
Ayu sudah siuman pagi ini, suhu tubuhnya sudah tidak sepanas sebelumnya meski masih demam. Malik tertidur lelap sambil mendekap tubuh Ayu. Jofan dan Rey istirahat di kasur tambahan yang sengaja disediakan untuk mereka istirahat. Sedangkan Adam tidur di sofa dengan lelap juga setelah perjuangannya membantu pasien yang membutuhkan pertolongan. Mereka kelelahan, butuh tenaga ekstra agar tidak tumbang dalam kondisi saat ini.
Ayu terbangun karena merasa haus, dia ingin meraih gelas air putih yang ada di nakas dekat kepalanya tapi tidak ingin menganggu semua orang yang ada di dekatnya. Wajah mereka terlihat sangat kelelahan. Pasti berat rasanya, Ayu mencoba bergerak selembut mungkin agar tidak menimbulkan kebisingan. Tangannya sulit di gerakkan karena di dekap erat oleh Malik.
Aku sangat haus, kenapa gelas itu tidak bisa mendekat padaku. Ayu berharap gelasnya bergerak sendiri mendekat. Hal yang mustahil terjadi. Ayu mencoba bergerak perlahan.
“Jangan bergerak sayang, aku masih sangat ngantuk.” Ayu gagal mendekati gelas karena tubuhnya ditarik ke sisi Malik lebih dekat. Kenapa isi kepalanya sama dengan Ayu meski sedang tertidur. Ayu memang ingin sekali bergerak karena kerongkongannya sudah berubah menjadi padang pasir.
“Iya…iya. Tidur lah, tidur.” Ayu memejamkan mata mencoba mengusir dahaga yang tidak tertahankan.
Ayu menahan 30 menit, tapi tidak hilang rasa haus yang menyerangnya. Ayu terpaksa bangkit karena sudah tidak tahan lagi. Bergerak secepat mungkin agar Malik hanya terguncang sebentar.
Bruggg…..
“Awww….” Malik jatuh saat Ayu bangun untuk meraih ait putih. Mata Ayu melotot melihat wajah Malik yang lebam. Ayu turun mendekap wajah Malik yang penuh luka dengan kedua tangannya.
“Maaf aku tidak sengaja, Kak Malik hanya jatuh dari kasur kenapa wajah Kaka jadi seperti ini.” Ayu membolak balikkan wajah Malik merasa tidak percaya. “Apa sakit sekali Kak?” Ayu merasa bersalah melihat wajah Malik yang babak belur. Tapi merasa janggal dengan bekas lukanya.
“Tentu saja sakit. Aduhhhh......” Malik mengaduh kesakitan membuat Ayu semakin panik. “Hahahaha, Kau sangat lucu.” Malik duduk di kasur memijat pinggangnya yang sakit. Ayu melotot merasa ada yang tidak beres. “Sepertinya aku sedang ketiban sial. Wajah tampan ku begini, lihat!.” Menatap wajah Ayu sambil menunjuk wajahnya yang penuh luka. “Sekarang kau malah membuatku jatuh dari kasur.” Memanyunkan bibirnya.
“Apa sangat sakit?” Ayu kebingungan harus bagaimana. Mondar mandir tidak jelas sambil menggaruk-garuk tangannya sendiri. Malik lucu melihat Ayu, dia terpikir ingin melanjutkam mengerjai Ayu.
“Tubuh mu sangat kecil tapi sekali kibas aku bisa sampai seperti ini.” Malik memalingkan wajahnya dari Ayu. Kening Ayu berkerut kerut merasa semakin bersalah, tapi ada yang tidak beres sepertinya.
“Aku tidak mendorong Kak Malik, tadi Kaka jatuh sendiri.” Mencoba mengelak. Padahal memang Ayu yang bergerak terlalu keras.
“Jangan lempar batu sembunyi tangan. Kenap kau tidak bertanggung jawab sudah melukai ku!.” Ayu menggeleng penuh semangat membela diri.
“Kalian berisik sekali. Biarka aku tidur sebentar saja.” Teriak Adam yang belum lama terlelap karena pekerjaannya yang bertumpuk.
“Husshhhh….” Ayu menutup mulut Malik dengan jari telunjuknya. “Kaka ini, jangan teriak-teriak.” Malik tersenyum karena merasa terhibur setelah sepanjang malam dirinya gelisah.
Malik menarik Ayu ke pelukannya, memeriksa kening Ayu memastikan panas tubuhnya tidak lagi tinggi. “Apa kau sudah merasa lebih baik?” Ayu mengangguk.
“Kenapa Kaka menghkawatirkan ku, seharusnya aku yang bertanya apa Kaka baik-baik saja? Apa lukanya tidak sebaiknya segera di obati? Bagaimana jika infeksi?” Ayu benar-benar tidak sadar Malik mengerjainya meski curiga beberapa kali. Apapun itu lukanya terlihat sangat serius membuat Ayu khawatir.
“Kau percaya ini luka karena aku jatuh dari sini!” Malik menepuk kasur yang dia duduki. Ayu mengangguk dengan polos, tapi tidak lama matanya berbinar dan bibirnya menyeringai membuat Ayu kesal. Ternyata benar kecurigaannya.
