
Sandra sudah selesai membereskan pakaiannya, lemari dipenuhi berbagai macam pakaian yang Sandra bawa dari rumahnya.
Sandra membawa begitu banyak pakaian, seperti orang yang akan tinggal lama.
Padahal mereka hanya berlibur selama 3 hari.
“Yu” Sandra tidak menemukan Ayu, dia beralih ke kamar Melani. Ditemukan sahabatnya yang sedang tiduran, bahkan pakaiannya masih rapi didalam koper.
“Kenapa tidak kau bereskan?” Sandra menarik koper Melani yang masih teronggok didepan pintu kamar.
“San, aku merasa ada yang aneh dengan Kak Malik dan Kak Rey!” Melani sudah berganti posisi duduk.
“Maksudnya?” Sandra ikut duduk disebelah Melani.
“Kau tidak lihat tadi. Kak Rey dn Kak Malik mengadakan pertemuan rahasia. Mata Kak Malik berbinar-binar saat melihat Ayu” Melani sedih, karena dia juga sangat menyukai Kak Malik.
“Aku tidak perduli, ayo cepat bereskan. Kita mau menikmati langit malam dari atas balkon Mel” Sandra menarik tangan Melani yang masih bermalas-malasan.
“Kamu berpihak pada Ayu?” Melani melipat kedua tangannya.
Sandra mendengus kesal melihat kalakuan sahabatnya ini. Dia ikut berdiri dan memeluk tubuh Melani dengan erat.
“Jangan macam-macam. Atau aku tidak akan pernah melepaskan pelukanku!” Sandra mengeratkan pelukannya.
“Ampun....tolong lepaskan. Ampun San!!!” Melani meronta mencoba melepaskan tubuhnya dari dekapan Sandra.
Sandra menarik paksa tubuh Melani turun dari atas kasur. Mereka berdua seperti orang yang sedang bergulat diatas lantai.
Cukup lama mereka saling menggelitik satu sama lain. Sampe lemas dan mereka terkapar merentangan kedua tangan terlentang.
Sandra sudah duduk, dia menggaruk kepalanya yang gatal karena berkeringat.
Melani sudah berlari masuk ke dalam toilet.
Sandra yang melilhat Melani berlari ke toilet buru-buru mengekor dibelakang Melani.
Mereka sudah berada didalam kamar mandi berduaan.
“Mel, bagaimana jika kita menghipnotis Ayu. Kita tanya pada Ayu siapa yang saat ini mengisi hati Ayu dan dia cintai” Sandra duduk diatas wastavel.
“Jangan gila. Memang siapa yang bisa hipnotis?” Melani mencuci muka untuk menyegarkan tubuhnya.
“Kita sewa jasa orang-orang yang suka muncul di televisi” Sandra turun dari wastavel dan mencuci mukanya.
“Jika Jofan tau, kita bisa dibunuh San. Jangan macam-macam dengan Ayu, hmmmm” Melani bergidik ngeri mengingat Jofan yang bertaring.
“Kan kita tidak menyakiti Ayu Mel. Kita hanya mencari tau, jadi kita bisa bantu Ayu supaya bisa PDKT Mel!” Mereka berdua selesai membersihkan diri dan bersiap keluar dari kamar mandi.
Melani mencoba membuka pintu, tapi pintu tidak bisa terbuka. Sandra mencoba membuka pintu karena Melani tidak berhasil membuka pintu.
__ADS_1
“Kau ini, makan saja banyak. Membuka pintu begini saja tidak bisa”
Klek....klek...klek....
“Jangan bercanda San. Cepat buka, jangan bercanda dengan hal yang tidak lucu” Sekarang mereka mencoba membuka pintu dengan kedua tangan mereka.
“Tidak bisa dibuka, bagaimana ini!” Sandra bingung kenapa pintunya mendadak macet.
Melani mengambil kertas yang diinjaknya.
Dibaca dengan seksama, raut mukanya berubah sedih. Sandra yang penasaran langsung menarik paksa kertas dari tangan Melani sampai kertas itu sobek menjadi 2.
“MOHON TIDAK MENUTUP PINTU KAMAR MANDI, SEDANG DALAM PERBAIKAN, tolong....tolong, siapa saja yang dengar tolong buka pintu ini” Sandra berteriak.
“Kita sepertinya kualat. Kau kan yang tadi mau bermain hipnotis? Lihatlah, kita sekarang terkurung didalam sini” Melani merasa menyesal.
“Kenapa hanya menyalahkanku, bukanya kamu yang suka dengan Kak Malik.
Jelas-jelas Kak Malik menyukai Ayu” Mereka saling berteriak.
“Ok” Melani menarik napas dalam. “Kita tidak boleh terpecah belah hanya karena laki-laki” Melani mencari handpone disaku celananya, namun tidak dia temukan.
Sekarang tangannya berganti menggerayangi tubuh Sandra. Sampe-sampe sandra kaget dan spontan menutup dadanya.
“Jangan berpikir yang tidak-tidak” Melani kesal melihat tatapan mata Sandra padanya.
“Apa kau tidak membawa handpone?” Melani tidak menemukan handpone yang dicarinya.
“Handponeku ada didalam tas. Tas itu ada di kamar dan aku tidak membawanya” Mereka berdua terduduk lemas didepan pintu kamar mandi.
Berteriak meronta-ronta pun percuma, suara mereka tidak dapat menembus tembok yang kedap suara.
Tiba-tiba saja sayup-sayup terdengar suara Ayu yang sedang mencari keberadaan mereka berdua. Dengan sigap Melani dan Sandra menggedor pintu dengan keras. Dan berhasil, Ayu mendatangi mereka dan mencoba menolong mereka.
