Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 115 ( Ternyata Hanya Mimpi )


__ADS_3

Malik meratapi perbuatannya sendiri. Dia sudah sangat kacau. Dia semakin yakin harus melepaskan Ayu demi kebaikannya. Malik sudah tidak bisa berpikir dengan jernih saat ini. Yang ada dalam hatinya hanya keselamatan Ayu.


Malam sudah mulai larut, Malik masih belum bisa memejamkan mata. Hatinya masih perih dan sakit mengingat kesedihan Ayu.


Malik melangkah keluar kamar, membuka perlahan Kamar Ayu untuk memastikan Ayu baik-baik saja. Dia tidak bisa mengabaikan begitu saja apa yang dia lihat tadi.


Malik terenyuh melihat Ayu yang tertidur di atas sajadahnya masih menggunakan mukena.


Malik membelai lembut puncak kepala Ayu, mengecup tangan nya yang memegang erat tasbih lalu menggendong tubuh Ayu membawanya ke kasur agar Ayu bisa istirahat dengan baik.


Malik mencium berulang kali kening Ayu. Melepaskan kerinduannya karena sudah beberapa hari ini ada jarak yang memisahkan keduanya.


Malik mengutuk dirinya sendiri atas apa yang saat ini terjadi. Dia hanya membuat Ayu menderita dan tidak bisa menikmati hidup bebas seperti dahulu.


Malik meneteskan air matanya tidak bisa menahan lagi pedih yang dia rasakan. Entah apa yang membuat Malik bersikap sejahat ini pada perempuan yang seharusnya dia lindungi.


Malik semakin terisak tidak kuat menahan sesak di dadanya. Ayu pura-pura tidak terganggu, dia masih memejamkan mata menahan tangis dan air mata.


Kak Malik tidak mungkin menghianati cintanya, Ayu yakin akan apa yang dia lihat saat ini adalah bentuk ketulusan dari cinta Kak Malik padanya.


Malik memeluk erat Ayu dalam pelukannya, dia teringat kaki Ayu yang terluka karena pecahan gelas. Tadi dia tidak bisa menolong karena harus tetap menjaga jarak dengan Ayu saat ini.


Malik memeriksa kaki Ayu, melihat luka yang sudah Ayu balut dengan plaster karakter favorit nya. Malik tersenyum dan mencium luka Ayu. Malik kembali membaringkan tubuhnya di sisi Ayu.


Membiarkan tubuhnya menyatu dengan tubuh Ayu. Malik tidak sadar Ayu menikmati setiap momen yang Malik lakukan. Hatinya bahagia, Ayu terlelap di pelukan Malik.


Pelukan nyaman yang beberapa hari ini tidak bisa dia nikmati. Malam semakin larut, keduanya sama-sama menikmati kenyamanan yang sempat hilang karena ke egoisan Malik.


***


Sandra, Melani dan Martha baru saja berkumpul menikmati kebersamaan mereka dan membahas bagaimana mereka saat ini merindukan sosok Ayu yang sulit sekali mereka hubungi.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada Ayu. Aku susah sekali menghubunginya." Melani bicara dengan mulut penuh makanan.


"Kau ini jorok sekali, kunyah dulu baru bicara." Sandra sering kali risih melihat kelakuan Melani.


"Kau seperti baru mengenalku saja." Semakin menjadi bicara dengan mulut penuh makanan.


"Apa kita bisa mendatangi rumahnya? Aku sangat penasaran apa yang terjadi padanya."Martha memberikan saran.


"Aku.... uhukkkk....uhukk...uhukkkkk!" Melani tersedak saat ingin bicara.


"Sudah ku bilang jangan bicara dengan mulut penuh makanan seperti itu." Sandra Marah tapi tetap membantu Melani dengan segelas air putih.


Melani menarik nafas, meneguk air putih sampai tandas tidak tersisa sedikitpun.


"Aku belum pernah datang ke rumahnya. Banyak sekali satpam di sana." Melani merasa ngeri.


"Kita pernah datang saat Ayu, me...." Sandra mengurungkan niatnya. Martha belum bisa dipercaya untuk tau status Ayu sebagai istri Malik saat ini.


Martha dan Melani saling pandang karena Sandra mengakhiri kalimatnya dengan tersenyum, mengundang rasa penasaran.


"Kalau kita datang baik-baik sebagai sahabatnya apa tidak boleh?" Martha merasa penasaran.

