Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 146 ( Sisi Lain Ayuna )


__ADS_3

Matahari bersinar indah hari ini, seolah dia tau ada banyak hati manusia yang butuh kehangatan untuk menutupi luka lama yang seolah tidak memudar. Gadis berparas cantik dengan perasaan yang tidak bisa di gambarkan dengan kata-kata sedang duduk di balkon memikirkan cara agar laki-laki yang sangat dia cintai bisa kembali padanya.


Begitu banyak cara-cara jahat yang ingin dia lakukan tapi masih di tahan, dia bukan gadis yang terlahir dengan sifat buruk. Dia gadis yang dikenal sangat baik dan tulus, tapi perasaan cinta yang membutakan mata hatinya membuatnya sedikit bergeser ingin melakukan segala cara agar cintanya bisa utuh dia miliki.


“Nik, serius sekali. Ada yang membuatmu cemas?” Klara duduk di samping Nikita yang terlihat melamun.


“Ah....” Nikita mengulas senyum yang di paksakan. “Aku baik-baik saja, rasanya enggan sekali kembali ke Bali. Aku sangat suka berada di sini.” Bingung harus menjawab apa.


“Wah, jika Mama tau kau tidak ingin kembali pasti dia sangat bahagia. Tinggallah, kami semua sangat senang.” Klara suka saat rumahnya ramai.


“Aku juga punya pekerjaan yang harus aku selesaikan. Bagaimana mungkin aku bisa tinggal.” Nikita menyeruput teh hijau yang aromanya menenangkan.


“Benar juga, bukan kau bilang sedang mengajukan kontrak kerjasama dengan perusahaan Kak Malik!” Klara penasaran. “Bagaimana kelanjutan kontraknya?” Nikita mengangkat bahunya karena sampai saat ini belum ada kabar dari pihak perusahaan Malik.


“Aku tidak ingin terlalu berharap, dia sering kali menghiyanati harapanku.” Nikita terlihat murung, Klara sampai tidak tega melihat sepupunya sesedih itu.


Hubungan Klara tidak dengan Malik tidak sedekat Nikita dan Malik. Klara merasa bersalah karena ulah Lissa Nikita harus kehilangan cinta sejatinya.


“Maafkan kami tidak bisa menjaga Lissa dengan baik sampai kau harus kehilangan Kak Malik.” Klara memeluk Nikita dengan hangat.


Klara meninggalkan Nikita yang saat ini masih ingin merenung sendirian. Nikita sudah di rasuki obsesi berlebihan untuk memiliki Malik seorang entah apa yang membuatnya sangat ingin membuktikan bahka Malik miliknya seorang.


Temui aku di cafe Bulan, kita harus selesaikan pembicaraan kita yang belum selesai. Nikita


Tring.....


Ayu menengok ponselnya yang berbunyi, Ayu terkejut menerima pesan dari Nikita yang mengajaknya bertemu di luar. Pasti dia ingin membahas tentang hubungannya dengan Malik.


Dia sangat gigih, Ayu iri ada orang lain yang mencintai Malik sebegitu besar. Dia bahkan rela melakukan apa saja demi mendapatkan Malik. Tapi Malik saat ini suamiku, apa yang harus aku lakukan agar perempuan ini sadar.


Ayu berpikir bagaimana cara menyingkiran benalu dalam rumah tangganya, bagaimanapaun tidak ada perempuan yang bisa memiliki Malik selain Ayu sebagai istri sahnya. Meskipun hubungan mereka saat ini tidak di publish.


Ayu menggaruk kepalanya berulang kali, mencari ide-ide gila apa yang harus dia lakukan agar Nikita menjauhi Malik. Ayu terpikir kan ide untuk mencari cara-cara jitu menghadapi pelakor di internet. Banyak cara-cara ekstrim yang membuat Ayu bergidik ngeri, apa harus sampai seperti ini menjauhkan perempuan lain dari suaminya.


“Kau kenapa? Apa ada yang sakit?” Malik menggenggam erat tangan Ayu, Malik khawatir Ayu sakit dan kembali drop.

__ADS_1


Ayu menggeleng, dia bahkan tidak menatap Malik yang sangat penasaran kenapa Ayu terlihat sangat gelisah. Tubuhnya sampai berkeringat membuat Malik semakin khawatir.


