Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 132 ( Putri Kita )


__ADS_3

Ana syok dengan kejadian yang baru saja dia lihat, Rey pasti akan marah jika tau dirinya membawa Jofan datang ke rumah sakit dan tau siapa Ayu sebenarnya. Ana menyetir dengan perasaan was-was, dia tidak tenang dan merasa gemetar.


Sesekali Ana menatap Jofan dan tidak fokus dengan jalanan, pasti apa yang Rey rasakan dahulu sedang Jofan rasa saat ini. Ana terlalu fokus dengan masalah yang tengah dia hadapi sampai hilang fokus dengan jalanan yang sedang dia lalui.


Dugggg…..


Ana terkejut melihat motor yang jatuh karena tersenggol mobilnya. Ana menepi dan mencoba menenagkan perasaannya. Masalah akan bertambah rumit jika Ana tidak bertanggung jawab.


“Gimana ini, lihat motor saya penyok nih!.” Pengendara marah karena merasa dirugikan. Tapi melihat sorot mata Ana yang seperti orang bingung membuatnya merasa iba.


“Maaf kan saya Pak. Saya akan ganti rugi.” Ana mengeluarkan uang dari dompetnya, pengendara yang tadinya marah pada Ana berterimaksih karena Ana memberinya uang cukup banyak.


Ana limbung, kepalanya sedikit berdenyut merasakan pusing yang menusuk. Ana terduduk di atas trotoar jalan saat melihat Jofan sudah berada di sebrang jalan. Dia lari meninggalkan mobil saat Ana bicara dengan orang yang dia tabrak.


Kini Ana menangis di pinggir jalan, banyak mata memeperhatikan tapi tidak berani mendekat. Mereka hanya berlalu begitu saja tanpa membantu Ana.


“Nona kau tidak apa?” Seorang wanita paruh baya merasa iba pada Ana yang menangis dan duduk di trotoar.


Ana mengangguk, dia baru sadar perbuatannya mengundang perhatian banyak orang dan membuat orang lain khawatir. Ana segera berdiri dan melanjutkan perjalanannya. Sesampainya di restaurant Ana melihat Jofan yang sedang menangis di pelukkan Rey. Pasti saat ini Rey sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Ana tampak ragu-ragu, dia bersalah karena membawa Jofan ke rumah sakit. Andai saja tadi dia menuruti perkataan Jofan untuk segera pulang, pasti semua ini tidak akan terjadi.


Tatapan mata Rey membuat Ana tidak tahan. Ana menangis memohon ampun pada Rey yang terlihat begitu marah. Entah hanya perasaan Ana saja atau memang itu yang terjadi.


“Maaf kan aku. Aku benar-benar tidak tahu jika Kak Ferdinan ada di sana bersama Ibu Ayu.” Ana masih berdiri jauh dari Rey.


Tubuhnya sedikit gemetar membayangkan kemarahan Rey yang akan segera meledak. Ana memegang tangannya kuat agar tidak terllihat gemetar. Sesekali Ana mengusp air matanya yang lolos membasahi pipi. Hatinya lemah saat ini, ini rahasia yang coba Rey sembunyikan dari Jofan, tapi karena kecerobohannya Jofan malah melihat dan mendengar nya sendiri.


“Apa yang kau katakana?” Ana mengangkat kepalanya, rupanya Jofan masih belum menceritakan apa yang telah terjadi. Ana sudah pasang badan siap di omeli padahal, tapi ternyata Kak Rey santai.


Rey membawa Jofan dan Ana masuk ke ruangannya. Restaurant ramai dan akan mengganggu kenyamanan para pelanggan jika mereka berdebat di depan umum. Rey sudah menyiapkan hati jika suatu saat Jofan tau siapa Ayu sebenarnya. Dan hari yang Rey tunggu-tunggu sudah tiba, Jofan akhirnya melihat dan mendengar sendiri dari mulut orang tuanya.


