Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 134 ( Bertepuk Sebelah Tangan )


__ADS_3

Oji masih berdiam diri di rumah persembunyiannya menghindari kejaran dari orang-orang suruhan Rama. Dia tidak percaya pada Rama yang berjanji akan menyelamatkannya asal tidak mengganggu keluarganya dan juga Ayu. Rama memintanya melupakan Ayu dan membiarkannya hidup bahagia bersama Malik, memberikan kebebasan pada Ayu menjadi bagian dari keluarga Rama Saputra.


Perasaannya masih menolak melepaskan Ayu dengan orang lain, Oji bahkan berjanji pada dirinya sendiri akan merubah jalan hidupnya agar bisa bersama dengan Ayu. Tapi usahanya untuk berubah sia-sia. Ayu sudah bersama orang lain karena perbuatan bodoh seorang gadis yang Oji kenal baik. Gadis yang sangat Hans cintai dengan tulus.


Alih-alih menjebak Ayu agar tercoreng nama baiknya, perbuatannya malah menjadi jalan mudah bagi hubungan Ayu dan Malik untuk menjadi pasangan suami istri. Hans tidak bisa menolak permintaan Lissa yang sudah keterlaluan, cintanya buta dan tidak lagi mampu membedakan hitam dan putih.


Oji mengacak rambutnya merasa frustasi, semua sudah terjadi dan Oji sudah tidak bisa mengembalikan keadaan seperti sedia kala. Cinta yang Oji perjuangkan tidak berhasil, padahal hatinya sudah terpaut jauh mencintai Ayu.


Ting tong....ting tong....


Suara bel rumah, Oji mengambil tongkat bisbol yang selalu dia letakkan di balik pintu untuk berjaga-jaga. Tidak ada yang datang ke rumah Oji ini selain pengantar makanan. Oji ragu untuk membukakan pintu, Oji merasa kenal dengan laki-laki yang berdiri membelakangi pintu saat mengintip di jendela.


“Mau apa kau kemari? Kau akan menyerahkanku pada Rama?” Oji masih berdiri di depan pintu sambil mengayunkan tongkat bisbolnya.


“Kau tidak memintaku masuk? Diluar sangat panas.” Hans mengibaskan kedua tangannya, Hans mendorong tubuh Oji, dan masuk tanpa ijin dari pemilik rumah.


“Jangan bertele-tele, apa yang kau inginkan.” Oji masih menganggap Hans adalah sekutu Rama, Oji tidak bisa percaya begitu saja orang-orang yang ada di kubu Rama.


“Biasanya tamu akan di suguhkan minuman, kau malah bertanya yang bukan-bukan. Aku tidak mengerti.” Hans mencoba bersikap seperti layaknya Oji adalah sahabatnya, dia banyak membantu pengobatan adiknya yang memakan biaya tidak sedikit. Hans berhutang budi pada Oji terlalu banyak.


“Kau punya dua topeng, bisa saja kau datang untuk menjebakku.” Oji masih tidak bisa percaya begitu saja. Tapi bagaimanapun Oji sangat mengenal Hans, dia orang yang professional dan membantu Oji dengan tulus selama ini.


“Aku datang sebagai teman, jika ada niat tidak baik, aku sudah menyerahkanmu pada Tuan Rama sejak aku tau tempat ini.” Hans benar-benar tulus, dia merasa kasian pada Oji yang saat ini tersesat, dia hanya berusaha keras menggapai cintanya walaupun dengan jalan yang salah.


“Hah….Bicara apa kau ini.” Oji mendengus kesal mendengar ucapan Hans. Menghindari tatapan mata Hans.


“Apa kau bisa melepaskannya saja? Kita bisa memulai jalan hidup yang baru jika kau mau berubah. Aku akan pastikan Tuan Rama menerimamu.” Hans ingat ucapan Rama yang akan membebaskan Oji dari segala tuduhan jika berjanji akan setia padanya.


“Kau memintaku menjual cintaku begitu saja?” Oji masih tidak bisa berpikir jernih, dia hanya ingin memiliki Ayu. Gadis sederhana yang sudah masuk dalam hatinya.


