya ulang.” Rera tau sudah melakuan kesalahan yang fatal, Aldo bahkan sudah memepringatkannya.
Tapi Rera tidak ingat dan membuat kesalahan yang sangat merugikan dirinya sendiri.
“Al, tolong siapkan berkas kerjasama yang sudah kita sepakati. Aku mau mempelajarinya lagi di rumah.” Aldo membuka pintu ruangan Malik.
Malik tersenyum saat pintu terbuka dan mendapati Ayu tertidur pulas. Wajahnya begitu cantik membuat Malik jatuh cinta.
“Siap Bo....” Malik membekap mulut Aldo yang penuh semangat.
“Jangan bersuara, pergilah kalian berdua.” Rera dan Aldo jadi tersipu malu melihat Malik begitu bahagia.
“Malam ini kita tidak akan disuruh kerja lembur Ra, coba Nona setiap hari datang, dia akan menyelamatkan hidup kita terhindar dari jomblo karena terlalu sering bekerja lembur” Aldo dan Rera sama-sama tersenyum.
__ADS_1