Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 139 ( Cemburu Pada Mahesa )


__ADS_3

Adam sedang menimang Mahesa yang tidak berhenti menangis. Segala cara sudah Sarah dan Adam lakukan tapi tidak membuat Mahesa tenang. Sarah takut jika Mahesa sakit, Sarah menghubungi temannya yang seorang Dokter anak agar bisa memeriksa kondisi Mahesa.


Sarah ikut menitikkan air mata melihat putra nya tidak berhenti menangis, rasanya tidak karuan sampai tidak bisa berpikir dengan jernih. Andai saja bisa memahami maksud dari tangisnya.


“Sepertinya dia hanya ingin di ayun-ayun, badannya sehat tidak ada tanda-tanda sakit. Tapi jika tangis nya masih berlanjut coba bawa ke rumah sakit yah. Kita lakukan pemeriksaan lebih lanjut.” Sarah hanya menganguk, bingung karena Mahesa masih saja menangis. Sarah jadi ikut murung seharian ini, perasaan nya tidak bisa di kontrol dan sedikit terbawa emosi.


“Mau gentian? Biar aku yang gendong.” Adam menolak tawaran Sarah, tubuhnya lelah sebenarnya, tapi lebih tidak tega saat melihat wajah istrinya yang sedikit murung dan sedih. Adam yakin pasti perasaannya saat ini sedang kurang baik.


Adam sedikit takut jika membiarkan Sarah mengurus Mahesa seorang diri. Matanya lengket karena baru pulang piket malam, tapi Sarah butuh dukungan nya saat ini. Adam banyak belajar tentang siklus ibu baru yang masih harus menyesuaikan diri agar terbiasa melalui buku-buku yang Adam baca.


“Anak sekecil ini memang suka di gendong-gendong sayang, jangan terlalu khawatir.” Adam mengecup kening Sarah yang bersandar di bahunya.


“Andai aku tau maksud dari tangisannya.” Sarah tidak bisa berkata-kata lagi, hanya bisa mendengarkan suara tangis Mahesa yang garing memenuhi ruangan.


Ting tong…..ting tonggg…..


Sarah langsung berlari memebukakan pintu untuk tamu yang ada di depan apartemennya. Dia sudah tau jika yang datang adalah Malik dan Ayu. Adam sengaja mengundang Malik agar Ayu tidak bosan berada di apartemen seharian.


Adam memutuskan kembali ke apartemen karena lebih aman. Sistem penjagaan yang cukup ketat membuat Adam bisa sedikit lebih tenang saat meninggalkan Sarah dan Mahesa.


Maghda dan Austin menolak pindah dan tinggal bersama karena rumah Adam saat ini dekat dengan rumah sakit tempat Maghda terapi. Sarah juga tidak keberatan karena Austin saat ini menjaga Maghda 24 jam. Adam sudah menjamin kehidupan kedua orang tua Sarah dengan baik.


“Hay Ayu……” Sarah memeluk erat gadis kecil yang dia rindukan. Terakhir bertemu saat mereka di culik oleh Kala. Sarah masih merasa sedih dan terharu jika ingat bagaimana perhatian Ayu pada dirinya. Ayu benar-benar menjaga Sarah dengan baik.


“Maaf aku baru datang. Aku ingin lihat putra Kak Sarah, pasti dia sangat tampan.” Ayu membalas pelukkan Sarah dengan hangat.


“Dia menangis seharian. Aku bingung sendiri harus bagaimana.” Sarah terlihat sedih. Ayu dengar suara tangisan anak bayi dari dalam.


“Kalian lupa dengan kehadiranku? Kenapa aku diabaikan!” Sedih kehadirannya tidak terlihat sedikitpun.


“Adikku sayang, kenapa kau merajuk seperti Mahesa.” Sarah menggandeng tangan Ayu dan Malik agar segera masuk ke dalam.


