Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi

Gadis Desa Dengan Sejuta Mimpi
Bab 108 ( Camping Part 1 )


__ADS_3

Usia kandungan Sarah sudah memasuki 5 bulan, perut nya tidak lagi rata seperti dulu. Sarah akhir-akhir ini sering sekali ngidam makanan aneh yang membuat Adam bingung mencarinya.


Kali ini Sarah ingin sekali makan buah rambutan saat tidak musim. Adam keliling pasar mana pun tidak ada yang menjual rambutan. Adam membeli buah lain agar Sarah tidak terlalu kecewa.


"Sayang sudah pulang?" Senyum bahagianya pudar melihat tangan Adam menenteng buah lain tidak sesuai dengan keinginanya.


"Jangan sedih begitu sayang, aku sudah coba keliling kesana kemari tapi tetap tidak menemukan buah rambutan seperti yang anak kita mau!" Adam terbawa suasana melihat wajah Sarah yang sedih.


"Tidak apa, aku makan buah yang kamu bawa aja." Sarah menutupi kekecewaannya, tapi Adam tau senyumnya palsu.


"Oh iya sayang, aku hari ini mau belanja bulanan. Aku ajak Ibu yah, kasian sudah lama Ibu tidak jalan-jalan." Adam tidak tega menolaknya. Padahal Adam khawatir membiarkan Sarah pergi tanpa dirinya.


"Pergi sama Ayah juga yah, aku tidak bisa menemani karena ada seminar." Adam sedih tidak bisa selalu ada di samping Sarah.


"Ok" Sarah memeluk Adam sebagai ucapan terimakasih nya.


Selama ini Adam tidak pernah mengeluh dengan kelakuan anehnya selama hamil. Sarah sendiri bingung kenapa dirinya berubah jadi orang yang sangat merepotkan selama hamil.


Selama ini dia dikenal sebagai wanita mandiri dan pekerja keras. Hilang entah kemana jati diri nya selama hamil ini.


Austin dengan senang hati mengantarkan Sarah belanja bulanan. Austin banyak mengurangi kegiatan nya selama tinggal bersama Sarah dan Adam. Kebutuhan nya yang selama ini dia penuhi sendiri kini sudah terbantu oleh Adam. Dia sekarang bisa bersantai sedikit menikmati masa tuanya.


Suasana pusat belanja cukup padat hari ini, sepertinya Sarah datang di hari yang kurang tepat. Dia baru ingat kalau hari ini jadwal gajian para karyawan kantoran sehingga mereka memadati pusat perbelanjaan.


Maghda sudah sehat sekarang, dia hanya belum bisa merespon secara cepat pembicaraan yang dia dengar. Tapi kesehatan dan ingatannya perlahan sudah mulai membaik.


Maghda menemani Sarah memilih satu persatu kebutuhan dapur, membantu Sarah mendorong troli perlahan.


Sedikit demi sedikit troli terisi berbagai macam makanan dan kebutuhan lain, Austin memilih melihat-lihat perkakas tidak jauh dari tempat Sarah.


Tangan Sarah tertahan tidak bisa menggerakkan troli yang Maghda pegang erat dengan kedua tangannya. Pandangan matanya seperti orang yang ketakutan.


"Ibu, kenapa sangat tegang?" Sarah melihat Maghda mematung tidak berkedip.


Sarah mencoba mengikuti arah mata Maghda, dia terkejut melihat laki-laki yang tersenyum ke arah mereka.


Austin yang berada sedikit jauh dari mereka lari ke arah Maghda.


Maghda memiliki trauma yang dalam atas perbuatannya di masa lalu. Entah apa yang Laka inginkan dari keluarganya kali ini. Dia masih saja datang dan mengganggu kehidupan keluarganya.


Perlahan Laka berjalan maju menghampiri Sarah dan keluarga nya. Senyum tidak pudar dari bibirnya, tangan Sarah sedikit gemetar melihat laki-laki yang sangat dia benci berdiri di hadapannya.