“Tenanglah sayang semua akan baik-baik saja." Ana sedikit terkejut karena Rey tidak marah. Dia terlihat lebih tenang dan tidak menyalahkan Ana atas apa yang terjadi.

__ADS_1


Rey memeluk Jofan dan Ana, Rey merasa dirinya punya banyak arti saat kedua orang yang sangat dia cintai menangis di pelukkannya. Rey bahagia punya mereka berdua. Sebuah anugerah terbesar dalam hidup Rey memiliki mereka berdua.


Ana menyiapkan makanan untuk Jofan dan Rey, kedua nya masih saling memeluk namun tidak saling bicara. Kedunya larut dengan pikiran nya masing-masing. Entah apa yang membuat mereka berdua terlihat begitu bahagia padahal menerima berita yang membuat mereka berdua tau kenapa perceraian diantara Ferdinan dan Mamah Jofan terjadi.


"Apa yang akan kau lakukan?" Rey menatap wajah Jofan yang sudah kembali tersenyum di depannya setelah menangis tersedu-sedu.


"Aku tidak tau perasaan apa ini? Aku merasa marah sekaligus bahagia." Jofan merasa aneh dengan apa yang dia rasakan. Mungkin karena selama ini Jofan menyayangi Ayu dengan tulus.


"Aku sudah merasakan apa yang saat ini kau rasakan. Jangan mengambil langkah yang akan kau sesali." Rey takut Jofan melakukan kesalahan yang sama dengan dirinya.


"Apa karena ini sikap Kak Rey sedikit kasar pada Ayu?" Jofan beberapa kali melihat Rey menghindari Ayu saat bertemu.


"Itu karena aku bingung Fan. Apa yang harus saya lakukan saat tau Ayu adalah anak kandung Kakak ku sendiri." Rey merasa bodoh dengan perbuatannya selama ini pada Ayu.


"Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa mengendalikan perasaanku." Jofan ingin segera memeluk dan mengatakan pada dunia Ayu adalah adiknya. Tidak ada sedikit pun perasaan benci atau kecewa.


"Aku juga sama, aku ingin berteriak kencang agar semua orang tau siapa Ayu." Rey menggenggam erat tangan Jofan. Perasaannya sama, Ayu dengan alami masuk dan mencuri hati Rey dan Jofan.


"Semua ini seperti mimpi. Coba cubit tanganku." Jofan masih tidak percaya. Hanya perasan ingin memilikinya sebagai saudara selama ini, tidak menyangka semua ini memang ternyata kenyataan.


Ana memukul pelan tangan Rey dan Jofan. Keduanya sama saja, tenggelam dalam perasaan bingung yang tidak berkesudahan. Ana sampai tidak di gubris, teriakannya tidak terdengar.


"Kenapa kau memukul kami!" Rey menarik Ana dalam pangkuannya. Rey baru sadar mengacuhkan Ana. Muka Ana bersemu merah merasa malu.


"Kalian aku panggil untuk makan tapi tidak ada yang menjawab." Ana manyun. Membuat Rey mengeratkan dekapannya.


"Ayo kita makan, kita harus segera mengisi perut untuk menghadapi kerasnya dunia." Rey menarik Ana dan Jofan.


Mereka bertiga menikmati makanan dengan penuh kegembiraan. Entah perasaan apa yang sedang mereka rasakan. Ada kebahagiaan saat tau Ayu bagian keluarganya yang sesungguhnya.


***


"Aku bilang jangan terlalu dekat dengan putriku." Lia masih memaki Ferdinan yang tidak menyerah. Ferdinan dengan gigih berdiri di depan ruangan Ayu menunggu kesempatan untuk masuk.

__ADS_1


"Aku tidak akan meminta apapun darinya. Aku tau aku tidak punya hak. Tapi tolong beri saya kesempatan untuk melihatnya." Ferdinan tau ini akibat perbuatannya. Wajar jika Lia tidak memaafkan kesalahanya.