“Apa Kaka mengerjai ku?” Ayu melipat kedua tangannya dengan wajah sedikit kesal. Malik mengangguk sambil tersenyum. “Kaka keterlaluan.” Ayu meraih gelas dan menenggak air hingga habis, akhirnya padang pasir hilang dari tubuhnya.
__ADS_1
“Hahaha, jangan marah. Aku hanya suka melihat mu khawatir padaku.” Malik membelai puncak kepala Ayu dengan lembut. Ayu menolak pelukan tangan Malik.
“Lalu siapa orang yang berani melukai wajah berharga ini!” Mengepalkan tinjunya karena merasa kesal. “Katakan pada ku. Aku tidak akan melepaskannya.” Malik berbinar-binar mendengar kata-kata yang baru saja keluar dari mulut wanita yang sangat dia sayangi.
“Kau tidak akan bisa melukai orang yang sudah melukai ku.” Ayu mengerutkan keningnya.
“Kenapa?” Ayu penasaran.
“Kau menyayanginya. Kau tidak akan bisa menyakitinya.” Ayu tidak mencari tau lebih lanjut. Ayu pikir Jofan yang telah menyakiti Malik.
“Aku sangat lapar. Apa tidak ada makanan yang bisa aku makan?” Malik senang Ayu sudah mulai membaik. “Kenapa kau tersenyum. Aku lapar Kak!.” Menggerutu pada laki-laki yang sangat dia sayangi.
Malik segera memesan makanan yang Ayu sebutkan. Apapun Malik lakukan demi kebahagiaan Ayuna. Malik benar-benar bahagia Ayu sekarang sudah sangat dewasa. Ada rasa bersalah dalam diri Malik. Ayu tumbuh terlalu cepat dari usia sebenarnya, seharusnya saat ini dia sedang bahagia menjalani masa remajanya. Melakukan kenakalan-kenakalan remaja bersama teman-teman sebayanya.
***
Tut.....tut....tut...
Sandra menggerutu karena panggilannya tidak juga Jofan jawab. Sandra sangat khawatir dengan keadaan Ayu, apalagi Jofan bilang saat ini dokter Sarah di culik dan keadaan sangat mencekam. Sandra tidak bisa memejamkan matanya sekejab pun, hati dan pikirannya ada berama Jofan dan Ayu. Berulang kali mencoba menghubungi Jofan tapi tidak ada jawaban.
“Ahhhhh.....Kenapa dia sangat menyebalkan.” Sandra melempar ponselnya di atas kasur. “Aku seballll!!!” Sandra teriak-teriak sampai Kalista terbangun.
“Apa aku boleh masuk?” Kepala Kalista muncul dari balik pintu. Sandra mengangguk karena dirinya butuh penopang. Kalista memeluk tubuh putrinya yang berharga. “Ada apa sayang. Kenapa kau sangat berisik malam-malam begini.” Kalista menenggelamkan wajahnya di pelukkan Kalista.
“Aku kesal, Jofan tidak memberikan kabar dari semalam.” Kalista tersenyum. Putri nya sedang kasmaran sampai tidak bisa tidur tanpa kabar dari kekasihnya.
“Apa kau sudah coba menghubunginya?” Sandra menunjukkan panggilan keluar ponselnya yang lebih dari 20 kali panggilan tidak terjawab dengan wajah sedihnya. “Mungkin dia meninggalkan ponselnya.” Mencoba menghibur agar Sandra tidak khawatir.
“Bagaimana mungkin dalam keadaan seperti ini dia tidak membawa ponselnya.” Sandra bukan semakin tenang, dia malah semakin meledak. “Apa dia tidak tau aku sangat takut.” Kalimatnya melemah, Sandra terbawa emosi karena menahan air matanya cukup lama.
Kalista menarik tubuh putrinya dalam pelukan nya. “Tenang Nak, Jofan pasti baik-baik saja.” Kalista ikut sedih, takut Jofan benar-benar dalam bahaya. “Ayo, Mamah buatkan sarapan kesukaan mu.” Kalista menarik tangan Sandra, mengalihkan pikiran putrinya agar tidak larut dalam kesedihan.
***
Malik membangunkan Jofan, Rey dan Adam untuk sarapan bersama. Adam memilih tidur karena matanya sangat berat untuk di buka. Rey dan Jofan sudah duduk menikmati sarapan bersama Ayu dan Malik.
“Makanlah, jangan sampai kelaparan.” Rey geleng-geleng kepala. Malik tidak melihat bagaimana Ayu menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Ayu hanya mengangguk mengiyakan ucapan Malik.
Tok....tok....tok...
__ADS_1
“Maaf Tuan.” Pras masuk dengan nafas tersenggal-senggal. Malik membersihkan tangannya yang kotor. “Maaf Tuan, sudah ada kabar baik. Kami berhasil menemukan lokasi terakhir mobil yang digunakan Ali.” Ayu memandang wajah Pras sedikit penasaran apa yang terjadi.