__ADS_1


"Tentu saja tidak apa. Jangan dengarkan dirinya." Sandra bingung karena Melani merasa takut, padahal tidak ada yang menyeramkan di sana.


"Ayo kita kesana. Aku sangat ingin tau keadaannya." Melani berubah pikiran.


Sandra menggeleng melihat perubahan Melani yang hanya sekejap mata. Tadi dia sangat takut, tapi sekarang malah lebih semangat dari dirinya dan Martha.


"Ayo kita hubungan Jofan. Kita akan lebih aman jika datang bersama nya." Usul Sandra, padahal dia hanya ingin bertemu pujaan hatinya.


"Benar, ayo hubungi dia San." Martha merasa bahagia jika Jofan bisa ikut dengan mereka.


"Halo Jofan, ayo kita datang ke tempat Ayu. Tapi kami takut jika datang tanpa mu." Alasan Sandra saja ingin bertemu. Bicara dengan nada manja.


"Kita bertiga sudah berkumpul di cafe strawberry. Cepat datang yah." Sandra tersenyum setelah menyudahi percakapannya.


Dia bahagia Jofan mengiyakan ajakannya.


Tidak lama Jofan datang dengan mobilnya. Rambutnya yang basah membuat jantung Sandra bergetar.


Senyum manisnya membuat Sandra tidak bisa bergerak dari tempat nya berdiri. Dia mematung mengagumi ketampanan pangeran pujaan hatinya.


"Hey, kau bisa tidak biasa saja. Memalukan sekali." Melani membuat Sandra merasa malu. Dia ketahuan melihat wajah Jofan tanpa berkedip dan senyum-senyum sendiri tidak jelas.


Martha lari mendahului yang lainnya, dia duduk dengan santainya di tempat biasa Sandra duduk di sebelah Jofan. Melani terkejut Martha begitu berani mengambil tempat Sandra.


Mimik mukanya berubah menjadi sendu, entah kenapa hatinya hancur melihat Martha duduk di sebelah Jofan. Pemandangan yang tidak pernah Sandra berani bayangkan selama ini. Sandra terlalu mencintai Jofan.


Dia bertambah sedih saat melihat tidak ada penolakan dari Jofan. Dia tersenyum semanis itu pada Martha. Wajahnya bahkan di buat-buat agar terlihat tampan.


Sandra membuka pintu dengan wajah sinis penuh amarah. Melani tidak ada teman bergosip, dia jadi merindukan sosok Ayu yang selalu ada saat-saat seperti ini.


"Kita makan dulu yah sebelum ke rumah Kak Malik." Jofan mencoba mencairkan suasana.


"Iya Kak." Suara Martha. Sandra mendengus kesal dalam hatinya. Matanya memandang spion depan dengan wajah cemberut nya. Sandra kembali tertunduk dan mengalihkan pandangan matanya saat tau Jofan mengawasinya dari spion.


"Fan, kita sudah makan. Apa kau sangat lapar?" Melani bingung harus bagaimana saat ini. Sandra tidak akan bisa berpikir saat seperti ini, dia hanya akan emosi.


"Aku juga sebenarnya tidak terlalu lapar." Jofan melajukan mobilnya sambil matanya masih memperhatikan Sandra yang membuang pandangannya ke arah jendela.


Sebenarnya Jofan tau Sandra punya perasaan lebih padanya, tapi mengingat pertemanannya selama ini membuat Jofan merasa takut cintanya akan menghancurkan persahabatan Meraka.


Jofan berhenti sebentar sebelum menuju Rumah Malik yang sudah terlihat. Jofan menatap jalan yang terasa berat untuk dia tempuh, sedikit ada ketakutan karena merasa Jofan lah yang bertanggung jawab jika ada hal yang terjadi.


"Kenapa kau berhenti." Suara Sandra menyadarkan Jofan.


"Aku sedikit takut." Jofan tersenyum pada Sandra yang baru saja membuka mulutnya.


"Ayo cepat. Aku sudah...." Sandra melanjutkan kata-katanya dalam hati.


Perlahan Jofan melajukan mobilnya. Gerbang tidak langsung terbuka, ada petugas di pintu depan yang memberi hormat. Jofan menurunkan kaca spion mengutarakan niat dan maksud kedatangan mereka.


"Ada yang bisa kami bantu?" Sapa seorang satpam dengan sopan.


"Kami sahabatnya Ayu. Kami mau menjenguknya." Suara Jofan.