“Apa kau benar baik-baik saja? Jangan membuatku takut.” Malik memeluk Ayu untuk menghempas rasa khawatirnya yang berlebihan.


“Aku hari ini ingin bertemu teman-teman.” Malik kembali terkejut, apa yang sebenarnya ada di pikiran Ayu saat ini.


“Baiklah, ayo kita siap-siap dulu.” Ayu menggeleng, Malik yang sudah berdiri kembali duduk si samping Ayu.


“Aku ingin pergi sendiri!” Malik menggeleng dengan cepat tidak menyetujui permintaan Ayu. “Apa aku tidak punya hak merasakan masa mudaku!” Malik baru kali ini melihat Ayu bicara dengan nada tinggi di depannya.


“Aku juga ingin merasakan apa yang teman-temanku rasakan Kak, aku ingin bermain, aku ingin makan, nonton, tanpa Kak Malik yang selalu mengikutiku kemanapaun aku pergi.” Malik sedih, tapi Malik juga senang melihat sisi lain dari Ayu yang selama ini tidak pernah dia lihat, Malik bahkan sampai tidak bisa berkata-kata.


“Apa kau bisa jaga diri tan....”


“Tentu saja, aku akan pulang dalam keadaan selamat. Aku janji.” Ayu sudah menghilang masuk ke dalam kamarnya. Malik bahkan belum mengeluarkan pernyataan apapun.


Kenapa Ayu terlihat sangat emosi, apa aku melakukan kesalahan padanya. Dia tidak pernah terlihat begitu kuat, aku seharusnya tau Ayu punya sisi keras seperti ini. Malik tertawa sendiri, hanya Ayu yang berani membentaknya sampai tidak bisa berkutik.


Ayu keluar dengan pakaian mahal yang Mamih belikan dari butik langganannya, selama ini pakaian-pakaian itu hanya terpajang karena Ayu enggan menggunakannya.


“Apa aku cantik pakai baju ini?” Ayu berputar-putar di depan Malik bak model terkenal yang sedang memperagakan busana. Malik mengangguk merasa aneh dengan sikap Ayu.


“Al, Nona sudah turun. Kau harus memata-matai kemana dia pergi dan dengan siapa dia pergi.” Malik tidak bisa membiarkan Ayu pergi seorang diri.


Kali ini Malik menghubungi Adam karena penasaran dengan apa yang terjadi, Malik takut apa yang terjadi pada Ayu akibat gegar otaknya yang belum sembuh total. Atau efek samping obat yang Ayu konsumsi.


“Kau mengganggu saja, aku libur. Aku sedang bersama Mahesa di taman.” Adam kesal ponselnya tidak berhenti berdering.


“Mahesa bahkan belum bisa membedakan warna, untuk apa kau membawanya ke taman.” Perdebatan tidak penting terjadi setiap saat. Pemandangan yang selalu Sarah lihat sepanjang dia mengenal Adam dan Malik.


“Hentikan, ada hal penting yang harus kau tau. Aku sampai tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Dia seperti wanita lain yang tidka aku kenal.” Adam menyimak dengan seksama.


“Apa maksudmu, katakan dengan benar.” Adam mulai kesal, Malik berbelit-belit. Malik menceritakan dengan detail apa yang terjadi pada Ayu. Adam tidak bisa menebak apa yang terjadi jika tidak melihatnya secara langsung.


“Kau bersamanya saat ini? Kalian ada di mana?” Adam memakai jaketnya bersiap menyusul Malik dan Ayu.

__ADS_1


“Ayu pergi seorang diri di antar Aldo.” Ponsel Malik hening. Jika sudah seperti ini Malik tau Adam sedang meredakan emosinya. “Aku tidak bersalah, aku hanya mengikuti keinginannya.” Berusaha membela diri.


“Jangan membela diri, kau malah terlihat semakin bersalah dan menyedihkan.” Adam bosan menasehati Malik agar lebih peka dengan perasaan wanita.


“Apa yang harus aku lakukan? Aku bingung.” Malik benar-benar syok melihat Ayu jadi tidak bisa berpikir dengan jernih.


