
Suasana pesta sudah mulai ramai, tamu sedikit demi sedikit memenuhi aula pernikahan. Terlihat sepasang kekasih yang saat ini sedang tersenyum bahagia menantikan detik-detik mendebarkan. Pasangan kekasih yang cukup popular di seantero lingkungan kantor sebentar lagi akan resmi menjadi pasangan suami istri.
Semua tamu udangan yang hadir ikut merasakan atmosfer kebahagiaan yang terpancar dari kedua mempelai. Senyum bahagia mewarnai setiap sudut ruangan yang menjadi saksi hari bahagia antara Pras dan Rera.
Terdengar suara ketukan sepatu yang melangkah menyita perhatian setiap tamu undangan yang datang. Gadis cantik dengan gaun berwarna merah maron yang baru saja memasuki aula pernikahan. Senyumnya mengembang setiap langkah, banyak mata laki-laki yang tidak berkedip saat melihat kemolekan tubuhnya.
Nikita, dia duduk diantara para sahabatnya yang juga datang. Mereka teman satu angkatan dengan adik Rera yang bernama Soraya. Rera sedikit terkejut melihat Nikita yang hadir di pesta pernikahannya tanpa undangan resmi dari mereka.
Pras melihat raut wajah Rera yang sedikit panik. Pras menggenggam erat tangan istrinya sebelum menghubungi pihak keamanan agar mengawasi pergerakan Nikita dan teman-temannya. Gadis-gadis remaja yang tidak bisa dibiarkan begitu saja.
Malik malam ini terlihat datang sendiri, banyak pengusaha-pengusaha muda yang berbaris antri agar bisa berjabat tangan dengan sorang Malik Saputra. Pemuda dengan latar belakang dan profil gemilang dengan segala kesuksesan yang sudah dia raih dalam usia nya yang masih sangat muda.
Pras mencoba menghubungi Aldo tapi tidak ada respon, ponselnya diluar jangkauan. Aldo biasanya akan ada dimanapun Malik berada, tapi kali ini tidak terlihat batang hidungnya. Kedatangan Nikita benar-benar membuat suasana hati pengantin yang tadinya berbunga-bunga jadi mendung. Banyak yang membuat mereka khawatir, apalagi Nikita berdandan bak putri dari negeri dongeng.
Akhirnya waktu yang di tunggu-tunggu tiba, semua mata tertuju pada pengantin yang saat ini sedang melaksanakan janji suci sehidup semati di depan seorang pastur. Suasana haru menyelimuti jalannya proses pengucapan janji suci. Banyak yang ikut bahagia menyaksikan perjalanan cinta yang akhirnya berlabuh di pelaminan.
“Sudah lama kita tidak bertemu.” Malik terkejut melihat Nikita yang saat ini berdiri disebelahnya. “Kau terpesona, lihat matamu sampai tidak berkedip.” Nikita tersenyum merasa puas melihat Malik memandang wajahnya tanpa berkedip.
Malik menggaruk kepalanya yang tidak gatal, banyak senyum dan bisikan-bisikan terdengar membicarakan dirinya dan Nikita. Malik tidak bisa berbuat apa-apa selain diam dan membiarkan Nikita berdiri di sampingnya agar tidak menuai pemberitaan yang tidk-tidak.
“Hay kekasihku yang tampan. Diamana Ayuna ku!” Sapa Sarah yang tidak suka melihat ada perempuan sok kecantikan memenpel di dekatnya.
Hahahaha….perempuan memang selalu tau apa yang saat ini laki-laki rasakan. Sarah selalu tau kapan harus bertindak dan menyelamatkan dirinya dari perburuan para gadis-gadis cantik. Malik teriak kegirangan dalam hati.
“Dia tidak bisa aku bawa ke tempat-tempat ramai seperti ini. Aku tidak rela membagi senyumnya pada orang lain.” Malik mencoba menyiratkan kebesaran cintanya pada Ayu agar Nikita mundur.