__ADS_1


"Apa mereka marah? Kenapa sangat menakutkan sekali!" Bisik Melani pada Sandra.


"Apa yang membuat dia menakutkan. Hanya perutnya saja yang besar. Wajahnya lucu, lihat kumisnya." Sandra tertawa, namun menahannya agar tidak terlihat jelas.


"Nona tidak ada di rumah, apa kalian semua sudah membuat janji?" Pertanyaan sulit.


"Kami biasanya tidak membuat janji jika ingin bertemu. Kami ini sahabatnya." Jofan mulai kesal.


"Tidak bisa Nona dan Tuan. Tapi tunggu sebentar. Saya coba tanyakan pada nyonya." Satpam menelpon dari posnya.


"Kenapa sulit sekali hanya ingin bertemu saja." Sandra berlipat merasakan kekesalan hari ini.


Setelah satpam melapor kedatangan mereka, tidak lama Mamih membuka pintu dan menyuruh Jofan untuk masuk. Dengan sigap satpam membuka lebar pintu gerbang agar mobil Jofan bisa masuk dengan leluasa.


"Sore Tante, maaf kami datang menganggu." Sapa Jofan dengan sopan.


"Tidak, masuk lah. Mamih juga kesepian." Mamih merangkul Jofan masuk ke dalam rumah. Jofan dulu sering main ke rumah Rama saat masih kecil.


Mamih masih saja hangat sama seperti dulu.


"Apa Ayu sudah sehat Mih? Kami khawatir karena tidak bisa menghubunginya." Mamih tersenyum mempersilahkan mereka untuk duduk di ruang tamu.


"Ayu sudah sehat, dia lukanya juga tidak terlalu serius." Mamih bicara perlahan agar sahabat Ayu tidak merasa khawatir.


"Apa kami bisa menemuinya Tante?" Sandra.


"Ayu saat ini sedang pergi bersama Malik. Mamih belum tau kapan meraka pulang." Mamih memanyunkan bibirnya.


"Kenapa ponsel nya sulit sekali dihubungi?" Mamih mengangkat bahu. Dia sendiri tidak bisa menghubungi ponsel Ayu.


"Mih, apa mereka baik-baik saja. Aku juga tidak bisa berhenti memikirkan Ayu. Aku merasa ada yang terjadi padanya. Hatiku terasa sakit tapi tidak tau ada apa dengannya." Jofan tersenyum palsu. Dia merasa ada yang tidak beres.


Merak memang saudara yang terikat hubungan darah. Bahkan Jofan tau Ayu dalam masalah saat ini tanpa ada satu orangpun yang mengatakan padanya.


"Jofan, apa kau sangat menyayanginya?" Mamih menggenggam tangan Jofan.


Jofan mengangguk, tidak ada alasan bagi dirinya tidak menyayangi Ayu. Tapi perasaannya pada Ayu memang lebih dalam daripada pada kedua orang sahabat lainnya.


"Apa aku salah Mih? Aku menyayanginya seperti aku menyayangi Arumi. Perasaannya tidak jauh berbeda." Jofan membuat Mamih merinding


"Dia baik-baik saja. Malik pasti menjaga dan memastikan Ayu dalam keadaan sehat tidak kurang suatu apapun.


***


Pagi menjelang, sinar mentari mulai masuk ke selah-selah jendela dan kaca menerangi seluruh sudut ruangan. Ayu bangun dengan suasana hati yang bahagia.


Dia langsung keluar kamar saat membuka mata, mencari sosok Malik yang semalam memeluknya erat.


"Pagi Kak. Apa Kak Malik tidur nyenyak?" Ayu mengambil roti dan mengoleskannya selai coklat kesukaan Kak Malik.


Malik menolak roti yang hendak Ayu letakkan di atas piringnya. Wajahnya masih dingin tidak seperti semalam.


Ayu membawa roti kembali di atas piring nya. Menikmati roti dalam diam. Dia masih memikirkan kejadian semalam.

__ADS_1


Semalam itu bukan jin yang menyerupai Kak Malik kan. Mana mungkin dia bisa memindahkan tubuhku ke atas kasur. Tapi kejadiannya sangat nyata semalam itu. Ayu menggaruk kepalanya merasa aneh.


Atau mungkin semalam itu bukan Kak Malik. Ah sudah lah! Ternyata Hanya Mimpi. Ayu bicara dalam hati.


__ADS_2