“Tapi sudah tidak bisa kau meraihnya, dia sudah jauh Ji, dia tidak bisa lagi kamu gapai.” Hans merasa kasihan, dia bahkan mencintai gadis yang tidak mungkin bisa jadi miliknya. Hans tau betul bagaimana rasanya.


“Pergilah setelah menghabiskan minumanmu. Jangan membuangnya karena aku sudah sangat repot membuatnya.” Hans tersenyum, dahulu Oji begitu dekat dengannya. Mereka sering berbagi suka dan duka.


Melihat Oji yang bersikap tenang saat berhadapan dengannya, Hans bisa memastikan sebenarnya Oji hanya butuh orang yang bisa mengerti isi hatinya saat ini. Hans bertekad ingin membantu Oji lepas dari baying-bayang cintanya yang bertepuk sebelah tangan.


“Aku sangat lelah, ijinkan aku menginap semalam saja di sini.” Hans membaringkan tubuhnya di atas sofa, memejamkan matanya mengabaikan ocehan Oji yang memintanya pergi.

__ADS_1


Hans tau hanya mulutnya yang membencinya tidak dengan hatinya, dia masih sangat membutuhkan Hans sebagai sahabat yang mendengarkan keluh kesahnya. Hanya Hans yang bisa jadi harapannya saat ini untuk menemukan jalan yang terbaik untuk masa depannya.


***


Ayu merasa risih dengan Jofan hari ini, matanya tidak berhenti menatapnya dan senyumnya menakutkan. Ayu beberapa kali menengok kea rah Jofan dan masih melihat pemandangan yang sama. Akhirnya Ayu tidak kuat dan menarik tangan Melani yang sedang fokus mendengarkan pelajaran sekolah.


“Mel, kau tidak merasa ada yang aneh dengan Jofan. Dia dari tadi melihatku seperti itu.” Ayu bergidik ngeri melihatnya. Melani tersenyum aneh kemudian berbalik. Mata Jofan bahkan hanya focus menatap Ayu seorang.


Apa dia jatuh cinta pada Ayu, lalu bagaimana nasih Sandra. Bisa-bisa cintanya benar-benar tidak terbalaskan selamanya. Melani termenung.


“Mel, kenapa kau diam saja.” Ayu berbisik di telinga Melani karena merasa tidak nyaman, kenapa semua orang terlihat begitu aneh.


“Mungkin dia masuk angin sampai tidak bisa berhenti tersenyum.” Ayu tertawa mendengar tanggapan Melani. Ini sikap nya yang paling wajar saat tidak tau harus berkata apa.


Pletakkkkk……


Awwwww……


“Sakit Bu!” Pulpen yang dilempar seorang guru tepat mengenai kepala Jofan. Guru yang melempar ikut terkejut karena lemparannya tepat sasaran.


“Jangan salahkan ibu, kau aku panggil beberapa kali dan tidak mendengarku sama sekali.” Siswa lain tersenyum, ini perama kalinya Jofan tidak belajar dengan baik. Dia teladan dan selalu jadi contoh bagi siswa lain dalam belajar.


Tidak lama bel sekolah berbunyi, semua siswa berhambur keluar dari kelas untuk kembali kerumah masing-masing. Tidak demikian dengan Jofan dan para sahabatnya yang hari ini mendapat undangan makan siang di Restaurant Kak Rey.


Malik tidak menuruti permintaan Ayu untuk ikut satu mobil dengan Sandra dan Melani. Malik malah membawa Sandra dan Melani ke mobilnya agar Ayu berhenti merengek untuk tidak satu mobil dengannya.


Suasana hening, Sandra dan Melani tidak berani berisik jika ada Malik. Mereka akan bicara jika ada lampu hijau dari Malik, jika Malik diam saja, mereka berdua juga ikut diam seribu bahasa.


Tring….


“Seharusnya kita di mobil Sandra saja tadi. Mobil Kak Malik sangat dingin.” Melani


Tring….


“Dingin karena kita takut bodoh, bukan karena mobilnya.” Sandra


Tringgg….