Kabar yang semua orang tunggu saat ini. Ayu bingung, Ayu masih menikmati makanan yang ada di dalam piringnya. Masih belum tau jika saat ini Murni dan Sarah di culik. Malik meminta Pras tidak melanjutkan kata-katanya dengan isyarat matanya. Pras paham dan segera undur diri takut Ayu curiga.
“Maaf Tuan dan semuanya, sata tunggu Tuan di luar setelah selesai makan.” Pras mengelus dada nya untung saja tidak keceplosan bicara.
“Jofan, Rey, aku keluar sebentar.” Malik segera keluar menemui Pras.
“Ada apa?” Ayu takut karena nama Ali di sebut oleh Pras.
“Tidak ada apa-apa, kau habiskan makanan yang sudah aku beli dengan susah payah. Aku segera kembali.” Malik mengecup kening Ayu. Ayu percaya Malik tidak menutupi apapun. Semoga saja, Ayu mencoba menenangkan dirinya sendiri.
“Bagaimana Pras, apa kita bisa melacak keberadaan mereka?” Pras tersenyum. Malik sedikit berharap melihat senyum di wajah Pras.
“Laskar berhasil mengirim sinyal. Ternyata kecurigaan kita selama ini sama dengan kenyataan yang sedang terjadi. Tapi pergerakan kita tidak boleh terbaca oleh mereka.” Malik mengangguk. “Ada yang lebih mengejutkan lagi Tuan.” Malik lebih mendekat pada Pras, kabar apalagi ini, Malik takut tapi juga senang bisa menemukan keberadaan Ali.
“Kau jangan membuatku jantungan Pras.” Pras tersenyum melihat raut cemas di wajah Malik yang masih penuh lebam.
“Murni sudah siuman.” Malik benar-benar terkejut. Matanya membulat tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
“Apa aku tidak salah dengar?” Pras mengangguk. “Lalu bagaimana keadaan mereka sekarang?” Rasa bahagianya tertutup dengan kekhawatiran akan kondisi Murni dan Sarah saat ini. Ali pasti bisa saja menyakiti mereka berdua.
“Belum ada informasi lagi Tuan. Tapi kita sudah bisa mulai menyusun rencana untuk menaklukan mereka semua.” Pras benar, sebaiknya fokus dengan rencana penyelamatan. Percuma segala usaha yang dilakukan jika Sarah dan Murni tetap tidak selamat.
“Apa rencana yang sebaiknya kita lakukan Pras.” Malik sendiri sudah buntu, kepalanya terlalu penuh dengan beban berat yang menimpanya bertubi-tubi.
“Ahhh…, aku baru sadar. Siapa yang kau bilang Laskar tadi, apa salah satu orang yang kita miliki?” Pras menggeleng.
“Dia Intel, organisasi yang ada di balik insiden Murni bukan organisasi sembarangan. Mereka sudah di incar sejak lama. Hanya saja tidak ada bukti nyata yang bisa menjerat ketua dan para anggotanya.” Malik duduk karena kaki nya lemas.
“Apa maksud mu Pras. Apa ada yang Murni ketahui sampai mereka tidak membiarkan Murni bersama kita?” Malik masih tidak bisa menerka apa yang Pras bicarakan.
“Lebih dari itu, sepertinya Murni adalah kunci dari organisasi yang saat ini sedang Polisi selidiki. Masalah apa yang sedang Polisi selidiki tidak mereka buka. Semua akan di buka setelah kecurigaan bisa dibuktikan.” Pras masih menjelaskan apa yang sudah di informasikan padanya.
“Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan. Apa artinya kita tidak bisa bergerak sendiri untuk menyelamatkan Mereka?” Adam mengiyakan perkataan Malik. “Tapi jangan menunggu terlalu lama Pras. Kau, aku dan semua orang-orang kita miliki tidak kenal siapa Laskar. Bagaimana jika dia berkhianat dan membocorkan kondisi Murni yang sudah siuman?” Malik bingung. “Bagaimana jika dia malah menusuk kita dari belakang Pras!”
“Aku sudah merekan semua apa yang sudah dibicarakan, dan pasti Laskar bukan orang bodoh yang menyerahkan dirinya pada buronan yang seharusnya dia tangkap.” Malik masih belum yakin. “Percayalah Tuan, aku mengenalnya lama. Dia orang yang jujur dan bertanggung jawab dalam setiap kasus yang dia tangani.” Malik seperti mendapat udara segar mendengar ucapan Pras. Malik tersenyum dengan bangga pada Pras.
“Maka aku tidak akan ragu dengan apa yang kamu katakan.” Malik memeluk Pras. Akhirnya ada sedikit harapan Malik bisa menyelamatkan Murni dan Sarah. “Aku harap kedepannya tidak akan terjadi lagi hal-hal buruk seperti ini.” Malik benar-benar lelah berurusan dengan orang-orang tidak bertanggung jawab yang mengganggu orang-orang yang sangat Malik cintai.
__ADS_1
“Kita akan membantu sekuat tenaga kita Tuan. Kita pasti berhasil menyelamatkan Dokter Sarah dan Murni. Tenang saja Tuan Muda.” Pras mengerti betul bagaimana perasaan Malik saat ini. pasti sangat berat.