Ayu langsung menghampiri Adam yang masih mengayun Mahesa di tangannya. Wajahnya terlihat lelah tapi tetap tersenyum ramah menyambut kedatangan Ayu.

__ADS_1


“Wajahnya mirip sekali dengan Kak Sarah. Hehehehe……” Ayu tertawa pelan menutup mulutnya takut Adam tersinggung. “Apa aku boleh menggendong….”


“Namanya Mahesa Putra Adam. Dia tampan mirip denganku.” Adam menghibur diri sendiri karena setiap orang yang melihat wajah putranya selalu bilang mirip dengan Sarah, Mahesa tidak sedikitpun mirip dengannya.


“Kau bisa menggendong anak bayi? Tulangnya masih lunak seperti di presto, hahahhaha….” Adam merasa geli sendiri dengan ucapannya.


“Kau piker putraku ayam kampung, enak saja tulangnya lunak.” Sarah marah mendengar ucapan Adam.


“Aku sering mengurus anak-anak bibi yang masih kecil, jadi aku tau caranya.” Mahesa berpindah ke tangan Ayuna. Tangisnya tiba-tiba saja berhenti saat ada di gendongan Ayu.


“Kenapa dia berhenti menangis, apa yang kau lakukan?” Adam bingung, Ayu tersenyum ikut bingung melihat wajah Mahesa yang damai didekapannya. Ayu juga tidak tau kenapa Mahesa begitu tenang ada di gendongannya.


“Apa dia tidak berhenti menangis dari tadi? Kenapa dia tau sekali sedang di gendong bidadari cantik.” Malik cemburu dengan anak kecil.


“Jangan mulai, putraku masih bayi. Dia mana tau kalau yang menggendongnya wanita secantik ini.” Sarah mendekap Ayu merasa bahagia putranya berhenti menangis.


“Hey anak bayi, kenapa kau tidak tau diri. Dia ini istriku.” Malik meminta Sarah mengambil Mahesa dari tangan Ayu.


“Kau mau ku pukul, biarkan putraku diam sebentar saja. Aku bingung dia tidak berhenti menangis sejak dia bangun pagi tadi.” Sarah mengiba agar Malik merasa kasian pada putranya.


Adam mengajak Malik berbincang di ruang tamu agar rasa cemburunya tidak berlebihan. Laki-laki yang selalu seperti anak kecil karena cintanya begitu besar pada Ayuna. Tapi Adam juga sering merasakan apa yang saat ini Malik rasakan, jadi tidak bisa menyalahkan Malik karena marah tanpa alasan.


“Laki-laki itu seperti kakek tua yang sedang merajuk ya Nak. Dia cemburu pada putra ku yang masih bau kentut.” Sarah bicara dengan Mahesa yang terlelap nyaman.


“Maaf kan ya Kak, sepertinya dia sedang datang bulan. Hehehehe….” Ayu dan sarah tertawa membicarakan Malik yang sedang sensitive hari ini.


***


Oji duduk menunggu Kala keluar dari ruang tahanan. Tidak ada lagi keluarga Kala di Jakarta selain Oji. Semua keluarganya berdomisili di luar negeri. Oji merasa iba, jika bukan dirinya siapa lagi yang akan memperhatikan Kala di dalam penjara.


“Untuk apa kau datang ke mari.” Kala masih kesal mengingat Oji yang mencoba membebaskan Sarah. Gara-gara dia usahanya gagal berantakkan.


“Aku hanya ingin memastikan Paman baik-baik saja. Aku juga bawa makanan.” Oji ingin membebaskan Kala, tapi hukumannya cukup berat karena Kala terkena beberapa pasal yang memberatkan hukumannya.

__ADS_1


“Hah…..bukan nya kau ingin melihat aku mati. Kalau bukan karena perbuatanmu aku pasti sudah berhasil kabur membawa Sarah.” Kala marah dan merasa dihianati oleh orang yang sangat dia percaya.