“Sejak kapan kau jadi bodoh seperti ini. Tentu saja ikuti dia diam-diam. Kau ini benar-benar membuatku geram.” Sarah merebut ponsel dari tangan Adam dan menyerahkan Mahesa ke pelukkan Adam.


“Sayang, apa kau bisa berpikir dengan tenang. Tarik nafas dalam-dalam lalu keluarkan perlahan.” Sarah tau saat ini Malik panik, bicara dengan Adam malah akan membuatnya semakin panik.


Malik mengikuti instruksi dari Sarah. “Kak, apa yang harus aku lakukan. Aku benar-benar tidak ingin melihatnya terluka.” Suaranya sedikit melemah.


“Apa sudah bisa aku kasih saran?” Tidak ada jawaban, artinya Malik sedang fokus mendengarkannya. “Kau masih ingat menaruh alat pelacak di ponsel Ayu?” Sarah ingat percakapan Malik dan Adam saat ingin menaruh alat pelacak agar bisa menemukan Ayu dimanapun dia berada.


“Aku bisa menghubungi Aldo jika ingin tau dimana Ayu berada.” Untuk apa susah payah menggunakan alat pelacak.


“Jika kau menghubungi Aldo, bisa saja Ayu tau kau membuntutinya. Atau Ayu bisa berpikir kau tidak percaya padanya.” Sarah memikirkan berbagai kemungkinan. Adam menempelkan kupingnya ingin mendengar percakapan Sarah dan Malik.


“Apa tidak apa jika aku mengikutinya? Dia bilang hanya ingin bertemu teman-temannya.” Malik ingin memberi Ayu ruang agar jadi dirinya sendiri.


“Pasti ada yang Ayu sembunyikan, dia tidak ingin membuatmu khawatir dengan drama yang dia lakukan. Percayalah, kau harus tau apa yang sebenarnya terjadi.” Sarah tau siapa Ayu. Dia tidak mungkin bertingkah aneh jika tidak ada yang terjadi.


Malik akhirnya mengikuti saran yang Sarah berikan, ada benarnya juga. Ayu tidak pernah bertingkah aneh selama ini. Dia sangat mencurigaka. Malik bahkan sampai tercengang tidak percaya.


Aldo dengan senang hati mengantarkan kemana pun Ayu mau, Malik sebelumnya berpesan jika dirinya harus memperhatikan setiap gerak gerik Ayu. Aldo tidak melihat appaun yang mencurigakan, Ayu hanya terlihat sedikit gelisah.


Akhirnya mereka sampai di cafe Bulan sesuai permintaan, Aldo segera turun membukakan pintu untuk Ayu. Tapi terlambat, Ayu sudah bergerak sendiri tanpa bantuannya. Aldo masih menunggu aba-aba selanjutnya sambil mengikuti Ayu berjalan di belakangnya.


“Kak Al, tolong duduk sedikit jauh dari tempatku. Apapun yang akan terjadi jangan coba-coba ikut campur, sekalipun aku harus mengorbankan nyawaku. INGAT!!!!” Aldo menggaruk kepalanya, apa yang harus dia lakukan. Perintah Ayu tidak mungkin dia turuti, Aldo harus menjaga Ayu tetap dalam keadaan aman.


“Tapi Nona.....”


“Husssshhhh.....jangan membantah perintahku. Kau mengerti.” Kali ini Aldo baru sadar keanehan yang terjadi, pantas saja Malik terdengar sangat frustasi saat menelponnya tadi.


“Nona, aku tidak bisa membiarkan Nona dalam bahaya. Lebih baik nyawaku yang terancam.” Ayu mendekati Aldo dengan tatapan matanya yang menakutkan, seperti anggota gengster yang sedang naik pitam. Lebih menakutkan dari Bos Malik.

__ADS_1


“Kau mecintai Malik seperti aku mencintainya! Aku harus berjuang untuk masa depanku. Aku tidak mau lagi jadi wanita lemah yang selalu saja mereka ancam setiap saat. Aku juga bisa seperti mereka.” Aldo menghela panjang nafasnya tidak paham. Sepertinya Ayu benar-benar sudah tidak waras.


Dia membicarakan banya hal yang Aldo tidak paham maksud dan tujuan dari semua sikapnya saat ini yang membuat dirinya bingung. Sepertinya Malik benar, ini efek samping dari obat yang Nona minum.


__ADS_2