“Aduh…..aduhhhh…..Ayu sangat beruntung punya laki-laki sebaik kamu.” Giliran Sarah yang menempel tidak mau lepas. Adam sampai cemburu melihat istrinya menempel pada laki-laki lain.
“Ayo kita makan, aku lapar.” Sarah menyeret paksa tangan Malik agar menjauh dari jangkauan Nikita yang siap memangsanya. Adam mengekor di belakang Malik dan Sarah.
“Jangan terlalu dekat dengannya.” Adam menarik Sarah ke sisinya menjauhi Malik. Malik hanya bisa tertawa melihat Adam yang cemburu.
__ADS_1
“Aku juga punya bidadari cantik.” Malik tidak mau kalah melihat Adam memamerkan kemesraan di depan matanya.
“Sudah…..sudah….. kalian selalu saja bersikap kekanakan.” Sarah mulai menjelajahi makanan yang tersusun rapi di atas meja panjang. Mereka dapat keistimewaan tidak perlu mengantri seperti tamu lain.
“Kenapa Ayuna tidak ikut?” Suara sedikit serak yang menyapa Malik.
“Rey, dia masih belum siap bertemu denganmu dan Jofan. Dia mempersiapkan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi. Kau tau, dia sangat merasa bersalah pada kalian.” Malik ingat kesedihan yang setiap saat tersirat di wajah Ayu.
“Aku tau bagaimana perasaannya saat ini. Kami akan menunggu sampai Ayu benar-benar bisa membuka hatinya untuk menerima kami.” Rey merangkul Malik merasa terharu. Malik laki-laki yang bertanggung jawab di mata Rey.
Terlepas dari masa lalunya yang Rey anggap seperti laki-laki paling judes di jagat raya, saat ini Malik bersikap lebih dewasa dari yang Rey kenal dulu. Rey bahkan kalah start dalam mengambil keputusan dalam asmarannya. Dia terlalu takut memikul tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga.
***
Ayu sibuk berkutat dengan adonan kue tart yang dia lihat resep nya di media social. Aldo yang Malik tugaskan menjaga Ayu ikut repot membantu Ayu mengaduk adonan yang sudah setengah jadi menggunakan mikser. Wajah nya sampai belepotan tepung terigu dan bubuk coklat yang terbang tepat di pipi dan ujung hidungnya.
“Kak Al…..lihat hidungmu. Kau seperti anak kecil. Hahahaha……” Ayu tertawa melihat Aldo yang langsung mengelap mukanya dengan punggung tanganya.
Aldo tertawa sendiri saat melihat wajahnya yang penuh dengan noda. Ternyata Ayu tidak mengerjainya. Aldo sudah salah sangka mengira Ayu menggodanya.
“Maaf Nona, ternyata memang banyak tepung yang menempel di wajahku.” Tersipu malu merasa bersalah tidak percaya pada Ayu.
“Wah gawat……” Aldo terkejut mendengar Ayu seperti kehilangan sesuatu. “Kak tolong antar aku beli coklat batang untuk menghias kue agar cantik.” Aldo tersenyum kecut.
“Nona membuatku terkejut, aku piker ada apa. Baiklaj, ayo kita pergi ke supermarket terdekat.” Aldo menarik jaket kulitnya yang tergeletak di bahu kursi. Ayu bergegas mengikuti Aldo dari belakang.
Supermarket tidak jauh dari apartemen memudahkan Aldo dan Ayu sampai terhalau macet. Ayu segera menuju rak yang menyediakan berbagai macam bentuk coklat. Wanita yang suka membuat kue pasti kalap saat melihat baisan coklat yang seakan melambai.
“Nona, kenapa kau terlihat bingung. Ambil saja yang paling malah, itu pasti yang paling enak.” Pemikiran seorang Aldo yang mengukur segala jenis makanan dengan harga.