“Aku memang masih muda, tapi aku tau bagaimana seharusnya kita memperjuangkan cinta. Bagaimana bisa Paman menyakiti orang yang paman cintai.” Kala melotot mendengar perkataan Oji yang sedang mengajarinya tentang cinta.


“Hey anak bau kencur, tau apa kau soal cinta. Kau lupa bagaimana kau membuat seorang gadis mati.” Kala yang membantu Oji lepas dari jeratan hukum. Kala yang melindungi Oji selama ini.


“Itu penyesalan terbesarku, maka dari itu aku tidak mau Paman melakukan hal yang sama denganku. Paman akan menyesal, percayalah padaku.” Oji menggenggam tangan Kala, berharap paman nya mau mendengarkan nasehatnya.


“Jangan mengajariku, aku tau apa yang terbaik untuk hidupku.” Kala menyingkirkan tangan Oji. Selama ini Kala begitu mencintai Oji, tidak ada dalam pikirannya sedikitpun Oji akan menghianati kepercayannya.


“Aku tau kesalahanku fatal, tapi aku tidak mau Paman terjerumus terlalu jauh melakukan kejahatan.” Oji sangat menyayangi Kala, hanya dia yang selama ini jadi pelindung dirinya.


“Aku tidak akan pernah bisa melepaskan Sarah. Aku lebih baik melihatnya mati daripada dia bahagia bersama orang lain.” Kala masuk meninggalkan Oji yang lemas mendengar ucapan Kala.


Oji keluar dengan perasaan kecewa, Oji bertekad tidak akan meninggalkan Kala seorang diri. Dia akan berjuang agar Kala mau menerima kenyataan jika cintanya tidak bisa memiliki. Kala harus belajar menerima kenyataan sama seperti dirinya yang mencoba merelakan Ayuna bahagia bersama Malik.


Oji sore ini ada janji temu dengan Hans yang mengajaknya olahraga bersama. Akhir-akhir ini Hans sering datang menemui Oji dan memaksanya tidak melawan Rama. Usahanya lambat laun membuahkan hasil, kini Oji sudah mencoba merelakan Ayu bukan untuk dirinya lagi.


“Kau sudah lama menunggu?” Hans menyambut Oji yang baru saja tiba.


“Bagaimana? Apa Paman mau mendengarkanmu?” Hans tidak bisa menahan rasa penasarannya. Dia sangat ingin tau respon Paman Oji yang begitu brutal saat menculik Ayu an Sarah.


Oji hanya mengangkat bahunya, Hans tau jika Paman nya tidak akan menerima dengan mudah apa yang jadi keinginan Oji agar melepaskan masa lalunya. Tidak akan mudah, hatinya lebih keras dari Oji. Hans bahkan harus membujuk Oji dengan segala cara yang dia bisa agar mau mendengarkannya.


"Mungkin Paman butuh waktu lebih lama." Hans mencoba memberikan harapan agar Oji tidak menyerah.


***


"San, kenapa seharian ini Jofan melamun dan terlihat sedih. Apa ada yang membuatnya sedih?" Melani sedikit aneh dan penasaran.


"Aku tidak tau, dia bahkan tidak melihat ku ada di depan matanya." Sandra mencoba menghibur, tapi Jofan tidak ad respon.


"Sepertinya dia sangat sedih. Aku tidak pernah melihat dia melamun sepanjang hari." Mulai keluar jiwa detektif Melani.

__ADS_1


Sandra ingat Jofan bahkan tidak bergeming saat di ajak makan siang. Sandra membuka tas mengambil roti yang Ibunya bawakan. Sandra juga merasa aneh dengan sikap Jofan hari ini.


"Makanlah, kau belum makan apapun hari ini." Jofan menatapnya sekilas lalu tenggelam lagi dengan pikirannya. Sandra hanya menggelengkan kepala frustasi. Sandra tidak bisa membujuk Jofan karena pelajaran sekolah sudah dimulai.


__ADS_2