"Aku hanya ingin Ayu nyaman dengan tidak tau masa lalu ku. Itu hanya akan membuatnya malu. Aku mohon mengertilah." Dua orang keras kepala.


"Kau boleh melihat nya Tuan." Hadi muncul dari belakang Lia. Membuat Lia merengut karena Hadi masih saja bersikap baik pada orang yang tidak pantas mendapatkan nya.


"Terimaksih. Kau sering membuatku malu." Hadi merangkul Ferdinan.


Berusaha sekelas apapun jika Tuhan berkehendak lain akan sulit. Bagaimanapaun tidak akan ada yang bisa merubah masa lalu. Lia dan Ana terjebak masa lalu yang menyedihkan sampai Ayu tidak bisa tau Ayah kandungnya mengikuti keinginan Lia.


Dahulu Hadi berpendapat sama dengan Lia, sebaiknya rahasia menyakitkan seperti ini tidak perlu orang lain tau apalagi Ayu. Tapi skenario Tuhan maha indah, mereka malah dipertemukan setelah belasan tahun tidak bertemu atau mencari tahu.


Hadi selalu berpikir baik pada siapa saja, tidak akan terfikir hidupnya akan punya skenario serumit ini. Tapi terkadang kita tidak tau bahwa segala yang terjadi atas ijin Allah. Bersabarlah semua akan menjadi indah saat kita ikhlas dan mampu menerima nya degan lapang dada.


Bukan Hadi tidak sedih saat tau Ferdinan sangat menyayangi Ayu. Dia sendiri takut putrinya akan lupa padanya. Tapi Hadi tidak punya hak atas diri Ayu. Tugasnya menjaga dan me besaran Ayu sudah selesai. Kini dia harus siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi kedepannya.


"Nak...." Semua mata memandang Ferdinan. Lia gemetar, takut jika sampai Ferdinan mengakui siapa dirinya.


Ayu tersenyum tanpa rasa curiga, hanya aneh merasakan ketegangan di raut wajah semua orang. Tapi Ayu mencoba berprasangka baik. Mungkin karena kepala sekolah terlihat sangat akrab dengannya.


"Pak.....maaf merepotkan." Ayu mencium tangan Ferdinan yang baru saja sampai di ruangannya.


Ayu merasakan kecanggungan, kenapa semua orang tidak bicara. Seolah-olah ada yang sedang mereka tutupi darinya. Ayu tidak berani bertanya dan mencampuri urusan orang tua.


Malik yang melihat Ayu bingung tersenyum, mengganggam erat tangan Ayu agar Ayu tidak berpikir macam-macam saat ini. Keadaan Ayu bisa saja kembali buruk jika tidak dengan baik merawatnya, karena dia tidak sakit fisiknya, jiwanya yang sakit.


"Nak, Bapak senang melihat Ayu baik-baik saja. Bapak pamit yah." Lia lega Ferdinan tidak bicara banyak. Tapi mereka terlihat sangat akrab saat berbincang.


Hadi mengantarkan Ferdinan ke luar. Dia merasa beruntung punya putri secantik dan sebaik Ayu. Semua tidak akan terjadi jika tidak ada Ferdinan yang tampan.


"Tuan jika suatu saat Ayu tau siapa anda, tolong izinkan saya tetap bisa menemuinya. Dia seperti putri kandung ku." Hadi merasa pilu.


"Apa maksud perkataan Tuan ini. Dia putri kita, kita akan menjaga dan merawatnya bersama-sama selama sisa usia kita." Ferdinan terharu, Hadi teryata takut jika harus kehilangan Ayu dalam hidupnya.

__ADS_1


Bukan tanpa alasan dahulu Tuhan memisahkannya dengan Lia dan anak dalam kandungannya. Semua sudah jalan takdir. Tidak ada yang bisa merubah nya.


__ADS_2