“Kak, jangan salah pilih. Yang malah belum tentu enak. Bisa saja yang harganya paling murah adalah yang paling enak.” Aldo merasa malu punya pemikiran sempit, kalah dari Ayu yang masih anak SMA. Tapi ada benar nya juga apa yang Ayu katakana. Memang tidak semua yang mahal enak di lidah.
__ADS_1
“Baiklah, terserah Nona. Aku memang tidak tau apa-apa soal makanan.” Aldo meringis merasa malu. Ayu tersenyum manis, Aldo sangat dewasa selalu mengakui kesalahannya tanpa rasa malu. Seharusnya seperti ini semua orang bersikap, dunia pasti akan tentram.
“Ayu, lama sekali tidak bertemu.” Ayu mundur masih merasa takut saat berhadapan dengan Lissa. Aldo langsung menghalau agar Lissa tidak terlalu dekat dengan Ayu.
“Apa aku masih tidak di maafkan?” Memasang wajah memelas agar Ayu bersikap baik padanya.
“Kak Al, aku dan Lissa sudah berdamai. Lissa kan sudah mengakui perbuatanya.” Ayu melangkah meraih tangan Lissa yang terulur padanya. Ayu tidak sedikitpun menaruh curiga pada Lissa, hanya masih ada perasaan takut mengingat masa lalunya.
Tiba-tiba saja kepalanya berdenyut hebat, Ayu tertduduk menahan sakit yang tidak tertahankan di kepalanya. Ingatan tentang harinya yang paling buruk kembali muncul.
Ahhhhh…..ahhhhh……Tolong Kak…..
Ayu berteriak meronta-ronta membuat Aldo ketakutan. Aldo melindungi tubuh Ayu dari orang sekitar yang memperhatikan Ayu. Bingung harus berbuat apa, Aldo akhirnya memutuskan menghubungi Malik.
Beulang kali Aldo menghubungi Malik tapi tidak di angkat. Malik tidak sadar ponselnya tertinggal di dalam mobil. Malik merasa tenang karena saat ini orang yang paling dia percaya menjaga Ayuna di apartemen dengan aman.
“Nona……tolong sadar, Nona…..” Aldo mencoba membuka tangan Ayu yang menggenggam erat hijab yang menutupi kepalanya. Seperti sedang menahan rasa sakit yang luar biasa.
“Ada apa ini. Ayu kau baik-baik saja?” Lissa pura-pura perduli pada keadaan Ayu. Padahal dia tertawa bahagia melihat Ayu menderita.
Prakkkkk…….
Malik menjatuhkan gelas yang ada di tangannya, Malik langsung teringat pada Ayu yang jauh dari jaugkauannya.
“Al…..Al…..Ada apa?” Malik baru sadar saat Sarah meraih tangannya yang tergores pecahan gelas melukai tanganya.
Sarah segera membersihkan luka Malik dan membungkusnya dengan tissue. Malik masih belum sadar betul dari lamunannya. Padahal tadi dia terlihat baik-baik saja. Tapi tiba-tiba sikapnya aneh.
“Aku harus segera pulang.” Malik memaksakan senyumnya sebelum pergi meninggalkan Sarah dan Adam yang masih merasa aneh dengan sikap Malik yang tiba-tiba saja dingin.
Cintanya menyatu dengan Ayu, Malik bahkan merasakan saat Ayu ada dalam bahaya meski tidak ada di dekatnya. Mereka sudah saling terpaut satu sama lain karena cinta luar biasa yang berhasil mereka berdua perjuangkan sampai mereka kembali bersama.
__ADS_1
Malik sadar tidak bis hidup tanpa Ayu setelah mencoba menjauh dan hidup tanpanya. Malik sadar tidak bisa melepaskan ayu untuk orang lain. Dia sangat berharga bagi Malik dan keluarganya. Bukan hanya Malik yang mencintainya, Mamih dan Rama sangat marah pada Malik yang bersikap seperti anak kecil.