"Apa mau mu? Jangan ganggu keluarga ku!" Teriak Sarah mengundang perhatian orang-orang yang ada di sekitar Sarah.


"Jangan lupa kau sudah dijual oleh wanita tua ini padaku." Laka menatap tajam mata Maghda yang tidak berkedip melihatnya.


"Kami sudah kembalikan apa yang Maghda terima darimu. Jangan ganggu keluarga kami, saya mohon Tuan!" Austin khawatir Maghda akan kembali terguncang mendengar perkataan Kala.

__ADS_1


"Enak saja, perjanjian tetap perjanjian. Kalian tidak bisa merubahnya begitu saja." Kala pergi meninggalkan Sarah dan keluarganya. Dia memperhatikan perut Sarah yang sudah mulai membesar.


Spontan tangan Sarah menutupi perutnya dengan kedua tangan. Dia takut Kala akan membahayakan anak yang ada di dalam kandungannya.


Sarah harus menceritakan siapa Kala pada Adam, dia sudah sangat menggangu dan mengancam Sarah dan keluarganya belakangan ini.


"Tenang ya Bu, kita akan baik-baik saja." Sarah memeluk Maghda yang masih tidak merespon apapun. Pandangan matanya kosong penuh kebencian.


Sarah dan keluarganya harus lepas dari bayang-bayang Kala, jika tidak bayangan ini akan selama nya menggangu kehidupan nya.


***


Bus sekolah melaju dengan kecepatan sedang, terdengar riuh suara anak-anak yang bercanda tawa. Ada yang bernyanyi, ada yang tidur, dan ada yang hanya sekedar bersenda gurau.


Hans salah satu panitia paling di gemari gadis-gadis remaja karena parasnya yang rupawan dan sikapnya yang ramah.


"San, Yu." Melani salah satu penggemar berat nya.


"Hmmmmm....." Suara Sandra dan Ayu lemas karena sudah terasa pegal menempuh perjalanan panjang hari ini.


"Kak Hans ganteng juga yah kalau di lihat-lihat." Senyum-senyum sendiri.


"Mel...Mel, kamu mah Pak Kosim di pake in Jas juga dibilang ganteng." Balas Sandra.


"Hahahaha" Kata-kata Sandra menggelitik, membuat Ayu terbahak.


Jofan tidak menanggapi ketiga sahabatnya, matanya terpejam menikmati perjalanan panjang hari ini.


"Kak Hans kan gebetannya nenek sihir, kamu mau saingan sama dia?" Melani bergidik, mendengar namanya saja sudah membuatnya takut.


"Sudah ah jangan bahas dia, aku mau move on." Ayu tersenyum pada kedua sahabatnya, senyumnya punya luka dalam yang dia coba sembuhkan sendiri.


Sandra dan Melani meluk Ayu yang duduk di tengah mereka.


Bis memasuki kawasan hutan yang cukup jauh dari pemukiman warga. Pemandangan asri nan indah menyejukkan mata.


Tidak lama bus berhenti, panitia dengan penuh perhatian membimbing adik-adik kelasnya untuk turun dan berkumpul di tanah lapang yang sudah di siapkan.


Upacara pembukaan di lakukan dengan penuh hikmat. Semua antusias mengikuti jalannya prosesi camping dengan penuh rasa penasaran.


Panitia menyampaikan susuan acara dua hari ke depan. Menyampaikan peraturan dan tata tertib yang harus di ikuti semua peserta camping.


Selesai upacara semua bersiap mendirikan tenda. Setiap tenda akan di isi 4 orang peserta. Semua bebas memilih teman satu tenda.


Sebenarnya ini aturan yang Malik buat agar Ayu bisa berada satu tenda dengan sahabat-sahabatnya. Biasanya siapa satu tenda dengan siapa di atur oleh panitia.


"Kita cuma bertiga, masih kurang 1 orang lagi nih." Melani berbisik pada kedua sahabatnya.