Setelah menunggu lama aksi heroik dari balik pintu kamar mandi, mereka berdua segera berlari saat melihat daun pintu yang terbuka lebar. Jofan tertawa mengejek kebodohan Melani dan Sandra.
Mereka langsung memeluk tubuh Ayu, Jofan sudah berlalu meninggalkan ketiga wanita aneh yang menjadi sahabat baiknya.
“Kalian baik-baik saja?” Ayu rasanya ingin tertawa. Tapi melihat raut muka Melani dan Sandra Ayu mengurungkan niatnya untuk tertawa. Ayu segera berlari mengambilkan air putih untuk menenangkan kedua sahabatnya.
Mereka meneguk habis air putih yang Ayu bawa. Rasanya lega bisa keluar dari kamar mandi yang mengurung mereka hampir 1 jam.
Mereka bertiga berjalan menghampiri Jofan yang saat ini sedang menikmati udara sejuk.
Kembali Jofan tersenyum mengejek saat melihat Sandra dan Melani. Ayu mencubit lengan Jofan agar berhenti menertawakan kedua sahabatnya.
“Apa ku bilang, mereka tidak akan tidur sebelum membuat kekacauan” Sandra
melengos mendengar kata-kata Jofan.
__ADS_1
Melani mengambil gitar yang dia bawa dan memberikannya pada Jofan. Menggoyangkan kedua alisnya membuat Jofan tersenyum.
Jofan menyanyikan lagu cinta yang sedang hits saat ini. Ada senyum tersungging dari bibir Sandra yang ranum.
“Apa aku boleh tidur duluan? Huaaammmm, mataku sungguh sangat nakal. Dia sudah tidak bisa dikendalikan” Melani menguap lebar kemudian menarik Ayu agar ikut bersamanya.
Tinggallah Jofan dan Sandra duduk berduaan dibalkon. Rasa canggung mulai menyeruak, tidak ada yang bersuara. Jofan asyik dengan gitarnya menyembunyikan kecanggungan.
Sandra menyibakkan rambutnya yang tergerai beberapa kali.
Dua insan yang memiliki rasa namun enggan untuk mengungkapkan. Lirikan mata keduanya bertemu beberapa kali, menambah suasana canggung diantara keduanya.
“Ayo kita masuk, udaranya sangat dingin. Kita bisa sakit kalo memaksakan diri” Jofan mengulurkan tangannya. Sandra mendongak masih tidak percaya tangan yang ada didepannya adalah tangan Jofan.
Jofan menarik tangan Sandra yang tak kunjung menyambut uluran tangannya.
Deg....deg....deg....deg...
Rasanya jantung Sandra berdetak secepat kilat, dia merasa sangat bahagia dengan perlakukan Jofan kali ini. Tidak biasanya Jofan bersikap masis pada dirinya.
Terlihat Ayu dan Melani sedang membuat kekacauan didapur. Entah apa yang akan mereka masak malam ini.
Tadinya mereka berdua sudah masuk kekamar Ayu, namun tiba-tiba perut Melani berbunyi, seolah-olah cacing dalam perutnya meminta jatah makan. Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk memasak mie instan yang mereka bawa dari Jakarta.
Melihat kedua sahabatnya, Sandra langsung melepaskan tangan Jofan. Rasnaya malu mengakui dan menunjukkan perasaannya didepan kedua sahabatnya ini.
Sandra berlari menghampiri Ayu dan Melani. Dia ikut menyibukkan diri memasak mie instan. Sudah lama juga tidak menikmati kelezatannya.
Jofan sudah masuk kedalam kamarnya, membiarkan para gadis-gadis menghabiskan waktu bersama-sama malam ini.
“Aku mau yang rasa ayam bawang ya Yu” Melani
“Aku mau mie goreng saja” Ayu
“Aku apa yah, e.... aku rasa soto ayam saja lah” Sandra
Mereka memasak sesuai dengan selera mereka masing-masing. Jofan tidak ikut makan, dia tidak suka makan makanan cepat saji. Baginya makan yang benar adalah yang bergizi, bukan hanya yang enak dilidah saja.
Mereka menikmati makanan mereka sambil menonton drama korea yang sandra bawa.
Ayu yang tadinya tidak suka drama korea jadi ikut hanyut terbawa suasana drama. Mereka bertiga sampai tertidur didepan tv karena menonton sampai larut malam.
Jofan yang terbangun karena suara tv yang masih menyala ditengah malam menghampiri ketiga sahabatnya.
“Udara sangat dingin dan mereka bertiga malah tidur diatas karpet. Benar-benar gadis-gadis nakal. Untung saja kalian punya sahabat yang baik sepertiku” Jofan bergumam lirih sambil memasangkan selimut yang dia ambil dari lemari pada ketiga sahabatnya.
Jofan memastika semua pintu terkunci, mengubah stelan AC agar tidak terlalu dingin. Setelah memastika semuanya sudah ok, Jofan kembali kekamarnya.
Kadang ketiga sahabatnya ini membuat kepala Jofan mau pecah rasanya karena mereka selalu berisik. Sedangkan Jofan suka sekali suasana yang tenang.
__ADS_1
Tapi terkadang saat ketiga sahabatnya tidak berisik, Jofan jadi merindukan kekonyolan-kekonyolan yang mereka ciptakan.
Entah apa yang membuat Jofan bisa betah bersama gadis-gadis ini. Mereka selalau membuat hati Jofan dipenuhi dengan kebahagiaan.