__ADS_1


“Maaf, semua ini salahku.” Ayu dengan emot banjir air mata


“Kalian membiacarakan ku? Berani sekali kalian!.” Sandra, Melani dan Ayu serempak menyimpan ponselnya dalam tas. Malik memang terlihat marah saat menolak keinginan Ayu tadi. Dia hanya khawatir, ternyata dampaknya begitu besar bagi ketiga wanita yang saat ini menjadi kesayangan Malik selain Mamih dan Sarah.


“Kalian tidak harus membicarakanku dalam obrolan group, bicara saja langsung padaku.” Maksud Malik bercanda agar suasana cair malah membuat ketiga nya semakin tegang karena takut telah melakukan kesalahan.


Malik memang tidak pandai bercanda gurau, mereka bertiga tidak bisa membedakan mana yang serius dan mana yang bercanda. Sama saja tidak ada bedanya.


Kenapa mereka tidak ada yang tertawa, apa aku terlihat sebegitu menakutkannya sampai mereka tidak ada yang berani bicara. Frustasi sendiri karena tidak bisa dengan mudah berbaur.


Semua sudah berkumpul, Ana yang melihat kedatangan Ayu dan sahabat-sahabatnya berlari kecil merentangkan tangan. Rasa rindunya terbayar sudah melihat Ayu saat ini baik-baik saja. Pelukan Ana berpindah pada Sandra, Melani dan juga Malik.


Makanan sudah terbentang di atas meja, membuat Melani tidak sabar ingin mencicipi satu-persatu makanan yang begitu sedap di pandang mata. Sandra sampai mencubit tangan Melani merasa malu.


Mereka semua ada di rooftop Restaurant yang Rey design saat ada acara-acara party kecil-kecilan seperti acaranya saat ini. Semua orang sudah tidak sabar ingin mendengar kabar gembira yang akan Rey sampaikan.


“Hmmm…..Hmmmmm….Terimakasih untuk semua yang sudah menyempatkan hadir di sini. Sudah lama rasanya aku dan Ana menjalin hubungan ini. Semua orang yang mengenal baik kami pasti tau, usia ku dan Ana semakin bertambah kian tahun. Dan kami tidak ingin menunda lagi, kami akan meresmikan hubungan ini.”


Riuh suara tepuk tangan dari orang-orang yang Rey undang, kabar bahagia yang selama ini di tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Ana sampai menitikan air mata bahagia karena pada akhirnya Rey membuka hatinya untuk mencoba membina rumah tangga dengannya.


Setelah acara utama berjakan lancer, semua tamu undangan dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang Rey persiapkan sendiri. Rey ingin memastikan semua makanan yang di hidangkan bisa memanjakan lidah siapa saja yang melahapnya.


“Kak selamat yah.” Ayu memeluk Ana dan Rey bergantian. Mereka terlihat sangat bahagia, Rey orang yang sangat keras kepala dan Ana orang yang sangat lembut dan penyayang. Pasangan yang sangat serasi dan cocok.


“Rey dimana Ferdinan?” Sapa seorang kerabat yang juga hadir.


“Sepertinya ada di bawah, sebentar Rey….” Ayu menahan Rey agar tidak meninggalkan tamu.


“Biar aku saja yang memanggil Pak Kepala Sekolah ke bawah.” Rey tersenyum, benar juga dia memang tidak boleh kemana-mana.


Ayu turun ke bawah bermaksud memanggil Ferdianan, ternyata Ferdinan sedang terlihat bercanda tawa dengan wanita yang tidak asing.


Ah benar, itu Mamah Mas Jofan. Mereka pasti dahulu sangat serasi, bahkan setelah berpisah pun mereka masih sangat dekat. Ayu bicara sendiri dalam hati.


Langkahnya sudah dekat, tapi Ayu mengurungkan niatnya karena mereka terlihat sedang menikmati momen kebersamaannya.


Deg…..

__ADS_1


Dada Ayu bergemuruh saat sadar dirinya yang sedang mereka bicarakan. Kakinya lemas tidak bertenaga, Ayu sangat terkejut mendengar percakapan mereka bedua. Ayu tidak kuat lagi mendengarnya, Ayu terburu-buru meninggalkan percakapan yang membuat dadanya sesak.


__ADS_2