__ADS_1


"Kalau tidak ada yang mau gabung biarkan saja. Kita bertiga saja." Sandra acuh saja, santai saja.


"Aku coba tanya ke temen yang lain mau gak?" Ayu mencoba bijaksana.


"Tidak usah, nanti juga datang sendiri kalau ada yang membutuhkan." Sandra masih bertahan dengan keputusannya.


"Ya sudah." Ayu dan Melani menurut saja dengan keputusan Sandra.


Mereka kembali sibuk memasang tenda dengan susah payah. Jari-jari mereka sampai dipenuhi tanah karena kesulitan menggabungkan tenda dengan benar pada tiang-tiangnya.


"Apa aku boleh gabung?" Gadis cantik yang tidak tau siapa menghampiri mereka bertiga.


"Kau siapa? Aku tidak pernah lihat." Sandra dengan muka sangarnya. Ayu sampai menarik lengan bajunya supaya Sandra menurunkan nada bicaranya.


"Aku Martha, aku pindahan dari Bandung dan akan bergabung di kelas 3 nanti." Sandra memperhatikan dari ujung rambut sampai ujung kaki Martha. Dia gadis yang cukup cantik.


"Boleh, kita kebetulan hanya bertiga." Ayu dengan Ramah menerima Martha.


"Aku bantu yah." Martha dengan gembira bergabung bersama mereka bertiga. Akhirnya ada juga kesempatan memiliki sahabat.


"Apa kalian masih belum siap?" Jofan menghampiri sahabat-sahabat nya yang masih belum selesia memasang tenda.


Tangannya dengan lihai memasang kain tenda ke tiang-tiang agar segera berdiri kokoh.


"Wah kamu keren sekali." Martha memuji Jofan dengan tulus. Sandra cemburu karena Jofan tersenyum manis pada Martha.


Melani menepuk bahu Sandra memberi semangat.


"Barang-barang kalian bawa saja ke sini. Biar aku yang atur supaya rapih." Keempat nya bergegas meraih ransel yang berada tidak jauh dari tempat mereka.


"Kalian sudah selesai?" Hans mengunjungi tenda Ayu. Memastikan dia baik-baik saja dan tidak kesulitan.


"Sudah Kak, kita sudah selesai." Jofan yang merespon karena ketiga sahabatnya dan Martha hanya diam terpesona dengan ketampanan Hans.


Kali ini Hans terlihat sangat berbeda, kaos yah melekat di tubuh basahnya karena keringat membuat tubuhnya terlihat sexy. Para gadis tentu saja terpesona.


Hans kembali mendatangi tenda yang masih belum berdiri, membantu agar semua siap sesuai waktu yang sudah di tentukan.


Melani membaca denga detail jadwal yang di bagikan pada setiap tenda untuk di gantung. Sebagai pengingat agar setiap peserta disiplin degan segala aturan yang sudah di buat.


"Berarti sebentar lagi waktunya kita apel sore nih." Melani menggoyangkan kaki Sandra yang ada di paha nya.


"Memang jam berapa Mel, aku masih lelah sekali, huammmm......" Ayu menguap meregangkan otot-otot nya yang terasa tegang.


Semua satu persatu berkumpul di lapangan seperti saat pertama datang. Bersiap mengikuti apel sore sesuai jadwal.


"Sore adik-adik semua.....!!!" Seru seorang panitia cantik yang sudah berdiri di podium dengan penuh semangat.

__ADS_1


"Sore......" Riuh suara anak-anak tidak kalah semangat.


"Sore ini Kak Anggi akan ajak kalian semua jalan-sore yah. Kita petik sayuran untuk makan malam nanti, dan kita akan berburu di hutan belantara menangkap apa saja yang bisa kita jadikan santapan. Kita sudah siapkan banyak kejutan di dalam hutan dan kalian akan menikmatinya. So.... enjoy adik-adik ku tersayang." Kak Anggi begitu antusias membuat semua yah mendengarkan terbawa suasana mejadi semangat.


__ADS_2